TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 250. DASAR GILA!!


__ADS_3

Malam hari, pukul sembilan malam Deandra sudah berbaring diatas ranjang setelah selesai menyusui anak-anaknya. Dari ketiga bayi itu Caesar yang pertama lahir sepertinya paling lengket dengan Deandra. Hanya bayi laki-laki itu yang enggan minum asi dari botol sehingga Deandra harus menyusuinya langsung. Verrel baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang dan rambut yang masih basah dengan air menetes. Dia berjalan menuju ruangan sebelah yang merupakan walk in closet dengan tatapan mata Deandra yang tak lepas memandangnya hingga pria itu hilang dibalik ruangan itu.


Deandra menghela napas panjang. “Apa Verrel baik-baik saja ya? Dia terlihat sangat letih meskipun dia berusaha menutupinya.  Apa dia ada menemui wanita lain dibelakangku selama aku hamil? Apakah dia akan masih bisa menahan hingga beberapa bulan kedepan? Hufff…..aku takut sekali kalau suamiku selingkuh. Mengingat bagaimana dia dulu…..” gumamnya lirih.


“Aku akan sibuk mengurus lima anak dan jadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Aku tidak akan punya waktu melayani suamiku seperti dulu lagi. Ahhh….mungkin aku terlalu berlebihan.”


“Kenapa sayang? Aku lihat kau murung dan menghela napas terus dari tadi.” tanya Verrel yang sudah mengenakan piyama dan naik keatas ranjang. “Apa kau baik-baik saja?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan anak-anak. Jangan khawatirkan aku.”


“Aku akan selalu mengkhawatirkanmu dan anak-anak.  Kalian tanggung jawabku dan aku sangat menyayangi kalian semua. Sekarang tugasmu jadi bertambah dengan tiga bayi lagi, aku tidak mau kau kelelahan makanya aku sudah meminta Yuna memilihkan beberapa pelayan tambahan untuk membantumu mengurus anak-anak.”


“Kau merekrut pelayan baru lagi?”


“Tidak, sayang. Kita sudah punya banyak pelayan dirumah ini. Aku hanya minta Yuna untuk memilihkan beberapa orang terbaik untuk membantumu. Jika kita kekurangan pelayan disini, aku bisa menarik pelayan di villa untuk bekerja disini.”


“Oh….Verrel.” Deandra memikirkan bagaimana caranya menyampaikan isi hatinya pada Verrel.


“Ada apa?”


“Hmm….aku merasa sedikit khawatir. Ini-----kondisiku untuk beberapa bulan ini.” Deandra tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap wajah tampan suaminya. Seolah bisa membaca pikiran istrinya, Verrel tersenyum lalu meraih tangan Deandra dan mengecupnya.

__ADS_1


“Kau takut kalau aku tidak bisa menahan diri dan mencari kepuasan diluar, hmm?”


“Verrel, kau ini pengusaha atau peramal?”


“Ha ha ha…..aku selalu bisa membaca isi kepalamu.”


“Lalu….?”


“Kau berpikir terlalu jauh. Aku tidak akan pernah melakukan itu! Aku pernah janji padamu bahwa aku tidak akan pernah menyakiti hatimu. Sudahlah, jangan berpikir yang macam-macam. Kau pasti lelah, kita tidur ya.” Verrel enggan membahas hal yang menurutnya tidak penting. Dia membetulkan letak bantal untuk Deandra dan membantunya berbaring.


Cup!


Verrel mengeceup kening, wajah lalu bibir istrinya yang sudah jadi candunya. “Selamat malam istriku.”


Jika di kediaman keluarga Ceyhan suasana damai dan tenteram dimana semua penghuninya sudah berada dikamar masing-masing. Berbeda dengan apartemen Olivia, tampak wanita itu berjalan mondar mandir sejak tadi. Sejak sore dia berusaha menghubungi asistennya namun sepertinya Siska masih marah padanya dan enggan mengangkat teleponnya. “Sialan kau Siska! Kemana sih dari tadi ditelepon tidak diangkat!”


Dia kembali mengambil ponselnya dan menekan tombol panggilan. Setelah mencoba enam kali barulah panggilannya dijawab. “Kau dimana? Kenapa tidak menjawab teleponku dari tadi?” teriak Olivia penuh amarah.


“Oh aku pikir kau tidak membutuhkanku lagi. Bukankah tadi kau mengusirku?” ujar Siska.


“Kau asistenku dan aku yang menggajimu! Kau tidak bisa sesuka hatimu melakukan apa yang kau mau, apalagi tidak menjawab teleponku.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau kuberitahu padamu bahwa aku sudha tidak mau bekerja padamu lagi. Sebaiknya kau segera mencari asisten baru untuk penggantiku! Oh satu hal lagi, aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku dan aku juga memberitahu Tuan William soal ini.”


“Apa? Hei Siska! Kau jangan lupa ya siapa yang membantumu selama ini, siapa yang membiayai ibumu dirumah sakit! Siapa yang memberimu semua kemewahan selama ini! Seenaknya kau ingin berhenti bekerja? Kau tidak akan pernah bisa melunasi semua uang yang sudah kukeluarkan untukmu dan keluargamu!”


“He he…..jangan selama ini kau tidak tulus berteman denganku? Ingat ya Olivia, aku tidak pernah meminta apapun padamu dan kau yang memberiku tas serta pakaian mahal meskipun aku sudah sering menolaknya. Soal biaya pengobatan ibuku, bukankah itu bantuan dari Tuan William? Apa kau lupa semua pengorbananku selama ini untukmu? Membersihkan nama baikmu saat kau berulang kali mempermalukan dirimu sendiri?” ujar Siska tak mau kalah.


“Diam! Berani kau berteriak padaku? Sudah sepantasnya kau melakukan apa yang kau lakukan selama ini karena itu tugasmu sebagai asisten pribadiku! Sudahlah aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Datang ke apartemenku sekarang!” perintah Olivia.


“Tidak! Maaf Olivia. Mulai hari ini aku bukan asistenmu lagi! Aku tidak akan mengambil gaji terakhirku dan satu hal lagi aku sudah tidak mau membereskan semua kekacauan yang kau buat. Apalagi kali ini kau sudah kelewat batas dengan melibatkan Tuan Verrel! Kalau kau mau hancur, pergilah! Jangan pernah menyeretku bersamamu!”


“Apa maksudmu?”


“Kau paham betul apa maksudku! Kau tidak waras jika masih menganggap Tuan Verrel dan kau bersama-sama malam itu. Cukup Olivia! Aku lebih baik mundur sekarang daripada aku terus iktu terseret lebih jauh dengan masalah itu. Sudahlah aku mau tidur. Bye!”


Siska langsung memutuskan panggilan telepon lalu mematikan ponselnya sehingga saat Olivia mencoba menghubunginya lagi, nomor teleponnya tidak bisa lagi dihubungi.


“Oh jadi kau pikir aku sudah gila, ha? Baiklah, kau pikir aku tidak bisa tanpa bantuanmu? Banyak orang diluar sana yang bersedia bekerja sebagai asistenku. Kau tunggu saja Siska! Aku akan membuktikan pada semua orang bahwa aku dan Verrel menghabiskan malam bersama dan aku harap aku hamil, maka aku akan memantapkan posisiku dikeluarga kaya itu! Tidak masalah meskipun sebagai istri kedua ataupun wanita simpanannya!”


“Dasar gila!” umpat Siska diseberang sana lalu membaringkan tubuhnya yang lelah. “Besok aku harus meninggalkan negara ini. Tidak baik berlama-lama tinggal disini, Olivia semakin tidak waras bisa-bisa aku malah ikut terseret dalam masalah yang dibuatnya. Huh!”


Dia menggulingkan tubuhnya diatas ranjang namun matanya engga terpejam.

__ADS_1


“Ah…..kenapa aku susah tidur sih. Hem….mungkin ada baiknya aku ke kelab malam yang dikunjungi Olivia. Mana tau aku bisa cari tahu apa yang terjadi malam itu. Siapa pria yang bersamanya? Wanita itu gila dan nekat! Kalau sampai dia mengganggu keluarga Verrel wah...”


__ADS_2