
Semua yang dilakukan Verrel untuknya terpatri dengan jelas dibenak deandra. Perhatian dan kasih sayangnya yang tercipta layaknya mereka adalah pasangan suami istri romantis. Verrel tak segan-segan menunjukkan keposesifannya. Pria itu tak membiarkan Deandra lepas dari pandangannya. Saat istrinya ingin ke toilet pun Verrel dengan setia menemani dan menunggu dengan sabar. Hal yang tidak pernah dilakukannya pada siapapun sebelumnya.
“Apakah kau suka makan malamnya, sayang? Kalau kau suka, kita bisa datang lagi. Bagaimana menurutmu, istriku sayang?” Alih-alih menjawab Deandra hanya mengangguk, hatinya meleleh tiap kali Verrel memanggilnya ‘istriku sayang’.
“Kalau kau pasrah begini, aku ingin segera..ehm….menyapa anakku didalam.” Sederet kalimat yang meluncur tanpa malu itu membuat wajah Deandra merona. Tangan Verrel mengelus perut istrinya yang buncit, membuat Deandra tersenyum dan pipinya memerah.
“Bertahanlah tidak lama lagi. Tunggu sampai dirumah,” ucap deandra menggigit bibirnya setelah membalas klaimat yang Verrel ucapkan.
“Rupanya kau pun menginginkanku, ehmm?” bisik Verrel tanpa malu menggoda istrinya.
Deandra terdiam.
“Jawab pertanyaanku sayang. Apa kau juga menginginkannya?” tanya Verrel mengulang kembali. Dia sangat senang menggoda istrinya yang kini wajahnya merona dan menunduk malu.
Deg!
Jantung deandra berdebar semakin kencang. Barisan kata-kata Verrel itu membuatnya kehilangan kewarasannya yang semakin lama terkikis. Kenapa kata-katamu selalu saja melambungkanku? Semakin hari suamiku semakin manis dan lembut, gumamnya dalam hati.
“Kalau kau tidak mengakuinya. Maka aku akan--”
“Ya. Aku sangat menginginkanmu,” jawab Deandra dengan pipi semakin merona karena malu. ‘Aihh….kenapa aku jadi merasa malu begini? Dia suamiku tidak salah jika aku pun menginginkannya.’ gumamnya dalam hati. Ia merutuki bibirnya yang bicara lantang dan langsung mengiyakan permintaan Verrel.
__ADS_1
Bisikan halus yang terdengar membuat desiran ditubuhnya dan seolah aliran darahnya berhenti. Tak lama mereka pun sampai dirumah, tak sabar Verrel menggendong istrinya ala bridal memasuki rumahnya tanpa mengindahkan tatapan Opa dan Mamanya yang tersenyum melihat pasangan romantis itu. Panggilan mamanya yang mengingatkan untuk berhati-hati mengingat Deandra sedang hamil hanya dibalas dengan senyuman oleh Verrel.
...*...
Sementara di sebuah rumah mewah, kedua keluarga baru tampak bercanda tawa setelah makan malam selesai beberapa waktu lalu. Pasangan paruh baya saling berinteraksi hangat dan bahagia. Sangat berbeda dengan pasangan yang baru menikah sebulan yang lalu itu. Rico dan Iva terlihat canggung dan terpaksa harus pura-pura bahagia. Seakan-akan sebagai pasangan suami istri yang bahagia dan romantis.
Rico yang sudah tak tahan duduk berlama-lama disana melirik sang istri. Beruntungnya wanita itu sangat tanggap. “Kak, kepala Iva pusing,” bisik wanita dengan dress motif bungan itu kepada suaminya. Ia sengaja mengeraskan suara agar menarik perhatian kedua orangtua mereka.
“Mau ke kamar? Mungkin kau lelah seharian membantu mama memasak.” Rico sangat pandai berakting seperti mamanya, hingga kedua orangtua pun bisa mempercayai bahwa hubungan anak mereka sudah baik.
“Mau, kak,” sahut Iva dengan cepat. Diapun tak ingin berlama-lama disana, hatinya terasa sakit dengan semua kepura-puraan yang harus dilakoninya. Cinta membutakannya, hingga menuruti semua permintaan Rico dengan mengabaikan rasa sakit dihatinya.
“Maaf, Ma, Pa. Kami pamit dulu ya sepertinya istriku butuh istirahat.” kata Rico sembari memberi isyarat pada istrinya.
“Ayo, sayang. Aku antar kau ke kamar dan kau bisa beristirahat--” kata Rico dengan suara lembut, sikapnya seakan suami yang baik.
“Sekalian jaga istrimu.. Kau tak perlu turun lagi,” kata Amran.
Rico menarik sudut bibirnya,”Baik Pa.”Sesampainya didalam kamar, Rico melepaskan tangan Iva begitu saja dan melenggang masuk tanpa mempedulikan sang istri terpaku ditempatnya.
Iva menatap nanar punggung suaminya yang semakin menjauh. Air matanya mengalir dan hatinya berdenyut nyeri. Ingatannya kembali ke malam dimana Rico mengambil hak sebagai suami. “Sebegitu besarnya cinta kakak untuk dia?” ucap Iva lirih menahan tangisannya.
__ADS_1
...*...
Kesokan harinya dirumah utama terlihat Frans bersama seorang pria berperawakan kekar.
“Baiklah, kau boleh bekerja mulai hari ini,” ucap Frans pada seseorang yang baru melamar kerja sebagai pengawal di rumah besar keluarga Ceyhan. “Baca semua peraturan dan belajarlah dengan cepat. Aku tidak memberikan toleransi pada siapapun yang melakukan kesalahan. Apapun alasannya.”
“Saya mengerti. Saya akan menyesuaikan diri, Tuan.”
Frans memperhatikan dengan jeli gerak gerik pengawal baru itu dengan tatapan tajam. “Bergabunglah dengan Panji untuk sementara waktu. Dia berjaga dipintu gerbang. Aku akan memikirkan tempat yang tepat untukmu secepatnya.”
Pria berbadan tegap dengan wajah datar itupun membungkukkan badan dan segera keluar. Meninggalkan Frans yang berpikir keras. Setelah menimbang beberapa kemungkinan Frans mengusap kasar wajahnya.
“Apakah tidak berbahaya jika aku menempatkan dia menjadi salah satu pengawal Nyonya Verrel?” Tak ingin mengambil resiko, pria bersetelan jas hitam itu melangkah ke dalam paviliun belakang untuk memutuskan sebaik-baiknya.
...*...
Verrel terpana memandang keindahan yang terbalut rapi dibalik setelan kemeja itu. Dengan sekejap saja, manik hitam pekat yang biasa menatap tajam menjadi lembut dan seringai liar etrbit diwajah tampannya. Namun mendadak saja api cemburu yang entah tertuju pada siapa menyerang kewarasannya. Padahal saat ini penampilan wanita itu jauh dari kata terbuka. Dan tentu saja pakaian yang bisa dipakai istrinya ke kantor adalah pilihannya sendiri.
Tak bisa dipungkiri semua aktivitas apapun yang berhubungan dengan sang istri selalu menarik perhatian. Apalagi ketika wanita itu selesai mandi dan bersiap. Bertahan untuk tetap waras tentu menjadi hal paling mustahil bagi Verrel. Ya, semenjak makan malam romantis yang berakhir dengan malam romantis sepanjang malam. Verrel tak ingin ketinggalan sang istri itu begitu protektif dan posesif terhadap semua hal-hal kecil seperti hari ini.
Verrel seolah tak membiarkan deandra berangkat ke kantor seperti biasanya. Ia mengunci tubuh sang istri dan memojokkan wanita it didinding kamar mereka. “Aku hanya ke kantor, sayang. Hanya beberapa jam saja dan kita bisa ketemu pas jam makan siang nanti. Kalau kau sibuk, aku bisa pulang kerumah dan menunggumu,” protes Deandra saat sang suami tak kunjung melepaskan dekapannya.
__ADS_1
“Kau memang keras kepala, sayang.” Verrel mengeram karena sang istri terus protes dan tak mendengarkannya sama sekali. “Baiklah. Tapi khusus hari ini, aku yang akan mengantar dan menjemputmu? Hari ini saja.” Pria bermanik hitam pekat itu masih berusaha benegosiasi dengan sang istri agar mengiyakan, kalau tidak ia mungkin akan menggunakan cara lebih ekstrim untuk mendapatkan yang ia inginkan. Deandra memutar bola matanya malas, padahal setiap pagi Verrel juga ikut mengantar meskipun jarang sekali menjemput sewaktu pulang. Lagipula akhir-akhir ini pria itu selalu memaksa dirinya datang kekantor setiap jam makan siang.
Bisa dibayangkan, kini pengawalan Deandra pun semakin tak masuk akal hanya gara-gara pas di mall bersama Rosa ada pria yang dulu teman kuliahnya sempat berbicara sebentar sekedar menyapa, hanya limat menit. “Kalau kau tak mengiyakan berarti kau tak perlu lagi ke kantor. Aku akan bilang ke mama--”