TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 237. PENGAKUAN WALUYO


__ADS_3

“Dengar baik-baik. Kami memang mengincar pria yang sudah mati itu karena dia telah berani menyusup kekediaman keluarga Tuan Besar.” ujar Jack. “Kami percaya dia ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa istri Tuan Verrel.”


Waluyo terdiam dan menatap satu persatu orang-orang yang berada diruangan itu. Tatapan matanya mendadak melunak, sinar kemarahan yang sebelumnya terpancar diwajahnya kini hilang entah kemana.


“Pak Waluyo….aku tahu anda bukan orang biasa, seorang pensiunan militer dengan jabatan terakhir yang lumayan, tinggal diluar pulau tiba-tiba muncul di ibukota dan memiliki rumah dengan ruang rahasia didaerah padat penduduk. Apa tujuan anda sebenarnya?”


“Tuan Verrel….apapun tujuanku tidak ada hubungannya dengan anda. Masalah saya dengan pria itu adalah urusan pribadiku. Boleh dibilang, ini dendam masa lalu.”


“Apakah ini ada kaitannya dengan kematian putri anda satu-satunya?” tanya Verrel. Dia sudah meminta anak buahnya untuk menyelidiki pria paruh baya yang selama ini tinggal di Kalimantan. Dari informasi yang didapatnya, selama bertahun-tahun hanya dua kali pria paruh baya itu datang ke Jakarta.


“Darimana anda tahu soal kematian putriku?” tanya Waluyo terkejut.


“Aku bisa mendapatkan apapun yang kumau. Apa anda lupa siapa aku?” tanya Verrel sarkas. “Ada kemungkinan anda membalas kematian putri anda yang dibunuh oleh pria itu, bukan?”


Waluyo kembali terdiam lalu menundukkan kepala sambil menghela napas panjang.


“Tuan Verrel, anda juga seorang ayah bukan? Jika sesuatu yang buruk terjadi pada anak anda, apa yang akan anda lakukan?”


“Hei jangan coba-coba mengancam Tuan!” teriak salah seorang anak buah jack.


“Sssstttt…...biarkan dia bicara.” hari ini Verrel terlihat cukup sabar menghadapi seseorang.


“Aku tidak perlu menjawab pertanyaan anda. Aku tahu apa yang akan kulakukan jika anakku celaka!” ujar Verrel lagi.

__ADS_1


“Baiklah. Aku sudah lelah dengan semua ini dan jika Tuan Verrel ingin tahu alasan aku membunuh, demi putriku! Pria bajingan itu yang membunuh putriku! Pria brengsek itu menculik, memperkosanya lalu membunuh putriku setelah menyiksanya! Putriku masih muda dan tidak bersalah! Dia hanya seorang mahasiswi magang yang bernasib buruk!”


Mata Waluyo berkaca-kaca sambil menahan kesesakan didadanya, mengingat kembali kejadian yang menimpa putrinya beberapa tahun lalu. Dengan suara pelan dia mulai menceritakan semuanya pada Verrel.


Tak ada satupun yang terlewatkan, cerita sebelum kejadian yang menimpa putrinya hingga akhir dan bagaimana dia membangun ruang rahasia dirumah bekas tempat tinggal putrinya. Sekian lama dia merancang rencana dan mencari tahy kebenaran dari tragedi itu yang kasusnya tak pernah berhasil diungkap oleh pihak berwajib.


Verrel mendengarkan dengan seksama sambil sesekali melirik Jack dan Bara. “Bagaimana anda bisa begitu yakin bahwa pria itu yang membunuh putrimu?”


“Bukankah kalian sudah melihat ruang rahasiaku? Apakah kalian tidak menemukan buku diari milik putriku disana? Aku menyimpannya didalam brankas dilemari rahasia, kalian bisa mengambilnya jika catatan itu mungkin bisa membantu.”


“Jadi, alasan putrimu dibunuh karena tanpa sengaja dia mendengar percakapan rahasia seseorang saat dia diminta mengirimkan dokumen ke sebuah alamat?”


“Ya, aku tidak bisa menemukan alasan lain. Aku sudah menyelidiki pria bernama Dayat itu. Apakah Tuan Verrel sudah pernah melihatnya? Apakah menurutmu pria itu benar-benar hanya bekerja sebagai tukang service AC? He he he…..tukang servis AC yang mampu membeli rumah mewah? Kecuali dia punya pekerjaan sampingan, sangat mencurigakan bukan?” ujar Waluyo.


“Rumah itu memang miliknya tapi dia juga punya rumah mewah dikawasan puncak.” ujar Waluyo lalu memberitahukan alamat rumah mewah milik Dayat.


“Dia membawa putriku ke rumah itu dan membunuhnya lalu membuang mayatnya dipinggiran hutan. Penduduk desa yang sedang mencari kayu menemukan mayat putriku disana. Hingga kasusnya ditutup, pihak berwajib tidak berhasil menemukan bukti maupun pelakunya, semuanya bersih. Hingga aku menemukan catatan putriku, dari sanalah aku menarik benang merah lalu mulai menyelidiki selama hampir dua tahun.” Waluyo menarik napas. “Seorang detektif freelance yang kusewa menemukan ponsel putriku di belakang rumah mewah itu.”


“Apa anda tahu isi pembicaraan yang didengar putri anda saat itu?”


“Malam sebelum putriku hilang, dia menghubungiku dan menceritakan semuanya dengan suara ketakutan. Aku sempat memintanya untuk segera meninggalkan ibukota dan kembali ke Kalimantan. Keesokan paginya aku sudah tidak bisa menghubungi putrinya hingga beberapa hari sampai aku mendapat berita jika dia sudah meninggal.” pria paruh baya itu kembali menghela napas, menahan kesedihan mengingat putri satu-satunya.


“Jack, pergilah ke alamat itu dan periksa!” perintah Verrel. Jack dan beberapa anak buahnya segera pergi setelahnya.

__ADS_1


“Dayat pura-pura bekerja sebagai tukang servis AC selama dua bulan terakhir ini. Aku rasa dia bekerja untuk seseorang. Anda bisa mengecek langsung ke tempat kerjanya, hari itu aku memang meminta agar dia yang datang kerumahku untuk memperbaiki AC yang rusak. Akhirnya kesempatanku datang untuk membalasnya dengan cara membunuhnya sama seperti dia membunuh putriku.”


“Tindakan anda sungguh berani dengan membunuhnya dirumah anda sendiri!” ujar Verrel. “Apakah dendam anda sudah terbalaskan?”


“Sudah dan belum.”


“Maksudnya? Apa ada orang lain yang anda incar?” Verrel memikirkan sesuatu, dia sedang memancing pria paruh baya dihadapannya.


“Anda seorang pengusaha terkenal Tuan Verrel, anda pria yang pintar dalam segala hal. Tanpa perlu saya katakan anda pasti tahu apa yang ada dalam pikiranku.”


“Baiklah. Anda ingin mencari orang-orang yang memerintahkan Dayat untuk membunuh putrimu, iyakan? Begini saja, berikan semua informasi yang anda punya dan biarkan anak buahku yang menyelesaikannya. Mungkin orang-orang ini ada hubungannya dengan apa yang terjadi pada istriku.”


“Hem….baiklah. Tapi saya ada satu permintaan.” ujar Waluyo.


“Katakan!”


“Jika anda menemukan orang-orang itu, ijinkan saya bertemu dengan mereka dan membalaskan dendam kematian putriku.”


“Oke, tidak masalah. Saya juga punya syarat untuk anda. Untuk sementara anda akan tinggal ditempat yang sudah saya sediakan dibawah pengawasan anak buahku. Ini untuk keselamatan anda.”


“Tidak masalah. Bukankah pria tua ini harus tetap hidup untuk membalas dendamku? Jangan khawatir Tuan Verrel, aku akan membantu sebisanya. Mintalah anak buah anda untuk pergi kerumahku dan mengambil beberapa barang didalam brankas. Semua informasi yang sudah kukumpulkan selama dua tahun ini kusimpan disana.” ujar Waluyo lalu menyerahkan sebuah kunci yang dia sembunyikan didalam sol sepatunya dan memberitahukan nomor kombinasi brankasnya.


“Bara! Suruh beberapa orang pergi kesana dan segera kembali kesini. Jangan sampai ada yang melihat mereka.”

__ADS_1


“Baik, Tuan.” jawab Bara memerintahkan lima orang untuk pergi ke rumah Waluyo.


__ADS_2