
Setibanya di kantor, semua karyawan menyapa dengan sopan. Deandra memang cepat tanggap, dia menjaga sikapnya jika didepan orang lain. Dia tidak mau membuat suaminya kehilangan wibawa, maka dia pun berjalan disamping suaminya dengan langkah tegas dan menggenggam tangan suaminya yang memang tidak melepaskan tangannya sejak turun dari mobil.
Verrel meninggalkan istrinya diruang kerjanya sementara dia dan Frans pergi menghadiri meeting dengan klien. "Sayang, seorang staff akan membawamu berkeliling supaya kau bisa lihat aktifitas di kantor ini."
"Baiklah. Tapi, Apakah kau akan lama?"
"Ada meeting dengan dua klien. Jika kau letih, kau bisa tunggu aku disini atau kau bisa istirahat disana," ujarnya menunjuk kearah kamar pribadi diruang kerja itu. Deandra hanya mengangguk.
Tak lama setelah Verrel pergi, terdengar ketukan dipintu. Seorang wanita menongolkan kepala kedalam ruangan dengan ragu-ragu. Deandra menahan tawa melihat wanita itu yang terlihat takut. "Maaf, Nyonya."
"Tidak apa-apa. Kau diminta suamiku untuk menemaniku, bukan?" tanya Deandra memastikan.
"Iya, Nyonya."
"Baiklah. Kita jalan sekarang. Aku ingin lihat tiap departemen disini." Setelah berkeliling sekian lama, Deandra mulai merasa lelah dan meminta staff wanita itu untuk mengantarnya kembali keruang direktur.
"Terimakasih ya, sudah temani saya jalan melihat-lihat," katanya yang membuat wanita itu tertegun. 'Ternyata nyonya besar sangat ramah. Beruntung sekali dia bisa jadi istri Tuan Besar, ujarnya dalam hati.
"Sama-sama Nyonya. Kalau begitu saya pamit undur diri," setelah menundukkan kepala sebagai tanda hormat pada Deandra, wanita itu melangkah keluar.
"Ahhh....capek juga berkeliling. Mungkin Verrel masih lama. Aku main komputer saja dulu."
Deandra membuka laptop suaminya dan memasukkan password. Terpampang foto mereka berdua sedang berpelukan, Deandra tersenyum. Ia pun melihat-lihat galeri jika ada foto lain dilaptop itu yang ternyata memang ada beberapa foto mereka. Tiba-tiba matanya membelalak melihat sesuatu yang mencurigakan, penasaran dia pun mengecek.
Verrel kini sedang berada diruang meeting. Pria itu diam-diam mengawasi istrinya dari ponsel yang tersambung dengan cctv diruang kerjanya, ia tersenyum melihat istrinya yang terlihat sibuk didepan laptop. Padahal saat ini Verrel sedang bertemu klien penting.
Deandra yang sedang mengerjakan sesuatu di laptop suaminya itu terlihat tersenyum puas. ‘Bagaimana bisa suamiku kecolongan begini? Untung saja aku cek, ucapnya. Saat dia membuka file penting perusahaan, Deandra melihat ada yang mencoba masuk ke sistem perusahaan. Deandra yang memang menguasai pemograman komputer dengan cepat mengamankan sistem perusahaan. Dulu dia belajar dari Bayu yang selain pelukis juga ahlinya hacking.
Ting!
Ada notifikasi pesan masuk di ponsel Verrel.
__ADS_1
‘Tuan, tadi ada yang mau mencuri data perusahaan tapi sepertinya seseorang langsung memblok dan mengganti semua password. Staff IT bahkan tidak bisa login ke sistem jaringan.’
“Ada yang mengganti password? Siapa? Password hanya bisa diganti dari komputer diruanganku. Wait, jangan-jangan? Tidak mungkin istriku. Dia membuka kembali ponselnya, melihat istrinya yang masih duduk dimeja kerjanya, raut wajahnya serius dan tangannya berada di keyboard komputer seperti sedang mengetik. ‘Apa yang sedang dikerjakannya?
...**...
Siapa yang ingin mencuri data perusahaan suamiku? Aku harus lacak orang itu, jangan coba-coba mau hancurkan suamiku. Hadapi dulu Nyonya Verrel! Deandra mengambil ponsel dari tasnya dan menghubungi Bayu. Verrel yang sudah menyuruh seseorang untuk memasang pelacak dan penyadap di ponsel istrinya, menerima notifikasi jika istrinya sedang menghubungi seseorang.
‘Apa yang kau lakukan, sayang? Siapa yang kau hubungi, awas kau kalau coba-coba mengkhianatiku,’ gumamnya yang mulai gelisah. Verrel merasa jarum jam bergerak lambat. Dia ingin meeting itu segera berakhir. Dia ingin menemui istrinya sekarang. Dia menatap kembali layar ponselnya, terlihat istrinya sedang berbicara ditelepon sambil fokus ke komputer didepannya. Jari tangannya terlihat bergerak sangat cepat seperti berpacu dengan waktu. Belum pernah dia melihat raut wajah istrinya seperti itu sebelumnya. Ada raut marah, cemas dan tegang.
...**...
“Kau sedang apa? Tadi bicara sama siapa? Apa kau mengganti password?” rentetan pertanyaan dari Verrel saat memasuki ruangannya. Tatapannya tajam menatap lurus ke wajah istrinya.
“Maaf, sayang. Aku bisa jelaskan,” kata Deandra memeluk suaminya. Dia tahu betul cara menenangkan hati suaminya kalau marah.
“Katakan.”
“Jangan bilang kalau kau yang mengutak-atik, staff IT menghubungiku. Mereka panik karena ada yang mengganti password.”
“Ehmm….iya. Aku yang ganti.”
Verrel menatap istrinya insten “Darimana kau tahu cara meretas komputer?”
“Kau lupa ya. Dulu aku pernah bilang, banyak hal yang kau tidak ketahui,” Deandra tersenyum dan mengedipkan sebelah mata.
“Hmmm….jangan menggodaku Nyonya Verrel. Atau kau akan berakhir diruangan itu,” kata Verrel seraya menunjuk kearah kamar tidur pribadi dirunag kerjanya. Deandra tersenyum, dia masih ingat kejadian awal dia bekerja dikantor itu.
Frans masuk diikuti beberapa orang yang bertanggung jawab dibagian IT. Data perusahaan berhasil diselamatkan. Ada beberapa sistem yang harus diganti dan di install ulang, Verrel memerintahkan untuk melacak siapa yang mencoba mencuri data perusahaan.
“Aku rasa lebih baik memasang remote desktop. Jadi bisa mengakses semua komputer karyawan dari jarak jauh.” saran Deandra yang membuat semua mata menoleh kearahnya.
__ADS_1
“Apa kerjaan kalian? Kenapa hal seperti itu saja tidak tahu?’ kata Verrel memarahi staffnya.
“Maaf, Tuan. Akan segera kami atasi,”
...**...
“Sepertinya mereka punya staff ahli. Bagaimana mungkin bisa memblok dan mengganti password secepat itu? Aku malah kalah cepat dengannya,” kata seorang pria berbadan gemuk.
“Tidak mungkin. Aku pasti tahu jika ada karyawan baru,” sahut pria lain yang berdiri didepan jendela sambil pandangan menatap keluar.
“Kau pantau terus dan harus secepatnya kau bisa masuk ke pusat data perusahaan itu, aku butuh semua data pentingnya, Harus kau dapatkan data klien dan semua proyek mereka,” kata pria itu lagi lalu pergi dari sana.
Setelah berada didalam mobilnya, dia menerima panggilan masuk dari seseorang “Bagaimana?”
“Semua sudah aman bos, tinggal menunggu perintah dari bos saja,”
“Bagus. Malam ini semua harus beres. Ingat! Jangan sampai gagal.”
“Siap bos.”
‘Tunggu dan lihatlah Verrel, kehancuranmu sudah didepan mata.’ Mata pria itu memancarkan amarah dan dendam. Kedua tangannya mengepal dan mencengkeram erat kemudi mobilnya. Dia melajukan mobilnya menembus keramaian jalanan ibukota.
...**...
Disebuah bangunan besar yang terletak dipinggir kota, terlihat beberapa orang yang sedang menyusup kesebuah gudang besar. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pengamanan di area sekitar terlihat tidak seketat biasanya. Setengah jam berlalu, bayangan orang berpakaian hitam keluar meninggalkan gudang dengan gerak gerik yang mencurigakan. Sebuah mobil jeep yang mesinnya sengaja dinyalakan perlahan melaju setelah orang itu masuk kedalam mobil.
Mobil jeep itu melaju diikuti dua mobil lainnya meninggalkan area perindustrian itu. Melaju membelah jalanan ibukota menuju kearah tol yang mengarah ke luar kota. Terlihat mereka berhenti disebuah villa yang berada di puncak, jauh dari pemukiman penduduk.
“Ben, segera aktifkan tepat jam 12,” perintah seorang pria berperawakan tinggi kekar.
“Siap bos.”
__ADS_1
Seringai jahat terpancar dari wajahnya. Matanya menatap lurus ke ponselnya dengan tatapan tajam. Kemudian tepat pukul dua belas malam, terdengar suara ledakan dasyat dari ponsel yang dipegangnya. “Ha...ha….ha….ha. Permainan baru dimulai,” ucapnya dengan puas.