TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 192. MASUK HOTEL


__ADS_3

Seperginya Amran dan Risna yang terburu-buru membuat Deandra bertanya-tanya. Dia merasa aneh dengan sikap mertuanya, meskipun hubungan Amran dan keluarga Ceyhan sangat buruk tapi mereka masih peduli padanya meskipun Amran mengacuhkan semua orang.


“Dea…..itu tadi bukannya mertuamu ya?” tanya Rosa yang sedari tadi memperhatikan interaksi Deandra dan Amran.


“Iya. Itu papa Amran. Sejak kapan dia punya perawat pribadi? Apa dia benar-benar sudah sembuh atau belum ya? Memangnya papa punya penyakit lain makanya harus pake perawat pribadi?” Deandra bertanta-tanya.


“Udah jangan dipikirin, aku sudah lapar ini. Kita mau makan dimana?” kata Rosa mengelus perut buncitnya.


“Kita makan restoran seafood saja ya, aku pengen makan ditempat biasa.” kata Deandra. Rombongan itupun pergi ke lantai lima menuju sebuah restoran seafood yang masih milik keluarga Ceyhan.  Pelayan yang tak mengenali Deandra terlihat memperhatikan wajah cantik wanita itu yang diikuti oleh pelayan dan pengawal pribadinya.


“Cantik banget ya wanita itu, badannya juga seksi padahal sudah punya anak dua.” bisik-bisik pelayan yang memperhatikan Deandra.


“Maaf, tolong jaga sikap dan hormat pada Nyonya Verrel.” ucap salah seorang pengawal. “Mana manajer kalian?”


“Sudah, biarkan saja Obaja! Pilihkan saja beberapa meja untuk kita, kalian semua juga ikut makan siang bersama.” kata Deandra yang selalu memperlakukan para pekerjanya dengan baik.


“Tapi Nyonya--” belum sempat kalimatnya selesai, seorang pria yang bekerja sebagai manajer restoran itu tergopoh-gopoh mendekati Deandra dan membungkuk hormat.


“Selamat datang Nyonya Besar. Silahkan ikuti saya, pelayan sudah menyiapkan meja untuk nyonya.”


Melihat manajer mereka membungkuk hormat dan menyapa Deandra dengan panggilan Nyonya Besar membuat wajah pelayan restoran yang tadi berbisik-bisik pun jadi pucat dan langsung memberi hormat. ‘Husss….ternyata itu memang Nyonya Besar.’ ucapnya berbisik pada temannya.


‘Mudah-mudahan Nyonya Besar tidak marah mendengar ucapan kita tadi. Bisa-bisa kita dipecat.’ balas temannya.


“Jangan takut. Saya tidak akan memecat kalian, kembalilah bekerja dan jangan ulangi lagi perbuatan tadi. Kalian disini bekerja bukan untuk menggosip.” kata Deandra yang tahu jika beberapa pelayan terlihat ketakutan.

__ADS_1


“Baik, Nyonya Besar. Terimakasih.” ucap mereka serempak.


Beberapa pengunjung restoran yang melihat kedatangan Deandra dan rombongannya pun tak berkedip melihat wanita cantik itu yang terlihat elegan sambil menggendong Nathan. Sedangkan Alya menggendong Naomi yang tertawa-tawa menarik-narik rambut ikal Alya.


“Silahkan Nyonya.” kata manajer restoran menuntun mereka ke meja besar. Deandra dan semua pelayan dan pengawalnya makan disatu meja, membuat pengunjun lainnya terperangah melihat perlakuan Deandra seorang Nyonya Besar dari CEO terkaya yang makan semeja dengan bawahannya. Pemandangan yang jarang terlihat dikalangan orang-orang kelas atas.  Rasa takjub orang-orang disana pun diungkapkan mereka dengan pujian yang sempat didengar oleh Deandra.


...*...


“Kita mau kemana Tuan? Bukankah tadi Tuan mau makan siang?” tanya Risna pada Amran yang terlihat muram dan tak bersemangat setelah bertemu Deandra dan kedua anaknya tadi.


“Ke hotel! Siang ini kau harus lakukan tugasmu. Nanti aku pesan makanan disana saja. Satu hal yang hatus kau ingat, jika kau bertemu menantuku dimanapun lebih baik kau segera menghindar. Jangan coba-coba mendekati atau bicara dengannya. Menantuku itu lebih mengerikan dari suaminya. Ayo kita pergi! Sudah waktunya kau bertugas!”


Deg!


Meskipun Risna sudah pernah melakukannya beberapa kali bersama Amran sewaktu masih berada dirumah sakit dan mereka kembali melakukannya kemarin, tapi tetap saja membuat jantungnya berdebar-debar cemas. Jauh dilubuk hatinya, wanita itu mulai menyesali keputusannya menerima tawaran Amran.  Demi uang yang ditawarkan dan memang dia sedang membutuhkan uang untuk kebutuhan pengobatan ibunya, Risna tak punya pilihan lain. Dia tetap saja bergidik ngeri saat mengingat bagaimana buasnya Amran diatas ranjang, meskipun pria itu tidak muda lagi tapi gairahnya yang berkobar-kobar membuat Risna lemas setiap kali mereka berhubungan.


“Antarkan makanan ke kamarku. Satu botol wine,” ucapnya pada resepsionis hotel.


“Baik, Tuan.”


Pria itu melangkah memasuki lift dan naik kelantai duapuluh. Dia tak menyadari jika Yahya melihatnya sesaat sebelum masuk kedalam lift.


“Dengan siapa tadi anakku datang,” tanya Yahya pada resepsionis.


“Sendiri saja, Tuan Besar.”

__ADS_1


“Hemm…..aku mau kalian laporkan padaku jika anakku datang ke hotel ini membawa perempuan. Ingat!”


“Baiklah, Tuan Besar. Saya akan beritahukan juga pada resepsionis lain yang bertugas.”


“Suruh kepala keamanan dan manajer hotel temui saya diruangan sekarang,” perintah Yahya.


“Baik, Tuan Besar.”


‘Apa yang dilakukannya disini?’ gumamnya pergi keruang kerjanya di hotel itu. Sementara didalam kamar 2002, Risna sudah mandi dan berganti pakaian, sementara Amran sedang berada di kamar mandi saat bel pintu berdering, pelayan hotel membawakan makanan pesanan Amran. Pelayan itu heran saat melihat seorang wanita yang membukakan pintu, dia ingat perintah manajer hotel pada semua staff. Pura-pura meletakkan semua makanan diatas meja dan meletakkan sebuket bunga, pria itu mengeluarkan sebuah kamera kecil seukuran kancing baju dan menempelkannya di televisi yang menghadap ke tempat tidur. Lalu dia beranjak keluar dari kamar itu dan mengirimkan pesan pada Tuan Yahya.


“Makanannya sudah datang, Tuan. Silahkan dimakan dulu.” kata Risna yang sudah menyiapkan makanan untuk Amran.


“Berhenti bersikap terlalu formal. Jangan panggil Tuan kalau kita sedang berdua, toh kau adalah pelayan pribadiku,” ujar Amran tanpa tahu malu.


“Baiklah. Jadi aku harus panggil apa?”


“Panggil yang lebih mesra, aku suka saat kau mendesah memanggilku.”


Ucapan Amran membuat Risna merona, jujur dia menyukai Amran diatas ranjang yang memapu memuaskannya meskipun Risna selalu berakhir mengenaskan akibat perbuatan ganas pria itu.


...*...


Amran mendorong tubuh Risna ke ranjang dan merobek pakaiannya dengan kasar. “Ahhh….nanti aku pakai apa kalau pakaianku dirobek?”


“Nanti aku belikan pakaian baru untukmu, sekarang diam dan nikmati saja seperti biasa.”

__ADS_1


Gerakan tangan Amran meremas dada Risna yang sudah polos, sementara pria itu melepas cepat pakaiannya. “Ahhh….mas….”


“Ya…...bagus….desahkan terus….ayo mendesahlah.” bisik Amran mesra “Puaskan aku siang ini sampai besok pagi.” dan kata-kata itu membuat Risna bergidik membayangkan bagaimana sikap pria itu selama ini. Amran membalikkan tubuh Risna dengan cepat dan bibirnya menyerbu bibir Risna yang tipis dan lembut. Memagut bagian kenyal itu sesuka hatinya dengan ritme yang menggebu.


__ADS_2