TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 106. SAKIT KARENA CINTA


__ADS_3

Rico menggeletukkan giginya dan menggeram.  Kedua tangannya mengepal dengan penuh emosi yang memuncak.  Kemudian bibirnya mengumamkan kata-kata yang diucapkan dengan penuh emosi dan kebencian “Kau yang memulai.  Maka jangan harap aku bisa mengampunimu.”


“Aku sudah tidak sabar menantikan hari dimana kekasihku akan kembali ke pelukanku. Aku akan menghabisi siapapun yang mencoba untuk menghalangiku.”


Malam harinya, disebuah rumah mewah terlihat sepanjang makan malam berlangsung, Rico tampak fokus dan menikmati makanan diatas piringnya.  Malam ini, istrinya memang benar-benar masak banyak makanan dan semuanya adalah makanan kesukaannya.  Tetapi, hal itu bukannya membuat Rico senang namun justru menimbulkan api amarah yang semakin bertahta semenjak ia dikantor.


Apalagi kedua orangtuanya yang tak henti memuji sang istri membuat Rico semakin tak suka mendengarnya. “Kita lihat saja nanti, tak lama lagi apakah kau masih bisa tersenyum setelah makan malam ini berakhir,” gumamnya dalam hati melirik sang istri yang tersipu malu mendapat pujian dari mertuanya.


Selesai makan malam, rico tak berpamitan dan langsung naik ke lantai atas, memasuki kamarnya.  Ia melucuti baju kaos yang dikenakannya dan melemparnya dengan kesal keatas ranjang.  Lalu ia berjalan menuju balkon, membuka pintu lalu berdiri dibalikon dengan merentangkan kedua tangannya.  Menikmati hembusan angin malam yang terasa menyegarkan.


Dengan melakukan itu, mampu mengalihkan perasaannya yang gelisah karena terus menerus mengingat Deandra yang saat ini sedang bermanja-manja dan memadu kasih dengan suaminya dirumah mewah mereka.  Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka diikuti derap langkah yang sangat ia kenali semakin mendekat.  Rico tak bergeming dari tempatnya dan masih berada pada posisinya yang memejamkan mata.


“Apakah kakak mau mandi dulu?” tanya Iva dengan suara lembut.  “Biar Iva siapkan air hangat untuk mandi.” Rico tak merespon, hanya menghela napasnya dalam-dalam membuat hati Iva sedih karena selalu diabaikan oleh Rico.  “Begitu tidak sukanya kakak melakukannya malam itu? Malah saat melakukannya pun kakak menyebut nama wanita lain.” gumamnya lirih dalam hati.


Iva mencoba untuk menguatkan hatinya, bagaimanapun ini adalah pilihannya yang mencintai pria yang tak mencintainya dan menyetujui perjodohan mereka yang terkesan hanya dari sebelah pihak.  Iva mengingat betul nasihat kedua orangtuanya dan mertuanya.  Meskipun hatinya sangat sakit saat ini bagaikan disaya-sayat sembilu.  Wanita mana yang mampu terus bertahan jika tak pernah dianggap oleh suaminya? Terlebih lagi jika sang suami selalu memikirkan wanita lain dan sering meracau menyebut nama wanita lain dalam tidurnya bahkan saat pertama kali mereka bercintapun, ******* yang keluar dari bibir Rico adalah nama Deandra bukan nama istrinya.

__ADS_1


“Bersabarlah Iva! Ingat. Betapa kau mencintainya dan kaulah pemenangnya, kau istrinya Rico dan bukan wanita itu.  Lagipula wanita itu sudah menikah, tak perlu kau risau.” ucapnya dalam hati mencoba menguatkan dirinya.  Tak kunjung mendapat respon dari rico, Iva pun memutuskan untuk mandi.  Setelah selesai mandi, ia terkejut dengan kehadiran Rico yang sudah berdiri didepan pintu kamar mandi dengan bertelanjang dada.


Tiba-tiba Iva merasa ketakutan melihat seringai yang muncul diwajah Rico.  Kedua kakinya bergetar dan tubuhnya merasa tidak nyaman.  Iva mengeratkan baju kimono yang dikenakannya untuk membalut tubuhnya.  “K—kakak mau mandi?” tanya Iva gugup. Sumpah demi apapun tatapan suaminya sangat berbeda.


“Mandi?”


terdengar kaku tapi Iva berusaha melakukannya.  Ia pun menggangguk lalu menjawab dengan suara bergetar “I—iya kak. Biar Iva siapkan dulu air mandinya dan handuk untuk kakak.” Tanpa menunggu jawaban, Iva berbalik namun ia sangat terkejut saat lengannya ditarik oleh Rico.  Hembusan napas Rico yang hangat menerpa daerah sekitar lehernya, embusan napas yang sangat disukai Iva.


“Mau kemana?” ucap Rico lirih.


Tanpa aba-aba tubuh wanita itu sudah diangkat Rico yang membawanya keatas ranjang.  Iva melingkarkan tangannya dileher Rico sambil memandang wajah tampan suaminya itu.


Namun hal itu tak berlangsung lama karena Rico menghempaskan tubuh istrinya keatas ranjang dengan kasar.  Iva terkejut mendapat perlakuan seperti itu.  Ia hendak protes dan detak jantungnya berpacu semakin cepat dengan napas menderu.  Ia mengeratkan jubah kimono ditubuhnya meskipun bagian bawah tanpa sengaja tersingkap.  Rico bisa melihat jika bagian bawah tubuh istrinya belum memakai apapun.


Rico menyeringai dengan wajah yang menakutkan, Iva berusaha beringsut namun ia tersudut dikepala ranjang. “Kenapa menghindar?” tanya Rico dengan pancaran mata penuh emosi dan sangat dingin.  Wanita itu semakin ketakutan melihat sikap Rico yang menakutkan.  Ingin ia menjerit namun jeritannya takkan ada yang mendengar karena kamar itu kedap suara.  Ketika tangan Rico menyentuh lengannya tubuhnya bergetar.

__ADS_1


“Kenapa kau takut? Bukankah ini yang kau mau ha? Kau ingin aku menyentuhmu, bukan?” ucap Rico yang kini wajahnya sudah berada tepat didepan Iva. “Bukankah kau ingin memiliki aku?”


Iva meneguk salivanya, Iva tak mampu menjawab apapun bahkan untuk mengganggukkan kepalanya pun ia seakan tak mampu.  Ia tak pernah membayangkan Rico bisa semenakutkan itu. Rico ingin mencium bibir Iva namun diurungkannya saat melihat wanita itu memejamkan mata.


“Kau harus ingat sesuatu.” Dengan perlahan Iva mulai membuka matanya kembali. “Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan kenikmatan tubuhku.  Karena aku mencintai wanita lain dan sangat menginginkan wanita itu.  Bukan kau! Aku tak menginginkanmu istriku!”


Deg!


Bagai disambar petir ucapan Rico menorehkan rasa sakit dihatinya.  Tak ada hujan dan tak ada angin dengan seenaknya Rico mengucapkan kata-kata itu tanpa perasaan. Kalimat itu bagai sayatan pisau tajam yang mengoyakkan hati Iva. Rico dengan tatapan yang penuh emosi sangat jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Iva.  Membuat wanita itu merasakan sakit yang luar biasanya.  Hatinya sungguh terluka.


“Kau harus tahu diri sejak awal tak berambisi untuk menikah denganku.” Rico berkata lagi. “Kau yang sudah menyerahkan dirimu dengan sukarela jadi jangan pernah salahkan aku jika aku tak mengganggapmu, kau hanya untuk persinggahan sementara, sekedar bersenang-senang hingga waktunya tiba saat kekasihku kembali.”


Hati wanita itu semakin tersayat-sayat mendengar kata-kata Rico.  Tak terasa air matanya mengalir karena hunjaman rasa sakit yang bertubi-tubi menyayat hatinya, ia sudah tak tahan lagi.  Teganya suaminya yang sudah mengucapkan ikrar pernikahan itu, mengatakan semua itu padanya dengan tanpa perasaan sama sekali. “Ck...ck…..ck” Rico mendecak dengan tatapan sinis pada istrinya. “Jangan menangis! Cengeng sekali. Tahan saja airmatamu sampai nanti saat aku sudah tak membutuhkanmu lagi.  Kau akan kubuang setelah aku merebut kembali kekasih yang kucintai baru kau bisa menangis. Aku akan membuangmu seperti sampah!”


Airmata Iva semakin mengalir deras mendengar kata-kata Rico.  Terlalu menyakitkan rasany, beginikah rasanya sakit akibat terlalu mencintai seseorang? Iva semakin tersedu-sedu dan mulai kehilangan kewarasannya.

__ADS_1


__ADS_2