
Deandra mendengus kesal “Kau boleh lakukan apa yang kau mau Tuan Verrel!” sahut Deandra cepat memotong perkataan suaminya yang pasti berakting seperti drama. Moodnya sedang tidak baik, jadi dia ingin menghindari kesalahpahaman. Mendekat dan mencium suaminya pun bukan pilihan bagus saat ini, mengingat sikap suaminya semakin aneh beberapa hari ini. Tetapi Deandra masih belum menanyakan secara langsung, karena setiap mereka bersama hanya berbicara beberapa menit saja dan selalu berakhir menjadi aktivitas panas diatas ranjang.
“Seharusnya bilang dari tadi, Sayang,” bisik Verrel yang tak kunjung melepaskan rengkuhannya. “Kalau kau cepat mengatakannya, maka syaratnya tidak akan sulit. Aku juga lakukan itu demi kau dan anak kita.” Ucapan itu membuat Deandra mengeryitkan dahi, namun belum lagi ia mengucapkan kata-kata, bibir Verrel sudah membungkamnya.
Deandra tak mampu mengelak dari serangan bertubi-tubi yang mendadak. Untuk menarik napaspun ia tak bisa karena serangan liar itu membawanya kembali terbaring diatas ranjang. Satu jam kemudian Deandra kembali membersihkan diri, mengambil pakaian baru dan bersiap pergi ke kantor karena waktunya untuk meeting, dia tak ingin terlambat.
Semua gara-gara ulah Verrel yang tak menepati janji ingin melakukannya dengan cepat. Yang lebih menakutkannya seakan gairah pria itu tak pernah padam meskipun sudah mendapat ******* berkali-kali. Deandra semakin merasa aneh dengan tingkah suaminya.
“Sudah siap?”
Deandra yang kesal hanya menggangguk dan dengan cepat melingkarkan tangannya dilengan sang suami. “Ayo berangkat. Meeting ku akan dimulai dua puluh menit lagi.”
Sebuah kecupan mendarat di kening Deandra sebelum akhirnya mereka keluar dari kamar. Sesampainya dilantai bawah sudah ada Frans yang menunggu. “Mobil anda sudah siap, Tuan.”
“Hm,” tanpa mempedulikan keadaan sekitar Verrel membimbing Deandra terus melangkah ke mobilnya. Semenjak makan malam romantis itu, hubungan Verrel dan Deandra semakin lengket.
Dari kejauhan Yahya dan Ayu yang baru saja menikmati waktu bersantai sambil menghirup udara segar, mengamati kebersamaan pasangan suami istri itu dengan harapan besar didalamnya “Semoga kalian selalu bersama dan bahagia selamanya.”
...*...
__ADS_1
Raut wajah Deandra berubah kesal saat dengan mata kepalanya sendiri melihat bagaimana para wanita-wanita yang sedang melihat pameran di lantai dasar mall mewah itu mengerubungi Verrel seperti semut yang mengerubungi gula. Tanpa sadar Deandra mendengus dan sikapnya itu tertangkap oleh Rosa yang sedari tadi berada disamping Deandra.
“Mukamu kenapa ditekuk begitu?” tanya Rosa penasaran.
Alih-alih menjawab, Deandra malah meraih lengan sahabatnya itu menjadi sasaran kekesalannya. “Sakit tahu, Dea!” gerutu Rosa seraya melepaskan diri dan mengusap lengannya. Apa-apaan sih sahabatnya ini! Rosa masih tak menyadari dimana sumber dari kekesalan Deandra yang menyulut emosi yang memuncak dari bumil itu. Deandra malah melotot tajam memberi Rosa peringatan. Gadis itupun bergidik ngeri melihat tatapan tajam Deandra yang tak seperti biasanya.
“Sa—santai Dea. Aku cuma becanda.” Rosa mengacungkan dua jari dan meringis namun malah membuat Deandra makin kesal.
“Terserah! Aku mau pulang.” Tanpa menunggu sahabatnya yang berteriak, Deandra melangkah menuju pintu utama. Dari arah berlawanan Verrel yang menyadari istrinya sudah keluar segera menyusulnya.
“Hei.” Tangannya dengan cepat mencekal lengan Deandra ketika jarak mereka sudah dekat. Deandra meronta berusaha melepaskan diri tapi sia-sia karena Verrel menariknya dan menghujami dengan ciuman.
“Sudah? Sudah puas sayang?” Merasa aneh dengan pertanyaan itu, Deandra malah mendorong Verrel agar menjauh dan mengurangi pandangan orang-orang yang keluar masuk dari mall itu. Namun Verrel malah menarik pinggangnya yang tak lagi ramping dan menggiringnya masuk kedalam mobil. Setelah memastika sang istri duduk dengan benar dan memasangkan sabuk pengaman, Verrel pun masuk kedalam mobil, namun ia tak langsung menjalankan mobilnya.
“Kenapa tidak jalan?” tanya Deandra masih dengan nada kesal sambil mendengus. Sikapnya membuat Verrel menarik sudut bibirnya.
“Kalau kau tak mau jalan, aku naik taksi saja.” Deandra melepas sabuk pengamannya. Verrel langsung menarik deandra dan mencium bibirnya, perlahan Verrel memindahkan istrinya kedalam pangkuannya.
Tanpa menunggu protes dari bibir ranum yang selalu menggodanya itu, Verrel langsung membungkam bibir itu dengan *******-******* liar. Ia bergerak tak beraturan ketika Deandra masih memberontak dan mengubah ciumannya saat Deandra tak merespon. Sepasang mata bermanik hitam pekat itu mulai diselimuti gairah. Namun daripada memikirkan gairahnya yang sudah memuncak, lebih baik meredam amarah sang istri yang sejak hamil selalu berubah-ubah dan sering merajuk.
__ADS_1
“Kenapa marah?”tanya Verrel dengan suara lembut. Tangannya mengusap pipi tembem istrinya. Tak sekalipun ia mengalihkan pandangannya dari wajah cantik istrinya yang sedang berada dipangkuannya. Deandra menggigit bibir bawahnya, enggan menjawab kalau dia cemburu. Dia merasa malu untuk mengakui kalau dia merasa cemburu. Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya semakin kuat.
“Jangan digigit, sayang.” Verrel memundurkan kursinya perlahan lalu mencium bibir Deandra untuk memberinya gigitan sensual sebagai gantinya. Verrel ******* lembut bibir ranum istrinya.
“Apa kau marah karena melihat aku dikerubungi para wanita didalam sana?” tanya Verrel setelah ia berpikir cukup keras untuk mencari alasan kenapa istrinya sangat marah. Deandra mendengus dan memalingkan wajah karena dugaan itu benar, ya dia marah karena cemburu. Jangankan melihat Verrel berbicara dengan wanita lain, jika wanita-wanita diluar sana hanya memandang suaminya yang tampan pun Deandra selalu marah. Bukan tak jarang dia membalas tatapan para wanita dengan tajam dan mendengus kesal.
Kedua tangan Verrel menangkup wajah istrinya dengan lembut, melabuhkan kecupan bertubi-tubi hingga Deandra mengucapkan kalimat protes.
“Hentikan Verrel!” seru deandra karena Verrel tak mempedulikan peringatan yang ia berikan. Bahkan pria itu seolah-olah memperlakukannya seperti anak kecil yang sedang merajuk minta es krim. Melihat tingkah istrinya membuat ingatan Verrel kembali terusik. Tepatnya kemarin saat istrinya pulang dengan raut wajah cemberut dan menolak sentuhannya. Hal itu diperkuat dari laporan pengawalnya yang mengatakan bahwa Deandra sering melamun sepulang dari kantor hingga kerumah. Verrel pun ingat perkataan sang asisten kemarin “Menurut saya, Nyonya sangat mencintai anda, tuan. Kalau tidak cinta, mungkin beliau sudah kabur ketika Tuan Rico menawarkan diri pada pesta pernikahan waktu itu.”
“Menurut pandangan saya, sepertinya Nyonya tidak suka melihat Tuan bicara dengan wanita lain meskipun itu klien anda, Tuan. Apalagi Nyonya sedang hamil, mungkin itu bawaan janinnya.”
“Apakah sebesar itu cinta istriku hingga dia sangat cemburu dan posesif?” tak sadar jika dirinya pun bersikap posesif pada Deandra.
“Menurut saya, lebih baik Tuan menundukkan ego sedikit demi nyonya. Karena kalau sampai nyonya marah besar dan memutuskan pergi nanti Tuan yang menyesal. Lebih baik, hindari berbicara dengan wanita lain meskipun itu klien, lebih baik kalau ada klien wanita datang ke kantor serahkan saja padaku.” ucap Frans kemarin.
“Pergi? Takkan kubiarkan dia pergi. Jika dia matipun harus berada di cengkeramanku.”
Tapi kini istrinya kembali merajuk, tak terima melihat suaminya dikerubungi di mall. Memang mall mewah itu adalah milik keluarga Ceyhan dan sedang ada pameran disana.
__ADS_1
Kembali menatap wajah istrinya yang menunduk dan merona merah, membuat Verrel menggigit bibirnya agar tak tertawa. Istrinya terlihat sangat lucu dan menggemaskan jika sedang merajuk seperti ini.