
Mobil truk itu menghantam mobil paling depan yang berisikan para pengawal. Begitu melihat kejadian didepannya, supir yang mengendarai mobil kedua yang membawa Nathan dan Naomi segera banting stir belok kiri kearah jalan kecil saat menyadari keadaan lalu berhenti dan tampak pengawal berlari menuju mobil yang dikendarai Deandra.
“Cepat telepon ambulan! Kalian jangan keluar dan kunci pintunya!” teriak seorang pengawal sambil berlari. Semua yang berada dalam mobil yang ditumpangi Deandra dalam kondisi parah setelah benturan berkali-kali. Zizi dan Kim terluka parah namun masih dalam keadaan sadar.
Mobil pertama juga kondisinya dalam keadaan ringsek dan supir beserta seorang pengawal yang duduk didepan meninggal ditempat. Sementara penumpang lainnya luka parah terkena pecahan kaca dan benturan.
Ketakutan dan cemas terpancar diwajah pengawal yang bertugas untuk menjaga Nathan dan Naomi saat melihat kondisi mobil Deandra. Tak lama ambulan beserta tim medis sampai dilokasi kejadian.
****
Rosa berlari keruangan Darma dan langsung mendorong pintu tanpa mengetuk. “Paman….paman…..Dea….” Rosa terengah-engah mencoba mengatur nafas.
“Kenapa Dea?” tanya Darma melihat wajah Rosa yang pucat pasi dan terengah-engah.
“I—itu paman. Dea kecelakaan. Mereka sudah membawanya kerumah sakit.”
“Apa? Ke—kecelakaan? Bagaimana…..bagaimana putriku?” tanya Darma panik.
“Ayo paman, kita langsung kerumah sakit sekarang.” Rosa langsung menarik lengan Darma tanpa basa-basi keduanya pun pergi dengan tergesa-gesa.
Kepanikan pun terjadi di Ceyhan Group saat kabar kecelakaan Deandra disiarkan di televisi. Para karyawan terkejut dan ada yang menangis saat melihat berita kecelakaan yang menimpa Deandra. Verrel segera menghentikan rapat saat Frans menyampaikan kabar itu, wajah panik dan cemasnya tak bisa disembunyikan. “Kenapa bisa seperti ini? Dimana kecelakaannya?”
“Tenang dulu Tuan. Lebih baik Tuan tenangkan diri, biarkan saya yang mengurus masalah ini. Jack dan anak buahnya sudah ada dilokasi bersama polisi untuk menyelidiki kejadian itu.”
Mobil yang membawa Verrel melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Sesampainya disana sudah ada Darma dan Rosa yang berdiri diluar ruang IGD. Tampak wajah Rosa yang sembab akibat menangis sambil menggendong Naomi sementara Nathan ada digendongan Darma. Kedua anak itu tidak terluka sedikitpun.
“Papa!”
__ADS_1
“Verrel…..tim medis sedang menangani putriku didalam.”
“Bagaimana kondisinya, Pa? Bagaimana dengan calon anak kami?” tanya Verrel cemas.
“Papa juga belum tahu. Saat papa sampai disini Deandra sudah berada didalam dan sedang ditangani oleh tim medis.”
Mata Verrel berkabut, kesedihan memenuhi hatinya yang khawatir akan istri dan calon anaknya.
“Maaf, boleh aku bicara denganmu sebentar?” tanya Romeo yang baru saja tiba disana setelah memeriksa korban lainnya.
Romeo membawa Verrel kesudut, tak lama Anita pun datang dengan tergesa-gesa lalu menghampiri Romeo dan Verrel. “Bagaimana keadaannya? Ini surat-surat yang kau minta” kata Anita pada Romeo.
“Katakan bagaimana kondisi istriku?” ujar Verrel pada Romeo.
“Kondisinya tidak baik, kepala istrimu terbentur keras. Aku ingin minta ijinmu untuk melakukan operasi caesar secepatnya. Kalau tidak maka nyawa istri dan calon anakmu dalam bahaya. Deandra kehilangan banyak darah.”
“Apalagi yang kau tunggu, ha? Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri dan anakku!” teriak Verrel marah. “Aku akan menghukummu kalau sampai istri dan anakku tidak selamat!”
Dengan cepat Verrel menandatangani surat-surat itu. Romeo pun pergi setelahnya. Verrel sangat terpukul dengan kejadian itu dan menahan amarah yang sudah siap meledak kapan saja.
Anita berusaha menenangkan Verrel. “Kak, tenangkan dirimu. Tim medis akan melakukan yang terbaik untuk Dea. Ayo duduklah disana, kita doakan supaya operasinya berjalan lancar.” Verrel menitikkan airmata sambil meremas rambutnya. Belum pernah dia dalam situasi tertekan seperti ini. Dia takut, sangat takut kehilangan istri dan anak-anaknya.
Pintu ruang operasi terbuka dan seorang perawat keluar dengan tergesa-gesa. Verrel yang panik langsung menghentikan perawat itu. “Suster, bagaimana kondisi istriku? Apa yang terjadi?”
“Maaf Tuan, saya buru-buru.” ujar perawat itu berlari, tak lama kemudian dia kembali membawa beberapa kantong darah. Melihat itu Verrel semakin panik, sementara didalam ruang operasi keadaanpun semakin panik.
Tiba-tiba denyut jantung Deandra melemah saat operasi sedang berjalan dan dia mengalami pendarahan berat. Para tim medis pun panik dan berusaha untuk menyelamatkan Deandra.
__ADS_1
Suasana didalam dan diluar ruangan itu sangat tegang, Verrel yang tak tenang terus berjalan mondar mandir didepan ruang operasi. Sementara kabar kecelakaan itu pun sampai ketelinga Yahya Ceyhan dan Viktor yang masih berada di Amerika. Keduanya pun segera kembali ke Indonesia.
“Verrel…..bagaimana kondisi menantu dan cucuku?” tanya Ayu yang baru saja tiba bersama Peter dan Liam. Semua orang berkumpul disana dengan cemas menunggu kabar dari ruang operasi.
“Istriku masih didalam ma. Dia sudah berada didalam begitu lama, aku takut.” ujar Verrel dengan suara bergetar. Dia benar-benar takut kehilangan istrinya.
“Sabar ya. Kita doakan operasinya berjalan lancar dan Deandra baik-baik saja.” ujar Ayu dengan nada sedih. “Dimana Nathan dan Naomi?”
“Ada diruangan bersama Rosa dan putrinya. Mereka baik-baik saja.”
“Mama kesana dulu melihat mereka, kalau ada kabar segera hubungi mama. Peter dan Liam akan menemanimu disini, jika butuh sesuatu bilang saja sama mereka.” Ayu pun berdiri lalu bicara sebentar dengan suaminya.
Sementara Liam yang paham keadaan Verrel pun tak tinggal diam. Dia berjalan menjauh dan menghubungi anak buahnya. “Kalian cari tahu informasi kecelakaan yang menimpa istri Verrel tadi sore. Jika kecelakaan itu memang disengaja maka kalian harus temukan siapa dalangnya. Kerahkan semua anggota kita untuk penyelidikan.” perintah Liam dengan tegas.
Bagaimanapun kini dia dan Verrel adalah keluarga, sudah seharusnya dia membantu apalagi keadaan Verrel saat ini tidak memungkinkannya fokus melakukan penyelidikan. Anak buah Liam yang tiba di lokasi kejadian bertemu dengan anak buah Jack.
“Kami diperintahkan oleh Tuan Liam Sandjaya untuk menyelidiki kasus kecelakaan ini.”
“Ikut kami. Jack meminta kalian untuk ikut dengan kami ke markas.”
“Bukti apa yang sudah kalian dapatkan?” tanya Toro seorang anak buah Liam.
“Kita bicarakan di markas saja. Hari sudah gelap dan polisi juga sudah melakukan penyelidikan di TKP, selebihnya kita harus bertindak cepat menemukan dalangnya.”
“Baiklah. Kita berangkat sekarang.” ujar Toro yang segera memerintahkan anggotanya mengikuti mobil yang ditumpangi anak buah Jack menuju markas besar mereka.
Sesampainya di markas besar, beberapa orang sedang berbincang didepan layar komputer yang memperlihatkan rekaman saat iringan mobil Deandra meninggalkan gedung Widjaya Group hingga membelok ke jalan dekat lokasi kecelakaan.
__ADS_1
Setelah itu tidak ada jejak lagi karena disana tidak ada kamera pengawas jalan sehingga sulit untuk mendapatkan informasi apapun. Sedangkan kamera yang dipasang dimobil rusak, Bayu bergegas mengambil memori dari kamera mobil untuk diamankan. Dia berharap masih bisa mendapatkan sesuatu dari kamera mobil.
Hanya ada dua saksi yang sempat melihat saat kecelakaan itu terjadi. Mereka mengatakan jika melihat ada tiga mobil dibelakang yang beriringan mengikuti serta satu mobil truk yang tiba-tiba muncul dari depan yang menabrak mobil MPV sehingga mengakibatkan supir dan seorang pengawal tewas ditempat.