
Flasback on
Dua orang pengawal terlihat berdiri dipintu depan ruangan perawatan Deandra. Dari kejauhan terlihat seorang perawat berlari menghampiri “Ma—maaf. Bisa tolong saya? Pasien saya terjatuh di kamar mandi.”
“Maaf, anda bisa panggil sekuriti untuk membantu.” jawab seorang pengawal.
“Kelamaan kalau saya harus kebawah memanggil sekuriti, Pak. Saya takut kalau pasien saya kenapa-napa. Please, tolong bantu saya mengangkatnya.” ucap perawat itu dengan wajah memelas dan mata berkabut. “Hanya sebentar saja pak. Bantu angkat pasien saya, badannya besar dan saya tidak sanggup mengangkatnya.”
Kedua pengawal saling memandang dan akhirnya menggangguk. “Baiklah. Sebentar saja.”
Stelah melihat sekeliling dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, kedua pengawal itupun mengikuti si perawat menuju kamar mandi paling ujung dibagian lain.
“Dimana pasiennya?”
“Itu—pak. Dikamar mandi ujung lorong itu.”
Sesampainya ditempat yang dituju, perawat dan kedua pengawal masuk. Namun setelah masuk keruangan itu, ternyata bukan kamar mandi tapi ruangan kosong tempat penyimpanan alat-alat kebersihan. Kedua pengawal itu dipukul dengan benda keras dibagian kepala mereka. Keduanya langsung roboh, darah mengalir dari kepala kedua pengawal itu.
“Sepertinya mereka sudah tidak bernapas. Bagaimana ini?”
“Biarkan saja. Ayo kita segera keluar dari sini.” perawat yang menyamar itu beserta tiga pria yang berpakaian seragam cleaning service keluar dari pintu lain ruangan tersebut. Berjalan dengan santai menuju tempat parki dan masuk kesebuah mobil van, lalu melaju meninggalkan tempat itu.
Flashback off
“Apa?” teriak Frans kaget.
“Baik, Tuan saya akan segera mengirimkan pengawal yang lain kerumah sakit.”
“Kamu dan William urus perusahaan. Biar saya yang urus anak kurang ajar itu!” sahut Yahya.
“Tapi, Tuan---”
__ADS_1
“Sudah! Cepat suruh pengawal kerumah sakit sekarang. Perketat pengamanan cucu mantuku.”
“Baik, Tuan.”
Sambungan telepon terputus. Frans mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi, banyak pekerjaan yang harus dia tangani bersama William sejak Verrel pergi. Belum lagi mengurus Wijaya Property Tbk milik sang nyonya besar.
“Semoga semuanya akan baik-baik saja, seperti pesan Tuan,” ucapnya lirih.
...*...
Disebuah rumah mewah, mobil berwarna silver itu memasuki halaman dan berhenti didepan pintu masuk. Dengan cepat pria itu keluar dari mobilnya lalu membanting pintu. Dengan langkah tergesa-gesa dia membuka pintu dan membantingnya. Andini dan Amran yang sedang duduk diruang keluarga terkejut melihat putranya yang pulang dengan wajah kusut dan penuh kemarahan.
“Rico! Darimana saja kamu?” teriak Andini namun Rico tak mengindahkan.
“BERHENTI!” teriak Amran. Mendengar teriakan ayahnya, Rico pun berhenti tepat didepan tangga lalu menoleh kebelakang.
“Bersikap sopanlah pada orangtua. Sini kamu.” kata Amran.
“Kenapa kau diam? Darimana saja kamu?” tanya Amran dengan marah.
“Aku ada urusan penting, Pa. Memangnya ada apa?”
“Urusan apa itu? Pulang-pulang wajahmu seperti itu. Kau malah membanting pintu.” kata Andini menimpali dengan kesal.
“Aku capek, Ma. Tidak sengaja tadi.” jawabnya asal.
“Apakah kau lagi ada masalah diluar sana?” tanya Amran menyelidik karena tak biasanya putra kesayangannya itu bersikap seperti itu.
“Tidak ada Papa. Aku mau kekamar dulu, mau mandi.” Namun saat dia beranjak dari duduknya, mereka dikejutkan dengan pintu yang terbuka dengan kasar. BRAK!
“Disini rupanya kau anak kurang ajar.” ujar seorang pria bertubuh kekar. Langkahnya cepat mendekati Rico lalu mengarahkan tangannya.
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Pria bersetelan jas berwarna hitam menghajar Rico tanpa ampun. Sedangkan beberapa pria menahan Amran dan Andini agar tidak melerai. Andini yang melihat putra kesayangannya dihajar sampai babak belur tak henti-hentinya berteriak dan menangis meraung-raung. Amran membelalakkan matanya tak percaya melihat kejadian didepannya. Kenapa papa tiba-tiba datang kesini dan menghajar putraku?” tanyanya.
Namun Yahya tak menjawab,dia terus menghajar Rico malah kakinya menendang dan menginjak-injak tubuhnya dengan penuh emosi. Terdengar teriakan Amran meminta papanya untuk berhenti memukuli Rico namun tak dipedulikan oleh Yahya. Rasa marah dan emosinya membuatnya ingin menghabisi Rico. Setelah puas menghajar pria itu, Yahya menatap Amran dan Andini dengan tajam dan menyeringai yang menakutkan.
“Kenapa papa menghajar Rico sampai babak belur?” tanya Amran yang tak tetima sang papa datang ketumahnya dan langsung menghajar Rico tanpa ampun.
“Anak brengsek ini mau memperkosa cucu mantuku, istri Verrel. Apa kau tidak bisa mendidik anakmu dengan benar?" teriak Yahya penuh kemarahan. Amran bergetar mendengar suara Yahya yang menggelegar, mengingatkannya ke masa lalu saat Yahya mengusirnya dari rumah karena berselingkuh dengan Andini.
“Tidak mungkin! Papa jangan menuduh anakku seperti itu,”
“Itu akibatnya jika kau punya anak dari perempuan j*lang, jadi sifatnya juga sama seperti ibunya.” ucap Yahya dengan sinis memandang Andini yang menundukkan kepala tak berani memandang Yahya.
“Buah takkan jatuh jauh dari pohonnya, Sekali brengsek akan tetap brengsek! Suka merebut milik orang lain. Bukankah sama dengan perempuan murahan itu?” teriak Yahya sembari menunjuk Andini dengan tatapan tajam menghunjam. Membuat Andini bergidik ngeri.
“Apa benar Rico? Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Amran namun tak direspon Rico yang sudah tak mampu menjawab. Wajahnya babak belur. Sementara Iva yang sedari tadi berdiri diujung tangga saat mendengar suara ribut-ribut pun termangu disana. Ia mendengar semua perkataan Yahya bahwa suaminya mau memperkosa seseorang.
“Ingat! Menjauhlah dari keluargaku! Aku akan penjarakan anak brengsek itu. Dasar bejat! Sama seperti ibunya yang bejat! Suka merebut milik orang lain.” kata Yahya mendengus. Amran terpaku mendengar ucapan ayahnya. Dia tak menyangka Rico akan senekat itu.
“Aku peringatkan kalian! Aku akan menghancurkan kalian berkeping-keping karena sudah mengganggu keluargaku. Apalagi anak perempuan murahan ini mau memperkosa istri Verrel. Dasar bajingan! Deandra sedang hamil lima bulan dan kau mau memperkosanya, dimana letak otakmu!"
Iva menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia tak percaya apa yang didengarnya. Deandra? Bukankah itu nama yang selalu disebutkan oleh suaminya? Dan perempuan itu adalah istri Tuan Verrel? Ya, Tuhan. Ada apa ini? Perempuan itu sedang mengandung katanya dan kak Rico mencoba memperkosanya? Oh, Tuhan.....sebejat itukah suamiku gumamnya. Airmatanya pun jatuh, tangannya memegang dadanya yang terasa sesak.
“Kalian tinggal disini, awasi terus mereka semua.” perintah Yahya pada anak buahnya yang sudah melepaskan Amran dan Andini. “Apa? Kenapa papa lakukan itu?” tanya Amran.
“Untuk memastikan kalian tidak keluar dari rumah ini, hidup-hidup.” ancamnya. “Kuperingatkan! Aku pastikan kau akan mendekam dipenjara dalam waktu yang lama.” kata Yahya sambil menunjuk kearah Rico. "Bukti dari cctv akan menjeratmu dengan hukuman berlipat-lipat." mendengar itu Andini langsung merasa lemas dan luruh ke lantai, pingsan
__ADS_1