TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 270. BERKUMPUL KEMBALI


__ADS_3

Saguna memberi isyarat pada salah satu anak buahnya. “Mari ikut saya, Tuan.”


“Aku akan memeriksa kedalam, kalian tetap berjaga disini,” perintah Verrel pada Jack. Jack dan anak buahnya hanya mengangguk patuh dan berdiri waspada didepan pintu ruang bawah tanah itu.


“Lepaskan dulu putriku.” ujar Saguna.


“Sabar Pak Saguna! Saya harus memastikan dulu keadaan istri dan anakku. Anda tidak mau rugi kan? Saya juga begitu. Jadi tunggulah sampai saya kembali.”


Setelah itu, Verrel berbalik lalu menghilang dibalik pintu. Dia berjalan menuruni tangga mengikuti petunjuk anak buah Saguna. Bau apek menguar sangat kuat membuat Verrel menahan napas berkali-kali. “Silahkan Tuan,” kata lelaki itu menunjuk kesebuah ruangan yang sudah dibuka pintunya. Didalamnya hanya ada sebuah ranjang kecil tanpa kasur dan Deandra tergeletak tak berdaya sambil memeluk Naomi disana.


Verrel terenyuh melihat pemandangan didepan matanya. Sebelah tangannya menyentuh kepala Deandra lalu mengusapnya dengan lembut. Naomi membuka mata lalu mengerjapkan matany dan tersenyum saat melihat siapa pria itu, “Papa!”


Sentuhan tangan Verrel dan suara Naomi membuat Deandra perlahan membuka mata. Pupil matanya langsung membesar saat mengenali sosok yang berada dihadapannya. Airmatanya pun luruh seketika, Verrel mengambil Naomi dan menggendongnya lalu merengkuh tubuh Deandra  kedalam pelukannya. Tangis Deandra pecah dalam pelukan suaminya bersamaan dengan tangis Naomi.


“Maaf sayang. Maafkan aku terlambat menemukanmu,” ujar Verrel lirih. “Cup….cup…..sayang papa jangan menangis lagi ya. Papa sudah disini.” Verrel mengecup pipi anaknya yang terlihat kotor.


Deandra terus menangis terisak, lidahnya kelu untuk berkata-kata hanya hatinya yang meneriakkan terimakasih berkali-kali.


“Tenanglah sayang. Kau aman sekarang, aku akan selalu melindungi kalian,’ kata Verrel.


Deandra balas memeluk Verrel dengan kuat namun lidahnya masih tak mampu berkata-kata. Ia masih saja terisak didada Verrel. “Mama…..mama…...” panggil Naomi dengan tangan kecilnya mengusap wajah ibunya yang berlinang airmata.


Lalu Verrel membantu Deandra berdiri karena dia lemah dan menuntunya keluar dari ruangan gelap itu.


Saat dia tiba diatas dia berkata pada Jack, “Kita pergi sekarang.”


******


Langit sore terlihat berwarna keemasan dengan gumpalan yang berarak pelan. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, mobil yang membawa Verrel bersama Deandra dan Naomi tiba di sebuah hotel berbintang. Dengan cepat para pengawal Verrel mengamankan lobi hingga Verrel masuk kedalam lift menuju ke lantai atas di presidential suite. Dia menggendong Deandra sedangkan Naomi berada di dekapan Jack.


“Tolong panggilkan dokter yang bisa dipercaya.” ujar Verrel setelah mereka tiba didalam kamar hotel.

__ADS_1


“Baik, Tuan.” sahut Jack.


“Aku pikir sebaiknya malam ini kita menginap dan kita kembali ke Jakarta besok pagi. Kalian bisa beristirahat dikamar masing-masing.”


“Baik, Tuan. Saya akan atur anak buahku yang akan berjaga didepan.”


Lalu Verrel menghubungi keluarganya untuk memberitahu kalau Deandra dan Naomi sudah bersamanya dan mereka akan kembali besok. Setelah itu dia menghubungi Frans.


“Bagaimana situasi disana? Apa agenda untuk besok?”


“Sesuai perintah Tuan, semua meeting sudah saya rescheduled ulang dan besok malam ada acara makan malam bersama klien kita dari Jepang. Acara dimulai jam tujuh malam. Apakah Tuan bisa kembali sebelum acara dimulai? Atau anda tidak akan menghadiri acara itu?” tanya Frans.


“Tidak! Aku akan datang ke acara itu karena ada orang yang ingin aku temui besok. Jika tidaka da hambatan kami akan tiba disana menjelang sore. Aturlah sebaik mungkin sampai aku datang.”


“Baik, Tuan. Saya akan atur semuanya. Oh iya, bagaimana keadaan Nyonya dan Naomi?”


“Kami sudah berada di hotel sekarang. Mereka berdua baik-baik saja, sebentar lagi dokter datang untuk memeriksa keadaan mereka.”


“Papa….mandi.”


‘Aduh! Aku lupa memandikan Naomi. Untung saja tadi aku membawa pakaian buat mereka.’


“Sayang, mandi dulu ya. Ayo aku bantu.” ujar Verrel pada Deandra. Lalu membawa keduanya masuk ke kamar mandi. “Lukamu gimana?”


“Baik-baik saja. Terakhir dokter bilang, bekas operasinya tidak ada masalah.”


Verrel membantu memandikan Naomi, sedangkan deandra berendam air hangat untuk merilekskan tubuhnya yang lelah.


Setelah memandikan Naomi dan memakaikan baju bersih, gadis kecil itu menikmati makanannya bersama Deandra. Keduanya tampak sangat kelaparan membuat hati Verrel terasa sakit, dia akan membuat Olivia membayar semua perbuatannya. Tak lama, dokter yang diminta oleh Verrel pun tiba lalu memeriksa keadaan Deandra dan Naomi. Setelah selesai, dia langsung pergi tanpa banyak basa basi dengan Verrel yang memang tak suka berinteraksi dengan wanita selain istrinya.


Dreettt dreeet dreeettttt

__ADS_1


“Ya, ada berita apa?”


“Pak Saguna dan keluarganya sudah meninggalkan kota ini baru saja. Apa perlu kami awasi terus?”


“Tidak usah! Biarkan mereka pergi jauh. Ada hal lain?”


“Orang yang saya kirimkan masih terus mengawasi Olivia.”


“Apakah dia tahu kalau Saguna sudah meninggalkan kota ini?”


“Sepertinya tidak tahu, Tuan. Dia terlihat tenang dan beraktivitas seperti biasa tapi kami sudah menyadap teleponnya jadi kita bisa pantau terus.”


“Bagus! Biarkan saja dulu dan kirimkan laporan segera jika kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan atau hasil menyadap ponselnya.”


“Baik, Tuan.”


“Sayang, sudah malam. Sebaiknya istirahat saja ya.” ucap Verrel mengecup bibir istrinya yang dirindukannya selama beberapa hari ini. Dia lupa ada Naomi disamping Deandra.


“Papa! Jangan iyum….iyum mama. Naomi aja!” lalu dia melingkarkan tangan mungilnya dileher Verrel dan menciumnya.


“Ihhhhh kakak cemburu ya?” goda Deandra. “Papa mau cium mama aja.”


“Gak boleh…..kakak aja.”


“Ya udah papa cium kakak ya.” Verrel menciumi pipi gembul Naomi membuatnya tertawa.


“Kita tidur ya? Mama mau istirahat jadi kakak juga bobok. Besok kita pulang kerumah.” ujar Verrel menggendong Naomi menuju ke kamar tidur dengan Deandra mengikuti dibelakangnya.


Malam semakin larut, jalanan sepi dan orang-orang sudah terlelap diperaduan. Begitu juga Verrel dan Deandra yang tertidur pulas saling berpelukan di ranjang besar mereka. Sedangkan Naomi berada ditengah-tengah mereka. Wajah mereka tampak tenang, lepas dari semua lilitan masalah yang membelenggu jiwa. Memasuki pagi, ketika suara alarm terdengar, Verrel terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata dengan perlahan mengedarkan pandangannya menyadari kalau dia tidur semalaman dengan mendekap istrinya.


Hatinya terasa hangat oleh pancaran hawa tubuh Deandra yang menempel ditubuhnya. Senyumnya mengembang lalu Verrel mencium pucuk kepala istrinya dan putrinya bergantian dengan penuh cinta. “Selamat pagi sayang.”

__ADS_1


Deandra bergumam lirih dengan mata terpejam, ia semakin merapatkan tubuhnya ketubuh Verrel. Pria itu menarik selimut menyelimuti tubuh Deandra dan Naomi rapat-rapat setelah itu dia beranjak turun dari ranjang. Jam sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, pantas saja langit tak lagi gelap diluar jendela. Ponsel Verrel bergetar beberapa saat setelah ia selesai mandi dan baru saja keluar dengan memakai jubah mandi. [Tuan, saya sudah mendapatkan alamat Olivia dan lelaki yang membantunya itu. Pagi ini kami akan bergerak menangkap mereka.]


__ADS_2