
Cuaca sore itu sebenarnya cukup syahdu, awan hitam terlihat menutupi sebagian langit sehingga menghadirkan kesan dingin. Disaat Verrel sedang menikmati makanan super mewah bersama istri dan anaknya beserta kedua kakeknya di sebuah restoran mewah, Olivia sedang berjalan memasuki halaman rumah sakit. Dia memakai baju serba putih, dengan masker yang juga berwarna putih menutupi wajahnya.
Dia menyandang tas berwarna hitam, rambutnya yang panjang disanggul dengan jepitan besar. Dengan penampilan seperti itu dia benar-benar terlihat berbeda sehingga tidak ada seorangpun yang bisa mengenalinya. Olivia terus berjalan menyusuri lobby rumah sakit lalu meniki lift ke lantai paling atas tempat par pasien VVIP dirawat. Hanya satu tujuannya, menemui mama tercintanya yang sedang dirawat akibat serangan jantung saat melihat berita tentang Olivia.
‘Bagaimana kondisi mama sekarang? Apakah dia sudah membaik?’ gumamnya didalam hati sambil terus melangkah. Dia pun sampai di lantai paling atas gedung rumah sakit itu tetapi urung memasuki kamar rawat ibunya karena dia melihat ada dua penjaga berdiri didepan pintu.
‘Sial! Kenapa sih mama harus pakai pengawal segala? Apa dia tidak menginginkan aku datang menjenguknya? Apa mama sudah melihat berita itu? Mungkinkah mama takut melihatku?’
Olivia pun memutar otak mencari akal agar bisa memasuki ruangan itu. Olivia kembali melanjutkan langkah melewati kamar rawat ibunya menuju keruangan lain.
“Maaf mbak, bisa tolong saya sebentar?” tanya Olivia saat melihat seorang perawat berjalan kearahnya.
“Iya Bu. Apa yang bisa saya bantu?” tanya perawat itu ramah.
“Teman saya sedang kesakitan di toilet, bisa tolong periksa mbak?” pinta Olivia berbohong.
“Oh begitu. Apanya yang sakit? Mari kita cari bantuan, kita bawa ke IGD saja biar segera ditangani.”
“Oh jangan mbak! Sebaiknya mbak periksa dulu keadaannya, biar nanti saya yang panggilkan petugas lainnya,” kata Olivia dengan memasang wajah cemas.
Perawat itu dengan polosnya mengangguk dan berlari menuju toilet yang dimaksud oleh Olivia.
“Bu, dimana teman ibu itu?” tanyanya begitu dia sampai didalam toilet sambil membuka satu persatu pintu WC untuk menemukan orang yang dimaksud Olivia.
“Oh, orangnya disini mbak,” jawab Olivia.
Perawat itu menoleh, lalu…..
__ADS_1
BUG!
Perawat itu langsung jatuh pingsan, Olivia memukul kepalanya dengan tas yang didalamnya ada barbel. Lalu dia menarik tubuh perawat itu kedalam WC yang dipintunya tertulis ‘rusak’. Dia mendudukkan perawat itu diatas closet lalu melucuti seragamnya dan bergegas keluar.
Tidak lupa dia menutup pintu WC rapat-rapat dan meletakkan alat-alat pembersih didepannya. Olivia segera mengganti pakaiannya dengan seragam perawat, lalu dia berjalan dengan santai ke kamar perawatan ibunya. Dua penjaga itu tidak curiga sama sekali, dengan sopan mereka bahkan membukakan pintu untuknya.
Olivia pun masuk kedalam kamar rawat itu setelah mengucapkan terima kasih lalu menutup kembali pintu kamar itu dengan tenang. Dia melihat kearah ranjang dimana sesosok tubuh wanita terbaring dengan tenang, selang infus tersambung ketubuhnya. “Halo, mama! Apa kabar?” sapanya seraya mendekat. Meski dalam keadaan sudah sadar namun Celia tidak menjawab.
Bukan karena tak mau tetapi karena dia belum sepenuhnya sadar,dia hanya mendengar suara Olivia yang samar-samar. Karena tidak mendapat respon dari ibunya, Olivia semakin mendekat “Hai mama, kenapa diam saja? Mama bisa mendengarku kan?” tanya Olivia sambil menjulurkan tangannya menyentuh tangan ibunya yang terasa agak dingin.
Dia lalu menarik selimut keatas hingga menutupi dada, lalu tangannya bergerak menyentuh wajah ibunya dan mengelusnya. Sudut mata Olivia meneteskan airmata, didalam hatinya ada rasa sesal yang datang terlambat tapi rasa marah dan benci lebih besar sehingga menutupi penyesalannya.
“Mama apa yang terjadi? Kenapa mama bisa jadi begini? Terakhir kali bertemu mama masih bicara dan memarahiku tapi kenapa sekarang bisa seperti ini?” tanya Olivia bertubi-tubi.
Olivia kembali membelai wajah ibunya yang terlihat pucat tidak seperti biasanya. Celia yang dulu selalu tampil modis meski usianya tidak muda lagi kini terlihat jauh berbeda, tidak ada riasan wajah bahkan wajahnya sangat pucat. “Mama, tolong buka matamu. Aku ingin bicara dengan mama! Mama harus mendengarkan penjelasanku.”
Olivia menghapus airmatanya lalu kembali berkata, “Mama! Katakanlah sesuatu.” pintanya dengan suara memelas. Tangannya kembali terulus membelai wajah ibunya.
...********...
Verrel yang tadi makan banyak bersama istri dan keluargany pun kini menghabiskan waktu di gym membakar kalori. Tubuhnya dibasahi keringat, setelah merasa cukup melakukan olahraga dia bergegas kembali kerumah utama.
“Tuan,” sapa para pelayan yang berpapasan dengannya yang hanya dibalas dengan anggukan.
“Dimana istriku?” tanya Verrel saat melihat Yuna.
“Nyonya ada dikamar bayi bersama anak-anak, Tuan.” jawab Yuna.
__ADS_1
“Oh, saya mau kesana sebentar. Tolong buatkan minuman segar ya.”
“Baik, Tuan!” jawab Yuna lalu dia memerintahkan seorang pelayan untuk membuatkan minuman segar untuk Verrel.
“Ya Tuhan! Kenapa keringatan begitu? Memangnya habis ngapain sih? Kenapa tidak mandi dulu, lihat tuh basah semua!” seru Deandra saat melihat Verrel yang mengenakan pakaian olahraga masuk kedalam kamar bayi. Deandra sedang menyusui bayinya sedangkan Nathan dan Naomi bermain bersama Caesar yang sudah selesai disusui.
Verrel bukannya menjawab pertanyaan istrinya, dia justru langsung mendekati Nathan dan Naomi dan menciumnya. “Isssss…….papa jorok!” ujar Naomi dengan suara cadel dan imutnya saat dicium ayahnya. Sedangkan Nathan menatap tajam pada ayahnya yang menciumi wajahnya. Tangan kecilnya langsung mengelap wajahnya yang dicium Verrel.
“Ha ha ha ha…..kenapa Nathan?” tanya Deandra tertawa melihat tingkah anak sulungnya itu. “Sayang, mandi dululah! Lihat tuh anak-anak tidak suka dicium sama papanya.”
Verrel duduk disamping Deandra tanpa mempedulikan tatapan heran istrinya, dia mencium istrinya dengan lembut lalu memperhatikan Chloe yang sedang menyusu. Seperti mengenal pria tampan yang sedang menatapnya, Chloe langsung menggerakkan tangannya.
“Hai Chloe sayang! Mau digendong sama papa ya?”
“Ihhhh mandi dulu sana! Badan bau keringat begitu mau dekat-dekat bayi! Banyak kuman nanti bayinya pada sakit! Sana….sana…..mandi dulu!” usir Deandra dengan wajah masam.
“Aku rindu sama anak-anak, sayang!”
“Ihhh…..nanti kan bisa! Mandi dulu sana, terus balik kesini.”
“Aku mau balik sama mamanya saja,” goda Verrel tersenyum nakal.
“Apaan sih? Udah mandi sana! Apa mau nunggu aku marah dulu?”
“Iya….iya…..aku mandi dulu. Jangan kemana-mana ya. Aku mandinya cepat!” ujar Verrel lalu bergegas keluar kamar pergi ke kamar utama.
Dena dan Tami, pelayan pribadi Deandra geleng-geleng kepala melihat tingkah majikannya yang jauh berubah dibandingkan dulu. Mereka ingin tertawa tapi takut dimarahi dan ujung-ujungnya dihukum sama Verrel. Tak berapa lama Verrel sudah kembali dengan pakaian kasual dan aroma sabun mandi tercium dari tubuhnya.
__ADS_1