TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 263. AYAH OLIVIA BANGKRUT


__ADS_3

“Nama kamu siapa?” tanya Olivia begitu tautan bibir mereka terlepas. Dia menatap pria muda berwajah tampan dan bertubuh kekar yang bekerja sebagai terapis di salon kecantikan high class itu.


“Ezha, Nona.” jawab pemuda itu tersenyum memandang wajah Olivia.


“Ezha? Nama yang bagus.” puji Olivia. Mulai sekarang panggil aku ‘honey.” kata Olivia lagi.


“Dengan senang hati honey.” ucapnya dengan tatapan penuh hasrat kepada Olivia.


‘Setidaknya aku bisa mendapatkan mainan selama aku disini, akan sangat menyenangkan jika seorang pria berada dibawah kendaliku. Mungkin dia bisa aku pakai untuk menjalankan rencanaku berikutnya, tidak seperti Devan yang terlalu banyak takutnya.


Berbagai rencana sudah mulai muncul dibenak Olivia, apa yang akan dilakukannya berikutnya setelah rencana pertama gagal. Kali ini dia ingin melakukan sesuatu yang lebih gilalagi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan sepertinya keberuntungan berpihak padanya, keputusannya untuk pergi spa malah mempertemukannya dengan pria muda berwajah tampan dan bertubuh kekar itu.


Olivia merengkuh kepala Ezha. “You’re a good kisser.” pujinya lagi, lalu kembali ******* bibir Azha dengan penuh gairah.


Namun keasyikan mereka harus terusik oleh suara getaran ponsel Olivia diatas nakas. Olivia pun beringsut meraih ponselnya tanpa melepaskan pelukan dari tubuh Ezha. “Ya ada apa?” tanya Olivia saat mengenali sosok yang meneleponnya.


“………….”


Tubuh Olivia menegang, spontan dia melepaskan pelukan Ezha, menepis tangan pemuda itu dari puncak dadannya.Wajahnya seketika pucat dan menegang.


“Apakah kau sudah memeriksa kamarnya?”


“…………..”


“Kalau belum pasti mengapa kau katakan padaku?” teriaknya berang. “Cepat temukan papaku! Segera laporkan padaku apa yang sebenarnya terjadi.”


“………...”


“Apa? Bagaimana mungkin? Selama ini perusahaan dalam keadaan baik-baik saja!”

__ADS_1


“……….”


‘Mengapa papa mendadak menyuruh orang mengosongkan rumah dan villa lalu pergi begitu saja?’ tanya Olivia didalam hatinya.


“Tugaskan seseorang mengecek ke rumah dan villa! Segera temukan papa.” perintah Olivia dengan tegas. Ia pun menutup panggilan itu lalu meletakkan kembali ponselnya diatas nakas. Ekspresi wajahnya berubah, tampak jelas ia sedang berpikir keras.


“Apakah ada masalah honey?” tanya Ezha sambil mengelus lembut punggung Olivia lalu bergerak perlahan ke bagian bawah.


Olivia tersenyum dengan senyum lebar dibibirnya. “Bukan hal yang penting.” jawab Olivia sembari merapatkan dadanya ketubuh pemuda itu. Meskipun didalam hati dan benaknya mulai muncul kekhawatiran dan ketakutan atas berita yang baru saja didapatnya. ‘Bagaimana bisa papa tiba-tiba bangkrut? Ah….selama ini aku terlalu sibuk disini sampai-sampai tidak pernah mencari tahu keadaan di Singapura seperti apa.’ bisik hatinya.


‘Untung saja sejak dulu asetku sudah dipisahkan, semua atas namaku jadi seandainya papa bangkrut setidaknya aku masih punya banyak uang untuk bertahan hidup. Nanti aku harus cek apakah kartu kredit dan atm ku masih belum diblokir. Tapi apa penyebab perusahaan tiba-tiba bangkrut?’


Ezha meraih dagu Olivia siap untuk melabuhkan ciuman ke bibir merah delima itu namun Olivia menghindar. Ia justru berjingkat membisikkan sesuatu di telinga Ezha.


“Kau mau?” tanyanya dengan kerlingan menggoda.


“Pasti honey. Aku juga sudah tidak sabar segera merasakanmu.” jawab Ezha dengan suara parau penuh gairah. Didalam hatinya, dia benar-benar bersyukur bisa mendapatkan wanita cantik dan kaya itu. Dia sama sekali tidak tahu jika Olivia baru saja diberitahu kalau perusahaan papanya bangkrut.


Mereka pun serempak berbenah diri dan mengemasi barang masing-masing. Lalu pergi meninggalkan salon kecantikan itu menuju mobil Olivia ditempat parkir.


Sementara itu, di Swiss Verrel sedang berada disuatu tempat untuk mengambil barang miliknya yang hilang beberapa tahun lalu. Setelah melalui pemeriksaan, mereka pun diijinkan masuk. Dua orang membawa Verrel kesebuah ruangan berpintu baja lalu membuka pintu itu. Didalam ruangan luas itu berjejer brankas dengan nomor seri. Frans dan seorang pengawal yang ikut bersama mereka duduk tak jauh dari pintu sedangkan Verrel dibawa ke brankas sesuai dengan nomor seri di kunci emasnya.


Begitu brankas itu berhasil dibuka, Verrel menemukan sebuah kotak yang terkunci. Kunci emas yang dipegangnya adalah kunci untuk membuka kotak itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, akhirnya dia mendapatkannya kembali dengan mudah. Mereka hanya punya waktu beberapa menit berada didalam karena Bayu dan yang lainnya berada disebuah cafe diseberang gedung itu, sedang meretas kamera agar tidak merekam kedatangan Verrel dan yang lainnya disana.


Setelah mendapatkan kotak itu, mereka pun bergegas meninggalkan ruangan itu. Dengan langkah cepat mereka pergi namun sebelum keluar Verrel menoleh pada petugas yang mengantarnya “Thank you for your cooperation (Terimakasih untuk kerjasamanya)!” ucapnya tersenyum. Lalu pergi meninggalkan tempat itu, setelah mengirimkan kode melalui ponselnya pada Bayu. Bayu dan tim-nya pun pergi meninggalkan cafe menyusul Verrel.


“Kita akan kembali ke Indonesia sekarang! Urusan kita sudah selesai disini. Siapkan pesawat1”


“Baik, Tuan.” jawab Frans lalu menghubungi bandara untuk menyiapkan jet pribadi milik Verrel.

__ADS_1


Sesampainya di hotel, mereka berkemas dengan cepat agar bisa segera meninggalkan negara itu sebelum seseorang menyadari apa yang baru saja terjadi. Saat mereka sudah berada didalam mobil menuju bandara ponsel Verrel berdering.


“Halo, Tuan. Tugas sudah dilaksanakan!” ujar Hengky. “Kami sudah mengawasi rumah dan villanya, mereka terlihat mengosongkannya.”


“Bagaimana keadaan William Lee dan perusahaannya sekarang?”


“Sesuai prediksi anda, Tuan. Seseorang kini menyerang William Lee dengan menghancurkan perusahaannya. Tapi kami masih belum menemukan siapa orangnya.”


“Oh ya? Siapa kira-kira, kebetulan sekali semuanya terjadi bersamaan!” ujar Verrel. “Sepertinya seseorang sedang mengambil kesenanganku untuk menghancurkan seseorang tapi tidak apa-apa, kita jadi tidak menghabiskan tenaga dan waktu melakukan itu.”


“Dimana kalian sekarang?”


“Kami sedang mengikuti anak buah William Lee. Karena beliau tidak terlihat sejak perusahaannya dinyatakan bangkrut.”


“Oh ya? Apakah putrinya yang gila itu sudah tahu?” tanya Verrel mendengus.


“Sepertinya sudah, tuan. Kami tadi menyadap teleponnya.”


“Bagus! Biarkan saja mereka sementara waktu ini, kita lihat seperti apa kedepannya. Jangan terlihat kalau kita sedang mengawasi mereka. Usahakan segera temukan siapa dalang dibalik bangkrutnya perusahaan mereka, aku harus berterimakasih pada orang itu!” Verrel tersenyum sinis.


“Baik, Tuan.”


“Aku tunggu kabar darimu.” Verrel memutuskan panggilan telepon lalu menghela napas panjang.


“Ada berita apa Tuan?” tanya Frans yang sedari tadi mencoba mendengarkan percakapan Verrel.


“Perusahaan William Lee ayahnya Olivia dinyatakan bangkrut!” ujar Verrel tersenyum puas.


“Ha? Bagaimana bisa? Itu perusahaan besar, bisa bangkrut dalam semalam? Apa yang Tuan sudah lakukan?” tanya Frans.

__ADS_1


“Tidak ada. Aku bahkan belum merencanakan apapun untuk membalas wanita gila itu tapi ada orang lain yang sudah melakukannya duluan. Sepertinya orang itu memiliki dendam pribadi.”


__ADS_2