TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 221. ISTRI MANJA


__ADS_3

Deandra yang tertidur tiba-tiba terbangun dan meraba sisi sampingnya namun kosong. Matanya perlahan terbuka dan melihat suaminya tidak ada disamping. Dengan mata yang masih mengantuk dia melirik jam didinding, menunjukkan pukul sepuluh malam.


“Euhh….kemana Verrel? Apa dia belum kembali dari kantor?” kakinya menginjak lantai, satu tangannya memegang perut buncitnya. Dengan langkah pelan dia berjalan menuju pintu kamar lalu keluar. Suasana rumah hening dan temaram hanya ada lampu dinding yang menyala sebagai penerangan.


Deandra berjalan menuju ruang kerja suaminya, saat dia membuka pintu yang tak terkunci dia mengintip dan melihat Verrel sedang menunduk menatap layar komputer dihadapannya. Dia pun masuk dan menutup pintu dibelakangnya tanpa suara, takut mengganggu konsentrasi Verrel.


Pria itu merasakan kehadiran seseorang diruang kerjanya langsung mengangkat kepala dan tersenyum melihat penampilan istrinya yang acak-acakan.


“Apa sayang? Kemarilah, kenapa kamu tidak tidur?” perintah Verrel. Tangannya menarik pinggang Deandra dan memeluknya. Bibirnya mengecup leher Deandra yang terekpos.


"Kupikir kau belum pulang. Aku terbangun tapi tidak ada kamu." kata Deandra merajuk. Verrel memeluk pinggang istrinya yang sudah tidak ramping lagi.


“Ah…..sayang. Hentikan! Jangan mempermainkanku!” desis Deandra seraya mendesah. Benar-benar gila! Suaminya ini sangat nakal dan suka memancing dirinya.


“Aku tidak menggodamu sayang. Aku hanya…..ahhh bertanya,” sahut Verrel cepat.


“Sssss….Verrel,” rintih Deandra putus asa. Suaminya selalu mampu membuatnya melayang dan memberikan sentuhan yang membuatnya mendamba dan menginginkan lebih. Rasa kantuknya pun mendadak hilang digantikan rasa lain.


“Hemm….apa kau merindukanku? Panggil aku Hubby!” bisik Verrel. "Maaf karena beberapa hari ini aku sibuk."


“Ahh….Hubby aku sudah tidak tahan lagi,” rengek Deandra yang sudah merasa sensasi lain karena perlakuan suaminya.


“Permintaan dikabulkan Nyonya Verrel. Apa kita lanjutkan ke kamar atau disini saja?” goda Verrel sambil terus mengendus leher dan belakang telinga Deandra.


“Kamar!” lirih Deandra.


Verrel pun menuntun Deandra keluar dari ruang kerja menuju kekamar tidur mereka. Ada sesuatu  yang harus dituntaskan. Istrinya sudah merindukannya dan merajuk minta sentuhan darinya. Verrel menuntun istrinya ke ranjang dan membaringkannya, tanpa melepaskan ciuman, dia merindukan istri tercintanya yang sudah beberapa hari tak ada waktu bersama.


“Pelan-pelan…..kasihan anak-anak didalam perutku.” desis deandra.

__ADS_1


“Sayang papa….kalian sedang apa? Jangan nakal ya didalam.” ucap verrel sambil menciumi perut buncit istrinya. Dia harus melakukannya dengan tepat dan perlahan agar tidak menyakiti anak dalam kandungan Deandra.


Dengan gerakan perlahan Verrel mulai bergerak, mulai bergerak teratur namun perlahan, lalu gerakan mulai berubah lebih cepat. Seluruh ruangan itu dipenuhi suara-suara dari sepasang suami istri yang melampiaskan semua kerinduan dan kasih sayang yang terabaikan selama beberapa hari.


Satu setengah jam sudah berlalu, namun Verrel belum terpuaskan. Keringat bercucuran membasahi tubuh kekarnya membuat tubuh itu terlihat semakin menawan, Verrel tersenyum puas.


Verrel paling tahu bagaimana menyenangkan istri tercintanya. Sensasi berbeda dirasakan Verrel dari istrinya yang sedang hamil tujuh bulan. Keduanya saling menatap penuh kasih sayang.


“Sayang, apa kau lelah?” tanya Verrel.


“Hemm…..” jawab Deandra dengan suara mendesah. Mendengar jawaban istrinya,membuat Verrel tersenyum nakal. Biasanya Verrel akan melakukannya sampai menjelang pagi tapi karena istrinya sedang hamil maka dia harus menahan diri. “Masih mau lagi?”


“Ah….aku...” Deandra malu menjawab pertanyaan Verrel. “Verrel apa-apaan sih?”


“Ha ha ha ha….istriku semakin menggemaskan.”


"Sudahlah. Aku bantu membersihkan diri. Lalu istirahat, kau harus menjaga kesehatanmu."


Setelah terbangun Naomi tidak bisa tidur lagi dan tangan mungilnya selalu menunjuk kearah pintu kamar. Sang pengasuh pun berpikir untuk membawa Naomi keluar kamar untuk menenangkannya. Setelah berada diluar kamar Naomi menunjuk kearah kamar orangtuanya.


Karena sudah larut malam, si pengasuh merasa segan untuk mengetuk pintu kamar majikannya. Tapi Naomi terus menangis sambil menunjuk-nunjuk kamar Verrel. Sang pengasuh pun berjalan sambil menggendong Naomi, namun saat tiba didepan kamar utama dia mendengar suara-suara dari dalam kamar yang pintunya tidak tertutup rapat.


Si pengasuh pun kebingungan dan membawa Naomi ke ruang keluarga lalu memberikan susu. Sehabis meminum susu bukannya diam, Naomi malah kembali menangis dan menunjuk ke kamar orangtuanya. ‘Waduh bagaimana ini? Tidak mungkin aku membangunkan nyonya jam segini! Gumamnya. Semua orang sudah tidur dan hanta dia yang berada dikoridor menggendong Naomi.


Yuna yang terbangun karena haus dan menuju dapur untuk mengambil air minum, mendengar suara tangis Naomi.


“Kenapa Naomi menangis?” tanya Yuna.


“Tadi dia terbangun lalu menangis. Saya sudah berikan susu tapi dia masih menangis lagi.” jawab pengasuh itu pada Yuna.

__ADS_1


Yuna pun mengambil Naomi dari gendongan pengasuhnya, dia berusaha menenangkan Naomi. Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul dua pagi.


“Bu Yuna….sepertinya Naomi ingin bersama mamanya. Dari tadi dia menunjuk-nunjuk kearah kamar Tuan Besar.” kata pengasuh itu.


“Ini jam dua pagi, Tuan dan Nyonya sedang beristirahat jangan diganggu. Kamu harus bisa menidurkan kembali Naomi.”


“Mungkin dia lapar, biar saya ambilkan cemilan didapur.”


“Cepat ambil.” perintah Yuna. Dia bersenandung pelan untuk menenangkan Naomi yang perlahan berhenti menangis. Yuna melirik kearah kamar majikannya, bukan dia tidak tahu apayang sedang terjadi didalam kamar itu.


Tadi setelah melihat Verrel dan Deandra keluar dari ruang kerja, dia bergegas membereskan ruang kerja Verrel. Setelah dia selesai dan keluar dari ruang kerja, Yuna melewati kamar utama dan mendengar suara ******* dari dalam kamar itu. Sekian tahun dia sudah mengabdi dirumah itu, Yuna yang paling tahu bagaimana Verrel.


Senyum tersungging dibibir Yuna, mengingat masa lalu Verrel dan kehidupannya sekarang yang sudah banyak berubah. Hanya Deandra seorang yang mampu merubah pria kejam itu.


******


Keesokan paginya, saat Deandra terbangun dan mendapati suaminya sudah tak ada. Dengan malas dia melirik ke jam dan matanya membelalak. "Jam sebelas? Ya ampun kenapa tidak ada yang membangunkanku?"


Dia pun beranjak ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah berganti pakaian dan merias diri, Deandra keluar dari kamarnya. Samar-samar dia mendengar suara tawa anak-anaknya dari halaman samping. Saat hendak berjalan keluar rumah, perutnya berbunyi kelaparan. Deandra pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


Deandra berjalan ke ruang makan, melihat Yuna yang tersenyum padanya. "Silahkan nyonya. Makanannya sudah disiapkan."


"Bibi Yuna kenapa tidak ada yang membangunkanku?"


"Maaf nyonya tadi Tuan berpesan sebelum pergi ke kantor agar tidak ada yang menganggu nyonya."


"Apakah anak-anak berada diluar?"


"Iya nyonya. Ada Lily dan pengasuhnya juga disana. Anak-anak sedang bermain diluar."

__ADS_1


"Hem...." Deandra melanjutkan makannya.


__ADS_2