
Yahya yang memerintahkan pelayan untuk menempatkan Amran dikamar tamu di bagian belakang, karena Amran selalu mengamuk dan berteriak-teriak tak menentu siang dan malam dengan racauan yang tak seorangpun mengerti. Karena takut akan mengganggu ketenteraman, maka pria itu dikurung dikamar, toh dia juga tak pernah mau keluar dari kamar itu. Semua barang-barang yang ada dikamar itu pecah dibanting oleh Amran, hingga Yahya meminta para pelayan untuk membersihkan kamar itu dan mengeluarkan barang-barang, hanya tersisa tempat tidur, sofa dan meja saja disana.
Terkadang pelayan laki-laki yang disuruh oleh Yahya untuk membantu memandikan Amran pun kewalahan, karena pria paruh baya itu selalu mengamuk, kadang tertawa sendiri. Tawanya sangat mengerikan menurut mereka. Tampang Amran pun semakin kacau dan berantakan, penampilan seorang pria yang tegas dan angkuh yang dulu selalu ditunjukkannya kini sudah hilang. Dia hanyalah seorang pria gila yang selalu menangis dan tertawa setiap saat.
“Opa, apa tidak sebaiknya kita kirimkan saja papa kerumah sakit jiwa agar mendapatkan perawatan?” tanya Verrel pada Yahya.
“Iya. Opa sudah koordinasi dengan pihak rumah sakit soal itu. Mungkin sore ini mereka akan datang untuk menjemput Amran. Semakin hari dia semakin gila, kemarin dia mencakar pengawal yang menemani pelayan untuk mengganti pakaiannya. Hampir saja Amran merebut pistol di saku belakang pengawal itu. Opa tidak bisa bayangkan jika itu terjadi, pasti sudah ada korban jiwa akibat kegilaannya.”
“Lagipula tidak baik papa ada dirumah ini. Verrel punya dua anak, kalau sampai dia bisa mengelabui pelayan dan keluar dari kamar itu dan mencelakai anakku, aku tak bisa bayangkan.”
kata Verrel. Meskipun dokter datang kerumah untuk memeriksa Amran, tapi melihat kondisinya yang semakin hari semakin parah memang sudah waktunya dia dikirim kerumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan.
“Mama jadi ingat, bagaimana perlakuan papamu dulu pada mama sehingga mama mengalami gangguan mental. Selama tiga tahun mama berobat dan menjalani terapi rutin di luar negeri hingga sembuh. Bukan hal mudah untuk mama lalui saat itu. Mungkin ini karma, dia merasakan apa yang dulu mama rasakan. Rasa sakit kehilangan orang yang kita cintai dan kehilangan semua yang berharga dalam hidup kita. Mungkin Mas Amran merasakan sakit yang lebih dari apa yang dulu mama rasakan. Setidaknya, dulu mama masih punya keluarga dan orang-orang yang peduli dan menyayangi mama. Sedangkan dia, kini tak punya siapa-siapa lagi.”
“Biarkan saja papa begitu. Toh sampai kemarin pun dia masih bertahan tetap membela si brengsek itu dan istrinya. Dia bahkan tak peduli sama sekali pada kita keluarganya sendiri. Nasib baik kita masih mau membawanya kembali kerumah ini dan merawatnya. Papa sudah menentukan pilihannya, Ma. Dan sekarang dia menerima konsekuensi atas pilihannya."
"Apa yang akan kau lakukan pada rumah papa mu itu?" tanya Yahya pada Verrel. Bagsimanapun Verrel adalah anak kandung dan berhak atas rumah milik Amran yang ditempatinya selama ini bersama Andini.
__ADS_1
"Akan Verrel jual saja, Opa. Biar semua kenangan papa bersama perempuan itu hilang dan tak tersisa. Mengenai tiga orang pelayan yang bekerja dirumah itu, aku akan memberhentikan mereka dan membetikan pesangon untuk mereka."
"Baiklah. Itu keputusan yang sangat tepat. Kita tutup semua cerita tentang mereka dan kubur semua kenangan tak baik itu." kata Yahya menghela napas lega.
Tak lama sebuah ambulan memasuki kediaman keluarga Ceyhan. Pelayan memberitahukan pada mereka bahwa petugas dari rumah sakit sudah tiba untuk menjemput Amran. Tiga orang pengawal membantu membawa Amran keluar dari kamar, saat dia melewati ruang keluarga dan melihat Ayu disana, Amran tertawa terbahak-bahak sambil menunjuka kearah istri pertamanya itu “Ha….ha...ha….ha…..kau masih hidup ya? Istriku sudah pergi. Tapi kau tahu Ayu? Kau takkan pernah mendapat cintaku….karena aku hanya mencintai
Andini...ha…..ha…..ha…..ha….aku senang aku bahagia….Ayu tak punya suami….ha….ha….ha...anak sialan itu tak punya ayah. Kau bukan anakkua brengsek!” teriaknya sambil menunjuk kearah Verrel. Verrel hanya menatap wajah sang ayah dengan menggelengkan kepala, sudah gila pun pria itu masih saja mengumpat anaknya sendiri.
“Aku tak punya siap-siapa…..huaa…..huaaa.a…...” kini Amran meracau dan menangis meraung-raung. Memanggil-manggil Andini. Terpaksa petugas memberinya obat penenang karena mereka kesulitan membawanya masuk kedalam ambulan. Setelah menyuntikan obat penenang pada Amran, pria prauh baya itupun terkulai lemah. Mereka pun meninggalkan kediaman keluarga Ceyhan.
...*...
“Maaf Tuan Rico. Mungkin saya tidak akan bisa menjadi pengacara Tuan lagi.” ucap pria itu saat datang menjenguk Rico di penjara.
“Apa? Tapi kenapa, pak?”
“Karena sudah tidak ada yang bertanggung jawab untuk membayar jasa saya. Pak Baratha sudah menolak dan istri Tuan sudah pergi ke luar negri.” kata pria itu menjelaskan.
__ADS_1
“Pergi ke luar negri? Bapak jangan membohongi saya ya. Tidak mungkin istri saya pergi meninggalkanku begitu saja, apalagi dia sedang mengandung anakku.”
Sekali lagi saya minta maaf Tuan. Tapi memang benar itu kenyataannya, istri dan mertua Tuan sudah berangkat ke luar negeri kemarin. Dan Tuan Amran juga dalam keadaan tidak baik saat ini.”
“Maksudnya apa?”
“Menurut informasi yang saya dengar, Tuan Amran mengalami gangguan jiwa paska kepergian istrinya. Dan sekarang beliau sudah dibawa kerumah sakit jiwa untuk dirawat disana. Masih untung keluarga Ceyhan masih mau bertanggung jawab membiayai pengobatannya sampai sembuh.” kata pengacara itu lagi. Rico terpaku mendengar kabar itu. Raut wajahnya berubah, keluarganya benar-benar hancur, hidupnya hancur dia kehilangan segalanya. Kehilangan sosok ibu, ayah, istri bahkan calon anaknya. Entah berapa lama dia akan mendekam di penjara, entah kapan dia akan bisa melihat anaknya. Hancur hatinya berkeping-keping.
“Selain itu keluarga Ceyhan sudah mengeluarkan pernyataan tentang anda. Hasil dari tes DNA membuktikan bahwa Tuan bukanlah keturunan Ceyhan, dan Tuan Yahya sudah mengumumkan ke publik perihal pencabutan nama Ceyhan dari nama anda. Jadi sekarang Tuan bukan siapa-siapa lagi dan tak ada hubungan apapun dengan keluarga itu.”
“Hasil tes DNA? Bagaimana mereka mendapatkan sampel dariku?” tanya Rico yang terkejut mendapat kabar itu.
“Saat anda diperiksa dokter tempo hari, dokter mengambil sampel darah anda untuk tes DNA.”
Seketika wajah Rico pucat, dia memang tahu jika dia bukanlah keturunan Ceyhan, kebohongan yang dia dan Andini tutupi selama bertahun-tahun kini terungkap dan kini Rico bukan siapa-siapa lagi, jika dia keluar dari penjara maka dia hanyalah orang biasa. Tanpa menyandang nama Ceyhan hidupnya akan sangat sulit di masa datang.
“Dirumah sakit mana papa dirawat?” tanya Rico pada pengacara itu. Si pengacara pun memberikan nama dan alamat rumah sakit jiwa tempat Amran dirawat.
__ADS_1