
Iva yang ditemani ibunya sedang memeriksakan kandungan di rumah sakit. Setelah selesai dari dokter, mereka pun pulang tapi mendadak saja wanita hamil muda itu ingin makan asinan yang tak sengaja dilihatnya di luar rumah sakit. Mobil yang dikendarainya pun berhenti ditepi jalan dan Iva turun dan menghampiri penjual asinan itu.
“Asinannya masih ada mang?”
“Masih, non.”
“Saya mau lima porsi.”
“Baik non. Silahkan duduk dulu.’
Iva duduk dibangku plasti dekat gerobak penjual asinan itu. Matanya menatap sekeliling dengan gelisah, memikirkan kenyataan yang saat ini membelitnya erat dan membuatnya tak bisa berkutik. Mengingat pertemuannya dengan Verrel dan Deandra tempo hari yang membuatnya khawatir jika rencananya untuk membebaskan Rico takkan berhasil. ‘Kak Rico, kau boleh menutup hatimu untukku saat ini tapi kupastikan kau akan membuka hatimu untukku secepatnya.
Aku istri sahmu di mata hukum dan agama, aku tak peduli apa kata orang tentangku yang ku tahu aku sangat mencintaimu.’ benak wanita itu dipenuhi banyak pikiran tanpa sadar penjual asinan memanggilnya berkali-kali.
“Sudah non. Ini asinannya.” ucap mamang penjual seraya menyodorkan pesanan Iva. Wanita berwajah sedih itu bangkit menerima pesanannya dan memebrikan dua lembar uang ratusan ribu kepada penjualnya.
“Ini kebanyakan, non. Satu lembar saja masih ada uang kembaliannya,” ucap pria separuh baya.
“Ambil saja semuanya, mang. Anggap saja ini rejeki dari kehamilan saya,” jawab Iva tanpa sadar.
“Alhamdulillah kalau begitu, non. Mamang doakan semoga kehamilannya diberi kelancaran dan kebahagiaan ya, non.” Pria itu sampai menyalami tangan Iva yang masih membeku. “Non, juga harus banyak sabar dan berdoa ya.”
__ADS_1
Dengan kaku Iva menggangguk “Terimakasih ya mang.” Lalu ia beranjak kembali ke mobilnya setelah selesai bicara singkat dengan pria paruh baya itu. Namun baru saja ia membuka pintu mobilnya, siluet seseorang yang ia kenal melintas didekatnya.
“Kak Deandra? Apakah dia baru dari rumah sakit juga?” tanya Iva menatap mobil mewah yang baru saja melintas didepannya. Dia terus memandang sampai mobil mewah itu hilang dari pandangannya. “Aku harus menemuinya lagi. Tapi bagaimana caranya aku bisa bertemu dengannya dan bicara empat mata? Sepertinya dia juga seorang wanita karir yang sibuk meskipun sedang hamil besar.” ucapnya.
“Kenapa kau bengong begitu Iva? Ayo cepat masuk.” tanya ibunya dari dalam mobil. Iva pun langsung masuk kedalam mobilnya dan melempar senyum pada ibunya.
“Tidak apa-apa ma. Tadi sepertinya aku melihat seseorang yang kukenal.” ucapnya singkat.
“Oh begitu.”
Mobil mereka pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman Baratha. Setibanya dirumah Iva bergegas masuk dan meletakkan asinan diatas piring lalu membawanya keruang keluarga, duduk diatas sofa sambil menaikkan kedua kakinya keatas meja dan menyantap asinan yang dibelinya. Matanya menatap TV yang menayangkan film romantis namun pikirannya melayang jauh, memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan Deandra dan memohon pengampunannya. Pengacaranya tak berani menghubungi Verrel, namun berjanji akan mencoba menghubungi pengacara Verrel dengan harapan bisa menjadwalkan Iva bertemu dengan Deandra.
“Halo,”
“Maaf mengganggu waktunya. Saya cuma mau mengabarkan kalau tadi saya sudah menghubungi pengacara Nyonya Deandra. Beliau bersedia bertemu dengan anda besok siang di kantornya di Wijaya Properti Tbk. Setelah makan siang.”
“Apa? Ini berita sangat baik. Terimakasih Pak. Saya akan datang kesana tepat waktu. Sekali lagi terima kasih ya Pak.” wajahnya seketika berseri.
...*...
Verrel tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wanita cantik dengan perut membuncit yang sedang merangkai bunga mawar yang baru saja dipetiknya dari halaman samping. Terpancar raut kebahagiaan dari wajah ayu yang tak bisa dibantah oleh siapapun termasuk Verrel yang kian mengagumi kecantikan istrinya. Pria bermanik hitam pekat itu selalu etrhipnotis oleh kecantikan alami tanpa make up milik Deandra. Pria itu juga kecanduan dengan rasa nikmat disaat mereka bersatu,
__ADS_1
“Sudah waktunya istirahat Nyonya Verrel.” Pria itu memberikan peringatan untuk kesekian kalinya dan lagi-lagi, ia diabaikan.
Tak ingin menyulut emosi ibu hamil yang memang selalu sensitif dan suka merajuk itu, Verrel memberi isyarat lewat ekor matanya pada kedua pelayan sang istri untuk meninggalkan mereka berdua. Setelah itu ia bangkit untuk memeluk wanita itu dari belakang. Tanpa peringatan Verrel menebar ekcupan-kecupan basah di tengkuk Deandra yang terekspos. Mengisap perlahan dan mengabaikan geliat tubuh sang istri didalam dekapannya.
“Verrel,” desah Deandra tanpa sadar “Kita---”
Deandra terkejut saat kedua gundukan lembut didadanya diremas tiba-tiba dengan ritme yang tak pernah gagal membuatnya tak berdaya. “Aku sudah memperingatimu berkali-kali Nyonya Verrel dan lagi-lagi kau mengabaikannya. Kau sudah cukup lelah hari ini. Kau dan baby butuh istirahat,” ucap Verrel lirih masih dengan lancaran sentuhan tanggung yang membuat Deandra protes.
“Kau ingin mempermainkanku?” sungut Deandra kesal. Bagaimana tidak kesal jika mendadak Verrela menghentikan sentuhannya? Padahal ia sudah mulai hanyut dalam pusaran hasrat. Deandra melepaaskan belitan tangan Verrel dengan sedikit kasar. Tanpa berkata apapun ia pergi meninggalkan suaminya itu.
“Berhenti Deandra!” hardik Verrel lepas kendali ektika melihat sang istri menaiki anak tangga menuju kelantai atas. “Cepat naik lift.” Suara lantang itu menggema tapi tak membuat Deandra merasa takut. Sejak kembali ke rumah utama, Verrel tak mengijinkan Deandra menaiki tangga, toh rumah itu punya lift tapi karena kesal Deandra malah menaiki tangga. Sama sekali tak mengindahkan panggilan suaminya.
Sejak kehamilan Deandra dan mengetahui bayinya kembar, memang Verrel bersikap super protektif pada sang istri. Dia sudah melarang istrinya kembali ke kantor meskipun dia tak mampu berbuat apa-apa jika Deandra memaksa mau ke kantor, tidak membolehkannya berjalan dirumah, dia menyediakan kursi roda khusu agar Deandra tak merasa lelah berjalan.
Deandra tetap mengabaikan peringatan itu, ia terus menlangkah dan tak menyahut teriakan Verrel ayng kencang. Deandra mendorong pintu kamar yang menjadi saksi percintaannya dan Verrel selama ini. Sejak pagi tadi ia sangat ingin disentuh lebih dalam oleh sang suami tapi Verrel seperti tak peka mungkin karena dia lelah dengan pekerjaannya. Airmatanya yang ditahan sejak tadi akhirnya luruh tanpa permisi.
Deandra mulai berbaring diatas ranjang dengan membelakangi pintu, ia terisak seraya terus meracau. “Kau tidak menginginkanku lagi setelah kau berhasil meluluhkan perasaanku. Kau….kau bahkan tak mempedulikan saat aku merengek meminta sentuhanmu. Padahal biasanya kau sangat menyukai jika aku minta lebih dulu.” isaknya. Padahal baru dua hari Verrel tak menyentuhnya akibat dia kerja lembur dan kelelahan.
*Halo semuanya 👋👋....Terimakasih masih setia dengan novel ini. Mohon like, vote, komen dan sarannya ya biar author tambah semangat 🙏🙏😘😘
Author doain semoga para pembaca dilimpahi kesehatan, rejeki, sukses dan bahagia 👍👍💕💕
__ADS_1