
“Apa papa bilang barusan? Papa serius? Pagi-pagi datang kesini hanya untuk mengatakan hal itu?” tawa Verrel pun meledak kembali seolah-olah ia baru saja mendengar sebuah lelucon paling lucu di hidupnya. Bagaimana tidak? Pria paruh baya yang ia kenal dari dulu sangat angkuh, sombong dan tak peduli dengannya, tiba-tiba saja datang untuk memerintah dirinya agar mencabut laporan atas tindak kejahatan putra kesayangannya yang kini sedang dipenjara dan kasusnya kini diurus oleh pihak kepolisian.
“Ingat ya Verrel! Aku pastikan kau akan menyesal telah melaporkan saudaramu sendiri, Verrel!” ucap Amran tegas dengan masih mempertahankan egonya yang tak ingin kalah.
“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Papa bilang aku akan menyesal?” Verrel menyipitkan matanya dan tatapannya kini sangat menakutkan “Coba papa katakan padaku atas dasar apa aku bisa menyesal? Dan harus papa ketahui ya agar mata papa terbuka mulai dari sekarang.” Verrel memasang wajah serius “Aku dan anak perempuan murahan j*langmu itu tidak terlahir dari benih yang sama. Didalam tubuhku mengalir darah keturunan Ceyhan yang terhormat, aku dilahirkan oleh seorang ibu yang berasal dari keluarga terhormat! Oh….papa sepertinya belum tahu banyak hal tentang perempuan j*langmu itu ya.”
Verrel menjeda ucapannya dan beralih menatap sini wanita simpanan yang kini membelalakkan mata karena terkejut, Andini tak menyangka Verrel sudah mengetahui rahasia terbesarnya. Tatapan Verrel kini kembali pada pria yang sudah membuatnya terlahir ke dunia ini tapi tak pernah memberikan kasih sayang dan perhatian padanya sejak dia lahir.
“Aku rasa ya sepertinya papa memang belum mengerti tentang kenyataan yang sesungguhnya bahwa selama bertahun-tahun istri kesayanganmu itu menyembunyikan sebuah rahasia besar. Rahasia yang ditutup rapat olehnya tapi dia lupa bahwa ada orang lain yang mengetahui dan punya bukti. Bukan saja bukti tentang anaknya tapi juga bukti atas tindak kejahatan yang sudah dilakukannya bertahun-tahun lamanya.”
Verrel melirik kearah Yahya yang kemudian menggangguk. “Supaya papa tahu, aku dan bajingan itu tidak sedarah! Jadi sudah seharusnya papa tahu jika kami tidak memiliki hubungan apapun. So, aku tidak akan pernah menyesal jika bajingan itu mati dipenjara!”
Seketika Amran emosi, ini kedua kalinya dia mendapat berita kalau Rico bukan anak kandungnya. Kemarin dia menerima paket berisi akta kelahiran dan beberapa surat bukti hubungan Andini dan seorang pria dimasa lalu.”
Tapi Amran yang keras kepala dan bohoh mengganggap ini semua akal-akalan Yahya saja. Karena selama ini memang ayahnya yang menentang dan tak menyukai saat dirinya menikah lagi dan lebih memilih Andini. Namun, Amran tak menyadari jika wajah istri kesayangannya itu sudah memucat dari tadi. Bahkan tanpa sadar wanita itu meremas kuat tangan suaminya.
__ADS_1
“Jaga mulutmu Verrel! Dasar kau anak sialan! Tidak seharusnya kau berkata seperti itu pada saudaramu sendiri. Bagamanapun Rico adalah adikmu.” seru Amran tak terima dengan ucapan putra pertamanya itu. Verrel malah menyeringai dan berganti melirik pada kakeknya Yahya yang masih duduk tenang sebagai pengamat. “Verrel rasa sudah saatnya Opa mengeluarkan hasil tes DNA itu untuk memberitahukan pada putra Opa yang bandel dan keras kepala itu.”
Yahya amsih tak bergeming dan tak lantas bersuara, dia masih begitu menikmati pemandangan didepannya, dia menunggu sampai Amran mengeluarkan kata-kata yang paling ia tunggu-tunggu.
Benar saja, tak perlu menunggu waktu lebih lama, Amran pun langsung membuka suaranya yang ditujukan kepada sang ayah Yahya.
“Papa mengada-ada agar aku kembali kerumah ini dan meninggalkan istriku, iyakan? Kalau itu yang papa mau, dengar ini baik-baik, maka papa tak akan pernah mendapatkannya. Haram bagiku untuk kembali ke keluarga ini dan takkan pernah aku kembali lagi tinggal dirumah ini sampai aku mati. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menuruti keinginanmu.”
“Hah...ternyata kau masih bodoh, Amran. Pantas saja kau dibohongi selama bertahun-tahun oleh wanita licik itu.” Akhirnya Yahya kembali bicara “Aku sudah tak sabar lagi untuk melihat bagaimana hancurnya perasaanmu setelah mengetahui rahasia yang disimpan oleh wanita itu selama bertahun-tahun. Oh...satu lagi. Wanita itu bahkan masih bertemu dengan lelaki ayah kandung dari anaknya dan bukan itu saja, apa kau tak tahu jika selama ini wanita itu berselingkuh?”
Dada Amran sesak, dadanya naik turun menahan emosi. Namun, Yahya kembala berkata “Begitu bodohnya kau sampai kau percaya jika wanita itu pergi ke luar negeri padahal dia menginap dirumah selingkuhannya...ha...ha….ha….ha….bodoh bodoh!” tawa Yahya pun terdengar menyeramkan seakan mengejek kebodohan Amran.
“Kau memang bodoh dari dulu. Untungnya cucuku Verrel mewarisi kepintaran ibunya. Kenapa kau tak mengecek saja ke imigrasi, benar atau tidak jika wanita itu pergi ke luar negeri? Kau percaya begitu saja dengan semua omongannya, cih!”
“Mas….Rico...”
__ADS_1
Rintihan Ayu terdengar setelah sejak tadi diam dan berubah menyeringai tipis. Ayu Prastita masih mengingat dengan jelas semua perlakuan Amran padanya dulu, setiap kesakitan yang ditorehkan oleh Amran di masa lalu seakan masih segar diingatannya, bagaimana tangan suaminya mencekiknya dan nekat mau menghabisi Ayu.
“Tanyakan saja pada wanita kesayanganmu itu. Dia yang tahu siapa ayah kandung dari bayi didalam perutnya dua puluh lima tahun lalu,” ucap Yahya enteng tanpa menyurutkan pandangannya yang dingin dan tajam.
Andini terkejut dengan apa yang didengarnya, dia sudah tak tahan untuk duduk lama-lama di sofa mahal nan mewah itu. Sebentar lagi semua kedoknya terbongkar, belum lagi tadi pagi dia menerima sms ancaman lagi dari seseorang yang berniat membunuhnya membuatnya semakin ketakutan. Kini wajah Andini semakin pias. Aliran darah didalam tubuhnya seolah berhenti dan rasanya dia tak bisa lagi bernapas saat itu. Apalagi ketika pria yang menikahinya kemudian menatapnya lekat-lekat.
“Apa maksud semua ini Andini? Apakah kau tahu apa yang dimaksud papa?” tanya Amran penuh tuntutan. Kemarahan yang sejak tadi ia tujukan pada Verrel pun lenyap seketika.
“Bohong, pa. A—aku aku tak tahu tentang semua itu. Mereka hanya ingin mengacaukan kita saja. Bukankah dari dulu papamu memang tidak menyukaiku? Jadi seharusnya papa tahu bagaimana dia akan berusaha menghancurkan kita dengan cara mengadu domba kita, pa.” ucap Andini dengan wajah bersimbah airmata dan suara parau yang menjijikkan ditelinga siapapun yang mendengarnya.
“Tapi, Andini---”
“Oh, masih berani juga kau berkelit ya? Apa tidak sebaiknya jika kita mengundang seseorang yang mungkin tak asing bagi wanita itu untuk membuktikan bahwa apa yang kita katakan benar?”
“Ide yang bagus, Opa. Papa silahkan saja hubungi imigrasi sekarang untuk memastikan jika wanita itu benar-benar pergi keluar negeri seperti pengakuannya? Kita lihat siapa disini yang berbohong.” ucap Verrel tersenyum sinis. Dia sudah mempersiapkan semua ini dengan kedua kakeknya, waktunya sudah tiba bagi kehancuran wanita murahan yang sudah menghancurkan keluarganya dan membuat sang ibu mengalami gangguan mental hingga harus dirawat.
__ADS_1