
‘Bagaimana bisa pria ini mengetahui rumah ini?’ pikirnya.
“Kau harus ikut denganku sebagai jaminan hutang ayahmu! Jika ayahmu tahu kau bersamaku maka dia akan datang membawa uang untuk melunasi hutangnya!”
“Hutang? Ayahku tidak punya hutang pada siapapun!” teriak Olivia marah.
“Aku menginvestasikan uang dalam jumlah yang besar pada proyek besar ayahmu. Sekarang dia bangkrut dan melarikan semua uangku! Sekarang, katakan padaku siapa yang bertanggung jawab untuk membayar hutangnya jika bukan keluarganya?”
“Anda datang ketempat yang salah! Seharusnya yang anda cari adalah ayahku! Kami tidak punya uang, dia membawa semuanya. Anda cari saja dia!”
“Aku minta kau sebagai pembayar hutang ayahmu!” ujar pria itu mencibir. Matanya menatap Olivia dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.”
“Masih untung aku memintamu, kau pikir apa ada pria yang mau menerimamu? Aku sudah baca skandalmu waktu itu! Setidaknya dengan tubuhmu itu kau bisa mengembalikan uangku yang dilarikan ayahmu! Jangan sok suci!”
Olivia mengeram marah mendengar kata-kata yang dilontarkan pria itu. Di satu sisi dia marah pada ayahnya yang membuatnya tertekan dan jatuh miskin sedangkan disisi lain dia marah karena harga dirinya diinjak-injak, dia seorang wanita dari keluarga kaya dan sekarang ada seseorang yang memintanya sebagai bayaran hutang. Bukan dia tak mengerti apa maksud ucapan pria itu. Bukankah pria itu bermaksud untuk menjualnya? Ekspresi wajah Olivia menggelap, dia tak terima keadaan hidupnya yang berubah seratus delapan puluh derajat dan dihina seperti itu. Bagaimana pun dia masih dikenal sebagai anak seorang pengusaha kaya.
Darah Olivia mendidih, matanya semakin menggelap, kebencian telah menghilangkan akal sehatnya. Dengan penuh kemarahan ia berjalan mendekati pria itu lalu Olivia mengeluarkan belati yang diselipkannya dibelakangnya sejak tadi. Tangannya terangkat, menghunus belati itulalu mengayunkan secepat kilat. Crasshhhhh!
Dia menghunjamkan belati itu dengan cepat didada pria itu berulang kali, merasa belum puas Olivia meenusuk perut pria itu. Semuanya terjadi sangat cepat, darah mengucur diiringi jerit kesakitan yang memilukan dan teriakan tertahan ibunya yang melotot melihat apa yang terjadi.
Pria paruh baya bertubuh tinggi itupun ambruk ke lantai berlumuran darah.
__ADS_1
“Aaahhhh…..a---apa….yang kau lakukan Olivia?”
“Mama?” seru Olivia kaget dengan tangan gemetar masih memegang belati berlumuran darah itu. Lalu dia menjatuhkan belati itu ke lantai. Olivia berdiri dengan tangan berlumuran darah. Olivia melihat pria itu terkapar di lantai rumah dengan tusukan diperut yang menembus hingga ke ususnya. Ada luka tusukan juga didada pria itu yang sudah tak bernyawa.
Olivia tersentak dari lamunannya. “Bagaimana ini Ma?”
“Lihat apa yang kau lakukan Olivia! Kau selalu saja gegabah! Ahhh…..belum selesai satu masalah kau menambah masalah baru lagi!” Celia menggigit bibirnya, dia belum pernah melihat kejadian seperti itu sebelumnya, tubuhnya gemetar ketakutan. “Singkirkan mayat pria ini! Mama tidak mau ikut terlibat!”
Lalu Celia berlari naik ke lantai atas meninggalkan Olivia yang terdiam menatap kedua tangannya yang berlumuran darah. Ada senyum sinis disudut bibirnya lalu dia meludah ke lantai.
Lalu dia mengambil ponsel dari saku dan menghubungi seseorang yang dimintanya segera datang untuk membereskan mayat laki-laki itu. Tak menunggu lama, orang bayaran Olivia pun tiba lalu membungkus tubuh pria itu dengan polybag, mengikatnya lalu memindahkan ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan pintu masuk rumah itu. “Buang mayatnya, jangan sampai ditemukan! Lebih bagus kalau kalian buang kelaut jadi makanan ikan atau beri makan buaya saja, tidak akan ada jejak!”
“Kalian bersihkan tempat ini! Jangan ada noda apapun setelah itu kalian pergi bersembunyi dan tunggu kabar dariku tentang pekerjaan selanjutnya.” ujar Olivia memberi perintah pada rang bayarannya yang segera melakukan apa yang dimintanya.
“Mama mau pergi! Mama tidak mau terlibat dengan kasus pembunuhan ini, lagipula mama sudah tidak bisa tinggal dirumah ini lagi! Kau boleh tinggal disini sesukamu! Jangan hubungi mama lagi!” wanita itu melangkah sambil menyeret kopernya menuju ke luar rumah. Dia memasukkan koper miliknya yang berisi barang-barang pribadinya lalu dia duduk dibelakang kemudi mobil. Dia memejamkan matanya sesaat, menghela napas dalam-dalam lalu menginjak pedal dan melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu.
Wanita itu melajukan mobilnya menembus malam, dia ingin pergi sejauh mungkin dan tak ingin berhubungan dengan Olivia. Kehidupannya kini berubah gara-gara suaminya dan sekarang anaknya bikin ulah yang bisa membuatnya ikut terkena masalah juga. Celia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena malam itu jalanan tidak ramai, dia ingin segera sampai ditempat tujuannya.
*******
Waktu berlalu cepat, malam digantikan siang. Olivia yang tidak bisa kembali kerumahnya memutuskan pergi ke sebuah apartemen. Dulu dia membeli apartemen itu menggunakan identitas lain dan kemudian menjualnya pada seseorang yang kini tinggal di luar negeri. Olivia masih punya kunci apartemen itu sehingga dia bisa masuk kesana. Dia sedang bersantai disana, wajahnya sumringah karena baru saja selesai menikmati gelombang gairah bersama Ezha. Pria itu sudah pergi tetapi dirinya masih telentang diatas ranjang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Matanya terpejam, terbayang permainan erotisnya yang baru saja usai. Olivia memgang puncak dadanya memelintirnya pelan. Gelombang gairah kembali menyapu tubuhnya. Ia meremas dadanya sedangkan tangan lainnya bergerak dibawah. Jarinya bergerak lincah bermain-main disana.
“Ahh…...” dia benar-benar menikmati permainannya sendiri. Matanya masih terpejam, sementara tubuhnya menggeliat diatas tempat tidur.
Olivia terus bergerak dan mendesah.
“Kenapa bermain sendiri sayang? Perlu bantuanku? Sudah cukup lama kita tidak bertemu, aku bisa lh memberimu kepuasan seperti waktu itu dihotel setelah kau mabuk di Sky Lounge.” Entah kapan dan bagaimana caranya tiba-tiba pria itu sudah berdiri disamping ranjang Olivia, memasang seringai mesum diwajahnya. Ya pria itu adalah preman yang dibayar Luke untuk mengerjai Olivia saat dia mabuk di kelab malam waktu itu. Tubuhnya terlihat mirip dengan Verrel tetapi tidak dengan wajahnya.
“Kau?” seru Olivia kaget. “Bagaimana kau tahu tempat ini? Bagaimana kau bisa masuk kesini?” pekiknya heran, spontan dia menutupi tubuhnya dengan selimut lalu meringkuk di pojok ranjang.
“Kenapa ditutup sayang? Aku sudah pernah melihatnya, bukan? Ayo lanjutkan, aku bantu oke? Bukankah kau sangat menyukai permainanku?” pria itu bicara sambil naik keatas ranjang tanpa mempedulikan rentetan pertanyaan Olivia. Dia segera menurunkan kancing celananya.
“Lihatlah ini, bukankah kau sangat menyukainya waktu itu? Kau pasti berteriak nikmat dan minta tambah lagi seperti waktu itu,sayang.” ujar pria bernama Danu itu seraya menunjukkan miliknya.
“Pergi kau! Aku tak sudi kau sentuh!” teriak Olivia.
“Ayolah sayang. Jangan pura-pura begitu! Waktu itu kau bahkan memohon-mohon padaku. Aku lihat tadi sepertinya kau sudah siap tempur.” seringai mesum muncul kembali diwajah Danu. Tangannya bergerak cepat menyentuh area Olivia.
“Aku tidak mau! Jangan sentuh aku lagi….aaahhhhh!” Olivia terus menolak tapi gerakan tangan pria itu tak ayal membuatnya tak bisa menolak, Danu tahu betul kelemahan wanita itu.
“Nah, begitu baru benar! Jangan menolak lagi, sayang. Nikmati saja seperti waktu itu.” Olivia tersadar siapa pria mesum itu dia lalu melawan, kakinya yang bebas bergerak menendang tubuh Danu. “Lepaskan aku bajingan! Pergi kau brengsek!”
__ADS_1
Olivia terus memaki dan menendang Danu dengan brutal meluapkan emosinya. Dia mengingat semua yang dilihatnya di video yang dikirimkan Luke padanya. Selama ini dia dipermainkan oleh Luke dengan mengirimkan pria bernama Danu itu yang berpura-pura sebagai Verrel dan memenuji fantasi Olivia yang saat itu diberikan obat bius.
Kini dia menatap pria itu jijik, membayangkan dia melakukan perbuatan itu bersama pria rendahan itu membuat Olivia bergidik dan mau muntah. Luke benar-benar mengirimkan seorang preman rendahan untuk menidurinya waktu itu.