
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu, sayang,” kata Verrel saat Deandra sudah duduk kembali ditepi ranjang.
“Apa” tanya Deandra singkat.
“Aku dan kekasihmu yang brengsek itu saling kenal,” sahut Verrel dengan nada sinis.
Deandra membeku setelah mendengar ucapan pria itu, ia tak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa saling kenal? Tidak mungkin suatu kebetulan bukan? Kalau benar mereka saling kenal, bagaimana jika kekasihnya tahu?
“Siapa maksudmu, Tuan?”
“Ha..ha...ha. Jangan pura-pura bodoh. Memangnya ada berapa orang kekasihmu atau pria yang dekat denganmu setahun belakangan ini?”
“Hah? Darimana tuan tahu?”
“Aku tahu semuanya tentangmu, sayang.”
Deandra memejamkan mata berharap apa yang baru saja didengarnya hanyalah bualan Verrel. Dan saat ia membuka mata dan menatap mata Verrel, yang ia lihat hanya kejujuran dari manik mata lelaki itu.
“Kau takut dia akan tahu jika kau sudah tidak perawan?” tanya Verrel tanpa rasa malu dan seolah bangga bahwa dialah yang merenggutnya. Deandra meneguk ludahnya, merasa ketakutan dan keringat dingin mulai menetes.
“Atau kau bingung, tidak tahu caranya mengucapkan salam perpisahan padanya?” Verrel berdecak saat tak mendapat respon dari deandra. Emosinya mulai naik tapi dia tak ingin melampiaskannya.
“Atau kau ingin jika aku yang mengatakan padanya bahwa aku sudah merenggutnya dan kau milikku?” seringai licik Verrel terlihat diwajahnya.
“Kau gila! Kau benar-benar gila, tuan.”
“Gila kau bilang?” Kedua alis pria itu bertaut. “Berani kau bilang aku gila?” ucapnya seraya memeluk erat deandra dan mengunci tubuhnya tak bisa bergerak. “Apa kau pikir kekasihmu itu tidak gila sepertiku, hah? Kau belum tahu siapa yang lebih gila!” bentak Verrel.
“Pria brengsek itu, tidak sebaik yang kau kira,” ucap Verrel yang melihat raut wajah deandra berubah. “Akan ada masanya, kau akan tahu semuanya.”
__ADS_1
“Apa kau masih mengharapkannya?” tanya Verrel lagi.
Deandra terdiam, ia merinding. Apa benar yang diucapkannya? Posisi deandra yang masih dalam pelukan Verrel sangat tidak menguntungkannya. “Kau diam lagi. Tak menjawab,” desis Verrel kesal. Ia merasa marah setiap kali Deandra mengacuhkannya, ia menyerang deandra dengan brutal mencumbunya hingga gadis itu gelagapan. Dengan sisa tenaganya dia mencoba mendorong dada Verrel namun sia-sia.
Semakin liar sentuhan dan cumbuan Verrel hingga gadis itupun terbuai. Tidak ada wanita yang tidak takluk pada pesona laki-laki itu. Selain kaya, tampan dan pintar, sosok Verrel adalah sosok pria yang sempurna, hanya saja ia memiliki emosi yang berubah-ubah dan terkadang tak terkendali.
Dia menatap wajah Deandra yang memejamkan mata dan terdengar ******* dari bibirnya. Itu membuat Verrel merasa puas, karena gadis itu tidak lagi menolaknya. “Aku ingin tahu sejauh mana kau bisa menolakku, sayang. Aku pastikan kau akan memintanya dengan sukarela dan memohon padaku,” gumamnya disela-sela cumbuannya.
“Enghhhhh,” lenguhan deandra teredam oleh buaian tangan Verrel. Pertahanannya porak poranda, dorongan dalam dirinya ingin agar Verrel menuntaskan permainannya. Gadis itu mulai mengikuti irama tubuh sang tuan besar. Sikapnya pun semakin lembut membuat Deandra semakin terbang ke nirwana.
Dia memejamkan matanya, membiarkan pria itu mengambil kendali tubuhnya. *******-******* terdengar memenuhi ruang itu, hingga akhirnya keduanya pun mencapai pelepasannya. Dia mengecup kening deandra, menjatuhkan diri disamping gadis itu dengan tangan yang masih memeluknya.
Tiba-tiba Deandra teringat akan nasihat Yuna, “Tuan akan memberikan apapun pada orang yang menurut padanya.” Mungkin aku harus menuruti nasihat Bibi Yuna, pikirnya. Siapa tahu aku beruntung bisa meluluhkan hati pria ini gumamnya dalam hati sembari melirik pada pria yang terbaring disampingnya.
Mata Verrel terbuka dan menatap ke gadis yang berada disampingnya. Pandangan keduanya terkunci, dia bisa melihat bahwa deandra mulai melunak hatinya dan tidak melawannya lagi seperti biasanya. ‘Apa dia sedang mencoba taktik baru padaku? Aku mau lihat, apa yang kau rencanakan. Dia pun turun dari ranjang, meraih pakaiannya dan mengenakannya. Saat hendak melangkah keluar, dia mendengar Deandra bertanya “Mau kemana?”
“Kenapa? Apa kau tidak ingin jauh-jauh lagi dariku?” sembari tersenyum, membuat wajah gadis itu merona karena malu. ‘Aku salah bertanya’ pikirnya.
“Aku mau ke ruang kerjaku. Kalau kau rindu, kau boleh datang menemuiku kapanpun sayang,” ucap Verrel dan melangkah keluar meninggalkan gadis itu yang terpelongo mendengar ucapannya.
‘Isshhhhhh dasar pria gila. Siapa juga yang rindu sama dia.’ Aduh, deandra kenapa sih kamu sampai luluh? Kau ingat sumpahmu bahwa kau tidak akan pernah takluk padanya? Tapi sekarang kau malah suka berada disampingnya’ gumamnya menyalahkan dirinya sendiri.
...****...
Sementara di sebuah kamar terlihat seorang pria yang sedang mabuk. Dia berusaha mencari keberadaan gadis itu ke rumahnya namun tidak ada. Dia coba mencari tahu dimana tempat kerjanya, namun tak ada informasi yang bisa didapatnya, dia bahkan tidak tahu lagi kemana harus mencari gadis itu. Arggggg…..dia melemparkan gelas ke lantai. Kenapa ponselnya juga tidak bisa dihubungi? Kemana dia pergi?
Ketukan dipintu kamarnya disertai teriakan seorang wanita paruh baya “Kamu lagi ngapain didalam? Ayo, buka pintunya!”
Dengan malas dia pun membuka pintu dan bertanya “Ada apa sih, mami?”
__ADS_1
“Kenapa kamu pecahkan gelas itu? Ada apa lagi?” tanyanya saat melihat pecahan gelas dilantai kamar putranya.
“Tidak ada apa-apa, mi.” jawab pria itu.
“Apa ini gara-gara perempuan miskin itu?”
“Cukup, mami! Jangan membuatku marah.” katanya sambil mengacak-acak rambutnya.
“Mami tidak peduli. Ingat Rico, jangan pernah kamu bawa gadis miskin itu kerumah ini!” bentak wanita itu sambil melangkah keluar dari kamar putranya.
...****...
Verrel terlihat sedang bersiap hendak pergi. Ia berpakaian rapi dan terlihat sangat tampan dan mempesona dengan celana jeans biru dan kaos hitam. “YUNA!” teriaknya. Diluar kamar seorang pelayan yang mendengar teriakan tuannya jadi lemas dan berjalan cepat menuju kamar sebelah dan mengetuk pintu. “Siapa yang mengetuk pintu tidak sopan begitu?” tanya Yuna sambil melnagkah ke pintu.
Saat membuka pintu, ia melihat pelayan sang tuan besar berdiri dengan muka pucat. “A—anu. Tuan besar memanggil Anda. Tuan berteriak,” kata pelayan itu.
“Baiklah. Tunggu disini saja, jangan kemana-mana,” perintah Yuna yang dijawab dengan anggukan oleh pelayan itu.
Mendorong pintu dan mendekati Verrel yang duduk di mini bar. “Iya, Tuan.” ucapnya sambil menundukkan kepala. “Apa tuan membutuhkan sesuatu?”
“Aku mau ke kelab malam. Kau jaga gadis itu, jangan biarkan dia keluar kamar.” perintahnya.
Setelah sang tuan besar pergi dan Yuna kembali ke kamar deandra, menuruti perintah sang tuan besar untuk selalu menjaga majikannya itu.
...*...
Seorang pria tampan berperawakan tinggi dan tubuh kekar berotot berjalan memasuki sebuah kelab malam elit di tengah kota. Sontak semua wanita yang ada disana menatap kearahnya, bahkan menggodanya namun sang idola para wanita itu tak peduli dan terus berjalan masuk kesebuah ruang VVIP. Tak lama seorang wanita cantik dengan dandanan seksi masuk membawa troli berisi beberapa botol minuman alkohol berharga mahal. Senyum terpancar dari wajahnya melihat sang tuan besar datang ke kelab malam dan ia disuruh untuk melayaninya.
“Panggil teman-temanmu! Aku mau berpesta!” perintah Verrel pada wanita itu. Malam ini Verrel ingin berpesta, hatinya sedang kacau karena Deandra. Beberapa wanita malam menemaninya diruangan itu. Sudah lama dia tidak datang ke kelab malam, sejak ada deandra. Tapi malam ini ia ingin bersenang-senang, ada rasa khawatir yang dirasakannya. Dia bisa melihat dari mata gadis itu jika dia ingin lari dari Verrel.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya seorang Verrel sang penakluk wanita merasa khawatir jika seorang wanita akan meninggalkannya. Dia tidak mau itu terjadi, apa yang sudah jadi miliknya akan tetap menjadi miliknya. Apalagi dia tahu siapa pria yang dekat dengan gadis itu, membuatnya semakin khawatir. Dia tak ingin Deandra akan lebih tersiksa dengan pria itu.
...*...