
Perkataan Frans mengenai pernikahan jelas menganggu pikirannya. Verrel bukan tipe pria yang memahami perasaan wanita apalagi pernikahan. Maka saat dia menanyakan pada Deandra tentang pernikahan impiannya, dia memikirkannya cukup lama.
Terdengar lucu memang, tapi itulah kenyataannya. Verrel tidak tahu cara untuk memahami wanita maupun bersikap romantis. Saat dia berusaha melakukan itu, jelas terlihat betapa kaku dan tidak nyamannya dia.
Mana mungkin Verrel bisa mengerti tentang wanita jika dia hanya menyewa wanita untuk memuaskan birahinya. Itulah yang membuatnya kesulitan menghadapi Deandra, namun ia berusaha untuk mencoba memahami perasaan wanita itu. Dan ternyata dia berhasil melakukannya.
...*...
Tubuh Deandra merosot di lantai kamar mandi, tiba-tiba rasa pusing menyerangnya dan pandangan matanya berkunang-kunang. “Nona,” pekik Yuna yang masuk ke kamar mandi dan melihat gadis itu terduduk dilantai dengan punggung menyandar di dinding kamar mandi dengan wajah pucat.
Dua pelayan yang berada didalam kamar pun segera mendekati, “Tolong bantu angkat,” kata Yuna pada kedua pelayan itu. Wajah mereka terlihat cemas dan takut, bisa-bisa akan kena hukuman dari tuan besar kalau deandra sampai kenapa-napa.
“Apa yang terjadi, Bu Yuna?” Tanya Alya dengan penuh rasa khawatir. Tubuh deandra sudah terbaring di atas ranjang, Yuna menyodorkan air hangat pada deandra, ia merasa sangat khawatir melihat gadis itu, Yuna sudah menyayangi Deandra seperti anaknya sendiri sejak gadis itu tinggal disana.
“Kamu kenapa, nona?” tanya Yuna sembari meletakkan punggung tangannya dikening gadis itu, namun suhu tubuhnya normal.
“Aku tidak tahu Bibi Yuna, tiba-tiba kepalaku pusing,” deandra berusaha untuk duduk.
Verrel yang masuk ke kamar itu pun kaget melihat Deandra yang terlihat pucat dan lemah.
“Ada apa ini? Kenapa dia?” tanya Verrel marah.
“Ssstttt….pelankan suaramu, tuan. Kepalaku sakit,” kata Deandra protes.
“Cepat panggil Romeo kesini se--”
__ADS_1
“Tidak usah, aku tidak apa-apa hanya sakit kepala.” katanya seraya mencoba tersenyum.
“Yuna, bawakan makan malam,” perintahnya pada kepala pelayan, namun Deandra langsung menggelengkan kepalanya menolak.
“Aku mau makan malam dibawah,” Deandra menatap Verrel dengan wajah memelas.
“Baiklah. Aku bantu kau.” tangan verrel menggendong deandra ala bridal, membuat gadis itu beserta semua pelayan terkejut. “Siapkan makan malam!”
“Baik, Tuan.” kata yuna lalu turun ke lantai bawah bersama dua pelayan lainnya.
Deandra terkesiap dengan sikap Verrel, bukan cuma dia bahkan semua pelayan yang melihat pun heran dengan sikap tuan besarnya. Sesampainya di ruang makan, verrel mendudukkan deandra dan ia pun duduk disebelahnya. Pelayan dapur sudah menyiapkan berbagai menu untuk makan malam majikannya. Semua hidangan membuat Deandra membulatkan matanya menatap makanan yang terhidang di meja.
“Aku lapar sekali” ucapnya.
“Makanlah apapun yang kau suka. Jika tidak berkenan, aku akan perintahkan mereka memasak yang lain.”
“Pelan makannya.”
“Ma-maaf, Tuan. Saya lapar sekali.” dia pun tidak tahu kenapa nafsu makannya naik. Padahal sore tadi dia sudah makan beberapa pancake, karena dia ingin makan pancake lalu Yuna menyuruh pelayan dapur membuatkannya pancake.
Selesai makan malam, Verrel menggendong Deandra kembali menuju kamarnya di lantai dua. Setelah membaringkan deandra diranjang, dia mengusir para pelayan keluar dari kamar itu. Verrel menatap kearah deandra yang sudah tertidur pulas, padahal baru beberapa menit dia berbaring. Verrel yang selalu tak bisa menahan diri setiap kali dekat gadis itu, mencium bibir ranum yang sudah jadi candunya. Mata deandra terbuka sedikit saat merasakan sesak seperti ada yang menindihnya.
Ia melihat Verrel yang berada diatas tubuhnya, Deandra sangat mengantuk dan kembali menutupkan matanya. Verrel dengan buas dan liar mencumbu gadis itu tanpa perlawanan, deandra sudah terbang ke alam mimpi. Dia tersenyum puas setelah mendapat pelepasan berulang-ulang, meskipun heran dengan sikap deandra hari ini tapi pria itu tak peduli yang penting dia bisa memuaskan hasrat liarnya.
...*...
__ADS_1
“Yuna!” teriak Verrel.
“Saya disini, tuan.” sahut Yuna yang sedari tadi sudah berdiri dibelakang tuan besarnya.
“Kumpulkan semua pelayan, ada hal penting yang saya mau sampaikan,” kata Verrel.Biasanya Verrel dan deandra selalu bangun awal dan sarapan bersama. Tapi deandra masih tertidur pulas saat Verrel bangun.
Terdengar langkah kaki menuruni tangga, Deandra berjalan diikuti dua pelayannya. Dia terlihat sangat cantik pagi ini, mengenakan baju terusan warna putih motif biru. Verrel yang melihatnya terpesona, matanya tak berkedip memandang Deandra yang tersenyum. Dia kelihatan berbeda sekali, auranya bersinar membuatnya terlihat makin cantik.
*Visual baju yang dipakai Deandra
Verrel berjalan mendekat dan meraih pinggangnya, menarik tengkuknya dan mencium gadis itu. Berciuman dengan deandra adalah adegan favorit Verrel sejak pertama kali. Ada rasa unik yang ia dapatkan dari deandra yang tidak pernah ia dapatkan dari wanita lain. Deandra juga bukan gadis perawan satu-satunya yang pernah disentuh Verrel, tapi ia gadis satu-satunya yang membuat pria itu selalu terbayang-bayang. Semua yang ada pada gadis itu sudah jadi candunya.
...*...
“Lingkarkan tanganmu dilenganku dan mereka semua akan tunduk padamu,” kata Verrel yang langsung dituruti deandra tanpa membantah. Di halaman rumah itu sudah berdiri delapan puluh orang pelayan dan pengawal yang bekerja dirumah utama kediaman Verrel, termasuk Frans dan Yuna.
Semua menatap tuan besar yang datang bersama wanita cantik. Mereka kagum melihat kecantikan Deandra dan bahagia melihat tuannya akan segera menikah. Semua sudah tahu jika gadis itu adalah tamu istimewa sang tuan besar. Tatapan tajam Verrel menghunjam pada semua orang yang beridir disana.
“Selamat Pagi. Saya mengumpulkan kalian semua karena saya ingin memperkenalkan wanita disampingku ini. Dia adalah Nyonya Besar dirumah ini yang harus kalian hormati. Kami akan menikah tiga hari lagi. Apapun yang dia perintahkan dan inginkan, kalian harus memenuhinya. Tidak ada seorangpun yang boleh membantah, jika ada yang tidak melayaninya dengan baik atau ada yang menggunjing atau bahkan ingin menyakitinya, aku tidak akan segan-segan menghukum.”
Semua yang hadir membungkukkan badan sebagai jawaban dan tanda hormat. Frans, Toni dan Yuna melangkah ke depan dan berdiri dihadapan Verrel dan Deandra “Selamat datang, Nyonya. Jika ada pelayanan yang tidak berkenan dirumah ini, nyonya bisa langsung sampaikan,” ucap Yuna dengan tersenyum, wajahnya berbinar bahagia melihat Deandra.
“Selamat datang, Nyonya. Saya akan bertanggung jawab atas keamanan, Nyonya. Anak buah saya akan memberikan pengawalan ekstra pada Nyonya saat bepergian.” Kata Toni yang menjadi kepala keamanan dikediaman Verrel.
__ADS_1
“Selamat datang, Nyonya. Jika Nyonya membutuhkan privasi saat berkunjung ketempat tertentu atau ingin bepergian, apapun yang Nyonya butuhkan bisa disampaikan pada saya.” kata Frans.
“Aku rasa pengumuman pagi ini sudah cukup jelas. Sekarang kalian bisa kembali ke pekerjaan kalian,” ucap Verrel sembari menarik tangan Deandra, ia sudah tak sabar memeluk gadis itu yang terlihat menggoda pagi ini. Verrel duduk di sofa dengan memangku Deandra, tangannya melingkar dipinggang gadis itu dan menatap wajahnya.