
Disebuah ruangan dibelakang rumah utama, terlihat Yuna sedang menginterogasi kedua pelayan yang tadi berada dikamar Deandra. “Siapa yang masuk ke kamar mandi tadi? Jawab!” bentak Yuna marah dengan tatapan tajam pada kedua pelayan itu.
“Kami tidak ada masuk, Bu Yuna. Hanya berdiri diluar menunggu Nona Muda,” jawab Tami ketakutan.
“Tadi saya masuk sebentar untuk memeriksa jika Nona Muda butuh sesuatu,” kata pelayan satunya yang bernama Lilis.
“Lalu kenapa ada tumpahan lotion dilantai kamar mandi?” tanya Yuna lagi. “Cepat katakan? Siapa diantara kalian yang melakukannya!” bentaknya dan kedua pelayan itu diam menundukkan kepala.
“Tapi kami tidak melakukannya. Mana mungkin kami melukai Nona Muda,” ucap keduanya. Jika bukan mereka lalu siapa lagi? Gumamnya. “Selain kalian, apa ada pelayan lain yang masuk ke kamar?”
“Ah, saya baru ingat Bu Yuna. Tadi saat Tami turun ke dapur dan saya diperintahkan Nona Muda untuk mengambil aroma therapi, saat saya naik kelantai atas saya sempat melihat Mira keluar dari kamar Nona Muda.” kata Lilis menjelaskan. Ya, tadi dia sempat melihat Mira keluar dari kamar majikannya, dia tidak merasa heran sedikitpun karena berpikir mungkin Nona Muda memanggilnya.
“Panggil Mira sekarang!” perintah Yuna. Dia sangat marah, jika benar Mira yang melakukannya maka dia sendiri yang akan lebih dulu menghukum pelayan itu. Dia ingat pernah mendengar ucapan Mira yang tidak menyukai majikannya itu. Jangan-jangan dia sengaja ingin melukai nona muda? Pikirnya.
Tak lama berselang Lilis datang bersama Mira yang memasang wajah tak suka karena Lilis memanggilnya. Kini ketiga pelayan berdiri didepan Yuna. Mira mendongakkan kepala, tidak merasa takut sedikitpun.
“Apa kau masuk ke kamar nona muda?”
“Tidak! Buat apa saya masuk kekamarnya?” jawab Mira dengan tenang.
“Kau jangan bohong!” bentak Yuna dengan wajah memerah saking emosinya.
“Saya bicara yang sebenarnya,” balas pelayan itu. Dia belum pernah melihat seseorang dihukum akibat berbuat salah dirumah itu, kabar yang didengarnya hanya dianggapnya terlalu dilebih-lebihkan sehingga dia tidak takut sedikitpun.
“Kalau kau bohong maka hukumanmu akan sangat berat! Aku akan memeriksa CCTV,” kata Yuna. Mendengar itu Mira mulai tersadar kalau dia pasti akan ketahuan berbohong.
Saat Yuna hendak pergi untuk memeriksa cctv, Mira langsung berkata,” Aku ingat. Tadi aku kekamar Nona Muda ingin mengantarkan minuman.”
“Lalu?” tanya Yuna, tidak ada seorangpun yang diijinkan masuk kekamar majikannya tanpa perintah dari kepala pelayan. Lalu buat apa pelayan ini mengantarkan minuman?
__ADS_1
“Aku langsung keluar,”
“Apa kau masuk kekamar mandi dan menumpahkan lotion?” tanya Yuna lagi.
“Ta-tadi aku tidak sengaja menumpahkan sedikit lotion.” ucapnya terbata-bata melanjutkan kebohongannya.
“Sedikit kau bilang? Lalu kenapa tidak kau bersihkan?” kata Yuna semakin marah.
“Aku lupa karena teringat aku lagi memanggang kue di oven.” memberikan alasan atas kebohongannya.
“Kau tau! Akibat ulahmu, Nona Muda celaka!” teriaknya sambil mengarahkan telunjuk kewajah pelayan itu. Pelayan lain yang tinggal dirumah belakang mendengar teriakan marah Yuna. Para pelayan saling berbisik, jelas ada raut ketakutan diwajah mereka. Semua orang pasti akan dihukum oleh Tuan Besar. “Aku sudah pernah nasehati dia supaya bersikap sopan pada Nona Muda, tapi dia tidak mau dengar,” kata Rita pada para pelayan. “Berani sekali pelayan itu mau mencelakai Nona Muda,” sahut pelayan lainnya.
“Tapi wanita itu tidak apa-apa kan?” tanya Mira enteng semakin menyulut emosi Yuna.
“Jaga bicaramu! Ingat kau siapa, hanya pelayan dirumah ini! Wanita yang kau sebut itu adalah Nona Muda dirumah ini!”
“Tami! Panggil pengawal! Pelayan tak tahu diri ini harus dihukum!” kata Yuna memberi perintah. Lebih baik aku yang menghukumnya, jika tua besar tahu perbuatan pelayan ini, semua orang dirumah ini akan kena hukuman.
“Silahkan pilih, mau kuhukum atau dihukum oleh tuan besar?” tanya Yuna.
“Memang apa hakmu menghukumku?” kata Mira tanpa sopan.
Plak! Tamparan keras melayang dipipinya. Yuna sangat marah melihat tingkah pelayan satu ini.
“Ahhhh….” Mira meraba pipinya yang terasa perih kena tamparan.
Dua orang pengawal berbadan besar dan tegap datang. “Bawa pelayan ini. Berikan dia hukuman karena sudah melukai Nona Muda!” kata Yuna memberi perintah pada kedua pengawal itu. “Ooo jadi ini pelayan itu. Dasar tidak tahu diri!” ucap pengawal yang bertubuh tinggi.
Dengan sigap kedua pengawal itu menarik Mira yang meronta-ronta ingin melepaskan diri. “Diam! Atau kau akan disiksa oleh Tuan Besar!” bentak salah seorang pengawal. Mereka membawa pelayan itu kesebuah ruangan dibawah tanah, tempat dimana biasanya tuan besar menghukum siapapun yang berbuat salah.
__ADS_1
Mata pelayan itu membesar saat melihat ruang bawah tanah yang terkesan menyeramkan. Terlihat beberapa alat penyiksaan diruangan itu, ada juga ruangan dengan teralis besi seperti sel penjara. Kini dia percaya bahwa apa yang didengarnya bukan isapan jempol semata. Pengawal itupun mengikat kedua tangannya ke dinding.
Mira sangat ketakutan, dia menangis namun mulutnya sudah ditutup dengan plester supaya teriakannya tidak terdengar. Malam itu, siksaan demi siksaan diterima Mira. Menyesali perbuatannya yang memang dengan sengaja ingin mencelakai nona muda yang dibencinya tanpa alasan jelas. Tubuhnya sudah tidak kuat menahan siksaan itu hingga akhirnya dia lemas tak sadarkan diri.
...**...
Waktu beranjak lewat tengah malam. Deandra merasakan desakan alamiah, ia mengerjapkan matanya yang terasa berat karena mengantuk. Saat matanya sudah terbuka, dia melihat pemandangan indah yang terpampang didepannya. Pahatan sempurna hasil mahakarya sang pencipta yang sempurna dihadapannya dengan bentuk tubuh kekar dengan dada berotot yang dihiasi bulu-bulu halus.
Deg!
Jantungnya berdegup kencang memandang keindahan itu. Kagum, ya dia merasa kagum dengan ketampanan pria yang sedang memeluknya. Baru kali ini dia bisa memandang wajah itu sepuasnya. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Verrel membuat tubuhnya bergetar.
"Tidak. Tidak. Dia tidak macam-macam saat aku tidur, bukan?'
Desakan alamiah itu semakin kuat, dia harus ke kamar mandi sekarang. Ia menggeliat hingga membuat pria yang sedang terlelap itupun terjaga.
“Tidurlah. Kau perlu banyak istirahat.” Suaranya datar sembari mempererat pelukannya. “Jangan takut aku tidak berbuat apa-apa kalau kau ingin tahu,” ujarnya seakan tahu apa yang ada dipikiran gadis itu.
“Ehmm….Aku mau ke kamar mandi,” kata Deandra pelan seperti berbisik.
Dengan cepat Verrel bangkit dan menggendong tubuh Deandra. “Apa-apaan ini? Kenapa mengendongku?”
“Aku antar kau ke kamar mandi.”
“Ta-tapi aku bisa jalan sendiri,” kata Deandra protes namun melingkarkan tangannya dileher Verrel.
“Aku tidak mau kau jatuh lagi, sayang,” Verrel tersenyum dan mendudukkan deandra di toilet. Sambil tetap berdiri disana menunggu.
“Kenapa berdiri disitu, tuan? Keluarlah, aku malu.”
__ADS_1
“Malu? Kenapa harus malu,aku sudah lihat semua,” jawabnya enteng sambil tersenyum. Rona merah menjalar dikedua pipinya.
Percuma bicara dengan pria ini, dia tidak akan pergi, gumamnya dalam hati. Setelah melihat gadis itu selesai, Verrel kembali menggendongnya keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di ranjang. “Ayo, tidur. Atau kau mau kutidurkan?” ucap Verrel sambil melingkarkan tangannya memeluk gadis itu. “Isshhhh….” hanya itu yang terucap, Deandra menutup matanya pura-pura tidur.