
Seorang petugas keamanan mendekati gerombolan staf yang sedang bergosip lalu berkata, “Kalian sedang membicarakan apa? Jangan ada yang menggosip atau Tuan akan marah! Kalian dengar baik-baik ya, mulai detik ini jika wanita itu datang lagi kesini kalian harus mengusirnya atau panggil keamanan! Sekarang kalian bubar!”
Olivia yang diseret paksa sampai ke parkiran dan dimasukkan secara paksa kedalam mobilnya. Siska tak berani melawan dan meminta supir membawa mereka pergi dari sana. Olivia mengepalkan tangan penuh amarah. “Arggggg!!!!!! Sialan! Brengsek kau Verrel!”
“Aaaahhhhhh…..huuuua….huaa…….” Olivia memaki sambil mengacak-acak rambutnya dan menangis histeris. Belum pernah dia diperlakukan sehina dan serendah ini. Siska berusaha menenangkannya.
“Olivia! Tenangkan dirimu! Kau membuatku dan supir itu takut!”
“DIAM! Kau tidak tahu sakitnya atas perlakuan Verrel padaku!” isak Olivia yang merasa sakit hati setelah dia merasa menghabiskan sepanjang malam bersama Verrel.
“Aku tidak akan diam melihatmu bertingkah seperti ini! Aku ini bukan hanya asistenmu tapi juga temanmu! Papamu yang memintaku untuk membantumu selama disini.”
“Kalau kau tak suka dengan sikapku kau boleh pergi!” balas Olivia marah.
“Arrgggg! Kau ini keras kepala!” ujar Siska yang mulai kesal. “Aku mau pergi tapi papamu yang tidak akan menginginkanku pergi! Kau tahu itu?”
“Antar saya balik ke hotel!” ujar Olivia pada supir.
“Apa-apaan kau ini mau balik kehotel setelah apa yang terjadi?” tanya Siska heran.
Sementara itu diruang kantor Verrel, dia masih sangat marah lalu memanggil Frans keruangannya. “Ya Tuan ada apa?” tanya Frans.
“Batalkan semua kerjasama kita dengan Will Corp! Aku tidak mau berurusan dengan mereka lagi mulai detik ini juga!”
“Tapi, Tuan. Kita akan mengalami kerugian besar dengan pembatalan kerjasama karena harus membayar biaya pinalti yang besar!”
“Aku tidak peduli! Aku tidak mau lagi berurusan dengan mereka! Dan mulai sekarang, jika ada perusahaan yang mewakilkan urusan bisnisnya pada staf wanita jangan diterima! Aku tidak mau dibuat pusing dengan urusan perempuan!”
“Ehmm….itu soal ucapan Olivia tadi, apa yang harus dilakukan jika dia menyebar berita itu?”
__ADS_1
“Kau tahu apa yang harus dilakukan! Toh kau tahu dimana aku berada tadi malam hingga pagi ini. Kalau dia menyebar fitnah itu ke media, biarkan saja! Aku akan lihat sejauh mana perempuan gila itu berani bertindak.”
“Sebaiknya jangan membuang waktu Tuan dengan masalah ini. Tuntaskan sekarang sebelum wanita itu membuat masalah tambah runyam.”
“Frans! Apa kau pikir William Lee akan diam saja? Kau tahu pria itu dengan baik, bukan? Apalagi kalau putri kesayangannya itu mengatakan hal seperti tadi padanya. Kau tahu dulu berapa kali dia menjodohkan putrinya denganku? Apa kau lupa berapa banyak usaha yang dia lakukan agar aku mau menikahi Olivia? Membatalkan kerjasama dan aku tidak mau mengeluarkan satu senpun untuk pinalti, itu adalah pilihan tepat untuk mengatasi masalah ini.”
“Baik, Tuan. Jika itu keputusanmu, akan aku lakukan sekarang.”
“Hem….aku tidak mau masalah ini berpengaruh pada keluargaku.”
“Saya mengerti. Saya pamit dulu untuk membereskan pembatalan kerjasama dengan Will Corp.”
“Lakukan dengan cepat dan kau tahu menjelaskannya pada Tuan William Lee tentang masalah ini jika dia menuntut penjelasan.”
Tebakan Verrel ternyata benar, tak lama setelah pembatalan kontrak kerjasama pihak Will Corp berulang kali menghubungi Verrel tapi dia enggan bicara dengan mereka. Sesuai perintah Verrel maka Frans meminta pihak perusahaan itu untuk menghubungi pengacara Ceyhan Corp untuk segala tuntutan atas pembatalan kerjasama.William Lee yang tak terima pun menghubungi Olivia tapi wanita itu enggan menjawab telepon papanya.
Sementara itu di depan hotel.
Brakk!!!
Dia membanting pintu dibelakangnya setelah mereka masuk kedalam kamar.
“Omg! Berantakan sekali kamar ini?” pekik Siska kaget melihat kondisi kamar yang seperti barang pecah.
“Kau lihat itu?” teriak Olivia langsung membuka pakaiannya. Siska yang belum hilang rasa terkejutnya kembali kaget melihat penampakan tubuh Olivia yang berdiri didepannya hanya memakai pakaian dalam saja.
“Ka---kau! Kenapa tubuhmu seperti itu? Apa yang terjadi?” suara Siska gemetaran. Dia melihat luka bekas cambukan dipunggung Olivia dan lembam biru disekujur tubuhnya. Apa yang terjadi?
“Ini hasil percintaanku bersama Verrel semalam. Kau masih tidak percaya, hu? Bagaimana mungkin aku melukai punggungku sendiri?” ucap Olivia.
__ADS_1
“Apa kau masih tidak percaya padaku? Bukankah begini cara Verrel bercinta dengan wanita-wanita bayarannya selama ini? Kasar dan kejam? Harus bagaimana lagi aku menjelaskan padamu kalau pria yang bercinta denganku tadi malam adalah Verrel!”
“Tapi kau lihat sendiri berita kemarin? Itu disiarkan live secara langsung! Mustahil kalau dia berada didua tempat pada waktu bersamaan! Tunggu----tunggu----coba kau ceritakan semuanya dari awal.” ujar Siska yang tiba-tiba teringat sesuatu. “Apa kau mabuk tadi malam?”
“Aku hanya minum tiga gelas Mimosa dan beberapa gin dan tonic.” jawab Olivia.
“Kau sadar betapa buruknya kau setiap kali mabuk? Apa kau memakai pengaman tadi malam?”
“Kurasa tidak. Aku masih bisa merasakan beberapa kali dia mengeluarkan didalam.” ujar Olivia tersenyum, “Bukankah itu bagus? Kalau sampai aku hamil anaknya Verrel?”
Siska yang tak habis pikir dengan pikiran gila Olivia pun hanya bisa menggelengkan kepala.
“Kau benar-benar gila! Apa belum cukup apa yang tadi terjadi?”
Drettt….dreetttttt….ponsel siska berbunyi beberapa kali.
“Shit! Papamu menelepon.” ucap Siska lalu berjalan kearah jendela menjawab telepon.
“Halo, Tuan William.”
“Dimana Olivia? Kenapa dia tidak menjawab teleponku dari tadi?” ujar William Lee penuh amarah.
“Ehm….itu---dia sedang istirahat, kurang enak badan.” jawab Siska.
“Apa kau tahu baru saja Verrel membatalkan semua kerjasama dengan perusahaanku? Ulah apa yang telah dibuat Olivia? Mana anak bodoh itu?”
“Papa! Jangan panggil aku anak bodoh! Sebentar lagi papa pasti akan memujiku karena kepintaranku!” ujar Olivia yang sudah mengambil telepon dari tangan Siska.
“Diam! Kau sudah membuatku mengalami kerugian! Bukan ini yang kuminta kau lakukan!”
__ADS_1
“Papa, dengar dulu penjelasanku. Aku berhasil menghabiskan malam bersama Verrel tadi malam. Mungkin dia merasa malu makanya marah atas kesalahan yang dia buat padaku semalam. Dan, kalau sampai aku hamil anaknya bukankah itu jauh lebih baik?”