TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 273. PERMAINAN MERENGGUT NYAWA


__ADS_3

Olivia terus melawan meskipun kekuatannya sudah pasti kalah dengan pria itu. Rasa jijiknya membayangkan semua yang terjadi waktu itu membuatnya punya kekuatan lebih untuk melakukan perlawanan. Olivia sudah tahu semuanya, jika Luke yang membayar Danu dan preman-preman lainnya untuk menodainya waktu itu. Mereke yang mencecokinya dengan obat bius yang membuatnya membayangkan kalau pria yang bersamanya adalah Verrel.


Olivia merasakan sakit hati yang teramat dalam, dia merasa terhina bahkan lebih hina dari wanita paling hina manapun. Dia seorang wanita dari keluarga kaya raya yang dipakai oleh preman-preman rendahan. Hal itu benar-benar sangat memalukan dan menjijikkan baginya. Dia terus saja menendang tapi lagi-lagi Danu tak mempedulikan. Tendangan Olivia tidak membuat Danu bergeming, dengan menggunakan tubuhnya untuk menghentikan pergerakan kaki Olivia tanpa mempedulikan penolakan wanita itu.


Dia pun menghunjam, “Aaahhhh……..kau benar-benar lezat dan legit seperti lapis legit.” desah Danu sambil bergerak. Olivia ingin terus memaki tetapi tubuhnya bereaksi berlawanan. Tubuhnya malah merespon perbuatan Danu, dia mulai menikmatinya lalu mulai mendesah tanpa dia sadar. Otak dan tubuhnya benar-benar tidak mau bekerjasama.


Danu bisa merasakan perlawanan Olivia berkurang dan mulai mengikuti gerakannya. Melihat itu Danu ingin membuat suara Olivia terdengar semakin kuat. “Le----lepas----kan-----aku------bangsat!” maki Olivia disela-sela gempuran dasyatnya. Danu tidak peduli, ia membalikkan tubuh Olivia dengan cepat dan mengubah posisi dengan gerakan sangat cepat sehingga Olivia tak sempat berpikir.


‘Oh ****! ****** ini nikmat sekali,’desis Danu dalam hati. ‘Tak sia’sia waktu itu aku dibayar Tuan Luke untuk mengerjai wanita ini! Jadinya 2 in 1 untungnya.’


Olivia mulai berhenti melakukan perlawanan dan malah dia mengikuti irama goyang dumang dan mengeluarkan suara-suara lirih. Tanpa disadarinya dia malah mendapatkan kepuasan dan pelepasan. Dalam sekejap dia sudah melupakan semuanya, dia lupa siapa Danu yang hanya preman pasar rendahan meskipun mempunyai tubuh bagus.


Tapi wajahnya yang kasar dan jauh dari kata tampan, seolah tak lagi diingat oleh Oliva. Wanita itu hanyut dalam irama goyang dumang, goyang nasi padang, goyang kopi dangdut yang menghanyutkan. Saking larutnya dalam suasana, keduanya tak menyadari jika seseorang baru saja kembali ke apartemen itu.


Tiba-tiba sebuah hantaman keras mengenai bagian belakang kepala Danu. Dia tak sempat melihat siapa yang menyerangnya karena pukulan berikutnya kembali datang bertubi-tubi. Pria itupun tersungkur tak sadarkan diri diatas tubuh Olivia. Wanita itu terpekik, spontan melepaskan diri dari himpitan tubuh Danu lalu menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Dia melihat Ezha berdiri disana menatapnya horor dengan barbel ditangannya.


“Ezha! Kau kembali!” sorak Olivia girang ia pun menghambur ke pelukan pria itu.


“Baru setengah jam yang lalu kita bersama, kau sudah bercinta dengan pria lain?” decak Ezaha kecewa.

__ADS_1


“Oh ini tidak seperti yang kau pikirkan. Pria ini tiba-tiba masuk saat aku tertidur, antara sadar dan tidak aku pikir itu kau yang kembali. Aku baru sadar saat dia menghunjamku, aku meronta dan melawan tapi tenaganya kuat sekali.” Olivia mencoba menjelaskan dengan versi kebohongannya sendiri.


“Ezha! Aku senang kau kembali, kau telah menyelamatkanku,’ smabungnya seraya menyusupkan kepala ke lengan Ezha.


“Siapa dia? Apa kau mengenalnya?”


“Dia…..orang yang ingin kulenyapkan waktu itu.” jawab Oliva menutupi yang sebenarnya.


“Bagaimana dia bisa masuk? Apakah dia juga punya kunci apartemen ini?” tanya Ezha heran.


“Tidak! Aku tidak pernah memberinya kunci apartemen ini, mungkin dia mendapatnya dari pemilik sebelumnya,’ ujarnya Olivia lupa kalau waktu itu Danu mengambil kunci dari tasnya dan membuat duplikat saat Olivia tertidur kelelahan setelah digempur semalaman. Karena dia dibayar oleh Luke untuk mengerjai Olivia, sejak itu Danu selalu mencari keberadaan wanita itu yang sudah jadi obsesinya.


Olivia tidak tahu harus memberikan jawaban apa, hanya itu stau-satunya ide yang terlintas dikepalanya. Setidaknya jawaban itu berhasil membuat Ezha berhenti mencurigainya.


“Apa? Dia mati?” pekik Olivia kaget. ‘Ya ampun. Kenapa jadi begini? Kemarin malam aku baru membunuh seorang pria, eh sekarang ada lagi yang terbunuh! Padahal tadi aku sangat menikmati permainannya.’ ujarnya didalam hati merasa dilema dan bingung.


Ezha melepaskan pelukan Olivia, lalu memeriksa tanda vital ditubuh Danu. Pria itu memang sudah tak bernapas lagi dan denyut nadinya juga sudah tidak ada.


“Dia sudah mati. Pukulan barbel ini mungkin memecahkan batok kepala belakangnya.” jawab Ezha seraya menunjuk darah yang membasahi tempat tidur. Olivia terdiam, tubuhnya membeku seketika.

__ADS_1


‘Dia sudah mati dan aku juga yang membunuhnya?’ desis Olivia dalam hati. Rasa panik langsung menyerang pikirannya, Olivia takut berurusan dengan polisi. Dia tak mau dihukum karena sesuatu yang bukan kesalahannya. Kemarin malam dia membunuh pria paruh baya itu untuk melindungi diri, menurutnya itu sama sekali tidak salah.


Olivia pun memutar otaknya yang licik, memikirkan jalan keluar secepatnya. “Masukkan dia ke dalam bak, hilangkan semua jejak kita dari tubuhnya,” cetus Olivia.


“Lalu bagaimana dengan ranjang ini?” tanya Ezha.


“Lepaskan seprainya, masukkan juga ke dalam bak. Aku akan menghilangkan semua sidikm jari dari tempat ini.”


“Tapi,….bukankah apartemen ini kau sewa?”


“Bukan! Ini apartemen orang lain, tetapi tidak akan seorangpun yang tahu aku tinggal disini dan takkan ada yang tahu apa yang telah terjadi disini.”


“Baiklah kalau begitu, kita lakukan sesuai keinginanmu.” kata Ezha menurut bagaimanapun dia yang telah memukul Danu hingga tewas.


Lalu dia membungkus tubuh Danu dengan seprai itu, memasukkannya kedalam bak mandi. Ezha menyalakan air di bak hingga membasahi tubuh kaku Danu dan menghilangkan sidi jari disana. Kemudian dia membantu Olivia membersihkan apartemen itu.


Setelah memastikan tak ada lagi sidik jari yang tertinggal, mereka pun pergi dari apartemen itu. Untuk menyempurnakan alibi, mereka merusak kamera CCTV dilorong apartemen, mereka tidak tahu ada satu kamera tersembunyi terpasang dipintu utama apartemen yang sengaja dipasang oleh pemilik apartemen itu setelah membelinya dari Olivia. Ezha dan Olivia melarikan diri keluar kota setelah Olivia mengemasi barang-barangnya. Ezha hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan wanita itu yang membawa semua barangnya untuk melarikan diri.


Beberapa hari kemudian, pihak berwajib menerima laporan dari penghuni apartemen yang mengatakan ada bau busuk dari unit apartemen yang ditinggali Olivia sebelumnya. Setelah menghubungi orang yang bertanggung jawab atas apartemen itu, pihak berwajib memasuki apartemen dan menemukan maat Danu yang sudah bau busuk didalam bak mandi. Penemuan itu sontak membuat heboh, apalagi pemilik aparteman itu tidak tinggal disana dan selama ini unit itu kosong.

__ADS_1


Menurut penanggung jawab gedung apartemen, hanya petugas kebersihan apartemen yang sesekali memasuki unit itu untuk membersihkan. Sudah empat bulan apartemen itu kosong sejak ditinggal penyewa sebelumnya. Berita penemuan mayat dengan identitas bernama Danu pun langsung menyebar di media. Kabar itupun sampai pada Luke, dia bergegas mendatangi kantor polisi untuk memberi pernyataan.


 


__ADS_2