TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 180. JANGAN TERLALU CANTIK


__ADS_3

Deandra berada di pangkuan suami tercintanya sambil memandang kedua anaknya yang sangat mengemaskan. Nathan dan Naomi sedang telungkup memegang boneka kesukaan mereka sambil menatap kearah daddy dan mommy mereka. “Mereka lucu sekali ya, aku sudah tak sabar menunggu mereka berdua besar dan bisa berlari-lari. Pasti sangat menyenangkan, sayang bisa main bola bersama Nathan.” ucap Verrel mengecup leher mulus istrinya yang semakin manja.


“Iya. Kalau Naomi sudah besar nanti, aku jadi punya teman ke salon...he..he..he” kata Deandra menimpali. “Pasti Naomi akan tumbuh jadi gadis cantik.”


“Ehem….takkan kubiarkan laki-laki manapun mendekati putriku. Aku akan siapkan pengawal untuk menemaninya kemanapun dia pergi.”


“Eh….jangan terlalu berlebihan. Masa anakku kalau sudah gadis tidak punya pacar?”


“Tidak ada pacar-pacaran. Naomi harus fokus belajar,” ujar Verrel yang takut.


“Hmmm….masih lama juga. Mereka masih bayi, mau masuk tiga bulan tapi mikirnya udah kejauhan.” ujar Deandra cemberut membuat Verrel tertawa.


“Memang masih lama, tapi dari sekarang aku harus persiapkan masa depan mereka. Anak-anakku harus jauh lebih baik dariku.”


“Iya...iya. Tapi jangan terlalu over protektif juga, sayang. Nanti mereka jadi tertekan dan tumbuh jadi anak-anak yang suka menentang ornagtua.”


“Kau jangan sampai terlalu memanjakan mereka nanti ya.” kata Verrel mengingatkan istrinya.


“Kakimu tidak sakit memangku ku kan?”


“Tidak, sayang. Aku suka kau duduk dipangkuanku, jadi aku bisa bebas.”


“Mulai mesum lagi….”


Mendapat perlakuan sebaik ini, Deandra tidak tahan untuk menjatuhkan dirinya kedalam pelukan suaminya.


“Berada di pangkuan dan pelukanmu adalah tempat paling nyaman untukku.” gumam deandra mencari posisi paling enak dan nyaman. Tubuhnya mengeliat dan kedua tangannya pun mengalung indah di leher suami tercintanya.


“Kau bisa memintanya kapan saja, aku akan lakukan apapun untukmu dan anak kita, sayang.” jawab Verrel tanpa basa-basi dan tanpa berpikir apapun lagi. Dia memang ingin membahagiakan keluarga kecilnya, bahkan rela cuti enam bulan hanya untuk menghabiskan waktu bersama istri dan kedua anaknya. Yang ada dipikiran Verrel sekarang hanyalah istri dan anak kembarnya.


“Apakah kau merasa bosan dirumah dan rindu kantor ya?” tanya Deandra tiba-tiba. Sudah hampir tiga bulan suaminya menghabiskan waktu dirumah bersamanya.

__ADS_1


“Mana mungkin aku bosan, sayang. Aku menikmati setia detik yang kuhabiskan bersama kalian. Melihat sikembar setiap hari mulai dari bangun tidur sampai malam, mengikuti perkembangan mereka. Aku bahagia sekali, aku memang rindu kantor dan pekerjaan juga.”


“Tapi kau tidak boleh ke kantor, sayang.” ucap Deandra lirih tapi tegas seakan tak ingin dibantah, sama persis seperti sikap Verrel ketika memerintah para karyawannya di kantor.


“Ehemm…..kalau cutiku habis, aku harus kembali ke kantor, sayang. Kalau aku tidak boleh ke kantor dan bekerja, bagaimana aku bisa membiayai kalian dan memberikan kalian masa depan yang baik? Banyak orang yang menggantungkan hidupnya padaku, sayang. Tak mungkin juga Opa yang mengurus perusahaan.”


“Jadi kau lebih mencintai pekerjaanmu daripada kami ya?” ujar Deandra yang memotong ucapan  suaminya dan mnegerucutkan bibirnya, membuat wajah itu terlihat lucu dimata Verrel.


“Jangan suka marah-marah mama sayang,” ucap Verrel dengan lembut menatap wajah istrinya.


Mendengar suaminya menyebut kata ‘mama’ membuat sudut hati Deandra menjadi hangat, sebutan itu terdengar manis dan dia menyukainya, toh dia memang sudah jadi seorang ibu. Senyuman di bibirnya mengembang dan kekesalannya hilang begitu saja. Verrel selalu punya cara jitu untuk meredam kemarahan dan kekesalan istrinya.


“Kau memanggilku mama?” tanya wanita itu salah tingkah dengan wajahnya yang merona merah, lalu dia membenamkan wajahnya kedada bidang suaminya. Tanpa pikir panjang Verrel menggangguk dan memberi kecupan dikening istrinya.  Kecupan-kecupan diikuti dengan usapan lembut yang disukai Deandra.


“Iya, sayang. Kau adalah mama dari anak-anak kita. Mama yang sudah melahirkan mereka dan membesarkan mereka.” jawab Verrel “Selain itu, kau adalah istriku, satu-satunya istriku selamanya akan jadi milikku seorang. Bahkan jikalau ada kehidupan kedua dimasa datang kau Deandra Ceyhan akan tetap menjadi takdir abadi Verrel Aditya Ceyhan. Selamanya kau adalah takdirku.”


Lagi-lagi pujian dan rayuan Verrel membuat Deandra tersipu berkali-kali oleh perlakuan lembut dan penuh kasih sayang suaminya itu. Apalagi Verrel menyematkan nama keluarga besar sebagai tanda kepemilikan yang sah dan tidak akan bisa diganggu gugat oleh siapapun lagi.


“Hihihi….aku baru sadar kalau suamiku sangat posesif,” gumam Deandra.


Alih-alih menanggapi, Verrel yang merasa hidupnya sangat bahagia lalu mengeratkan pelukannya dan tak ingin wanita itu berpaling darinya sedetikpun. Semua ucapan istrinya memang benar, dia sangat posesif. Ada rasa bahagia didalam hatinya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semua yang dia miliki saat ini seperti mimpi atau lebih tepatnya seperti cerita dongeng yang diceritakan sang ibu saat dirinya masih kecil dulu.


“Aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi kalian dengan sepenuh hatiku. Aku mau kesalahan kedua orangtuaku dimasa lalu akan menjadi alasan bagiku untuk mempertahankan semua milikku yang sudah kumiliki saat ini sampai selamanya. Mereka adalah hal terindah dalam hidupku.” gumamnya dalam hati.


Kedua bayi kembarnya yang sedari tadi sibuk dengan boneka kecil ditangannya, bergumam-gumam membuat Verrel dan Deandra tertawa. “Aduh….lucu sekali mereka. Kalau nanti mereka sudah bisa bicara, aku yakin kalau Nathan bakal jadi sainganmu sayang.” ucap Deandra.


“Maksudnya?”


“Wajah kalian saja sangat mirip. Pasti karakternya juga pasti persis sepertimu. Aku bisa bayangkan saat dia bicara denganmu dan marah padamu, pasti lucu sekali.”


“Hemmm…..jadi kau senang ya kalau aku dimarahi anak-anakku.”

__ADS_1


“Bukankah itu sangat lucu, sayang? Ahhh….membayangkannya saja aku sudah senang. Nathan sangat mirip denganmu.” ujarnya girang sambil memandang wajah suaminya yang mengerutkan dahi.


...*...


“Sayang, dimana dasiku yang tadi kuletak diatas meja?” tanya Verrel yang masih duduk diatas ranjang. Sebenarnya ia sangat enggan untuk pergi tapi kehadirannya pada persidangan terakhir ini sangat dibutuhkan. Hari ini adalah sidang terakhir kasus pembunuhan berencana dan percobaan pemerkosaan yang melibatkan Rico sebagai pelaku utamanya. Dan kehadiran Verrel sebagai korban sangat diharapkan. Terlebih, hari ini adalah sidnag terakhir yang akan memutuskan hasil persidangan. Verrel juga ingin menyaksikan sendiri saat hakim memukulkan palu memutuskan hukuman untuk Rico. Seorang wanita mengenakan celana jeans dan baju kaus putih dengan rambut diikat kepang gudang diikat dengan pita warna biru corak bunga, terlihat seperti gadis belia keluar dari walk in closet membawa dasi bercorak garis sambil tersenyum. Wajah suaminya yang sudah bersetelan jas rapi terlihat sangat tampan, aura kebapakan tercemin dari wajahnya.


“Ayo, sini sayang.” Verrel menepuk pahanya dan merentankan kedua tangan menyambut wanita cantik itu. Tanpa basa-basi Deandra langsung duduk dipangkuan suaminya “Bukankah kau harus berangkat ke pengadilan sekarang?”


Verrel tak menjawab, dia malah mengecup bibir ranum istrinya dan menatap wajah cantik itu “Hmmm…..jangan dandan seperti ini kalau kau keluar rumah ya.” ucapnya.


“Kenapa?”


“Kau terlalu cantik,sayang. Dandanan seperti ini, kau jadi terlihat seperti gadis belia. Nanti mata semua pria diluar sana menatapmu dan akan banyak laki-laki yang akan menggodamu karena mengira kau masih gadis belia. Ingat ya….kau itu adalah istriku dan ibu dari anak-anakku.”


“Jadi aku harus dandan seperti apa kalau mau keluar rumah Verrel?” ucap Deandra kesal. Setiap kali mereka akan keluar rumah pasti selalu ada drama panjang. Verrel selalu menyuruhnya ganti pakaian berulang-ulang karena penampilan istrinya yang dianggap terlalu cantik dan menarik.


“Ya...dandan biasa saja. Tidak usah secantik ini. Aku tak mau ada pria lain yang memandangmu.”


“Aduhhh…..susah ya punya suami posesif sekali. Aku ini sudah punya dua anak, mana ada yang mau sama ibu-ibu.”


“Dengar ya sayang. Memangnya diluar sana ada yang tahu kalau kamu sudah melahirkan dua anak? Tidak ada yang tahu, badanmu juga masih seksi begitu takkan ada yang percaya kalau kau sudah punya anak dua.” ujar Verrel. Drama seperti ini sudah jadi hal biasa bagi pasangan suami istri itu, keduanya selalu saling cemburu dan posesif.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2