
“Edo benar! Villa ini berada dipuncak bukit. Depan, kiri dan kanan sudah ada polisi. Belakang villa adalah jurang yang dalam, kita tidak mungkin selamar jika melompat kesana,”ujar Dirga.
“Aku tidak peduli! Lebih baik aku mati daripada ditangkap. Verrel dan Luke pasti akan membuatku membusuk di penjara!” jawab Olivia semakin panik. Dengan langkah besar dia bergegas menuju pintu belakang villa.
Suara keras terdengar dari pintu depan ternyata polisi polisi itu sudah tidak mau menunggu lagi dan mereka pun mendobrak pintu depan. Edo dan Dirga panik, mereka ragu untuk menentukan pilihan apakah menyerahkan diri atau mengikuti jejak Olivia yang melompat ke jurang dibelakang villa.
BRAK!
Pintu depan terbuka lebar, para polisi bergegas masuk sambil menodongkan senjata.
“Angkat tangan! Jangan coba-coba melawan atau kalian kami tembak!” seru salah satu petugas yang berbadan paling besar.
Edo dan Dirga pun langsung berlutut dengan kedua tangan terangkat diatas kepala.
“Mana Olivia?” tanya polisi itu lagi.
Edo dan Dirga hanya menunduk tanpa memberi jawaban apa-apa. Mereka pasrah ketika diborgol.
“Pintu belakang terbuka, Pak! Sepertinya tersangka kabur lewat belakang.” seru salah satu polisi yang bertugas memeriksa sekeliling villa.
“Kejar dia! Jangan sampai lolos!”seru polisi yang berbadan besar itu. Secepat kilat beberapa polisi menyusul rekannya mengejar Olivia lewat pintu belakang. Samar-sama mereka melihat bayangan orang yang berlari mendekati bibir jurang.
DOR!
Polisi itu melepaskan tembakan peringatan keudara. “Berhenti! Jangan lari!” serunya.
Tapi Olivia tidak mengindahkan seruan itu, dia terus berlari menuju bibir jurang yang tersisa beberapa meter lagi didepannya.
DOR
Polisi itu kembali melepaskan tembakan tetapi kali ini tidak lagi ke udara melainkan ke kaki Olivia. Wanita itupun jatuh tersungkur dengan kaki bolong ditembus timah panas. Namun itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus menghindari penangkapan. Sambil menahan rasa sakit dia merayap mendekati bibir jurang.
__ADS_1
“Tangkap dia, cepat!”
Para polisi itu bergerak cepat menangkap Olivia. Dalam satu hentakan mereka berhasil menahan kedua kaki Olivia. Sedangkan dua orang polisi lainnya memegang tangannya yang terus berusaha bergerak.
“Tidak! Lepaskan aku, aku tidak mau dipenjara,” teriak Olivia sambil terus meronta.
Namun semua perlawanannya itu tidak ada artinya, Olivia pun berhasil ditangkap. Tanpa mempedulikan teriakan menyayat hati dari Olivia, polisi mengangkat tubuhnya lalu menaikkannya ke atas mobil.
...********...
Disaat Olivia harus menikmati rasanya ditembus timah panas, Verrel sedang menikmati malam panasnya bersama Deandra. Dalam posisi duduk di sofa Deandra terlihat asyik bermain-main dengan milik suaminya, sesekali terdengar suara ******* halus meluncur dari mulut Verrel.
“Sayang, kenapa kau semakin liar dan menggoda hem?” tanya Verrel sambil mendesah.
“Mau lagi tidak? Aku punya gaya baru.” ujar deandra sambil memijat keras dengan kedua tangannya. Dengan sesekali lidahnya menyentuh bagian kepala yang membuat Verrel semakin diselimuti kabut. Dia pun mengangguk, dengan sepasang mata yang berkabut gairah.
Kalau istrinya masih sanggup dia pun tidak mungkin menolak. Dia malah merasa penasaran gaya baru apa yang dimaksud istrinya itu. Sejak punya anak lima, tingkah istrinya semakin menggemaskan dan menggoda. Kadang Verrel berpikir apakah memang seperti itu? Atau karena istrinya merasa khawatir kalau dia tidak puas dirumah malah mencari diluar?
Memikirkan itu saja Verrel jadi senyum-senyum sendiri. Bagaimana mungkin dia mencari wanita lain diluaran sana. Sejak pertama kenal dengan deandra saja dia sudah menjadi candunya dan kehilangan selera dengan wanita lain? Apalagi sekarang, istrinya itu bagaikan sosok baru yang penuh energi dan selalu membuatnya terkejut dengan segala hal baru yang dilakukan Deandra untuk memuaskannya.
“Vaginator? Kau dapat darimana itu sayang?” tanya Verrel kaget.
“Aku beli online minta tolong sama Zara,” jawab Deandra polos.
Verrel langsung menepuk keningnya sambil tertawa. “Hahahahaha…...ya ampun! Hahahaha…..”
“Loh kok tertawa? Memangnya aneh ya?” tanya Deandra merajuk.
“Tidak sayang. Aku justru terharu karena kau berusaha keras untuk memberiku kepuasan.” jawab Verrel mengelus kepala Deandra. “Kenapa sampai kepikiran sampai pakai yang begini? Aku belum pernah memakai alat seperti ini. Bagiku dengan mulutmu saja aku sudah puas, kalau ada yang asli kenapa pakai yang beginian?” Verrel tak dapat menahan tawanya.
Dia tidak habis pikir dengan ide-ide aneh dan lucu yang selalu saja diberikan oleh istrinya itu. “Mau tidak?” tanya deandra mengerucutkan bibirnya. Tapi Verrel malah tertawa dan tak menjawab pertanyaan istrinya, entah darimana istrinya itu belajar semua gaya-gaya baru.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak mau. Aku masih punya gaya lain kok.” ujarnya lagi masih ingin mencoba. Verrel hanya pasrah saja mengikuti keinginan istrinya, toh selama ini juga mau gaya apapun dia selalu merasa sangat puas.
Hari sudah pagi, Verrel dan Deandra masih terlelap diatas peraduan. Verrel tidur dalam perasaan bahagia setelah semalam mendapat servis berkali-kali dari Deandra. Dia tidak menyangka dibalik sikap tenang dan sederhana istrinya juga menyimpan sisi liar yang mengejutkannya.
Verrel tidak bisa menahan senyum saat terbayang momen Deandra dan Zara berburu alat-alat bantu untuknya. Sepele memang tapi itu membuat rasa cinta Verrel semakin besar pada Deandra. Karena istrinya selalu berusaha memenuhi kebutuhan suaminya agar Verrel tidak kembali liar seperti dulu sebelum menikah.
Sinar mentari mengintip lewat jendela, cahanya yang terang menyilaukan mata sehingga membuat Verrel terbangun dari tidurnya. Sementara Deandra masih pulas didalam pelukannya. Verrel menatap wajah istrinya dengan penuh cinta. Didalam hati berbisik pelan, mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa karena Verrel merasa hidupnya benar-benar dipenuhi kebahagiaan saat ini.
Ponselnya bergetar diatas nakas membuatnya bangkit dari ranjang. Ada pesan masuk dari Sersan Fahrezi yang memberitahu tentang penangkapan Olivia lengkap dengan foto-fotonya.
“Syukur ya Tuhan!” seru Verrel dengan suara nyaring. Suara Verrel yang kencang membangunkan Deandra.
“Hmm…? Ada apa sayang?” tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Verrel langsung memeluk istrinya meluapkan kegembiraan.
“Awaa….sakit sayang. Jangan kencang-kencang peluknya.” jerit Deandra.
“Maaf….maaf sayang. Aku tidak sengaja.” jawab Verrel seraya melepaskan pelukannya.
“Ada apa sayang? Kau kelihatannya gembira sekali?” tanya Deandra penasaran.
“Mulai hari ini kita benar-benar sudah bisa tidur tenang, sayang. Coba lihat ini,” Verrel memperlihatkan layar ponselnya pada Deandra. Wanita itupun melihat lalu membacanya.
“Kenapa ada penangkapan Olivia? Waktu itu bukannya dia sudah menyerahkan diri ya?”
Verrel pun menceritakan semuanya pada Deandra, mulai dari tragedi penusukan Seno, kebarakan parbik semen miliknya dan kelab malam milik Luke hingga penyamaran Olivia palsu.
Deandra pun terkejut mendengar semua penjelasan Verrel. Dia tidak menyangka jikayang diceritakan suaminya itu benar-benar terjadi didunia nyata. Selama ini dia pikir semua itu hanya ada di film-film saja. “Ckcckck….aku salut dengan kecerdasan Olivia!” ujarnya sambil berdecak.
“Itu bukan cerdas tapi licik!” sahut Verrel meluruskan.
__ADS_1
"Oh iya. Itu komplotannya Olivia ada yang namanya Dirga? Itu bukan orangmu ya?"
"Bukan sayang. Aku juga sempat berpikir kalau itu Dirga Bimantara. Ternyata bukan, Dirga Bimantara masih di Singapura dengan Wisnu. Itu anak buahnya Olivia juga namanya Dirga. Hanya nama yang mirip."