TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 49. PERSETERUAN AYAH DAN ANAK


__ADS_3

Amran yang datang kekantor Verrel membuat emosinya memuncak.  Moodnya yang sangat baik pagi ini berubah setelah melihat wajah pria paruh baya yang tak lain adalah ayahnya. Setiap kali dia melihat wajah pria paruh baya itu yang sudah mengkhianati ibunya, wajah Verrel berubah dan tatapan matanya tajam mencabik-cabik.


Keduanya diam tak saling sapa, kelihatan aneh melihat hubungan ayah dan anak itu. Amran menatap tajam pada Verrel yang tidak mempedulikannya, ia merasa terhina dengan sikap putra pertamanya itu. Sementara Verrel yang merasa jijik melihat ayahnya pun menyibukkan dirinya.


Hingga akhirnya Amran yang memang sedang marah pun mengeram pada Verrel


“Berani-beraninya kau mengirim para pengawalmu ke rumahku!” Amran marah karena pengawal verrel datang ke kediaman Amran dan mengancamnya.  Sehingga istri keduanya tak berhenti menangis


“Harusnya kau tanya pada istri jalangmu itu kenapa dia mengacau dirumahku dan menghina istriku!” jawab Verrel membalas tatapan tajam ayahnya. Dia sangat malas menghadapi pria paruh baya itu, hanya membuang waktunya saja.


“Oh iya...katakan juga pada wanita itu jangan pernah mengaku sebagai Nyonya Besar Ceyhan. Karena dia tidak pernah diakui oleh keluarga Ceyhan. Istriku lah satu-satunya Nyonya Besar Ceyhan. Camkan itu!” teriak Verrel dengan tatapan tajam menantang ayahnya.


Ucapan Verrel yang menyebut istri Amran sebagai istri ****** membuat amarahnya semakin tak terkendali, dia tak terima jika istri kesayangannya dihina. Matanya menyipit dan hatinya panas tersulut api pertikaian. “Kau! Anak sialan!’


“Pergilah. Jangan buang waktumu! Aku banyak kerjaan! Atau kau mau wanita ****** itu mendekam dipenjara karena mencelakai istriku? Ada rekaman cctv saat kejadian itu! Apa kau lupa kalau rumahku dikelilingi cctv?” ia membuka laptopnya dan tangannya meraih dokumen dan mulai membacanya, tak mempedulikan ayahnya yang marah.


“Ohhh….begini cara wanita itu mendidikmu? Wanita tak berkelas!” cemooh Amran yang emosi.


“Wanita itu jauh lebih baik daripada wanita ular penjilat yang kau simpan dan jadikan istri keduamu, iyakan?” balas Verrel yang tak terima jika ibu kandungnya dihina. Amran semakin marah mendengar hinaan pada istrinya, membalikkan badan dan menatap kearah Verrel lalu ia mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Verrel semakin membencinya.


“Lantas, istrimu yang pelacur itu berapa kau bayar? Anak sialan sepertimu memang pantas menikahi perempuan ****** yang kau simpan dirumahmu! Ku pastikan perempuan murahan itu akan menderita karena perbuatannya pada Andini.”


“Aku menikahi wanita baik-baik. Tidak sepertimu yang lebih suka wanita ****** untuk dijadikan istri! Sekali lagi kau ataupun wanita ular itu coba mendekati istriku atau mencelakainya, kupastikan hidup kalian berakhir!” ancam Verrel yang membuat nyali Amran ciut namun dia berusaha menyembunyikannya. Dia pun pergi meninggalkan kantor Verrel.


Verrel yang tersulut marah dan benci, meraih ponselnya dan menghubungi pengawal yang bertugas menjaga deandra.


“Halo, Tuan.” terdengar suara Agas.


“Perketat penjagaan untuk Nyonya. Tidak seorangpun diijinkan mendekatinya ataupun melihat wajahnya,” perintah Verrel.

__ADS_1


“Baik, Tuan. Saya akan laksanakan perintah Tuan.” jawab Agas tegas. Agas adalah salah satu orang kepercayaan Verrel yang bertugas menjaga keamanan Deandra.


...*...


Andini yang melihat kepulangan suaminya merasa senang dan mulai berakting kembali, memeluk dan mencium suaminya.  Pria paruh baya itu tersenyum mendapat perlakuan manis dari istrinya meskipun hatinya masih marah, keceriaan wanita kesayangannya itu adalah prioritasnya.


“Apa kamu baik-baik saja? Jangan pikirkan ucapan pengawal si anak sialan itu.” ujarnya.


Si wanita ular pun memasang wajah muram durja dan menundukkan wajahnya, airmata buaya menetes membasasi pipinya.  Melihat istrinya yang sedih membuat Amran tak tega dan memeluknya. Airmata buaya pun makin menganak sungai “Kenapa kita dimusuhi terus sama anak pertamamu, Pa?” hiks….hiks…..hiksss tangisnya semakin menjadi-jadi.


“Sudah jangan menangis lagi sayang. Papa akan membuat mereka membayar semua perbuatannya, tapi kamu sabar ya,” bujuk Amran.  Aduh, Amran koq pede abis mau membalas Verrel, sudah jelas-jelas kalau putramu itu seorang yang paling kejam dan sadis yang ditakuti semua orang. Sebenarnya pria paruh baya itupun ragu dan khawatir untuk membalas Verrel, tapi demi istri tersayangnya apapun akan dilakukannya.  Untuk kesekian kalinya wanita ular itu berhasil membuat hati suaminya iba dan menuruti kemauannya.


“Apalagi kata Verrel padamu?” tanya Andini.


“Dia mengancam akan menghabisi kita kalau berani menganggu istrinya, dia juga bilang hanya istrinya satu-satunya Nyonya Besar Ceyhan. Kalau kau mengakui dirimu sebagai nyonya besar ceyhan maka dia tidak segan untuk menghukummu,” jawab Amran kesal.


“Apa? Aku tidak mau mati, Pa….huaa...huaaa,” tangisnya pecah. Tangisan penuh pura-pura.


“Papa lihatkan. Wanita itu bahkan punya kuasa sekarang.”


“Bagaimana kabar Rico? Kapan dia akan kembali?” bertanya tentang putranya untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak menyukai situasi ini, dimana Verrel akan menikah dan istrinya punya kuasa atas keluarga Ceyhan yang berarti wanita itu juga akan menguasai hartanya.


Andai dia juga tahu kalau Deandra sedang hamil, pasti heboh dan kacau pikirannya. Tapi untuk saat ini memang Verrel ingin merahasikan kehamilan Deandra demi keselamatannya.


“Jumat malam dia akan tiba disini katanya, Pa.” jawab Andini menghapus airmatanya. “Dia bilang begitu. Lagi banyak kerjaan katanya.”


“Bagus. Bilang sama Rico jangan lama-lama di Hongkong,” kata Amran.


“Tapi---apa kita akan datang ke pernikahan Verrel?” tanya Andini yang melihat wajah suaminya langsung berubah saat dia menanyakan itu.  Amran merasa tidak yakin mau datang ke pernikahan itu, tapi dia akan malu jika tak datang di pernikahan putranya sendiri.

__ADS_1


“Pasti. Kita akan datang ke pesta itu.  Kamu ikut denganku,” jawabnya terpaksa.


“Benarkah?” tanya Andini yang pura-pura terkejut padahal memang ia ingin hadir diacara itu.


“Iya, Ma. Kamu yang akan menemaniku di acara itu.”


Wanita itupun tersenyum lebar, dia sudah merencanakan sesuatu.  Di pesta itu dia ingin putranya Rico dikenal semua orang sebagai putra Amran Ceyhan. Dengan begitu ia akan dengan mudahnya masuk kelingkungan bisnis kelas atas, tanpa dia sadari Verrel sudah memprediksi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi di pernikahannya nanti.


...*...


“Halo


“Kau sedang apa, sayang?” tanya Verrel pada Deandra. Dia menghubungi ponsel Yuna karena ia ingin mendengar suara gadis itu.  Verrel memang tidak mengijinkan Deandra untuk memakai ponsel untuk sementara dengan alasan untuk keselamatannya.


“Aku sedang berbaring. Bosan sekali,” jawab Deandra.


“Besok aku akan membawamu.” kata Verrel yang teringat untuk fitting baju pengantin.


“Kemana? Mau jalan-jalan ya?” tanya Deandra bersemangat.


“Besok juga kau tahu,” jawab Verrel membuat rasa penasaran Deandra muncul.


“Kenapa harus rahasia?”


“Hmmm…..sabar. Besok juga kau tahu, sayang.”


“Baiklah Tuan Verrel. Ohya...nanti pulang jam berapa?”


“Apa kau merindukanku, Nyonya Verrel?” dia sangat senang menggoda Deandra yang sangat menggemaskan dan mampu membuatnya bergejolak.

__ADS_1


“Iya. Cepat pulang ya, byeee” setelah mengucapkan itu dia merasa malu. Jika Verrel bisa melihat wajahnya yang merah seperti kepiting rebus. Sementara Verrel merasa senang karena Deandra memintanya cepat pulang.


“Baiklah, sayang. Jaga diri baik-baik ya, bye.” ucapnya menutup sambungan telepon.


__ADS_2