
Verrel memejamkan matanya, ingatan tentang laporan sang asisten tadi ditambah lagi ingatannya tentang saat pertama kali Deandra datang kerumahnya kembali menyeruak dan membuat emosi pria itu semakin menggila. Napasnya menderu dan menatap Frans tajam “Kau tahu Frans! Kalau sampai ada ada-apa terjadi dengan istri dan kedua anakku, maka kalian semua akan kukirim ke neraka.”
“Saya akan segera menangkapnya dan membawanya langsung ke hadapan Tuan.” Pria itu pun bangkit setelah membungkukkan badan lalu keluar dari ruang kerja Verrel untuk melakukan sesuatu.
“Yuna!” Verrel memanggil kepala pelayan dirumahnya yang mendengar sang majikan memanggilnya langsung masuk kedalam ruang kerja itu.
“Saya disini, Tuan.” jawab Yuna yang kebetulan lewat didepan ruang kerja itu dan mendengar namanya di panggil. ‘Tuan kayak cenayang saja, masa dia tahu aku lagi lewat disinu.’
“Potongkan buah-buahan untuk istriku, kalau sudah langsung berikan padaku biar aku saja yang membawanya.” kata Verrel.
“Baik, Tuan.” Yuna pun pergi ke dapur memerintahkan pelayan untuk memotong buah. Tak lama kemudian Yuna kembali sambil membawa sepiring buah-buahan segar yang sudah dipotong.
Verrel membawa piring itu ke halaman samping. Saat melihat pria yang sangat dicintainya itu datang dengan sebuah piring ditangannya, Deandra tersenyum manis dan langsung memeluk mesra suaminya setelah pria itu duduk disampingnya. “Sayang, hmmm…..kau manis sekali Verrel ku.” ucapnya manja mengecup bibir tebal suaminya. Verrel menyuapi istrinya dengan buah-buahan yang dibawanya. Deandra menyandarkan kepala didada bidang suaminya sambil memandang Ayu yang sedang bercengkerama bersama Nathan dan Naomi, kedua anaknya semakin gemuk dan sehat. Tangan Verrel memeluk pinggang istrinya dari belakang, mereka duduk di halaman belakang dialasi kain piknik, cuaca hari ini mendung pertanda nanti malam pasti akan turun hujan.
“Sepertinya malam ini akan hujan lebat, sayang.” ucap Verrel.
“Hmm…..terus apa maumu kalau hujan lebat?” tanya Deandra tersenyum. ‘Kenapa suamiku ini sekarang mesti pakai alasan segala sih kalau bicara?
“Aku mau tidur nyenyak tanpa gangguan malam ini.” kata Verrel.
“Maaf ya sayang. Hampir tiap malam kau terbangun karena si kecil. Tak seharusnya kau risau, kan sudah ada pengasuh yang mengurus mereka.”
“Iya, aku tahu tapi aku cemas, mereka anakku dan aku mau mereka nyaman.” kata Verrel.
“Besok malam bawa saja mereka tidur bersama kita ya, sayang.”
“Terserahmu, sesekali ada baiknya kita tidur bersama mereka. Oh iya, Opa bilang mau bikin foto keluarga minggu depan.”
__ADS_1
“Iya, mama sudah memesan pakaian seragam untuk foto keluarga nanti, untuk si kembar juga mama sudah pesankan.” kata Ayu menimpali.
“Wah, pasti bagus sekali. Aku tidak sabar menunggu harinya kita kumpul untuk foto keluarga.” kata Deandra tersenyum bahagia, entah dengan cara apa dia mengungkapkan kebahagiaannya saat ini. Dia masih ingat saat pertama kali datang kerumah mewah itu, kini dia sudah jadi nyonya besar dirumah itu dan punya dua malaikat kecil.
...*...
“Ada apa?” tanya Verrel dengan nada ketus sambil memperhatikan layar ponselnya. Diseberang sana Frans sedang mengamati pergerakan Surya dari tempatnya bersembunyi. Alih-alih kembali kerumahnya, Diah meminta Surya untuk mengontrak rumah sementara. Mereka hanya menginap di hotel satu malam saja.
“Frans! Kalau kau tak punya laporan yang lebih berguna, lebih baik kau simpan saja dan katakan padaku setelah kau kembali.” Verrel mengeram kesal. Alih-alih menjawab, Frans malah menjeda telepon dan mengarahkan kamera ponsel satunya ke arah target yang ia awasi. “Katakan Frans! Aku tak punya waktu untuk basa-basimu.” sahut Verrel.
“Surya menemui seorang penjahat terkenal, sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu."
“Apa yang kau dengar?”
“Maaf Tuan. Saya tidak bisa mendnegar apapun karena jarak terlalu jauh dan beresiko jika saya mendekat.” kata Frans “Saya akan mengirimkan sesuatu ke email, Tuan. Sepertinya Surya memberikan tawaran pada penjahat itu.”
“Bawa pria itu ketempat yang aman. Aku masih punya urusan yang harus kuselesaikan sebelum aku membinasakan bajingan sepertinya.”
Verre melemparkan ponselnya ke meja sambil memejamkan mata berusaha menahan amarahnya “Kau yang dulu memulai ini Surya. Jangan harap ada belas kasihan padamu sementara kau menyulut api itu.” tekad Verrel berapi-api ingin menghancurkan Surya.
...*...
[ Datang ke alamat ini. Aku menunggumu disana satu jam lagi ] pesan sms dari pria bernama Dago.
[ Berhati-hatilah jangan sampai ada yang mengikutimu ]
Sederet pesan masuk ke ponsel Surya membuat pria itu menyeringai. Ia meraih jaketnya. Ia melangkah dengan tegas dan penuh percaya diri menghampiri istrinya yang enggan meninggalkan tempat tidur, tubuhnya meringkuk didalam selimut, entah mengapa Diah bersikap aneh sejak semalam.
__ADS_1
“Diah.” panggilnya lirih menatap Diah yang masih memejamkan mata.
“Hm…..ada apa?”
Perlahan mata Diah terbuka dan mengerjap beberapa kali sebelum menatap wajah suaminya yang hendak pergi. Sia-sia saja dia membujuk suaminya untuk tidak melakukan apapun, sejak kembali, perasaannya sudah tak enak dan dia merasa takut. Tapi Surya berulang kali mengingatkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
“Aku akan pergi sebentar menemui seseorang. Dia yang akan membantuku menjalankan rencanaku, tak lama lagi kita akan punya uang banyak dan pergi meninggalkan negara ini selamanya.”
“Kau sudah gila Surya? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Pria itu seorang penjahat kelas kakap, kalau sampai dia---”
“Ssssttt…..”Surya mendesis menenangkan Diah yang terlihat takut. “Aku sudah mempersiapkan ini jika situasi tak terkendali.” ucapnya sambil menunjukkan benda yang berada dibalik jaketnya. Mulut wanita itu menganga. “Kau tak perlu khawatir. Aku akan kembali segera dan setelah aku berhasil menjalankan rencanaku, kita akan pergi jauh ketempat yang kau inginkan.” ucapnya menenangkan Diah istrinya. “Apa kau yakin? Bukankah ini sangat berbahaya?” gumam Diah ragu, entah mengapa perasaannya gelisah sejak kemarin.
“Hei! Percayalah, aku akan baik-baik saja dan aku akan kembali selamat.” ucap Surya menyakinkan istrinya. Surya pun melangkah dengan penuh percaya diri datang ke alamat yang dikirimkan pria yang akan bekerjasam dengannya untuk menculik kedua bayi kembar Deandra.
Ia pun tiba di alamat sesuai perintah si pengirim, ia sangat berhati-hati dan memperhatikan sekeliling rumah yang berada jauh dari pemukiman penduduk. Ia mengetuk pintu beberapa, seorang pria tiga puluhan tahun membuka pintu.
“Apakah anda orang yang akan bertemu pamanku?” tanya pemuda yang lengannya dipenuhi tato. Surya mengeryitkan dahinya karena ada orang lain disana.
“Ya, aku orangnya.”
“Masuklah . Paman sudah menunggumu sejak sepuluh menit lalu.”
Surya sedikit ragu tapi segera ia enyahkan perasaan itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bertemu dengan pria itu dan segera melancarkan aksi mereka dan mendapatka uang secepatnya. Rumah itu terlihat sepi dan hening, tak banyak perabotan mengisi rumah yang lumayan besar itu, ia mengikuti langkah pemuda didepannya. Langkah mereka terhenti didepan pintu lebar, lalu pemuda itu mengetuk lalu membuka pintu “Paman, tamumu sudah datang.”
Saat sudah berada diruangan itu, pintu tertutup dan dua orang pria menghadang pintu, sementara pemuda yang tadi membawanya menatapnya dengan senyum sinis.
__ADS_1