
“Bawa beberapa pasang bajumu,” kata Rian pada Andini yang heran kenapa tiba-tiba Rian mengajaknya pergi ke puncak. Tubuhnya masih terasa lemas, sudah dua hari dia melayani Rian itulah pikirannya padahal bukan Rian yang dilayaninya. Bodohnya wanita itu tak menyadari perbedaan siapa laki-laki yang menyentuh tubuhnya selama dua hari ini. Matanya selalu ditutup dan tangannya diikat agar dia tak bisa bergerak.
“Memangnya kita mau nginap disana?”
“Ya iyalah. Aku bosan dirumah ini terus, setidaknya kalau di puncak udaranya dingin dan ganti suasana. Apa kamu nggak bosan dikamar itu terus menerus selama dua minggu?” tanya Rian menggoda Andini.
“Iya juga sih. Ternyata kamu masih romantis juga,” ucapnya manja. “Bagaimana penampilanku?” tanya Andini sembari berputar-putar. Rian yang sebenarnya sudah merasa jengah berusaha tenang dan tersenyum.
“Masih cantik seperti dulu, sayang. Kamu mau coba gaya baru?” tanya Rian menggoda.
“Kalau kamu suka, pasti aku mau. Tapi kenapa belum ada kabar dari anak buahmu? Aku ingin masalah itu cepat selesai.”
Rian yang sudah mengatur semuanya, mengeluarkan sebuah amplop lalu menyodorkan pada Andini. “Lihat foto-foto itu, kami sudah menahan istri Verrel disuatu tempat yang tidak ada seorangpun tahu. Seperti permintaanmu, aku akan singkirkan dia beserta bayinya.”
“Benarkah ini perempuan itu? Ta—tapi. Verrel masih hidup!” ujar Andini panik melihat foto-foto Deandra dengan perut buncit sedang disekap disebuah ruangan dengan tangan terikat dan mata tertutup. Mata Andini memindai satu persatu foto ditangannya dengan mulut menganga tak menyangka Rian bisa menyekap perempuan itu.
“Coba kau perhatikan baik-baik. Wanita di foto itu adalah istrinya Tuan Verrel. Jangan kau khawatirkan Tuan Verrel. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Istrinya sudah kami bawa jauh.” ucap Rian menyeringai licik.
“Oh, ya aku yakin itu dia. Kelihatan sama dengan yang pernah kulihat, wajah meskipun matanya ditutup kain tapi aku mengenali, rambut panjang.” kata Andini meyakinkan dirinya kalau wanita di foto itu adalah Deandra. Wajahnya langsung berbinar dan tersenyum manja pada Rian. “Kau memang hebat Rian, aku tahu jika kau bisa kuandalkan.”
Rian hanya menggangguk dan mengutuki Andini dalam hatinya. Betapa bodohnya wanita itu dengan sangat mudah tertipu dengan sebuah foto yang diedit. Rian hanya bisa tertawa puas. Dia meraih lengan Andini masuk ke mobil. Tak banyak yang mereka bincangkan selama dalam perjalanan. Setelah melewati tol, Rian menghentikan mobil di rest area untuk mengisi perut dan membeli rokok. Andini juga turun dari mobil dan berjalan menuju toilet. Rian menyandarkan tubuhnya di mobil sambil menjawab telepon dari seseorang.
Andini berada didalam toilet yang berada agak jauh karena toilet terdekat sedang penuh, saat itu sepi tak ada orang lain didalam. Saat dia keluar matanya terbelalak melihat seorang pria yang tak asing, dibelakang pria itu berdiri dua pria lainnya. seorang pria membekap mulutnya dan tak lama dia pun pingsan. Tubuhnya dibopong masuk kedalam sebuah mobil dan pria tadi melambai kearah Rian yang membalas dengan anggukan. Rian masuk kedalam mobilnya dan melaju pergi. Andini yang dalam keadaan tak sadarkan diri berada di jok belakang. Mobil itu melaju menuju daerah puncak, tepatnya sebuah rumah yang berada jauh dari pemukiman penduduk dan berhalaman luas dengan dikelilingi pohon-pohon tinggi sehingga rumah itu tidak terlihat dari jauh.
“Bawa wanita itu ke kamar atas paling ujung.” kata pria yang duduk di jok depan pada pria yang duduk dibelakang. “Suruh pelayan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.”
“Baik, bos. Apakah kami bisa pesta malam ini?” tanya pria dibelakang kemudi terkekeh.
“Tidak. Malam ini biar orang yang sudah membooking yang menikmatinya.”
__ADS_1
“Cantik juga wanita ini,bos. Meskipun usianya sudah empat puluhan tahun.” kata pria yang duduk di jok belakang sambil mengelus pipi Andini yang mulus.
“Bagaimana reaksi suaminya jika tahu kelakukan binal istrinya...ha...ha...ha...ha.”
“Pastikan membuat copian semua rekamannya,” perintah Darma pada kedua pria itu.
“Baik, bos.”
Kedua pria itu membopong tubuh Andini yang masih pingsan menuju kamar dilantai dua. Kamar yang cukup luas itu hanya memiliki jendela dibagian belakang yang langsung menghadap ke jurang. Pintu kamar itu memakai password sehingga sulit untuk membuka pintu tanpa password. Seluruh area rumah berlantai dua itupun dilengkapi dengan kamera cctv. Siapapun yang mencoba kabur dari kamar itu, akan langsung jatuh ke jurang yang dalam dan terjal. Bukan tanpa alasan, Darma menyuruh anak buahnya menempatkan Andini di kamar itu. Dia tahu betul, Andini pasti akan mencoba melarikan diri. “Ini baru permulaan Andini! Mata ganti mata, tangan ganti tangan. Tapi aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu. Kau sendiri yang akan menciptakan nerakamu.” ucap Darma sambil menghembuskan asap rokoknya. Dia berdiri dibalkon kamarnya menatap perkebunan the yang berada disekeliling bukit.
...*...
“Kenapa kau tidak memakai tongkatmu, sayang?” tanya Deandra yang melihat Verrel berjalan tanpa memakai penyangga. Wanita itu berjalan mendekati suaminya sambil mendengus kesal.
“Aku baik-baik saja, nyonya Verrel.”
“Justru kakiku cepat sembuh kalau banyak berjalan, sayang.”
“Iya, tapi bukan begini! Jangan terlalu lama menggunakan kakimu tanpa penyangga.”
“Sayang, kakiku tidak kenapa-napa? Kau dengar sendiri apa kata dokter, I am fine!”
“Kenapa kau tidak muncul ke publik kalau kakimu memang baik-baik saja?”
“Belum waktunya. Kalaupun aku nanti muncul, aku ingin tetap di kursi roda. Cara itu efektif untuk menemukan siapa pengkhianat di perusahaan.”
“Aku sudah tahu orangnya,” ucap Deandra bangga lalu berlalu sambil tersenyum.
“Siapa? Bagaimana bisa kau tahu siapa orangnya?” tanya Verrel penasaran.
__ADS_1
“Ada deh. Pokoknya semua beres ditangan Nyonya Verrel,” ujar Deandra mengecup bibir suaminya lalu pergi sambil berkata “Aku mau melukis, jangan ganggu ya,”
“Sayang…..sayang…..tunggu. Kau harus tanggung jawab.” seru Verrel yang tak diindahkan oleh Deandra yang melenggang menuju kolam renang. Kedua pelayannya sudah menunggu disana dengan peralatan melukisnya. Ada meja kecil yang diatasnya ada beberapa cemilan pisang goreng coklat, keripik dan jus. Deandra duduk di bangku, meskipun sedikit kesulitan karena perutnya yang membuncit tapi hari ini dia ingin melukis.
Di rumah utama, kedua orang kakek sedang sibuk mengawasi beberapa orang yang sedang merenovasi kamar untuk kamar bayi. Dua box bayi sudah diletakkan dikamar itu lengkap dengan meja kecil, mainan untuk anak laki-laki dan anak perempuan. “Apakah semua barang-barang untuk nursery sudah datang?” tanya Yahya pada seorang pelayan.
*Ini author bagi visual Tuan Yahya Magani Ceyhan (Kakeknya Verrel)
*Yang dibawah ini visual Tuan Viktor Benazar Hutama (Kakeknya Deandra Ailsie)
“Sudah, Tuan. Semua sudah diletakkan diruang samping.” jawab pelayan itu sembari menyusun aksesoris di kamar bayi. ‘Wah, rumah ini sebentar lagi bakal ramai, seperti apa ya anaknya Tuan Besar dan Nyonya?” gumamnya dalam hati. Sejak menikahi Deandra, keadaan rumah utama begitu damai, tidak pernah lagi terdengar teriakan dan bentakan Verrel. Para pelayan pun bekerja lebih bersemangat karena sang nyonya memperlakukan mereka sangat baik.
“Bagaimana dengan acara tujuh bulanan nanti?” tanya Viktor yang tak paham soal begituan.
*Kalau yang ini visual Viktor Benazar Hutama (Kakeknya Deandra Ailsie)
“Aku sudah minta EO mengatur semuanya. Acaranya harus mewah dan meriah Viktor. Ini cicit kita, penerus keluarga jadi aku mau bikin pesta yang paling megah.” kata Yahya tersenyum. Momen seperti ini sudah lama ditunggunya, kali ini dia bahkan akan mendapat dua cicit sekaligus.
“Apakah kau akan mengundang Amran?” tanya Viktor lagi.
“Ya. Dia harus lihat bagaimana bahagianya keluarga Ceyhan. Dia akan menyesali telah meninggalkan semua ini demi perempuan murahan itu,” kata Yahya mendengus. “Lihat saja nanti, apa dia berani datang atau tidak. Mungkin anak itu takut karena ada kau...ha….ha….ha.”
“Dia selalu takut padaku sejak kecil. Aku bahkan tak pernah memarahinya.” ucap Viktor.
“Wajahmu itu menyeramkan! Kau ingat setiap kali kau datang kesini, dia pasti selalu mencari alasan untuk pergi atau mengurung diri di kamar.” keduanya tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa Amran merasa takut pada Viktor sejak dulu.
__ADS_1