TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 44. SYARAT DARI VERREL


__ADS_3

“Sayang,” bisik deandra lembut menggoda sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Verrel. Keduanya sudah berada diatas ranjang.


“Kau semakin cantik dan menggoda, sayang,” bisik Verrel dan menggelitik telinga gadis itu.


"Apakah kau menyukainya, sayang?" tanya Deandra dengan suara lembut dan manja dan menyandarkan kepalanya didada bidang pria itu. Sikap gadis itu membuat Verrel kehilangan akal sehatnya. Pria mana yang akan menolak rayuan dari seorang gadis cantik dan menggoda, pasti tidak ada pria yang menolak.


Bisikan-bisikan sensual deandra membuat Verrel semakin aktif bergerak melepaskan semua penghalang yang melekat ditubuh mereka. 'Ini gila, ini sungguh gila. Kenapa gadis ini semakin menarik?


Kewarasan keduanya dipertaruhkan, mereka saling membalas semua sentuhan dan gerakan, terbawa suasana diruangan yang dihias dengan dekorasi romantis, keduanya tenggelam dalam aktifitas panas yang disambut Deandra tanpa bantahan. Wangi dari lilin aromatherapy semakin menghanyutkan keduanya.


Bahagia, itu yang dirasakan oleh Verrel, biasanya dia yang memaksa gadis itu, tapi malam ini deandra yang merayu dan menggodanya.  Sesuatu yang diharapkan oleh pria kejam itu selama ini yaitu kerelaan deandra. Dia semakin terpesona oleh gadis itu, malam ini deandra sangat cantik dan manis, dia tak mampu menolak godaan gadis itu. 


Dengan kesadaran penuh, malam ini kembali Verrel mengikrarkan dalam hatinya jika Deandra hanya akan menjadi miliknya.  Karena itu dia mempercepat pernikahannya untuk mengikat Deandra disisinya.


Konyol memang, seorang penguasa ranjang yang suka gonta ganti wanita setiap malamnya, kini luluh oleh pesona seorang wanita. Bahkan ia tak peduli jika ada yang mengejeknya, sudah berapa kali ia meninggalkan pekerjaan demi deandra, hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.


“Aaaahhh….Vee..rrrrr....eellll,” ******* panjang Deandra saat mencapai pelepasan bersamaan, ia mengalunkan nama pria pertama yang menyentuhnya, sekaligus pria pertama yang mengajarinya banyak hal. Deandra mengerang dan memeluk tubuh Verrel erat, menyungingkan senyum diwajah tampan itu yang menatap gadis itu penuh kelembutan.


“Sayang,” ucap Verrel sambil mengusap keringat di wajah deandra dengan tangannya. Melihat senyum manis dibibir gadis itu, senyum yang selalu menngetarkan hati pria itu.  Deandra terlihat berbeda malam ini, dan Verrel pun melihat itu.


"Hmmmm....iya sayang." sahut deandra. Tangannya masih memeluk Verrel. Malam ini ia ingin semua rencananya berjalan mulus. Ada tanggung jawab yang harus dipikulnya, keselamatan para pelayan.


Namun Deandra mengingat satu hal, dan ia ingin memastikan itu yaitu kebebasan pelayan dan kekuasaan sepenuhnya dirumah itu.


“Verrel, sayang,” ujarnya dengan suara lembut dan manja. Tangannya mengelus-elus wajah pria itu yang ditumbuhi bulu halus di bagian rahang.


“Hmmm...kenapa.” Verrel bergumam tanpa menghentikan aktifitasnya, ia terhipnotis oleh aroma segar tubuh deandra dari parfum yang dipakainya.

__ADS_1


“Aku lapar sekali,” kata Deandra dengan singkat.


Mendengar itu ia menghentikan gerakannya dan menatap deandra.


“Kau lapar, sayang?” tanya Verrel dengan suara beratnya. Deandra hanya mengangguk, sebenarnya dia belum lapar tapi hanya ingin menghentikan aktifitas panas mereka, tiba-tiba perutnya serasa mual.


“Ya, aku lapar, perutku juga serasa kembung." katanya memegang perutnya.


“Baiklah, kita makan dulu,” seringai nakal di wajah laki-laki itu yang sudah dimengerti oleh deandra. Deandra memalingkan muka karena ia tak tahan ditatap oleh Verrel, mata hitam kelam itu selalu membuat tubuh deandra memanas dan hatinya tidak karuan.


Verrel menuntun deandra turun dari ranjang dan membantunya mengenakan pakaiannya.  Menggenggam tangan gadis itu menuju meja dimana makanan sudah terhidang. Lagi-lagi dia dibuat kagum oleh tatanan meja yang indah, ini pertama kalinya deandra mempersiapkan makan malam romantis untuknya.


 "Kau sangat manis, sayang." kata Verrel.


Deandra meletakkan makanan di piring Verrel, dia melayaninya selayaknya seorang istri.  Pria itu hanya menatapnya tak berkedip, seakan tak percaya atas semua yang terjadi malam ini. Senyum yang selalu menghiasi wajah deandra, tak seperti biasanya. Verrel makan dengan lahap, mungkin pelayanan deandra membuat nafsu makannya baik. Sementara Deandra justru melamun memandang makanan di piringnya.


Deandra meminum air putih digelasnya dan meneguknya beberapa kali, “Aku tau,” jawabnya dengan cepat.


“Lalu kenapa kau melamun?” Verrel yang sudah selesai makan, menyilangkan sendok dan garpu diatas piring yang sudah kosong. “Kenapa kau selalu melakukan itu?”


Gadis itu menatap Verrel dengan instens namun tak ada yang ia ucapkan, ia hanya memandangi wajah tampan didepannya.  Kemudian dia menghela napas panjang dan Verrel hanya mengamati setiap gerak geriknya.


“Apakah benar kau akan menikahiku?” tanya Deandra tiba-tiba. Verrel terlihat bingung apa maksud pertanyaan deandra yang tiba-tiba, padahal dia sudah mengatakan soal pernikahan padanya.


“Kenapa kau tanyakan itu? Bukankah kau sudah tahu?” Verrel menaikkan satu alisnya dan menatap tajam deandra. Tatapan itu membuat deandra gemetar, namun dia harus memberanikan diri untuk melakukan sesuatu.  Deandra berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Verrel dan meletakkan tangannya memeluk bahu pria itu dan menjatuhkan kepalanya dibahu kekar itu


Tingkah gadis itu membuat tubuh Verrel bereaksi. “Aku hanya ingin memastikan, sayang,” ucap deandra mendaratkan kecupan dipipi kiri Verrel.

__ADS_1


“Hanya itu?”


“I-iya,” jawabnya singkat.


“Kemarilah,” ujar Verrel menepuk pahanya dan menarik deandra untuk duduk dipaha Verrel.  Tanpa ragu deandra menuruti perintah pria itu.


“Jujur padaku. Apa yang mengganggu pikiranmu,Nyonya Verrel?” ucap Verrel menyibakkan rambut deandra lalu mengecup lehernya, menghirup aroma favoritnya. Deandra terlena, memejamkan matanya dan berusaha menahan untuk tidak mendesah.  Dia selalu tak bisa mengendalikan dirinya setiap kali disentuh oleh Verrel.


“Verrel, sayang.”


“Hmmm...katakanlah,” pria itu mengistirahatkan dagunya di bahu deandra.


“Apakah aku bisa mengubah sesuatu dirumah ini?”


“Memangnya apa yang mau kau ubah?”


“Aku ingin mengubah beberapa peraturan yang menurutku tidak masuk akal,” kata deandra dengan wajah memelas dan mengerucutkan bibirnya yang membuat Verrel tersenyum melihat ekspresi menggemaskan itu.


“Peraturan apa yang mau kau ubah?”


“I-itu soal menghukum pelayan,” deandra menarik napas, menunggu jawaban Verrel. Ia merasa usahanya tak mendapat respon dari Verrel. Dia putus asa, dia sudah berusaha merayu dan menggoda pria itu malam ini tapi sepertinya akan sia-sia.


“Nyonya Verrel….jika kau ingin kuasa untuk mengubah peraturan dirumah ini. Kau harus memberikan dirimu seutuhnya padaku,” ucap Verrel dengan nada tegas.


“Bukankah aku sudah memberikannya?” tanya deandra yang belum mengerti maksud Verrel.


“Belum. Kau harus menyerahkan hati, perasaan dan cintamu padaku.  Saat itulah kau akan kuberi kuasa sepenuhnya dirumah ini.” ujar Verrel mengutarakan syarat yang harus dipenuhi oleh Deandra.

__ADS_1


__ADS_2