TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 121. TERAPI VERREL


__ADS_3

“Semuanya akan kembali normal jika Tuan menjalani terapi secara rutin, Pak.” ucap dokter pribadi Viktor yang merawat Verrel.  Ya, Verrel telah meelwati masa-masa kritisnya dan sudah sadar dari koma.  Namun kedua kakinya mengalami kelumpuhan sementara, Verrel merasa putus asa akibat kedua kakinya yang belum bisa digerakkan.


“Saya dan tim medis sudah berdiskusis tentang hal ini.  Dan saya berharap Tuan dapat mengikuti semua proses pengobatan yang sudah kami siapkan.  Kemungkinan sembuh total adalah 80-90% jika Tuan bersabar dan rutin menjalani terapi,” kata dokter menjelaskan.


Verrel yang masih tertegun mendengar perkataan dokter itu tak merespon.  Terlihat jika dia tak mampu menjawab apapun setelah mendengar penjelasan dari dokter.  Rasa marah masih mengisi hatinya, pada orang yang tega ingin mencelakainya.  Beruntungnya ada Deandra yang selalau berada disisinya.  Dia melirik istrinya yang sedari tadi menggenggam tangannya untuk memberi semangat dan tak sekalipun beranjak dari tempatnya.  Verrel merasakan kebahagiaan saat ada seseorang yang mencintainya dan setia disisinya.


“Baiklah dokter.  Saya pastikan suamiku akan menjalani terapi dan semua proses pengobatan yang sudah dokter persiapkan untuk suami saya.  Saya sendiri yang akan mendampinginya dan saya tidak akan pernah meninggalkan suamiku meski apapun nanti hasilnya.”


Mendengar ucapan Deandra membuat Verrel terpaku dan memandang wajah istrinya dengan tatapan lembut dan tersenyum manis.  Deandra ingin suaminya tahu jika dia takkan pernah meninggalkannya, apapun kondisi suaminya dia akan selalu ada untuknya.


Dokter yang mendengar perkataan Deandra pun tersenyum, “Baiklah, saya bersama tim medis akan mempersiapkan semuanya.  Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Tuan.”


“Terimakasih dokter.”


Setelah dokter dan perawat keluar, Deandra duduk disebelah Verrel.  Dia beringsut menyandarkan wajahnya dan bermanja-manja dengan pria itu.


“Ternyata musibah ini membawa berkah,” kata Deandra. Verrel mengeryitkan dahinya mendengar ucapan istrinya.


“Maksudmu? Kau mensyukurinya?” tanya Verrel.


“Coba pikir, kalau saja musibah itu tidak terjadi, aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan kakek viktor. Iyakan? Kakek menemukanmu dan aku.”


“Ya, benar juga. Ada pelangi sehabis hujan, dan kita punya keluarga yang lengkap,sayang.”


“Ehem...” Viktor yang baru masuk tersenyum melihat kemesraan cucunya.  “Apakah kakek mengganggu?”


“Tidak, Kek.” sahut Deandra yang menghambur kedalam pelukan kakeknya. Kini dia merasa hidupnya sudah lengkap.  “Opa Yahya kemana? Daritadi aku tidak melihatnya.”


“Dia sudah pergi tadi pagi sekali. Kakek mau bicara dengan kalian,” ucapnya


“Iya, kek. Mau bicara soal apa?” tanya Verrel.

__ADS_1


“Begini.  Ini soal kamu Verrel. Aku dan Yahya sudah bicara kemarin, kami memutuskan kalian akan tinggal disini untuk sementara demi keamanan kalian berdua.  Setidaknya sampai kau sembuh.  Aku dan cucuku jadi bisa punya quality time bersama.”


“Aku paham, kek. Aku juga sebenarnya sudah memikirkannya.  Dalam waktu dekat tim SAR akan menghentikan pencarianku.  Biar saja semua orang mengganggapku hilang.” kata Verrel.


“Aku dengar kalau bukti-bukti sudah terkumpul, kita harus segera menemukan orang yang membunuh pengawal dirumah sakit waktu itu, Yahya memberitahuku kemarin.”


“Aku ingin sekali memberi pelajaran langsung pada pelakunya,” kata Verrel geram.


“Sabarlah. Jika sekarang kita serahkan ke polisi, besar kemungkinan dia bisa bebas dengan jaminan. Tapi jika semua bukti kuat dan saksi sudah lengkap, bisa dipastikan pelakunya akan mendekam di penjara untuk waktu yang lama.


“Apakah sudah ada yang dicurigai?” tanya Deandra.


“Ya, apa kau bisa menebak kira-kira siapa orangnya,sayang?”


“I have no idea,” kata Deandra. ‘Apakah Rico? Tidak mungkin dia senekat itu mau membunuh suamiku. Tapi dia hampir memperkosaku waktu dirumah sakit. Ya, Tuhan suamiku belum tahu soal itu.  Apakah kau harus mengatakannya? Tapi bagaimana reaksinya kalau dia tahu Rico menyentuhku?


“Apa yang kau pikirkan, nak?” tanya Viktor yang melihat Deandra melamun.


“Kau pasti berpikir jika pria brengsek itu pelakunya, iyakan?” tanya Verrel.


“Apakah mungkin dia pelakunya?”


“Sejauh ini bukti mengarah padanya. Tapi aku ingin mendapatkan bukti yang lebih kuat lagi.”


Wajah Deandra berubah pucat pasi, “Kenapa dia mau membunuhmu?”


Lalu Verrel menceritakan saat Rico datang kekantornya dan mengancamnya. Sejak itu Verrel sangat berhati-hati dan itulah alasan kenapa dia mengetatkan pengamanan istrinya. Deandra menggoyangkan kepalanya, membayangkan tindakan Rico padanya waktu itu, dia baru tahu seberapa jahatnya pria itu.  Pantas saja suamiku sangat membencinya.


...*...


“Kenapa kau membenciku Deandra? Kenapa kau memandangku dengan tatapan menjijikkan? Kau tidak boleh membenciku! Ini belum selesai, sayang.  Sampai kau kembali dalam pelukanku! Kau sudah berani menolakku! Rupanya kau lebih suka kekerasan.” pria itu mengacak-acak rambutnya penuh kemarahan. ‘Aku hanya mencintai suamiku….aku hanya mencintai suamiku…...aku hanya mencintai suamiku.’ Kalimat yang diucapkan Deandra itu terus mengisi kepalanya….seperti kaset kusut terus berputar berulang-ulang.  ARGGGGG!!!

__ADS_1


Iva yang hendak masuk kamar, tertegun didepan pintu. ‘Begitu besarnya cintamu pada wanita itu? Sampai kau nekat melakukan hal gila, kak?


“Apa yang sudah kau lakukan Rico?” tanya Amran yang sudah berdiri didepan pintu kamar Rico, Iva yang berdiri disana langsung pergi meninggalkan kedua pria itu.  Wajah Amran memerah dipenuhi emosi, kini hidupnya tak tenang.  Rumah mewahnya diawasi terus oleh orang suruhan Yahya. Istrinya terbaring lemah dan tak berdaya dikamar. Rico tak menjawab dan mengacuhkan ayahnya.


“Kau sudah keterlaluan!” teriak Amran.


“Oh! Papa bilang aku keterlaluan? Apa bedanya aku dengan papa, ha?”


“Bukankah kita sama? Sama-sama mengejar wanita?”


“Tutup mulutmu! Semakin hari kau tidak sopan. Lihat akibat perbuatanmu, mamamu sampai pingsan.”


“Itu hanya akting mama saja. Selalu juga begitu.” ujar Rico penuh kekesalan. Rasa marahnya ingin dia lampiaskan pada semua orang.


“CUKUP! Anak kurang ajar! Papa tidak pernah mendidikmu seperti ini.” bentak Amran,tangannya mengepal.


“Papa mendidikku sangat baik, justru aku belajar dari papa. Apakah papa masih tidak sadar kalau apa yang kulakukan adalah apa yang papa lakukan juga?”


Amarah pria paruh baya itu semakin memuncak mendengar kata-kata putranya. Dia tak menyangka melihat sikap Rico.


“Apa benar kau hampir memperkosa perempuan itu?” dadanya naik turun karena emosi.


“Iya, betul. Kalau saja pelayan itu tidak datang. Aku sudah memilikinya. Memang itu yang mau aku lakukan, si brengsek itu pasti tidak sudi jika istrinya sudah kusentuh….ha...ha...ha” tawa Rico menggelegar, dia kehilangan kewarasannya.


“Kau keterlaluan Rico! Dimana otakmu ha? Kau pikir Verrel akan melepaskanmu begitu saja?”


“Sudahlah, Pa. Tidak usah menyebut nama itu lagi.  Bukankah dia belum ditemukan sampai sekarang? Mungkin dia sudah mati.  Papa harusnya bersyukur kalau dia mati,” racau Rico.


Amran meninggalkan kamar itu dan membanting pintunya dengan kuat.  Samar-sama terdengar tawa Rico dari dalam kamar. Pria itu masuk keruang kerjanya dan duduk, keningnya mengeryit memikirkan ucapan putranya. Andini juga mengatakan hal itu, bukankah ini sebuah keberuntungan? Aku bisa menguasai perusahaan itu lagi?


Tak ada sedikitpun rasa sedih dan rasa kehilangan dihati pria paruh baya itu, seakan hatinya terbuat dari batu.  Andini sudah membuat pria itu benar-benar tunduk dibawah kakinya.

__ADS_1


__ADS_2