
“Deandra? Dimana kau sayang?” teriak pria itu memegangi kepalanya yang berdenyut menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan. Ia berusaha berdiri, meskipun kedua kakinya terasa sangat lemah.
“Verrel! Verrel sayang!.”
Suara itu menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan dan disana ia melihat wanita yang sangat ia cintai dan rindukan berdiri dengan wajah kusut dan mata sembab. Sepertinya wanita itu menangis.
Bukan mata wanita itu yang mengalihkan perhatiaannya, tapi tangan yang sedang memegang perut buncit seolah sedang melindungi. “Deandra, sayang.” Namun suaranya tidak keluar, dia berusaha keras untuk mencoba memanggil namun suaranya tertahan ditengggorokan.
“Aku sangat merindukanmu, Verrel. Kemarilah suamiku.”
Bibir pria itu mendadak kaku. Begitupun dengan kedua kakinya yang semakin terasa berat. Dia ingin berlari kearah Deandra dan memeluknya tapi tak mungkin ia lakukan.
“Kenapa kau tidak datang? Aku merindukanmu, apakah kau tidak merindukanku?”
‘Apa? Tak merindukanmu? Mana mungkin, aku selalu merindukanmu.’ Gumam pria itu.
“Bangunlah sayang. Aku dan kedua calon anak kita menunggumu. Ayo, sayang bangunlah.”
Sekarang dia malah tak bisa bernapas, dadanya terasa sangat sesak saat ia bisa melihat tapi ia tak bisa menyentuh.
“Bangunlah Verrel, sayang. Kau harus segera pulang. Kami menunggumu. Aku tak sanggup hidup tanpamu. Aku tidak bisa membesarkan buah cinta kita tanpamu.”
“De---deandra?”
Senyumnya mengembang. “Ya, Aku Deandra, istrimu. Kembalilah, sayang.”
“Ka---kau”
Tangannya terulur “Ayo, kita pulang. Kau harus bertanggung jawab dengan masa depan kami. Ayo, suamiku pulanglah. Aku menagih janjimu. Ingat ikrar janjimu tidak akan pernah meninggalkanku. Tidak sekarang. Pegang tanganku, suamiku. Ayo kita pulang.”
__ADS_1
Dia memandangi tangannya dan tangan Deandra. Jarak mereka sangat dekat, ia merasa kesulitan dengan kedua kakinya yang seolah terpasung. Namun ia tak patah semangat melihat senyum manis diwajah istrinya.
“Kau bisa, Verrel. Kau pria yang kuat dan hebat. Kau akan jadi papa yang hebat untuk anak-anak kita. Kau pasti bisa melewatinya, ayo terus….raih tanganku, sayang.” ucap wanita itu lagi memberi semangat pada pria itu. Dengan sekuat tenaga pria itu berusaha untuk memaksa kakinya untuk bergerak. Cukup sulit dan terasa sangat sakit dan butuh perjuangan. Ia tak mau menyerah, kembali dia memandang wajah wanita itu yang terus memberinya semangat. Tangannya terus terulur dan meminta Verrel untuk berusaha meraihnya, senyum wanita itu seakan memberinya semangat untuk terus berjuanga.
“Sedikit lagi. Ayo, sayang. Kamu pasti bisa, tinggal sedikit lagi. Kau harus pulang bersamaku. Kita pulang kerumah kita. Disana kita akan membesarkan anak-anak kita.” wanita itu kembali tersenyum penuh cinta, tangannya masih terulur memohon agar pria itu meraih tangannya.
“Deandra?”
“Iya, sayang. Ayo kita pulang.”
Dadanya menghangat disertai perasaan yang berkecamuk saat wanita yang dia yakini adalah Deandra itu menggenggam erat tangannya.
“Deandra.”
“Iya, sayang. Kita pulang. Bukankah kau bilang kalau kau ingin punya anak sepuluh?’
Pria itu menggangguk dan tersenyum.
Mendadak semuanya gelap dan genggaman tangannya terlepas. Tak ada siapapun lagi disana dan dia tak melihat wanita itu lagi. Berulang-ulang ia meneriakkan nama wanita itu dan memanggilnya.
“Pulang Verrel. Kau harus kembali. Aku yakin kau bisa melewatinya. Dengarkan suaraku, sayang. Aku akan menuntunmu pulang.” Suara itu semakin menggema, tapi ia masih tidak melihat wanita itu lagi. Ia mengedarkan pandangan berusaha mencari keberadaan wanita itu namun hanya suaranya yang terdengar memanggilnya. “Verrel! Ayo, kesini. Kau dengar suaraku, bukan? Datanglah padaku, sayang.”
Pria itu merasakan kehangatan “Aku harus pulang. Deandra menungguku, dia membutuhkanku, anakku membutuhkanku. Aku tidak bisa meninggalkan mereka. Aku harus pulang.” Verrel berdoa dan menyebutkan nama deandra dalam setiap langkah kakinya. Hingga dia tiba disuatu tempat yang memancarkan cahaya yang menyilaukan mata, ia mengerjap perlahan. Suara wanita itu semakin jelas terdengar memanggil namanya.
“Deandra, sayang?”
Lirihan itu membuat seorang wanita menoleh, ia baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu tersenyum dan berlari mendekat ke ranjang tempatnya terbaring.
“Verrel.”
__ADS_1
Tak ingin terjebak untuk kedua kalinya, pria yang baru mengerjapkan matanya itu menyipit. Ia tidak ingin wanita itu akan menghilang bayangannya jika dia menyentuhnya.
“Verrel, ka---kau sudah bangun?” tanya deandra dengan suara serak dan airmata yang mengalir deras membasahi pipinya. Ia langsung meraih tangan Verrel yang terpasang infus dan menciumnya berkali-kali, menumpahkan semua rasa rindu pada suami yang dicintainya.
“Dea---Deandra? Deandra istriku?” suara lirih pria itu terdengar terbata-bata. Wanita itu menggangguk berkali-kali diiringi isak tangis yang memilukan. “Iya, sayang. Ini aku Deandra. Ini aku istrimu, Verrel.” Ingin sekali dia memeluk tubuh suaminya yang sangat ia rindukan, namun alat-alat medis ditubuh suaminya membuatnya tak bisa melakukannya.
“Benarkah kau Deandra, istriku?” ucapnya tercekat.
Deandra menggangguk antusias tanpa mampu menjawab. Dia sangat bahagia melihat suaminya selamat. Hanya itu yang diinginkannya, suaminya kembali.
“Deandra, istriku?” Ya, Tuhan begitu bahagianya Deandra saat ini. Meskipun adanya keterbatasan, ia mendekati suaminya. Mengecup bibir pucat itu untuk menjawabnya.
Rasa hangat menjalar ditubuh Verrel yang memejamkan matanya. Desiran-desiran itu masih sama dan membuatnya yakin jika wanita yang saat ini ******* bibirnya adalah nyata istrinya. Karena tak mendapat respon, Deandra menarik bibirnya. Sepasang mata manik hitam itu terbuka dan pandangan mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain.
“Aku akan memanggil Opa dan dokter.” ucap wanita hamil itu dan tanpa menunggu jawaban dari sang suami ia berjalan keluar tergesa-gesa. Berteriak memanggil Yahya dan dokter yang sedang berada diruang tamu. Mendengar teriakan Deandra, mereka pun beranjak menuju kamar dimana Verrel berada.
...*...
“Kau harus makan lebih banyak,” ucap deandra seraya menyuapkan bubur di mangkuk yang berada ditangannya kemulut Verrel. “Kita harus pulang secepatnya. Aku tak mau disini terlalu lama.” Airmatanya kembali mengalir tanpa bisa dia kendalikan. Ia mencoba mengusapnya tapi kalah cepat dengan tangan Verrel yang telah lebih dulu mengusapnya.
“Jangan menangis lagi, sayang.” pinta Verrel dengan lirih. Hatinya perih melihat istrinya menangis. Ia tak ingin Deandra meneteskan airmata.
“Ini salahmu. Kau pikir siapa yang bikin aku menangis dan sedih?” kata Deandra ketus dengan tangis yang tak juga mereda. “Kau….kau harus tanggung jawab karena selalu membuatku seperti ini. Kau membuatku takut, kau tahu kalau aku tidak ingin kehilanganmu. Membayangkannya saja membuat hatiku sangat sakit.”
Verrel tertegun, menatap wajah istrinya yang cantik meskipun sedang menangis. Wanita itu semakin hari semakin cantik apalagi pipinya yang semakin tembem membuatnya sangat menggemaskan. Verrel tersenyum.
“Kau berhutang banyak padaku, kau harus membayar setiap tetes airmataku,’ racaunya sambil mengaduk-aduk bubur yang tinggal sedikit di mangkuk. Lalu ia menyuapkan pada suaminya.
Masih dengan tangis terisak dan mulut yang mengerucut yang terlihat sangat lucu dimata Verrel. Deandra meletakkan mangkuk kosong itu diatas nampan dan membawanya ke meja kecil disudut ruangan tapi tangan Verrel menahannya. “Jangan pergi. Tetap disini bersamaku.”
__ADS_1
“Jangan kemana-mana sayang. Biarkan saja orang lain yang melakukannya.” ucap Verrel dengan penuh kelembutan. “Sini. Duduk disini,” ia menepuk sisi ranjang yang masih kosong.