
Ring! Ring!
“Issss...siapa yang sibuk menelepon?” ujar Verrel yang masih berbaring disamping istrinya.
“Ya, Opa.”
“Kau dimana? Cepat bawa istrimu kesini. Dia harus dirias sekarang, opa dan mamamu sudah menunggu dari tadi.”
Tak ada jawaban dari Verrel. Rasanya dia malas untuk beranjak dari ranjang.
“Verrel! Apa kau masih tidur? Cepat kesini, pesta pernikahanmu tinggal berapa jam lagi.” suara Tuan Yahya terdengar mendengus kesal. Anak itu keterlaluan! Jam segini masih tidur, apa dia lupa pesta pernikahannya malam ini?
“Ayo berangkat, sayang.” ucap Verrel langsung menggendong istrinya ala bridal. Sang asisten yang sudah menunggu didepan hotel pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat tuannya yang lagi bucin.
Sesampainya ditujuan, Opa dan mamanya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Verrel yang menggendong tubuh istrinya sampai kedalam ruangan. Keduanya dirias diruang yang berbeda. Tiba-tiba Ayu ingat pada masa mudanya dulu, saat dia tergila-gila pada seorang pria yang sudah memberinya seorang putra.
“Ayu...kamu darimana?” tanya Yahya pada menantunya.
“Jalan-jalan ke taman menghirup udara segar.”
“Kamu baik-baik saja? Apa yang menganggu pikiranmu?
Wanita paruh baya yang masih cantik itu menunduk, ia mengingat seseorang. Pria yang dulu sangat dicintainya tapi pria itu sudah menyakitinya dan melukai hatinya. Dia sudah bangkit dari keterpurukannya. Ada sesuatu yang sudah dia rencanakan untuk membalas sakit hatinya.
“Katakan padaku, Ayu. Jangan pendam sendiri, itu hanya akan menyiksamu.” Yahya tahu betul apa yang meresahkan hati menantunya itu. Dia tidak ingin menantunya akan terluka lagi seperti dua puluh tahun lalu.
“Apa kau merindukan suamimu?”
Ayu menggelengkan kepalanya, isak tangisnya terdengar. “Jangan khawatir, sayang. Dia tidak akan menyakitimu. Bertahanlah.” kata Yahya menenangkan menantu kesayangannya itu. Ucapan papa mertuanya mampu menghentikan tangisnya. Hanya harapan dan doa yang dia punya agar dia bisa tetap kuat karena dia ingin suaminya melihatnya sekarang setelah bertahun-tahun mereka tidak pernah bertemu lagi.
...*...
Amran dan istrinya Andini sudah sampai ditempat pesta pernikahan. Setelah memarkirkan mobil mewahnya di area parkir private, dia menuntun tangan istrinya turun dari mobil.
“Ingat. Jangan jauh dariku.” kata Amran yang memeluk erat lengan istrinya. Andini yang mengenakan gaun warna keemasan itu tersenyum dan berjalan mengikuti Amran untuk bertemu dengan papa mertuanya.
__ADS_1
Frans menyambut kedatangan Amran yang berjaga dipintu ruangan khusus keluarga pengantin. Amran bisa melihat ada pengawalan super ketat digedung itu.
“Selamat datang, Tuan. Silahkan masuk. Tuan besar dan Tuan Verrel sudah ada didalam.”
“Kenapa acara belum dimulai?” Amran mengedarkan pandangannya.
“Ini perintah Tuan Besar.”
“Ok, aku mengerti.”
Amran dan Andini melangkah dengan percaya diri menghadap sang ayah. Dia sudah tak peduli jika akan ada masalah besar atau tidak. Saat masuk keruang ganti, pria itu melihat wajah cantik seorang wanita yang sedang tertawa lepas dengan putranya. Matanya membulat melihat wanita itu yang sudah bertahun-tahun tak dilihatnya. ‘Dia semakin cantik’ gumamnya dalam hati. Andini yang melihat mata suaminya memandang Ayu istri pertamanya, dia tidak menyukai itu.
Suasana disana tiba-tiba panas saat Amran dan Andini masuk. Ayu terkejut dan terpaku melihat suaminya datang bersama wanita lain yang menggenggam erat tangannya.
Ayu kembali bersikap tenang dan tersenyum manis. Akulah nyonya besar ceyhan, menantu sah keluarga ini, gumamnya. Saat Verrel meminta Yuna untuk membawa mamanya masuk kedalam, Ayu menahan tangan Verrel “Tidak usah, sayang. Mereka akan lihat kalau mama bukan wanita lemah lagi.”
Verrel menyeringai mendengar ucapan mamanya, “Kupikir papa tidak akan datang ke pernikahanku,” ucap Verrel dengan nada mencemooh. Ia masih ingat bagaimana murkanya Amran mendengar pernikahannya.
“Aku bukan pecundang, Verrel. Apa kata orang-orang kalau papa tidak datang. Meskipun papa tidak habis pikir tentang wanita pilihanmu.”
“Bukan pecundang?” tawa verrel mencemoohnya. “Lalu sebutan apa yang pantas untuk seorang pria yang meninggalkan istrinya demi wanita lain tanpa memberi kejelasan. Masih menggantung status istri pertamanya.”
Amran seperti tertampar, ia merasa terhina. Sial! Umpatnya dalam hati.
“Berdirilah didepan cermin, Pa. Supaya papa bisa melihat siapa diri papa sebenarnya.” lanjut Verrel membuat sang papa geram. Ia berusaha menaham emosinya, malu ya lebih tepatnya ia merasa malu.
Sementara Andini masih dengan sikap angkuh dan percaya dirinya berdiri menatap Verrel. Ia merasa menang karena Amran lebih memilihnya daripada Ayu.
“Dan kau tante! Ingat karma itu ada. Sekarang kau merasa senang atas kemenanganmu. Tapi akan ada masanya kau akan melihat orang yang kau sayangi menderita….sangat menderita.” ucap Verrel.
Mendengar itu Andini tersulut emosi tapi ia masih bisa mengendalikan diri. “Terimakasih. Aku akan mengingat ucapanmu.” jawabnya pelan.
“Ha...ha...ha...ha” tawa mengerikan Verrel memenuhi ruangan membuat Andini tak nyaman. Ia mulai merasa takut pada putra pertama suaminya itu. Dia mengedipkan mata pada suaminya tapi tak direspon.
“Berani-beraninya kau membawa wanita itu!” teriak Yahya yang mengejutkan semua orang.
__ADS_1
Amran dan Andini terpaku ditempatnya berdiri, dada terasa sesak untuk bernapas. Yahya berdiri disamping Verrel.
“Ini kesempatan terakhirmu Amran. Jika kau kembali sekarang, aku terima. Tapi jika kau bersikukuh memilih istri simpananmu itu, maka posisi anak ****** ini dikantor akan kugantikan dengan orang lain.”
Hening, tak ada yang bicara, Andini meremas lengan suaminya. Amran masih belum menjawab tawaran papanya. Andini tidak mau jika suaminya menerima tawaran Yahya, ia tak ingin putranya jadi pengangguran, ia juga cemas jika Amran memilih kembali pada keluarganya.
‘Sialan! Kenapa pria tua itu dan ayu harus kembali ke indonesia?’
Verrel hanya mengamati dan tak berkomentar. Kakeknya satu-satunya yang ia andalkan.
“Jawab Amran!” teriak Yahya.
“Baiklah, Pa. Aku memilih kembali.”
“Papa!” teriak Andini yang terkejut dengan keputusan suaminya. Wanita itu tidak menyangka jika suaminya membuat keputusan itu. Amran mengedipkan mata sambil meremas tangan istrinya sebagai kode. 'Ini hanya sementara. Aku harus mendapatkan yang jadi hakku.' monolog dalam hatinya.
Ayu Prastita menggandeng tangan menantunya yang cantik dengan senyum manis mendekati Verrel dan terlihat masih berdebat dengan papanya "Selamat datang." ucapnya dengan nada datar dan mata sinis menatap wanita simpanan suaminya.
Amran mengalihkan pandangan pada istri pertamanya yang semakin cantik dan deandra. Kedua wanita cantik itu membusungkan dada 'kamilah wanita di keluarga Ceyhan. Takkan kami biarkan siapapun mengacaukan keluarga ini.' monolog mertua dan menantu itu.
"Pa, ayo kita pergi dari pergi sini," bisik Andini mencubit lengan suaminya.
"Kau pergilah dan bergabunglah dengan tamu yang lain. Ini pernikahan putraku dan aku akan mendampinginya bersama Ayu istriku." jawab Amran.
Andini berusaha menahan emosi, dengan perlahan dia mundur dan keluar dari ruangan itu menuju ballroom. 'Awas kau Ayu, takkan kubiarkan Amran kembali padamu.'
Dia duduk di meja sudut, rasa sakit karena sampai kapanpun dia hanya akan bisa duduk dibarisan paling belakang setiap kali dia hadir di acara keluarga Ceyhan. 'Kalau Rico menikahi Iva, status sosialku akan tinggi dan aku akan tunjukkan pada wanita itu dan menantunya.' gumamnya pelan seraya mengepalkan tangan.
*Ini visual ballroom pesta pernikahan sang CEO
*Ini visual pelaminannya
__ADS_1