TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 293. TENANG DAN DAMAI


__ADS_3

"Oh begitu. Syukurlah bukan Dirga Bimantara. Tapi, kuakui Olivia sangat hebat dan cerdas dengan semua konspirasinya."


"Hmmm...perempuan licik itu! Mana cerdas-cerdasnya!"


“Ya tetap saja hanya orang cerdas yang bisa melakukan hal sejauh itu. Mengelabui polisi dengan oplas, gila kan sayang?” ujar Deandra. “Sayangnya kecerdasannya dimanfaatkan untuk hal yang negatif. Sekarang dia harus mendekam dipenjara, menyia-yiakan masa mudanya dan kehilangan masa depan.”


“Sudah….sudah….tidak usah dibahas lagi. Tidak penting! Sekarang kita pikirkan tentang kita saja.” ucap Verrel menarik tubuh deandra kepelukannya.


“Seperti janjiku waktu itu, karena masalah yang membelit kita sudah usai, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke luar negeri? Hitung-hitung honeymoon lagi setelah punya anak lima. Kalau dipikir-pikir sejak Nathan dan Naomi lagir, kita belum honeymoon lagi,” sambung Verrel.


Sepasang mata Deandra langsung berbinar mendengar ajakan Verrel.


“Mau….mau! Tapi jangan ke luar negeri, Baby C masih terlalu kecil untuk perjalanan jauh. Bagaimana kalau liburan dalam negeri saja? Kalau Baby C sudah umur beberapa bulan baru kita liburan ke luar negeri sama Opa dan papa.” kata Deandra memberi saran.


“Kemana?”


“Bagaimana kalau ke Lombok? Sekalian lihat resort kita yang baru?” jawab Deandra. “Sekalian kita jenguk Juan disana! Dia pasti senang kita bawa anak-anak. Ya kita bisa cek dia bersenang-senang dengan wanita-wanita disana atau tidak?”


Ada perasaan senang dihati Verrel mendengar ucapan istrinya. Sejak Juan kembali ke Indonesia dan Yahya memintanya mengurusi bisnis hotel memang Juan dekat dengan Deandra karena istrinya selalu memberi ide-ide untuk desain interior hotel dan resort. Jadi Juan terkadang menghubungi Deandra untuk berdiskusi tentang konsep-konsep baru hotel maupun resort.


“Ide yang bagus! Dia pasti mati kutu kalau kau ada disana! Bisa-bisa dia tidak bisa dekat-dekat dengan wanita-wanitanya.” ujar Verrel tertawa mengingat Juan dan dirinya tak jauh beda soal wanita.


“Biarin saja! Dia harus segera menikah biar berhenti dari kebiasaannya, ya seperti suamiku yang tampan ini! He he he….”


“Menikah sama siapa? Teman wanitanya banyak tapi hanya untuk senang-senang! Tidak ada yang serius. Memangnya punya teman mau dikenalkan sama dia?”


“Nanti aku carikan, aku pikir-pikir dulu!”

__ADS_1


“Baiklah sayangku. Eh...kapan kita berangkat?”


“Bagaimana kalau dalam waktu dekat? Kita tanya pendapat Opa sama papa?”


“Ehm….nanti aku tanya mama juga. Mana tahu mereka juga mau gabung jadi bisa liburan keluarga besar. Lebih seru kalau ramai.”


“Oke, terserah sayang saja maunya gimana.” jawab deandra kembali menyusupkan kepala kedalam pelukan Verrel. “Kemana saja, kapan saja asal sama suami tercinta dan anak-anak, aku pasti ikut.” sambung Deandra sambil tangannya megelus lembut tubuh Verrel dari dada lalu bergerak perlahan ke bawah. Verrel menatap perbuatan istrinya sambil tersenyum.


“Iya, aku juga begitu. Tapi…..kenapa itu tangan turun kebawah? Dia mau apa disana?” tanya Verrel sambil menunjuk dengan dagu. Deandra memasang senyum jahil sambil menopang dagu diatas dada Verrel sementara tangannya sibuk mengelus.


“Tidak mau apa-apain, cuma mau mainin milikku. Memangnya tidak boleh ya?” Deandra balik bertanya dengan sorot mata menggoda.


...******...


Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa empat minggu sudah terlewati dengan konsentrasi penuh Verrel berhasil mengatasi semua masalah. Perusahaannya semakin maju dan mengalami peningkatan tajam berkat tangan dinginnya, nilai saham perusahaan pun tetap stabil. Dengan kebijakannya membagi sebagian perusahaan kepada sepupunya sesuai dengan kemampuan mereka untuk dihandle.


Sedangkan Darma ayahnya Deandra pun kembali bersinar didunia bisnis dengan mengembangkan perusahaan milik Deandra. Bisnis properti mereka pun berkembang pesat, sedangkan Yahya dan Viktor hanya mengamati saja bagaimana cucu-cucu mereka bekerja bahu membahu mempertahankan bisnis keluarga.


Verrel pulang lebih awal untuk memberi kejutan pada istrinya. Setelah turun dari mobil dia berlari masuk kerumah tapi dia ingin melihat anaknya terlebih dulu. Dia pun bergegas ke kamar bayi dan mendapati ketiga bayi baru saja selesai mandi dan berpakaian. Aroma segar khas bayi pun menguar diseluruh kamar itu. Verrel menciumi satu persatu Caesar, Carlos dan Chloe.


Semakin hari ketiganya tumbuh sehat dan menggemaskan dengan tubuh montok karena kuat minum ASI. Setelah itu dia ingin menemui kedua anak sulungnya, saat dia baru saja membuka pintu kamar itu dia pun melompat kaget sambil memegangi dadanya,


“Kyaaaa…..!”


Suara tawa dua anak kecil itu menyadarkan Verrel. Dia mengerjapkan matanya melihat dua makhluk kecil berpakaian serba putih dengan seluruh wajah putih berlumuran bedak baby.


“Ya ampun! Hampir saja jantung papa copot!” serunya menatap kedua anak itu. Dia memperhatikan kalau yang mereka pakai adalah seprai putih, semuanya serba putih makanya Verrel kaget saat masuk ke kamar. Suara teriakannya yang sempat terdengar ke lantai bawah pun membuat Yuna dan dua babysitter berlari menghampiri.

__ADS_1


“Ada apa Tu----.” belum sempat Yuna selesai bicara dia melihat penampakan sosok kecil berwarna putih didepan Verrel.


Sontak Yuna menahan tawanya melihat kedua anak itu yang selalu saja bikin orang serumah terkejut.


“Kalau mau ketawa jangan ditahan-tahan Yuna!” ujar Verrel.


“Maaf Tuan.”


“Kenapa kalian membiarkan anakku seperti ini? Darimana mereka dapat kain putih itu?”


“Maaf Tuan. I---itu…….tadi….” babysitter Naomi bicara terbata-bata ingin menjelaskan.


“Begini Tuan. Biar saya jelaskan, Naomi memang selalu begini kalau dirumah. Dia suka membuat orang-orang dirumah terkejut, tadi dia mengambil kain seprai putih itu dari kamar ujung. Babysitternya sudah melarang tapi Naomi mengamuk. Jadi saya suruh babysitter biarkan saja daripada barang-barang dipecah.” ujar Yuna menjelaskan.


“Lalu kenapa Nathan juga ikut-ikutan? Kalian ini tidak bisa mengurus anakku ya?”


“Nathan selalu menuruti Naomi, Tuan. Seperti waktu itu, Naomi coret-coret wajahnya Nathan pakai makeup. Dia hanya ingin menyenangkan adiknya saja jadi kalau Naomi minta Nathan mengikutinya, dia pun tidak menolak, Tuan.”


“Waduh! Mau jadi apa putraku kalau begini.”


“Papa….” dua anak kecil itu memanggil Verrel. Melihat senyuman Naomi, hati Verrel pun langsung meleleh dan semuanya amarah dan rasa letihna hilang digantikan senyuman.


“Kalian berdua ini benar-benar konyol.” ujarnya. “Apa saja yang mereka lakukan kalau dirumah.”


“Ya begitu Tuan. Tuan Besar juga pernah dikagetkan mereka berdua. Maaf Tuan, Naomi memang agak usil suka godain orang-orang dirumah. Tapi kalau sudah marah dan mengamuk barang-barang pasti ada yang pecah. Kalau Nathan lebih pendiam seperti Tuan.” jawab Yuna tersenyum.


Verrel memijat pelipisnya memikirkan ulah kedua anak itu setelah Yuna dan babysitter bercerita apa saja kelakuan kedua anaknya dirumah. Pernah sekali Naomi menemukan cacing dihalaman belakang lalu meletakkan di kaki salah satu pelayan yang sedang duduk di dapur. Pelayan itu sampai melompat-lompat ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2