
“He he he….sebuah kebetulan yang indah ya Verrel.” ujar Olivia meletakkan tangannya didada pria itu lalu menggerakkan tangannya menyentuh dada bidang itu.
Kedua sejoli itu semakin rapat dan berdansa, dengan tatapan nakal pria itu mendekatkan bibirnya ketelinga Olivia, “Badanmu bagus sayang, siapa yang memahatnya?”
‘What? Apakah Verrel baru merayuku? Aduh….ternyata dia sangat manis.’ gumam Olivia didalam hatinya yang klepek klepek.
“Ah, kau bisa saja.” kekeh Olivia tersipu malu.
“Kau tidak berminat untuk pelesiran denganku, Olivia sayang?”
“Hem….kau mau membawaku kemana Verrel?” suara Olivia lembut dan manja.
“Bagaimana kalau kita minum dulu lalu pelesiran.” ujar pria itu yang dijawab Olivia dengan anggukan kepalanya. Keduanya duduk dikursi yang ditempati pria sebelumnya lalu dia memesan gin and tonic untuk mereka berdua.
Awalnya Olivia merasa sedikit aneh, kenapa Verrel duduk disana bukannya diruangan VVIP, bukankah biasanya dia selalu memesan ruang VVIP? Ah….sudahlah yang penting bisa bersamanya malam ini pikir Olivia. Kepala Olivia mulai pening hebat, pandangannya mulai kabur dan tutur katanya semakin melantur. Dia tidak pernah mabuk sebelumnya, Olivia menundukkan kepalanya yang pening sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Rasa mual mulai menggerayangi Olivia, alkohol yang dia konsumsi sudah mulai bereaksi diperutnya. “Ugh, aku harus ke toilet,” ucap Olivia kesakitan seraya menggapai bahu bidang pria itu.
“Kau baik-baik saja Olivia?” tanya si pria khawatir dengan senyum smirk dibibirnya. Tangannya membelai punggung wanita malang itu dan bersiap membopongnya. Olivia hanya menggeleng dan membisu menahan rasa sakit, sebentar lagi dia akan muntah. Tanpa pikir panjang pria itu membopong wanita berperawakan langsing itu menuju toilet.
“Hueekkkkk!” benar saja, seluruh isi perutnya keluar akibat minum alkohol terlalu banyak. Pria itu mengusap punggungnya agar lega, menggenggam rambut Olivia yang terurai dan mengikatnya dengan karet rambut.
“Bagaimana, apa masih mual?” tanya pria tampan itu.
Olivia menundukkan kepala dimangkuk toilet dengan lemas mencoba menggapai tisu toilet yang berada disampingnya.
“Mimosa, Gin dan tonic ternyata bukan perpaduan yang pas untuk menghilangkan stres.” ucapnya lirih sambil mengusap bibirnya.
__ADS_1
Pria itu masih bersama Olivia didalam toilet, untungnya tidak ada siapa-siapa di toilet itu selain mereka berdua. Memang sudah hal biasa jika toilet di kelab malam biasa dipakai untuk berbuat mesum tapi dia hanya tidak ingin orang lain tahu apa yang sedang dia lakukan dibilik toilet itu bersama Verrel. Ini benar-benar akan menjadi masalah besar bagi mereka berdua jika ada yang melihatnya.
“Bagaimana kalau kita sudahi minum-minum. Sehabis mual hebat tentu tidak baik diisi lagi dengan segelas alkohol bukan?”
“He he he kau ingin langsung pelesiran Verrel?” tanya Olivia yang sedang mabuh itu dengan nada menggoda. Olivia berdiri didepan pria itu menatap bayangan wajahnya yang tampan, belum pernah Olivia melihat pria yang memiliki sepasang mata hitam legam sejernih dan sedalam yang dimiliki oleh Verrel.
“Let’s make love shall we?” kata pria itu.
“Kita ke kamarku saja Verrel. Aku sudah membooking kamar di hotel ini.” sahut Olivia.
Wajah pria itu pun tersenyum smirk dan menyetujui lalu dia membawa Olivia yang mabuk berat meninggalkan kelab malam dan menuju ke lift. “Lantai berapa kamarmu?” tanya pria itu. Lalu Olivia menunjukkan kartu kamarnya dan memberikannya pada pria itu.
“Apakah kau tidak apa-apa menginap bersamaku malam ini Verrel?”
“Hem….”
“Ssssttt…..jangan pikirkan hal lain. Yang penting malam ini aku bersamamu.” ujar pria itu. Setibanya didalam kamar yang dibooking Olivia, tanpa basa basi pria itu langsung ******* bibir Olivia setelah menutup pintu dibelakangnya. Olivia yang mabuk mulai melepaskan kancing bajunya dan mengekspos bagian dadanya yang indah, si pria itupun langsung menggerayangi bagian itu, meraba dengan beringas. Jari jemarinya tangkas memainkan gundukan tersebut.
Pikiran Olivia melayang mendapatkan sentuhan liar dari pria itu, dia tidak menyangka dia mendapatkan kesempatan merasakan sentuhan Verrel yang selalu dibayangkannya.
Ternyata benar yang dikabarkan diluar sana, Verrel benar-benar luar biasa mampu membuatnya melayang hanya dengan sentuhan saja. Pria itu sudah tak sabar lalu merobek pakaian Olivia lalu mengangkatnya dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Dia sangat liar dan beringas membuat banyak tanda ditubuhnya lalu tanpa berlama-lama pria itu menyatu dengan Olivia dengan beringas dan kasar tanpa ampun.
“Ah! Pelan-pelan dong!” rintih Olivia perih kesakitan, sekujur tubuhnya mulai menggelinjang. Pria itu sangat beringas dan kasar tapi Olivia menyukai semua tentang pria itu.
“Kau suka Olivia sayang?” tanya pria itu lalu memukul bokong Olivia keras hingga membekas telapak tangan, Olivia yang kesakitan pun berteriak saat pria itu menyabetnya dengan ikat pinggang. ‘Ah….seperti inikah sakitnya? Jadi benar apa yang orang-orang katakan kalau dia buas diranjang! Tapi dia sungguh luar biasa, aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini.
Olivia menikmati rasa nikmat dan sakit bersamaan hingga beberapa jam pria itu menghajarnya tanpa ampun. Olivia benar-benar dihabisi olehnya. Suara lenguhan, ******* campur kesakitan bergema dikamar itu. Hingga menjelang jam lima pagi, pertempuran pun berakhir. Olivia sudah pingsan beberapa waktu lalu. Si pria langsung masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, lalu berpakaian. Dia menatap Olivia yang pingsan diatas ranjang lalu pergi meninggalkan kamar.
__ADS_1
Keesokan hari, Olivia terbangun pukul dua belas siang. Setelah matanya terbuka lebar dia tidak menemukan Verrel lagi disana. Dia meraih ponselnya yang berdering, ribuan panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari asistennya juga dari kantor Verrel.
“Mati aku! Aku ada meeting hari ini. Aissss…..sakit sekali semua badanku.” Olivia berusaha bangun dan membersihkan tubuhnya lalu mengganti pakaiannya. Supir yang mengantarnya menatapnya aneh. Setibanya dia dilobi kantor Ceyhan Group, asistennya langsung berlari menyambutnya. “Olivia! Apa kau sudah gila? Ini jam berapa? Tuan Verrel sudah marah-marah dari tadi menunggumu untuk meeting.”
“Verrel sudah dikantor?”
“Ya iyalah, memangnya mau dimana lagi?”
“Ssttt...tadi malam aku bersama Verrel tapi aku tidak tahu jam berapa dia pergi.”
“Apa? Kau tidur bersama Tuan Verrel?” tanya Siska heran dan tak percaya. Untung saja mereka sedang didalam lift dan tak ada orang lain.
“Iya. Kami bercinta sepanjang malam.” ujar Olivia tersenyum bahagia.
“Kau yakin? Dimana?”
“Ya dikamar hotel yang sudah ku booking. Aku tak sengaja bertemu dengannya tadi malam.”
“Hemm….aneh juga.” ujar Siska.
“Aneh? Maksudmu?”
“Karena Tuan Verrel baru tiba pagi ini bersama asistennya dari Singapura. Dia berangkat kemarin siang bersama asistennya dan pengawalnya serta beberapa orang. Bagaimana mungkin dia bersamamu semalam kalau dia saja sedang berada diluar negeri.” ujar Siska lagi. “Kemarin siang aku lihat dia di bandara saat aku mengantarkan temanku yang pergi ke Singapura. Dan saat aku tiba disini, dia juga baru tiba dari bandara bersama asisten dan pengawalnya.”
"Mana mungkin! Jelas-jelas aku bersamanya sepanjang malam." senyum sumringah menghiasi wajahnya.
"Coba lihat ini berita kemarin dan pagi ini tentang Verrel. Dia berada di Singapura! Bagaimana mungkin dia bersamamu sepanjang malam?"
__ADS_1
Sontak tangan Olivia bergetar melihat layar ipad Siska yang menayangkan acara perjamuan bisnis se-Asia Pasifik yang diadakan tadi malam. Kalau Verrel di Singapura tadi malam dan baru kembali pagi ini, lantas siapa yang bercinta dengannya tadi malam?