TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 133. MENJENGUK RICO


__ADS_3

Setelah berdebat panjang dengan kedua orangtuanya, akhirnya Tuan Baratha mengijinkan putrinya menjenguk Rico. Bagaimanapun dia harus memikirkan jalan terbaik untuk menyelamatkan keluarga dan nama baiknya.


“Makan dulu kak,” Iva yang hari ini menjenguk Rico dan diterima meski dengan terpaksa setelah pada kunjungan sebelumnya Iva menitipkan surat hasil test kehamilannya.  Rico tak berdaya untuk menolak Iva.  Jelas itu anaknya, kini dia semakin bingung.  Iva membawa nasi rawon kesukaan Rico hasil masakannya sendiri.  Menyuapi suaminya yang kali ini tidak menolaknya.


Iva menghela napas yang terdengar, ingin sekali dia menanyakan sesuatu tapi dia sadar sesuatu.  Rico memang suaminya tapi dia tak suka jika Iva banyak bertanya. Perlahan semua makanan dipiring ludes disantap Rico, makanan di penjara rasanya tidak enak karena menunya selalu sama.


“Kak,” suara Iva terdengar liri.  Tangannya menyodorkan gelas berisi jus pada Rico yang langsung meminumnya.  Setelah itu, entah kenapa Rico menyebut nama seseorang yang sering didengar Iva. Mendengar nama itu hati Iva perih.  Bohong jika ia tidak merasa sakit hati dan penasaran akan sosok wanita itu.  Apa yang membuat suaminya begitu mencintai wanita itu.


“Kenapa kau begitu mencintainya kak? Apa yang dimilikinya yang membuatmu mencintainya, kak? Gumamnya lirih, tetesan air mata jatuh membasahi pipi. Namun rasa sedih, sakit dihatinya masih terkalahkan oleh besarnya rasa cinta pada Rico.


Meskipun kini pria itu mendekam di penjara, dia bertekad akan tetap berjuang demi Rico dan calon anak mereka. “Akulah nyonya Rico, aku pemenangnya,” ucapnya berulang-ulang untuk menguatkannya. Iva mencondongkan badannya hingga wajahnya dan Rico dekat.  Lalu dia mencium bibir pria itu meskipun dengan rasa takut akan reaksi Rico.  Namun dia terkejut saat Rico tidak marah, hanya menatapnya sekejap. 


“Pulanglah.  Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu menyiksa dirimu,kau sedang hamil,” kata Rico dengan suara lembut. Sudut bibir Iva terangkat mengingat ucapan Rico yang terdengar lembut, tidak ada kemarahan sam sekali. Tidak kasar seperti dulu, apakah suamiku sudah menyadari kesalahannya, apakah dia akan mencintaiku.


“Aku akan sabar menunggumu hingga kau jatuh cinta padaku, kak,” ucap Iva penuh keyakinan. Dia membayangkan bagaimana jika suaminya itu jatuh cinta padanya


“Baiklah, kak. Kalau kakak butuh sesuatu, kakak bisa minta tolong sama petugas untuk menghubungiku.  Aku akan sering-sering datang menjengukmu.  Aku pamit dulu ya kak,” kata Iva sambil membawa kembali rantangnya. Dia melemparkan senyum manis pada Rico, lalu melangkah pergi.  Dia merasa senang, setidaknya hari ini Rico mau menemuinya. Dalam perjalanan pulang kerumah, sudut bibir Iva terangkat mengingat betapa lembut suara Rico tadi.  “Aku harus lebih sabar lagi untuk mendapatkan cinta suamiku,” ucap Iva penuh keyakinan.  Seperti mendapatkan sebuah harapan baru, dia mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu menghubungi mama mertuanya.


...*...


Andini bergegas mengambil ponselnya dari atas nakas.  Tubuhnya masih terasa lemas setelah pergulatan panas dan tanpa jeda bersama Rian.  Demi melancarkan rencananya, dia bahkan merelakan tubuhnya sebagai bayaran, Andini oh Andini.  Kau benar-benar j*lang tak tahu malu.


Terpampang sebuah nomor tanpa nama, dengan malas dia menjawab panggilan tersebut.


“Halo.”


“Selamat siang nyonya. Saya asisten Tuan Rico,”


“Kupikir tadi siapa, kau pakai nomor baru. Kemana nomor lamamu?”


“Maaf, nyonya. Ponsel saya rusak dan tidak bisa digunakan lagi, jadi saya terpaksa membeli ponsel dan kartu baru,”

__ADS_1


“Ya, sudah.  Bagaimana, apakah kau sudah mendapatkan informasi terbaru?”


“Banyak, nyona. Salah satunya nyonya iva sering menjenguk Tuan Rico dan sepertinya Tuan Rico sudah tidak menolaknya lagi,”


“Dasar anak sialan. Kenapa tidak dari dulu dia bersikap seperti itu pada istrinya,” dengusnya kesal dengan semua masalah yang diciptakan putra kesayangannya itu.


“Dan bukti-bukti pelecehan yang dilakukan Tuan Rico cukup kuat, nyonya.  Polisi sudah memegang semua bukti dan menurut penyelidikan semua bukti itu benar, rekaman cctv dikamar itu juga asli.”


“Apa kau yakin? Sudah kau selidiki semuanya soal kasus itu?”


“Sudah nyonya. Yang saya sampaikan pada nyonya seribu persen benar.”


“Ehm...apa kau bisa menolong anakku?”


“Saya akn coba berdiskusi dengan pengacaranya nanti, mungkin kita bisa menemukan celah untuk meringankan hukumannya, nyonya.”


“Aku mau putraku bebas!”


Suasana hening beberapa saat lamanya, lalu Andini memerintahkan asisten Rico untuk melakukan sesuatu.


“Apa? Ini sangat berbahaya nyonya.  Jika saya tertangkap maka habislah saya, bagaimana nasib keluarga saya, nyonya?”


“Pemilik rumah itu sudah mati, kau tak perlu takut,” sahut Andini dengan ketus.


“Ta—tapi nyonya. Sa--”


“Lakukan saja perintahku dan jangan banyak tanya. Aku paling tidak suka dibantah,” ujar Andini penuh kekesalan.  “Kau akan kubayar mahal sesuai dengan resiko yang kau ambil untuk melakukan pekerjaan itu.  Soal keluargamu, kau tak perlu khawatir, aku akan melindungi mereka dan menjamin hidup mereka nanti.”


“Baiklah, nyonya.  Saya akan lakukan perintah nyonya,”


“Bagus! Aku tunggu kabar darimu.  Ingat! Lakukan secepatnya, aku bukan orang yang sabaran.”

__ADS_1


Panggilan terputus dan Andini melemparkan ponselnya ke ranjang.  Emosinya memuncak, kedua tangannya mengepal seraya berpikir. Saat Andini sibuk dengan pikirannya, seorang pria yang sedari tadi mengawasi gerak geriknya lewat cctv dari ruangan lain, pria itupun tersenyum. ‘Kau memang tidak pernah berubah Andini. Rencana licik apalagi yang kau rancang kali ini.’


‘Lakukan saja apapun yang kau mau. Aku masih ingin bersenang-senang denganmu disini.’


*Hai....ini visual Tuan Rian Cordino



Saat dia melihat Andini berpakaian dan sepertinya hendak pergi, dengan tergesa-gesa dia keluar dari ruangan itu dan mengunci pintu menggunakan password. 


“Mau kemana kau?” bertanya dengan nada suara meninggi dan kening mengeryit.


“Aku harus pulang sekarang. Suamiku pasti akan mencariku kalau aku tidak ada dirumah.”


“No...no….no…..tidak semudah itu kau bisa pergi, Andini. Kau belum menyelesaikan tugasmu,”


“Apa maksudmu? Aku sudah memberikan apa yang kau mau!”


“Belum tuntas! Kau akan memuaskanku selama seminggu. Kau baru boleh pergi jika sudah kuijinkan pergi.  Jangan membantah! Aku tidak suka dibantah, kau mengerti?”


Seketika Andini merasakan kedua lututnya bergetar, sekujur tubuhnya membeku mendengar perkataan Rian. ‘Gila ini sungguh gila.  Bagaimana mungkin aku tinggal disini seminggu dan menjadi budak nafsunya yang gila?’ monolog dalam hatinya.


“Ta—tapi ijinkan aku pulang dulu. Aku janji akan kembali kesini. Aku harus bilang dulu sama suamiku agar dia tidak curiga.”


“Kau bisa hubungi suamimu, bukan? Berikan dia alasan kenapa kau tidak bisa pulang selama seminggu, sayang.” seringai menakutkan dan penuh kelicikan muncul diwajah pria itu.


“Tapi semua terserah padamu.  Aku tidak akan menahanmu jika kau mau pulang. Tapi! Aku akan membongkar semua rahasiamu, ANDINI!” ucapnya dengan penuh penekanan. Dan kata-kata itu memang ampuh untuk membungkam wanita itu. Dia sudah tidak bisa apa-apa, ini pilihannya yang sejak awal memutuskan untuk menemui pria itu. 


“Baiklah, aku akan bersamamu selama seminggu.  Cuma seminggu.”


“Tergantung dengan pelayananmu. Kalau aku tak puas maka kau akan tinggal lebih lama,” lalu pria itupun pergi meninggalkan Andini yang mengutuki dirinya sendiri atas kebodohannya.

__ADS_1


__ADS_2