TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 201. PENGHANGAT DAN SUAMI TERCINTA


__ADS_3

Kemanjaan Deandra berlipat pada kehamilan kedua kali ini, sementara Verrel selalu bertingkah aneh dan hanya mau makan kalau disuapi istrinya. Deandra meraih tangan suaminya dan melingkarkan ketubuhnya dengan santai “Ayo makan malam dengan posisi seperti ini.” Verrel tertawa terbahak-bahak melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.


“Apa yang kau pikirkan tentangku, sayang? Apa aku ini pemanas atau semacam selimut?”


“Kau itu penghangat tubuhku dan suami tercintaku,” jawab Deandra dengan lugas. Seringkali Deandra berterus terang dengan kata-katanya tentang apa yang ada dipikirannya. Kadang Verrel terkejut dengan kejujuran kata-kata istrinya.


Senyum nakal muncul dibibirnya “Benarkah? Bagaimana kau bisa membuktikan ucapanmu, sayang?”


Deandra meringkuk lebih dekat untuk membuktikannya lalu dia mencium dan ******* bibir suaminya, setelah mengurai ciumannya dia berkata “Aku bersandar dipelukanmu, menciummu, menghangatkanmu dan melahirkan anak-anak untukmu. Itu adalah bukti bahwa kau adalah penghangatku dan suami tercintaku. Hall, seorang psikolog Amerika melakukan sebuah penelitian tentang jarak fisik antara orang-orang. Menurut penelitian yang dilakukannya, ada empat jenis jarak sosial yaitu jarak publik, jarak sosial, jarak pribadi dan jarak intim. Diantara kita berdua disebut jarak intim. Itu artinya kita memiliki kedekatan intim dan penting satu sama lain untuk menghangatkan.


“Aku sangat mencintaimu, jadi aku rela melakukan apapun untukmu, rela jadi penghangat tubuhmu dan berada didekatmu,” gumam Deandra dengan puitis seolah itu adalah hal yang paling nyata didunia. Verrel berusaha menahan diri agar tidak tertawa mendengar ucapan istrinya. Dia tidak menyangka jika istrinya akan menjelaskan begitu panjang dan lebar dengan serius. Dia pung menggendong Deandra menuju ke ruang makan. “Ayo kita makan.”


Posisinya masih dipeluk dan dipangku oleh Verrel, Deandra menyadari posisi itu tidak nyaman untuk makan. Dia turun dari pangkuan suaminya dan menjauh duduk disebelahnya. “Ayo kita makan dengan cara seperti ini saja, lebih nyaman. Perutku buncit jadi tidak nyaman kalau dipangku.”


“Awas! Teriak Deandra yang melihat Naomi dan Nathan mendorong guci mahal yang berada disudut ruang makan. Kedua bocah itu selalu saja membuat kerusuhan dirumah, Ayu dan Yuna yang baru saja akan masuk keruang makan segera menghampiri Nathan dan Naomi yang baru saja mendorong guci itu hingga pecah.  Bukannya menangis, kedua bocah kecil itu tertawa khas bayi, hal itu justru memicu tawa dari semua yang berada diruang makan.


“Kemana para pengasuhnya? Kenapa anakku bisa berkeliaran seperti ini tanpa pengasuhnya?” tanya Verrel marah membuat para pelayan ketakutan, setelah sekian lama tak melihat sang tuan besar marah.


“Maafkan kami, tuan. Kami sedang membereskan mainan mereka.”

__ADS_1


“Yuna! Ganti pengasuh kedua anakku! Aku tidak suka dengan pengasuh yang tidak disiplin dan perhatian. Kau lihat guci mahal itu pecah! Untung kami ada disini, bayangkan jika tak ada orang disini dan kedua anakku terluka.” teriak Verrel dengan tatapan tajam.


“Saya akan pilihkan pengasuh baru untuk tuan muda dan nona muda,” sahut Yuna yang melotot pada kedua pengasuh itu. Dengan isyarat mata dia menyuruh mereka segera pergi.


“Pilihkan pelayan yang bisa mengurus anak-anak dengan baik.” kata Verrel memandang kedua anaknya yang sudah digendong Ayu dan Yuna.  Deandra berjalan dan mengambil Nathan dari gendongan Yuna dan membawanya ke meja makan. Sedangkan Ayu menggendong Naomi, kini mereka duduk bersama dan menikmati makanan lezat yang terhidang sambil terkekeh melihat kedua bocah kecil yang mengaduk makanan dipiringnya.


Semenjak kedua bocah itu sudah bisa berjalan tertatih dan semakin aktif, Deandra terpaksa membiarkan pelayan yang membantu mengasuh putra dan putrinya itu. Wanita itu kewalahan menghadapi tingkah anaknya yang smakin tak bisa diam dan tak akan tidur jika bukan Verrel yang menidurkan mereka.


“Cucu oma pintar sekali, sih?” kata Ayu menciumi pipi Naomi gemas karena anak itu sangat lucu. “Lihat, semua koleksi guci, vas bunga dan barang-barang dirumah ini kalian hancurkan semuanya.”


“Ooo ee...ahhhh kkkblu blu blu….omaaaa…..” balas Naomi seakan menjawab ucapan Ayu. Naomi menepuk kedua tangannya dan tertawa dengan riang seolah itu adalah jawaban atas pernyataan Ayu.


“Sama opa Viktor dulu, ya.” Viktor sudah mengambil alih Nathan dari Deandra. Bocah laki-laki itu tertawa saat tangan mungilnya menyentuh dagu Viktor yang bercambang tipis karena dia belum bercukur. Viktor mengusapkan dagunya kewajah Nathan membuatnya tertawa geli. “Yahya, tak lama lagi kita dapat tiga cicit lagi. Sepertinya kita harus jaga kesehatan dan tetap fit supaya kuat menggendong mereka semua nanti.”


“Iya, semoga nanti bayi laki-laki semua biar banyak penerus keluarga Ceyhan.”


Suasana ruang makan itu semakin ramai setelah semua keluarga berkumpul dengan suasana riuh oleh ulah kedua bocah yang tak bisa diam ingin menyentuh apapun yang ada diatas meja makan. Tingkah laku kedua bocah itu mengingatkan Yahya pada Verrel kecil yang sama menggemaskan seperti Nathan dan Naomi. Mata Yahya berkaca-kaca melihat semua keluarganya berkumpul seperti itu dengan semua keriuhan dari kedua cicitnya. Yahya membayangkan betapa ramainya rumah besar itu jika Deandra melahirkan nanti.  Kehadiran lima anak kecil dirumah itu pasti akan membuat rumah besar nan mewah itu akan bertambah kacau dan riuh setiap hari. Meskipun dia kehilangan putranya Amran, tapi kini tergantikan dengan kehadiran cicit-cicitnya yang membawa kebahagiaan dirumah itu.


“Oh iya, besok kita akan kedatangan tamu penting. Jadi mama harap besok kita semua bisa berkumpul untuk makan malam bersama.” kata Ayu tersenyum.

__ADS_1


“Tamu? Siapa ma?” tanya Verrel.


“Sabarlah Verrel. Besok kau juga tahu siapa tamu penting kita.” jawab Yahya melirik Ayu. Dia hanya mengharapkan kebahagiaan bagi menantu kesayangannya itu. Kini, setelah resmi bercerai dengan Amran sudah saatnya Ayu mencari kebahagiaannya sendiri.


“Aku cuma tanya, penasaran saja Opa. Selama ini mama tidak pernah mengundang tamunya kerumah.”


“Makanya, yang besok datang itu tamu istimewa karena ini pertama kalinya Ayu akan membawa tamu kerumah.”


“Viktor…..bagaimana menurutmu? Apakah kita jadi berangkat ke Amerika minggu depan?”


“Kita tunggu lusa bagaimana keputusannya. Bukankah ada hal yang lebih penting yang harus kita persiapkan?” tanya Viktor.


“Opa kalian ini bicara apa sih? Dea tidak paham sama sekali, sepertinya ada rahasia,” kata Deandra yang bingung mengikuti arah pembicaraan di meja makan sejak tadi. “Papa, tahu sesuatu?” tanya Deandra mengalihkan pandangan kearah Darma yang hanya mengangkat bahu.


“Papa dan kedua Opa mu berencana akan pergi ke Amerika. Ada urusan penting.” jawab Darma.


“Lantas, apa ada hubungannya dengan tamu istimewa yang datang besok?” tanya Verrel.


“Oh…..tidak juga.” kata Yahya saling melirik ke Viktor dan Darma. “Ayo selesaikan makannya. Kita bisa lanjutkan bincang-bincang diruang keluarga sambil nonton.” kata Viktor mengalihkan perhatian. Bagaimanapun, mereka sedang menyiapkan kejutan untuk keluarga itu jadi dia tidak ingin semua berantakan.

__ADS_1


__ADS_2