
“Kita sudah sampai di kantor Nyonya,”ucap supir pribadi Deandra membuyarkan lamunannya sepanjang perjalanan. Deandra perlahan turun dari mobil dan berjalan menuju lift sambil mengelus perutnya yang terlihat membuncit karena usia kandungannya sudah tiga bulan. Entah mengapa hari ini suasana hatinya sedang kacau, mungkin pengaruh dari kehamilannya yang masih muda, airmata menggenang disudut matanya. Deandra mengingat kejadian yang menimpa Rosa akibat kehadiran seseorang dari masa lalu Frans. Mengingatkan Deandra berapa banyak wanita yang pernah bersama suaminya di masa lalu, dia membayangkan jika ada seorang wnaita muncul dihadapannya dan mengganggunya. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, sementara Verrel baru saja keluar dari ruang rapat. Verrel sangat terkejut saat melihat Deandra yang keluar dari pintu lift dengan tiba-tiba sendirian tanpa kedua anaknya dan tanpa pelayan pribadinya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Deandra melemparkan dirinya kedalam pelukan Verrel dan menangis pelan. “Aku merindukanmu.”
Ruang rapat tempat dimana para anggota dewan sering mengadakan rapat berada tepat disebelah kantor Presdir. Jadi ketika rapat telah selesai, sekelompok anggota dewan berjalan mengikuti Verrel dibelakang. Mereka semua tersenyum penuh arti saat melihat apa yang sedang terjadi dihadapan mereka.
“Silahkan lewat sini,” kata David sekretarisnya Verrel, dia memimpin para anggota dewan menuju lift karyawan untuk memberi Verrel dan Deandra privasi. Semburat rasa malu mewarnai wajah Deandra saat mendengar derap langkah kaki yang menjauh. Deandra sangat ingin menatap wajah tampan suaminya sehingga dia lupa bahwa ada orang lain disana. Dengan malu Deandra membenamkan kepalanya ke dada bidang suaminya seperti bayi kecil.
Jarang sekali Deandra melakukan hal seperti itu yang bertentangan dengan sikapnya yang tidak suka menunjukkan kemesraan ketika berada dikantor. Sambil mengerutkan kening, Verrel mengelus punggung Deandra dan bertanya dengan lembut “Mommy kenapa? Apa yang telah terjadi?”
“Tidak apa-apa. Aku sangat merindukanmu.” Deandra semakin menggelengkan kepalanya dan memeluk Verrel lebih erat lagi. Sambil tersenyum Verrel langsung menggendong Deandra erat dan membiarkan istrinya membenamkan kepalanya dilehernya lalu berjalan masuk ke kantor Verrel. Pria itu cukup paham jika istrinya sedang hamil muda dan sikap sang istri adalah pengaruh kehamilannya. Dia masih ingat saat kehamilan pertama dulu, betapa manjanya Deandra.
__ADS_1
Verrel merasakan airmata panas meluncur dilehernya, hal itu menusuk hatinya. Istrinya sedang menangis, sudah sebulan sejak terakhir kali Deandra menangis. Verrel duduk di sofa dengan Deandra yang masih berada di pangkuannya. Deandra masih melingkarkan lengannya di leher suaminya dan menolak untuk melepaskannya saat airmatanya mengalir semakin deras.
“Sayang, kenapa kau menangis?” Verrel mencoba menarik Deandra tetapi dia terus mengencangkan cengkeramannya pada tubuh suaminya. Deandra tak ingin Verrel melihatnya menangis, akan sangat memalukan jika Verrel melihatnya menangis tanpa tahu jika istrinya itu sedang cemburu tanpa alasan. Verrel semakin bingung saat melihat istri tercintanya itu tidak juga berhenti menangis.
“Apa kau tidak mau memberitahuku mengapa kau menangis?”
Deandra memilih diam dan hanya mengendus tubuh suaminya seakan menikmati wangi maskulin tubuh Verrel. “Katakan padaku, sayang. Apa kau lelah menjaga anak-anak makanya kau menangis, hmm? Apa kau menginginkan sesuatu?” Verrel semakin khawatir sehingga dia menarik tubuh istrinya hanya untuk menatap wanita itu, dia ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya. Tiba-tiba Deandra mencium bibir Verrel sehingga dia tak punya kesmepatan untuk melihat wajahnya yang sembab. Deandra ******* bibir suaminya dan menggigit bibirnya. Verrel merasa terkejut dan terangsang ketika ******* istrinya semakin panas dan liar. Bergairah seperti biasanya, keduanya saling ******* dan menggigit menikmati satu sama lain, napas cepat terdengar memenuhi ruangan itu. Sebuah ketukan terdengar di pintu, namun mereka tak peduli. David terus mengetuk pintu. Keduanya membeku setelah mendengar ketukan di pintu yang tiada henti.
“Tuan Verrel, ini adalah masalah darurat. Seseorang telah mencuri informasi rahasia perusahaan.” David menguatkan dirinya dan siap menerima hukuman dari Verrel.
“Siapa?” Verrel bertanya dengan serius.
__ADS_1
Verrel merasa kesal karena terganggu ditengah sesuatu yang penting. David berkeringat dingin lalu menyekanya dan menjawab “Dua hacker telah menyerang perusahaan kita. Mereka cukup terampil dan sangat cepat dalam melakukan penyerangan. Kami juga tidak bisa menghubungi Tuan Frans.”
“Ulah para hacker lagi?” Verrel menjadi marah. Tampaknya para hacker itu sedang suka mempermainkan Verrel akhir-akhir ini. Jika Verrel beruntung untuk menangkap salah satu hacker itu, dia akan menahan diri untuk tidak memberi mereka hukuman yang pantas mereka terima. Setelah mendengar ucapan itu, mata Deandra langsung berbinar dengan berani. Tangannya dengan cepat menggenggam lengan Verrel “Aku ikut denganmu.”
“Kau disini saja sayang. Aku akan segera kembali.” Verrel mengamati Deandra dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan agak hati-hati. Mood istrinya begitu cepatnya berubah, padahal baru beberapa saat tadi dia menangis tak henti-hentinya, malah sekarang matanya sudah berbinar dan tersenyum manis. Deandra tahu kenapa suaminya tak ingin mengajaknya karena bagaimanapun tadi suasana hatinya buruk dan ini menyangkut rahasia perusahaan yang tidak sembarang orang mengetahuinya. Namun, tak ada yang tahu bahwa Deandra memiliki keahlian yang sangat sedikit orang bisa kuasai dibidang IT. Verrel bahkan lupa kalau dulu istrinya pernah menyelamatkan perusahaannya dari serangan hacker.
Verrel membawa Deandra ke departemen IT. Manajer departemen adalah pria yang punya semangat kerja tinggi,dia berusia tiga puluhan tahun, terlihat manajer itu sedang mengetik di keyboard mencob amenangkis setiap serangan yang diluncurkan oleh para hacker. Sekilas Deandra mengenali sosok manajer itu adalah seorang jenius dibidang IT, wajahnya sangat familiar didunia maya sebagai salah seorang ahli IT. Bahkan seorang jenius sepertinya tidak bisa menahan serangan itu, manajer itu terlihat berkeringat. Awalnya pria itu tampak sangat percaya diri tetapi ketika para hacker terus menyerang, kepercayaan dirinya mulai goyah dan digantikan dengan rasa khawatir.
Semua orang di departemen IT sibuk menghadapi hal yang sama. Setelah menelusuri ruangan dengan matanya yang tajam, Verrel melepaskan genggaman tangan Deandra dan berjalan menuju manajer departemen IT. Alaram peringatan merah berkedip di layar yang menunjukkan betapa parahnya situasi yang sednag terjadi. Departemen IT terdiri dari duabelas orang dengan tugasnya masing-masing. Mereka semua tampak serius saat mata mereka terpaku pada layar komputer mereka. Jelas mereka mengalami kesulitan dalam mengoperasikan tugas mereka. Bahkan beberapa orang telah berhenti, itu berarti bahwa pertahanan mereka telah gagal. Diam-diam Deandra mendekati manajer, tidak butuh waktu lama bagi Deandra untuk menemukan celah pertahanan. Jelas, para hacker itu telah memanfaatkan celah pertahanan.
Celah pertahanan biasanya disembunyikan dengan sangat terampil, tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui celah pertahanan selain para pegawai di departemen IT sendiri. Dengan pemikiran itu Deandra menyimpulkan “Ada seorang mata-mata diantara kalian.” teriaknya.
__ADS_1