TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 128. PENOLAKAN RICO


__ADS_3

“Nyonya Iva,” panggil seorang petugas.


“Iya, saya pak,”


“Maaf, Nyonya. Tuan Rico menolak untuk menemui anda,” kata petugas itu pada Iva. Dia sudah menunggu selama dua puluh menit disana.


“Ha? Saya istrinya pak. Tolong ijinkan saya menemui suamiku di selnya.” kata Iva memohon, dia sangat merindukan suaminya itu.


“Tidak bisa. Penjenguk hanya bisa bertemu disini.  Ini demi keamanan anda dan sudah jadi peraturan penjara, tanpa terkecuali.” tegas petugas itu.  Pria itupun sebenarnya heran kenapa Rico tak mau menemui istrinya. Mungkin malu setelah apa yang dilakukannya, pikir petugas itu.


Iva menghela napas panjang, susah payah dia agar bisa sampai kesini tapi Rico kekeh tak mau bertemu dengannya.  Sebenci itukah kau padaku kak? Ataukah kau merasa malu?


“Baiklah pak. Tapi bolehkah saya menitipkan ini pada suamiku?” tanya Iva menyodorkan dua buah paperbag besar.  “Ini ada makanan untuknya beserta perlengkapan mandi dan lainnya yang dibutuhkannya.  Ini juga ada surat untuk suamiku, saya mohon pak, berikan padanya karena ini sangat penting.” ucap Iva dengan wajah memelas.  Dia tak menyangka nasibnya akan seburuk ini.


“Saya periksa dulu, ini juga peraturan disini.”


“Iya, silahkan pak,”


Setelah memeriksa barang-barang yang dibawa Iva tidak ada yang berbahaya dan tidak ada benda tajam.  Petugas itupun menggangguk lalu membawa paperbag itu kedalam. 


*Visual Rico Davion Ceyhan




*Visual Iva Adhisti Baratha


Iva yang baru saja keluar dari bangunan penjara dimana Rico ditahan, dua orang pria suruhan Tuan Baratha sudah menariknya masuk kedalam mobil.  Dia belum sempat berteriak, begitu duduk di jok mobil, tatapan tajam dari sang papa pun menyambutnya.


“Berani-beraninya kau menemui bajingan itu!” bentaknya pada putri semata wayangnya.  Iva yang menggeser posisinya karena terkejut hanya bisa menundukkan kepala. “Papa sudah melarangmu untuk menemuinya, tapi kau keras kepala,”


“Kak Rico suamiku, Pa.  Sebagai is---”


“Cukup! Suami macam apa itu, apa kau buta? Apa kau pikir tindakannya itu bisa dimaafkan? Kau istrinya tapi masih berani dia menginginkan orang lain, perempuan itu hamil pula,” napas Baratha berhembus kasar, tak habis pikir dengan anaknya yang masih saja mengharapkan Rico. 


“Pa, tidak mungkin Iva cerai dengan kak Rico,” ucapnya lirih sambil terisak.


“Papa sudah urus semuanya, lebih cepat lebih baik jika surat cerai itu keluar.  Kau bisa melanjutkan hidupmu.”


“Tapi, Pa.  A—aku hamil,”

__ADS_1


Deg!


Baratha menoleh menatap Iva putrinya.  Terkejut mendengar perkataannya.  “Apa? Hamil?”


Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. “Jalankan mobil!”  perintahnya pada supri pribadinya.  Emosinya semakin memuncak, tangannya mengepal.  Ingin rasanya dia menampar wajah putrinya tapi dia menahannya.  Kekesalannya sudah tak bisa dia kendalikan hingga tangannya memukul sandaran didepannya, membuat supirnya terkejut.  “ARRGGGG!”


Sesampainya dirumah mewah miliknya, dengan kasar Baratha menarik lengan putrinya memasuki rumah. “Papa! Ada apa ini?” tanya istrinya kaget melihat wajah suaminya merah dan menarik putrinya.  Baratha mendorong Iva terduduk di sofa.


“Kau tanyakan saja pada  anakmu apa yang sudah dilakukannya,” kata Baratha marah. “Berani sekali dia melarikan diri lalu menemui suami brengseknya itu di penjara,”


“Apa? Betulkah itu Iva sayang? Kenapa kau lakukan itu, nak,” ucapnya dengan lembut.  Dia tahu perasaan putrinya terluka.


“Iva harus bertemu Kak Rico karena Iva harus mengatakan padanya kalau Iva hamil, Ma,”


“A—apa? Kamu hamil?” tanyanya tak percaya.’Ya, Tuhan cobaan apalagi ini yang menimpa putriku. Bagaimana dia menjalani ini?


“Kau sudah bertemu bajingan itu?” tanya Baratha lagi. Dia tak habis pikir dengan anak semata wayangnya yang sudah dibutakan oleh cinta.


“Sudah, Pa.” kata Iva berbohong.  Jika Baratha tahu kalau Rico menolak bertemu dengan Iva, pasti dia akan sangat marah dan entah kegilaan apa yang akan dibuatnya.  “Lalu,apa katanya?”


“Kak Rico hanya terdiam. Tidak bilang apa-apa,” jawab Iva menundukkan kepalanya.


“Hu….sudah kuduga. Memangnya dia bisa bilang apa sekarang?” kata Baratha kesal dan marah.


“Maksudmu?”


“Tundalah sampai bayi itu lahir,”


“Tidak! Bayi itu tidak akan lahir! Gugurkan kandunganmu,aku tak sudi punya keturunan dari laki-laki brengsek itu!” teriak Baratha penuh kemarahan.


“Papa?” tangis Iva pun kembali pecah mendengar kata-kata sang papa. Dia tidak mau menggugurkan kandungannya.  Bagaimana mungkin aku harus kehilangan dua kali? Pikirnya.


“Aku tidak mau tahu, terserah mau kau apakan kandunganmu. Yang pasti, papa tidak mau punya keturunan dari penjahat,” ujarnya penuh amarah lalu bangkit dari duduknya dan pergi.


Iva dan mamanya berpelukan dan menangis, menangisi nasib buruk yang menimpa bertubi-tubi.  Menikah tapi tak dianggap istri, lalu suami masuk penjara dan sekarang dia hamil bahkan suaminya tak mau bertemu dengannya.  Rasa sakit hatinya semakin besar, tapi masih dikalahkan oleh besarnya cintanya pada Rico.


“Ma, tolongin Iva.  Aku sudah kehilangan suami, aku tidak mau kehilangan anakku, Ma.”


“Iya, sayang. Mama mengerti perasaanmu.  Mama akan pikirkan jalan keluarnya. Bersabar ya. Jangan pedulikan apa kata papa, dia masih marah soal suamimu.”


“Iya, ma.” Iva menghamburkan diri kedalam pelukan sang mama. Dia sedang mengandung buah cinta dengan Rico, bagaimana mungkin dia bercerai?

__ADS_1


...*...


Verrel dan Deandra sedang duduk ditepi kolam renang,  Pria tampan itu memperhatikan istrinya yang sedang melukis.  Dari tadi dia dibikin penasaran, apayang dilukir istrinya karena Deandra melarangnya untuk melihat.


“Masih lama, sayang?” tanya Verrel yang sudah tak sabaran dan mulai gelisah.


“Tunggu sebentar, sudah hampir selesai,”


Setelah sekian lama bersabar, demi istri tercintanya akhirnya Deandra menghentikan gerakan tangannya.


“Sini mendekat, sayang.  Sudah selesai,” ucapnya sambil tersenyum manis.


“Kau melukis apa? Bikin aku penasaran dari tadi,”


“Lukisan spesial. Bagaimana menurutmu?”


“Oh my God.  I—ini indah sekali, sayang.” ucap Verrel takjub melihat lukisan istrinya.  Lukisan seorang ibu dengan bayi kembar. Verrel memandangi lukisan indah sang istrinya, lalu dia menyadari sesuatu dan menoleh kesamping menatap istrinya yang tersenyum manis.


*Ini author bagiin ya lukisannya Deandra bertema ibu dan bayi kembarnya.



“Kenapa aku tidak ada disitu?” tanya Verrel sambil mengeryitkan keningnya. ‘Memangnya tanpaku mereka bisa ada? Tega sekali istriku tidak melukisku juga. Hmmm…..benar-benar kedua anakku bakal jadi sainganku kalau begini.


“Hmm….he he he,” Deandra hanya nyengir tak tahu harus jawab apa, karena memang dia tidak kepikiran saat melukis tadi.  Tema lukisan hanya ibu yang mengandung bayi kembar.


“Besok aku lukis lagi ya, sayang.” menatap wajah suaminya yang cemberut tak senang. “Kau takut ya kalau anak kita menyaingimu?” tanya Deandra seakan tahu pikiran suaminya.  Padahal itu memang yang dia mau.  Deandra membayangkan bagaimana jadinya kalau Verrel bakal dikerjai kedua anaknya setiap hari, bukankah lucu dan menggemaskan? Deandra menghayal sambil tersenyum sendiri.


*Visual Verrel Aditya Ceyhan




*Visual Deandra Ailsie


Biar makin halu.....moga suka ya. 😊😊


* Hai para readers terkasih....like, comment ya disetiap bab 🤗🤗


*Bantu vote, bagi hadiah juga boleh biar author tambah semangat lagi

__ADS_1


Terimakasih....Luv you all! 😘😘😘


 


__ADS_2