
Verrel berada diruang kerjanya, memejamkan mata, kepalanya pening dan membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Dia tidak pernah merasa seperti ini. “Tuan.” sang asisten memanggilnya karena sedari tadi memanggilnya namun tak mendapat respkn dari Verrel.
“Bisa diam tidak?” desis Verrel tajam sambil memijit pelipisnya. Frans menghela napas, ia sudah terbiasa dengan sikap Verrel yang suka marah-marah. Tapi sudah dua hari ini, emosinya Verrel berbeda dari biasanya.
“Maaf, Tuan. Malam ini anda harus menghadiri pesta pernikahan Tuan Rico dan Nona Iva, Tuan.” kata Frans tanpa menunda lagi untuk memberitahukan pada Verrel. Banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya, tak mungkin menunggu sang tuan besar yang seperti enggan menjawabnya.
Mendengar itu Verrel langsung membuka mata. Tak salah lagi dia mendengar pernikahan Rico. Tidak ada tanda-tanda Verrel akan menjawab, Frans pun berniat undur diri namun saat dia berbalik, ia terkejut mendengar perintah dari Verrel. “Maksud,Tuan?”
"Apa kau sudah tuli?" Pergi ke dokter kalau perlu."
Frans menghela napas panjang. Dia memang tidak paham maksud Verrel.
"Baik. Aku ulang lagi. Suruh butik langganan mama mengantarkan gaun paling bagus untuk istriku, lengkap dengan tas dan sepatu....apapun itu. Kau paham?"
"Satu lagi, pastikan hanya aku dan istriku yang akan jadi pusat perhatian para wartawan."
"Ta--tapi, Tuan."
“Jangan banyak tanya. Kerjakan sesuai perintahku!” ucap Verrrel dengan tatapan tajam menghunus kearah asistennya.
...**...
Verrel turun dari mobil dan berjalan kesisi lain untuk membukakan pintu untuk istrinya. Malam ini Deandra mengenakan dress berwarna keemasan dengan belahan rendah dibagian dada sehingga memperlihatkan lekukan tubuh dan *********** yang montok. Sengaja Verrel memilihkan gaun itu, ia ingin istrinya menjadi pusat perhatian di pesta pernikahan Rico dan Iva. “Tersenyumlah, Nyonya Verrel. Malam ini akan banyak wartawan disana.” Deandra paham karena kemanapun dia pergi bersama suaminya, para pemburu berita akan selalu mengikuti.
__ADS_1
Dengan langkah percaya diri, sepasang suami istri itu berjalan berdampingan, tangan Deandra merangkul lengan suaminya dengan mesra. Begitu melihat sang CEO dan istrinya datang, para wartawan langsung berlari mendekati mereka dan langsung mengajukan rentetan pertanyaan.
“Kenapa Tuan Yahya dan Nyonya Ayu tidak datang ke pernikahan ini Tuan? Apakah ada perseteruan didalam keluarga Ceyhan?”
“Apakah menurut anda pernikahan ini karena urusan bisnis atau ada alasan lain?”
“Apakah sedang terjadi persaingan untuk mendapatkan keturunan di keluarga Ceyhan?”
“Bagaimana tentang kehamilan Nyonya Verrel? Apakah ada kabar terbaru tentang jenis kelamin bayinya?”
"Maaf, Tuan. Apakah anda tahu siapa mantan kekasih Tuan Rico yang kabarnya sempat membuatnya frustasi?"
Mendengar pertanyaan terakhir membuat wajah Deandra berubah seketika, namun ia berusaha tenang dan tersenyum. Satu pertanyaan yang diajukan oleh seorang wartawan wanita membuat Verrel tersenyum, karena dari sekian pertanyaan hanya wanita itu yang bertanya tentang kehamilan istrinya. Dan ia merasa lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan itu.
Verrel lega saat menutup jawaban untuk pertanyaan lainnya. Verrel membimbing Deandra masuk kedalam ballroom yang sudah ramai oleh tamu undangan. Sesekali ia berhenti untuk menyapa dan berbincang sebentar tanpa melepaskan tangan istrinya. Kebetulan sebagian relasi bisnisnya datang.
“Dimana kita duduk, sayang?” tanya Deandra yang memandang kedepan, tatapannya beradu dengan Rico yang menatapnya tanpa berkedip. Siapapun tak bisa memalingkan pandangan mereka dari Deandra yang terlihat sangat cantik malam itu.
“Kita akan duduk dimeja depan agar kau bisa melihat pasangan pengantinnya,” bisik Verrel ditelinga Deandra.
Tiba-tiba Deandra merasa mual dan hampir kehilangan keseimbangan namun Verrel dengan cepat langsung memeluknya. Deandra berusaha menahan rasa mual yang semakin menyeruak, ia tidak ingin membuat suaminya malu. Verrel memeluknya mesra dan menarik kursi untuk Deandra dan Verrel duduk disebelahnya. Entah apa yang merasukinya, Deandra menarik tubuh suaminya mendekat, aroma maskulin dari tubuh pria itu membuatnya nyaman dan perlahan rasa mualnya hilang. Dia terus menghirup aroma tubuh suaminya itu. Aneh, kenapa tiap kali aku mencium aroma tubuhnya rasa mualku hilang? Bertanya dalam hati.
“Kau kenapa sayang? Kalau kau menggodaku disini, pria didepan sana akan terbakar,” kata Verrel sambil memandang kedepan. Ia melihat Rico menatap kearah istrinya dengan pandangan sedih dan amarah karena baginya Deandra sangat mesra pada suaminya. Dia bakan tidak peduli pada gadis disebelahnya yang sudah resmi jadi istrinya. Rico tidak bisa terima melihat Verrel dan Deandra.
__ADS_1
“Aku merasa mual, mau muntah. Tapi mencium aroma tubuhmu, rasa mualku hilang,”
Mendengar jawaban istrinya Verrel berusaha menahan senyum, ia tak ingin orang lain melihatnya tersenyum.
Verrel menarik satu tangan Deandra ke bibirnya dan menciumnya. Hal itu tak lepas dari bidikan kamera para wartawan, terlebih lagi pandangan pengantin pria dipelaminan. Deandra malah membalas sikap suaminya dengan membenamkan wajah kedadanya. Satu tangan Verrel merengkuh pinggang istrinya dan tangan satunya mengelus punggung Deandra. Dia mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. Rico semakin memanas melihat pemandangan didepannya.
Semua perlakuan Verrrel membuat semua yang melihat merasa iri dan menginginkan berada diposisi Deandra. Tak berlebihan jika sikap manis suaminya membuat Deandra semakin nyaman dan lupa dimana ia berada. Kedua tangannya melingkar keleher suaminya. Bidikan kamera tak henti mengabadikan momen kemesraan mereka.
“Sikapmu manis sekali, Nyonya Verrel. Apa kau ingin memperlihatkan pada semua orang bahwa kau istri yang posesif, huh?” Deandra mendongakkan kepala dan menatap Verrel “Kalau iya, kenapa? Aku tidak suka wanita-wanita itu memandangmu terus.” kata Deandra manja.
Verrel mengecup bibir Deandra dan **********. Keduanya saling membalas ciuman, entah mereka sengaja atau tidak sengaja melakukan itu, namun para tamu yang hadir pun tersenyum. Baru kali ini mereka melihat sikap romantis sang CEO.
“Lihatlah kekasihmu itu terlihat sangat marah,” kata Verrel berbisik ditelinga Deandra setelah mengurai ciumannya.
“Dia bukan kekasihku! Dia pengkhianat!” jawab Deandra dengan tegas.
“Apa kau yakin? Aku kira kau sangat mencintainya, hm?”
“Aku mencintaimu! Diamlah!” kata Deandra ketus yang membuat Verrel tersenyum. Kini dia semakin yakin jika Deandra sepenuhnya mencintainya dan tak lagi ada perasaan yang tersisa untuk Rico.
Amran dan Andini sedari tadi memperhatikan kemesraan Verrel dan Deandra. Wanita itu merasa marah, kedua tangannya mengepal karena bidikan kamera para wartawan selalu fokus pada pasangan itu. Sejak kehadiran sepasang suami istri itu, seakan tidak ada yang mempedulikan pengantin didepan, para wartawan lebih menyukai memburu berita pasangan romantis malam ini. ‘Kurang ajar! Mereka mengacaukan pernikahan anakku. Wartawan diundang untuk meliput acara pernikahan, mereka malah sibuk dengan Verrel dan istrinya.” desis kesal istrinya.
“Aku pikir mereka tidak akan datang,” ucap Amran berbisik pada istrinya. Sedangkan keluarga Baratha pun tak menyangka kehadiran Verrel dan istrinya malah menjadi pusat perhatian dipesta pernikahan putrinya. Para tamu dan wartawan lebih tertarik pada pasangan itu dibanding pada pengantin baru yang berdiri didepan. Entah memang sudah direncanakan oleh Verrel dan Deandra untuk mengumbar kemesraan di pesta itu.
__ADS_1
...**...