TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 146. FRANS DAN ROSA


__ADS_3

“Kenapa kalian bengong disini? Bukannya saya suruh nikah setelah acara tujuh bulananku?” tanya Deandra yang menatap Frans dan Rosa yang menghadap di kantornya.


“Hem...begini nyonya. Saya mau acara lamaran lusa---”


“Tidak usah! Lamar-lamar, buang energi. Langsung nikah aja!” racau Deandra.


“Dea, masa gak ada lamaran gitu langsung nikah?”


“Irit biaya, kalau kelamaan entar perut loe buncit kayak gue. Mau?”


“Eh...masa langsung buncit? Loe nakutin gue ya?”


“Tidak! Mending disegerakan aja, cepat nikah setelah itu loe mau buat apa terserah, sudah halal.”


Frans tak berani berkomentar, takut kalau nyonya besar marah bisa gawat.  ‘Aku sih senang saja kalau menikah secepatnya.’ gumam Frans dalam hati sambil senyum-senyum.


“Asisten Frans! Kamu kesambet ya? Kenapa senyum sendiri dari tadi?” tanya Deandra.


“Bu—bukan begitu nyonya. Kalau bisa hari ini saya mau ijin ajak Rosa ke butik buat pilih baju pengantin.”


“Ah….pergi pergi. Buruan mumpung saya lagi baik hati.” usir Deandra. Frans langsung menarik tangan Rosa meninggalkan sang nyonya yang terkekeh didalam ruang kerjanya.


Saat keluar dari lift, mereka berpapasan dengan Verrel yang sengaja datang ke kantor istrinya.


“Kalian mau kemana?” tanya Verrel heran melihat Frans menarik tangan Rosa.


“I—ini, Tuan. Kami diusir nyonya.” ucap Frans terbata-bata.


“Apa? Istriku mengusir kalian? Kenapa?”


“Karena saya belum beli baju pengantin untuk acara pernikahan kami.”


“Menikah? Maksudnya?” tanya Verrel yang memang tak tahu soal pernikahan mereka.


“Memangnya nyonya tidak bilang, Tuan? Nyonya memaksa kami menikah setelah acara tujuh bulanannya. Karena sibuk saya lupa soal pernikahan.”


“Ehm...aneh. Ya sudah pergi sana.” Verrel mengeryitkan dahinya lalu masuk kedalam lift.  Setibanya di ruang kerja istrinya, Verrel langsung membuka pintu. Deandra tersenyum lebar melihat kedatangan suaminya. “Sayang, aku mau tanya.”


“Tanya apa?”


“Tadi aku ketemu Frans dibawah, katanya dia mau menikah. Apa betul?”


Bukannya menjawab, wanita hamil itu malah tertawa terbahak-bahak. “Kenapa ketawa, sayang? Memang betul ya Frans mau menikah?”


“Iya. Aku yang paksa mereka untuk menikah. Daripada buat dosa.” kata Deandra tanpa rasa bersalah.  Lagi-lagi dia terkekeh telah memaksa Frans dan Rosa menikah.

__ADS_1


“Tapi kenapa? Aku tidak mengerti maksudmu apa.”


“Mereka sama-sama jomblo, aku rasa mereka juga pasangan serasi, iyakan?”


“Pasti ada sesuatu! Apa yang sudah kau lakukan nyonya Verrel?”


“Ha...ha….ha….aku membuat mereka menikah hari sabtu nanti.”


“Apa? Sabtu? Tapi mereka tidak saling mencintai, sayang. Bagaimana mungkin kau memaksa dua orang itu menikah? Kalau mereka tida bahagia apa kau tidak merasa bersalah?”


“Ssssttt…...tenang saja.  Mereka saling suka, nyatanya mereka bercumbu di----upss,” Deandra langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia keceplosan.


“Apa? Bercumbu? Tidak tidak tidak….tidak mungkin Frans melakukan itu.”


“Tapi kenyataan memang begitu, aku yang lihat sendiri, makanya aku hukum mereka harus menikah! Secepatnya daripada nanti buncit sepertiku.”


Verrel masih tak percaya apa yang didengarnya.  Frans sungguh melakukan itu? Sejak kapan asistennya jadi mesum begitu? Apa-apaan ini, asistenku dan asisten istriku menikah?


...*...


“Selamat datang Tuan Frans. Silahkan duduk, staff saya akan membawakan beberapa gaun untuk dicoba,” ucap Melia pemilik butik.  Rosa mengedarkan pandangan melihat gaun-gaun mahal.  “Frans, kenapa harus dibutik ini? Ini pasti mahal, kita ke tempat lain saja ya.”


“Tidak. Ini salah satu butik langganan keluarga Ceyhan, nyonya besar yang menyuruhku bawa kamu kesini. Nyonya juga yang pilihkan gaunnya, kamu coba saja dan pilih mana yang kamu suka.” ucap Frans menjelaskan.  Dia sudah tahu Rosa pasti akan menolak apalagi jika gadis itu tahu berapa harga gaun pengantinnya. Staff butik membawa beberapa gaun untuk di coba, Rosa mencoba beberapa gaun cantik namun pilihannya jatuh pada gaun yang sederhana.  Namun Frans menolak dengan alasan terlalu sederhana.  Dia mau Rosa memakai gaun yang indah dan mahal di pernikahan nanti, meskipun acara pernikahan tidak semewah pernikahan Verrel dan Deandra.


“Ini harganya mahal sekali! Aku mau gaun yang lebih murah,” ucap Rosa begitu melihat harga gaun pengantinya.


“Loe maunya apa? Masa loe mau nikah pake gaun murahan?”


“Bukan gitu Dea, aku merasa tidak enak saja, harga gaunnya mahal.” jawab Rosa.


“Loe tidak usah pikiran harga! Calon suami loe banyak duit! Loe nikmatin saja Rosa, pernikahan hanya sekali, ingat itu!” kata Deandra lalu memutuskan hubungan telepon.  Rosa hanya bisa menghela napas panjang. Terus berdebat juga tak ada artinya, akhirnya Rosa hanya diam saja saat Frans memilih gaun pengantin dan keperluan lainnya.


“Kita mau kemana lagi?” tanya Rosa.


“Ke hotel, sayangku cintaku.” canda Frans.


“A—apa ke ho—tel?” tanya Rosa dengan suara bergetar.


“Iya, ke hotel!”


“Ah tidak! Aku tidak mau!” tolak Rosa menggelengkan kepala.


“Kenapa tidak mau? Kita harus ke hotel sekarang.”


“Kau saja yang ke hotel.  Issss dasar mesum, seenaknya aja mau ke hotel.”

__ADS_1


“Hah? Siapa yang mesum? Eiittt….jangan-jangan kau yang mesum. Pasti pikiranmu aneh-aneh karena kuajak ke hotel. Iyakan? Ayo ngaku.”


“Tidak! Aku tidak mikir aneh. Lagian buat apa ke hotel?”


“Ya, buat lihat tempat acara pernikahan kita ROSA!”


“Oh! Ke hotel cuma mau untuk itu? Memangnya acara pernikahan kita di hotel?”


“Memangnya kau mau yang lain? Boleh juga...he...he..” kata Frans bercanda namun mmebuat wajah Rosa memerah karena dia sudah salah sangka. “Kita ke hotel atas perintah Nyonya, dia bilang acara pernikahan kita harus diadakan di hotel milik keluarga Ceyhan.  Bukan hotel tempat acara kemaren tapi hotel satunya lagi.”


“Oooo begitu! Aku tidak tahu makanya aku tanya, Frans!”


“Huh! Istri tak ada romantisnya. Panggil sayang atau honey atau baby gitu,” protes Frans.


Rosa hanya mendengus tak mau menjawab karena dia pun tak tahu harus memanggil Frans dengan dengan sebutan apa. Frans menarik tangan Rosa masuk kedalam mobil lalu pergi menuju salah satu hotel milik keluarga Ceyhan.  Hotel ini tidak sebesar hotel yang kemarin tempat acara tujuh bulanan tapi merupakan salah hotel terkenal di Jakarta.  Rosa hanya terpelongo menatap gedung hotel tempat pernikahannya akan berlangsung.


“Frans, ini tempatnya? Pasti sewanya mahal, kenapa tidak tempat lain lagi?”


“Ehm...Rosa Rosa….tidak usah mikirin sewa! Yang punya hotel tidak minta dibayar.”


“Hah? Maksudmu, Dea…..”


“Iya! Jangan panggil nama tidak sopan! Nyonya Besar yang suruh agar acara pernikahan kita diadakan disini. Kalau kau mau protes, langsung saja protes sama Nyonya dan Tuan!”


“Kau cerewet sekali! Entah aku bisa survive jadi istrimu atau tidak!”


“Oho….Rosa! Jangan bicara seperti itu sayangku. Kau tidak akan sanggup jauh-jauh dariku kalau sudah dekat. Buktinya dari tadi kau menggandeng tanganku terus,hm.” kata Frans melirik ke lengannya yang sejak turun dari mobil selalu digandeng oleh Rosa.  Mendadak wajah gadis itu merona namun entah kenapa dia enggan melepaskan tangannya. Frans menunjukkan ruang convention hall di hotel itu pada Rosa.  Seorang WO sudah menunggu mereka dan memperlihatkan desain untuk acara pernikahan nanti. Kartu undangan pun sudah selesai dan diberikan pada Frans.  “Kapan undangan ini dicetak? Kenapa aku tidak tahu? Ini cantik sekali.”


“Tak perlu meminta pendapatmu! Semua di protes, tapi kau suka undangannya?”


“Suka sekali! Terimakasih sayang!” akhirnya tanpa sadar Rosa memanggilnya dengan manis.


“Ha...ha...ha….akhirnya terucap juga! Sudah kubilang kalau dekat denganku pasti bakalan nempel terus.”


Seharian mereka sibuk dengan urusan pernikahan. Rosa diantar pulang dengan membawa banyak barang. “Besok kita sebarkan undangannya, aku jemput jam tujuh pagi ya.”


“Baiklah. Mau dibuatkan sarapan apa besok?” tanya Rosa.


“Buatkan yang enak ya sayangku Rosa cantik!”


“Sudahlah Frans! Tidak usah merayu ada ibu.”


“Tidak apa-apa Rosa. Ibu juga pernah muda.” sahut ibu terkekeh. ‘Akhirnya anakku menikah juga meskipun tak pernah kulihat dia pacaran.’


"Oh iya. Ayo masuk kedalam kita makan dulu pasti kalian belim makan, iyakan? Ibu sudah masak banyak."

__ADS_1


Rosa menarik tangan Frans mengikutinya ke ruang makan. Berbagai hidangan sudah tersaji si meja makan. Frans merasa terharu, sudah sekian lama dia tidak merasakan makan bersama seperti ini.


 


__ADS_2