TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 152. HADIAH UNTUK ANDINI


__ADS_3

Sore harinya pelayan menerima paket lagi dalam kotak besar berikut nama pengirim.  Karena ada nama pengirim, pelayan di kediaman Amran pun menerima paket.  “Nyonya, ini ada paket untuk nyonya.”


“Sudah berapa kali kubilang kalau ada paket jangan diterima! Buang saja!” bentak Andini marah.  Paling isinya juga sama seperti kemaren. 


“Maaf, nyonya ini ada nama pengirimnya.  Dari Rian Cordino.”


“Apa? Bawa kesini,” ucap Andini melihat nama pengirim memang benar Rian Cordino.  ‘Kenapa Rian kirim paket ke aku? Apa—jangan-jangan dia yang menerorku selama ini?’ gumamnya dalam hati. “Coba buka bik, apa isinya.”


Lalu pelayan pun membuka kotak, ada beberapa kotak yang dibungkus rapi didalam kotak besar itu,  melihat bungkusan yang rapi Andini pun makin penasaran lalu membuka satu kota, sontak matanya membulat dan mulut menganga melihat tas branded. “Ya, ampun. Dia kirimkan ini untukku?”


“Sudah pergi sana bik. Ini kiriman dari sepupu saya di luar negeri,”


“Oh iya...nyonya. Saya permisi ke dapur mau masak.” ucap pelayan itu pergi.


“Aduh bagus-bagus banget tasnya.” kata Andini kegirangan mendapatkan tiga tas branded.  Entah dia bodoh atau apa, tas branded yang harga normalnya mencapai ratusan juta yang dikirimkan Rian adalah replika namun persis sama dengan aslinya.  Rian mendapatkannya dari temannya yang membuat tas replika di Eropa.


Wanita itu langsung membawa ketiga tas kedalam kamar dan menyimpannya.  Andini meraih ponsel dari ataas nakas lalu menghubungi Rian.


“Halo, Andini.  Apakah kau sudah menerima hadiah dariku?”


“Oh Rian...terimakasih. Aku suka sekali hadiahmu, tak kusangka kau begitu baik dan perhatian padaku.  Apa yang bisa kuberi padamu sebagai balasannya.  Tas itu harganya mahal sekali.” ucap Andini dengan suara manja dan menggoda.


“Sengaja kubelikan untukmu karena kau sedih kemarin, semoga kau bisa tersenyum lagi,”


“Aku bukan cuma tersenyum tapi bahagia sekali Rian, kau memang tahu cara menyenangkanku. Katakan apa yang bisa kuberi padamu sebagai ucapan terimakasihku,”


“Ha...ha….ha...ha….jangan becanda Andini. Jika aku meminta sesuatu apa kau akan memberikannya?” kata Rian memancing Andini yang sudah melambung tinggi.


“Apapun! Selagi aku mampu akan kuberi padamu,” ucapnya manja.


“Tubuhmu! Aku mau tubuhmu Andini sayang.  Kau tahu bagaimana aku sangat tergila-gila dengan tubuhmu. Tinggallah bersamaku selama seminggu.”


“Aku bisa lakukan itu. Tapi seminggu? Suamiku mulai curiga karena aku jarang dirumah, bagaimana kalau aku menemuimu setiap hari, hmm?”


“Kau tahu itu takkan cukup.  Aku sudah tak tahan Andini, datanglah sekarang atau aku datang kerumahmu. Kita bisa lakukan dirumahmu.”


“Jangan! Jangan! Nanti ketahuan pelayan dan suamiku bisa datang tiba-tiba. Aku datang kerumahmu sekarang.”

__ADS_1


“Temui aku di hotel.  Akan ku kirim alamatnya.” ucap Rian tersenyum penuh kemenangan.  Begitu mudahnya menjebakmu perempuan bodoh, Ha...ha….ha….ha…..permainan baru dimulai Andini dan kali ini lebih menyenangkan, perlahan namun pasti kehancuranmu sudah didepan mata. Bodoh...bodoh…..tas yang kukirim itu tas replika yang persis sama dengan aslinya, ternyata perempuan itu begitu bodoh tak bisa membedakan.


Rian menghubungi temannya “Tas replikamu sempurna! Dia senang sekali….ha….ha….ha.”


“Baguslah. Kalau kau butuh bantuanku lagi, hubungi saja aku.” ucap pria itu mengakhiri.


Rian mengirimkan alamat hotel tempatnya akan bertemu Andini nanti.  Pintu terbuka dan Darma beserta beberapa pria masuk. “Bagaimana? Sudah siap semua?” tanya Darma.


“Sudah. Dia akan menemuiku di hotel. Tapi tolong jangan pukul aku kuat-kuat, nanti wajah tampanku ini rusak,” ucap Rian terkekeh.


“Wajahmu rusak bisa di oplas! Yang penting semua harus terlihat normal jadi nanti anak buahku terpaksa memukulimu sampai babak belur.” kata Darma tersenyum.


“Terserah. Mau gimana lagi, ini memang peranku untuk menjebak Andini.” ucap Rian


Mereka pun berangkat menuju hotel, Rian masuk ke kamar VIP yang sudah dibooking Darma untuknya dan Andini.  Penampilan Rian yang nampak berkelas layaknya seorang pengusaha sukses, duduk di sofa sambil merokok. Ketukan di pintu terdengar “Pasti Andini yang datang.”


Rian berjalan menuju pintu dan membukanya, Andini berdiri disana dengan senyum penuh pesona dan berpenampilan bak sosialita seperti biasanya, sambil menenteng tas branded hadiah dari Rian.  Andini langsung melingkarkan tangan dileher Rian dan menciumnya.


“Aku rindu sekali padamu,” ucapnya manja. Rian menutup pintu dan menggiring Andini mendekati ranjang. 


“Aku tahu kau pasti suka. Sengaja aku belikan untukmu.”


“Sekarang aku akan membalas kebaikan hatimu,” perlahan Andini melepaskan pakaiannya.  Meskipun di usia yang sudah empat puluh lima tahun, tubuhnya masih terlihat bagus.  Wanita itu meliukkan badannya menggoda Rian yang duduk di tepi ranjang.  Kini Andini hanya memakai dalaman saja.  Rian tak membuang kesempatan, dia meminta Andini menari dihadapannya.  Wanita itupun melakukan apa yang Rian minta, sudut bibirpria itu terangkat.  Sedang asyik memandang Andini yang meliuk-liukkan tubuhnya dengan menggoda, terdengar bel berbunyi dan suara wanita “Room Service.”


“Room Service?” tanya Andini heran.


“Iya. Aku tadi memesan wine dan steak sebelum kau datang. Aku hampir lupa.” ucap Rian berdiri dan melangkah ke pintu. Seorang wanita membawakan sebotol wine dan steak pesanan Rian, saat wanita itu masuk dia memandang kearah Andini yang menutup tubuhnya dengan selimut, lalu dia menatap Rian yang mengedipkan matanya sebagai isyarat pada wanita itu.


“Selamat menikmati, Tuan.” ucap wanita itu hendak keluar kamar.  Baru saja Rian hendak menutup pintu, empat orang pria mendobrak masuk dan menutup pintu.  Salah seorang dari pria itu berdiri di pintu jaga-jaga.  Rian yang berteriak kaget membuat Andini ketakutan.


“Siapa kalian?” teriak Rian menoleh pada Andini. “Tetap disitu, jangan kemana-mana.”ucapnya pada Andini.


“Ha..ha...ha...disini ternyata kau Andini. Wah wah….sepertinya kedatangan kami mengganggu kalian berdua.” ucap seorang pria bertubuh tinggi besar.


“Mau apa kalian? Jangan ganggu dia!” teriak Rian saat dua orang pria mendekati Andini dan memegang tangannya.


“Jangan sentuh aku! Lepaskan!” teriak Andini ketakutan.

__ADS_1


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Salah satu pria menghajar Rian yang berusaha memukul pria itu namun pria yang tadi berdiri dipintu ikut menghajar Rian.  Tak mampu menghadapi dua pria, Rian pun babak belur dihajar dan etrsungkur di lantai.  Andini semakin ketakutan dan berteriak memanggil Rian, darah segar keluar dari sudut bibir pria itu. ‘Sial! Kuat sekali mereka memukulku! Perjanjiannya bukan seperti ini, kenapa jadi menghajarku babak belur begini? Kutuk Rian dalam hati.


Pria bertubuh tinggi besar menarik selimut yang menutupi tubuh Andini. “Ahhh...” andini berteriak melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun.  Wajahnya penuh ketakutan. “Kau lupa janjimu Andini? Mana uang yang kau janjikan, ha?”


“Uang apa? Aku tidak mengenal kalian!”


“Bos, sepertinya kita harus bermain-main dulu,” ucap salah satu pria yang kepalanya plontos.


“Kau berhutag sepuluh milyar pada kami! Apa kau lupa? Aku sudah memberimu waktu tiga hari.” ucap pria bertubuh tinggi besar dengan seringai menakutkan.


“Aku sudah memberikan sepuluh milyar. Kenapa kalian meminta sepuluh milyar lagi?”


“Kami tidak menerima uang itu Andini! Jangan coba-coba mempermainkan kami! Atau kau mau tubuhmu ini akan digilir oleh orang-orangku.” pria itu tertawa terbahak-bahak.


“Aku tidak punya uang dan aku tak punya hutang pada kalian! Enyah kau bajingan!”


Plak! Plak!


Pria itu menampar Andini hingga wajah wanita itu merah. “Berani kau padaku? Beri pelajaran pada wanita murahan ini!” perintahnya. Satu orang pria langsung mendekati Andini dan tatapan buas siap menerkam. “Kau lihat selingkuhanmu sudah terkapar. Tak ada yang bisa membantumu.” ketiga pria itupun menggilir Andini dengan sadis, sementara si pria bertubuh kekar hanya menonton sambil merekam semuanya. Rian yang pura-pura pingsan diikat di kursi.


Puas menggilir Andini, ketiga pria itu memakai pakaian mereka kembali. Andini yang terkulai lemas dengan penampakan yang menggenaskan. Airmatanya mengalir deras, seluruh tubuhnya sakit akibat perlakuan kasar dari ketiga pria itu. Pria bertubuh kekar mendekatinya dan mengangkat dagunya “Ku beri kau waktu tiga hari, siapkan uangku sepuluh milyar atau videomu hari ini akan kuberikan langsung pada suami dan menantumu!”


“Aku tidak mau!” ucapnya lirih menahan sakit.


“Kalau kau tidak mau memberikan sepuluh milyar, maka kau akan kujual kerumah bordil!”


“Anggap saja kau mencicil hutangmu dengan tubuhmu sampai sepuluh milyar lunas!”


Andini semakin menangis tanpa suara.  Keempat pria itu sudah pergi, Rian masih terikat di kursi dan masih pura-pura pingsan. ‘Mampus kau Andini, bagaimana rasanya tubuhmu digilir oleh pria-pria itu yang bau badannya seperti kerbau.’ gumam Rico dalam hati. Puas...dia merasa puas menyaksikan bagaimana Andini diperlakukan layaknya seorang *******.


*Halo semuanya....Terimakasih masih setia dengan novel ini. Mohon like, vote, komen dan sarannya ya biar author tambah smangat. 🙏🙏😘😘 Author doain semua pembaca dilimpahi kesehatan, rejeki & sukses selalu. Amin 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2