
Kedua pelayan itu membantu Deandra membersihkan diri, memakaikan baju dan merias wajahnya. Alya menyisir rambutnya dan membubuhkan riasan di wajahnya yang pucat. Alya membubuhkan concealer di leher Deandra untuk menutupi bekas merah yang memenuhi leher mulus itu.
Deandra menatap wajahnya di cermin dan berpikir sejenak, ‘Dea, kini kau bebas melakukan apapun dirumah ini. Bersikaplah seperti seorang Nyonya Besar bukan lagi deandra yang tidak memiliki apapun.’
Hanyut dalam lamunan, dia tak mendengar pelayannya memanggil hingga tangan pelayan itu menyentuh bahunya dan menyadarkannya. “I-iya, ada apa Alya?”
“Apakah Nyonya baik-baik saja? Jika nyonya merasa kurang enak badan biar saya bawakan makanan kesini,” ucap Alya. Deandra menggelengkan kepala, “Tidak perlu. Antarkan aku ke ruang makan, aku sudah lapar.”
Tami dan Alya menuntun majikannya turun keruang makan. Berbagai hidangan sudah tersusun diatas meja, namun deandra tidak selera melihatnya. Tiba-tiba dia merasa perutnya keram dan sakit. Dia memegangi perutnya dan menahan rasa sakit, wajahnya memucat.
“Nyonya….nyonya. Kenapa?” tanya Yuna yang melihat Deandra pucat seperti kesakitan.
“Perutku sakit sekali Bibi Yuna,” sahut gadis itu.
“Ayo bantu bawa nyonya ke kamar, biar aku panggilkan dokter.” perintah Yuna pada pelayan yang berdiri ketakutan. Para pelayan panik melihat majikannya kesakitan sambil memegang perutnya.
“Halo dokter.”
“Iya, Yuna apa ada yang sakit?” tanya dokter romeo.
“Nyonya Besar, dok.”
Romeo pun bingung mendengar ‘nyonya besar’ Siapa lagi ini, pikirnya. Tempo hari ada Nona Muda Deandra, nah sekarang ada Nyonya Besar.
“Nyonya besar siapa maksudnya?”
“I-itu Nyonya Deandra, Dok. Perutnya sakit...ya dia sangat kesakitan” jawab Yuna.
“Baiklah.Aku datang sekarang.” kata romeo, masih bingung mendengar yuna menyebut nyonya deandra. Romeo memang belum mengetahui soal status deandra dirumah itu dan rencana pernikahan Verrel dan Deandra.
...*...
“Kenapa perutmu?” tanya romeo yang sedang memeriksa deandra. Dokter Romeo memeriksa tekanan darah.
“Aku tidak tahu, tiba-tiba sakit seperti keram.”
“Maaf, boleh aku bertanya?”
“Iya, dok.”
“Kapan terakhir kali kamu datang bulan?”
Deandra baru tersadar tentang itu, memang sudah telat namun dia tidak khawatir karena kadang memang tamu bulanannya tidak teratur. Dia pun memberitahukan dokter romeo tentang itu.
__ADS_1
“Yuna. Bisa tolong belikan test pack?”
“Baiklah, dok.” wajah Yuna pun berseri saat mendengar ucapan romeo. Apa nyonya besar hamil? Kalau benar, ini kabar gembira dan tuan besar pasti senang. Yuna memerintahkan seorang pelayan untuk membeli test pack.
Tak lama berselang, Tami datang membawakan test pack dan memberikan pada deandra. Kedua pelayannya membantu Deandra ke kamar mandi. Karena deandra masih merasa lemas, Tami langsung membawa deandra kembali ke kamar dan membaringkannya. Setelah beberapa saat Alya menyerahkan benda kecil itu pada romeo.
“Selamat ya. Kamu hamil,” ucap romeo dengan wajah berbinar. Wah, tuan besar pasti senang pikirnya.
“Apa dokter? Aku hamil?” tanya deandra tak percaya.
“Iya, saya sarankan besok kamu kerumah sakit untuk periksa, ya.” kata romeo. “Untuk sementara kamu harus bedrest, jangan banyak bergerak. Ini saya berikan resep obat dan vitamin.” kata dokter Romeo memberikan secarik kertas pada kepala pelayan Yuna.
"Yuna, tolong jaga dia baik-baik dan pastikan jangan banyak bergerak."
"Baik, dokter." jawab Yuna dan menyuruh pelayan mengantarkan dokter romeo keluar.
"Nyonya, selamat ya. Tuan Besar pasti senang sekali mendengar berita ini," kata Yuna menggenggam tangan Deandra yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Kedua pelayannya pun mengucapkan selamat pada majikannya dengan wajah berbinar bahagia.
"Terimakasih, ya." bahagia dirasakan deandra karena sebentar lagi dia akan jadi istri dan ibu. Dia sungguh tak menyangka dua hal indah dia rasakan dalam minggu ini. Kabar kehamilan dan pernikahannya.
...*...
“Halo, ada apa Yuna."
“Kabar gembira? Maksudnya?” tanya Verrel.
“Nyonya Besar hamil, tuan.”
“Apa? Hamil? Kamu yakin Yuna?”
“Iya, Tuan. Dokter Romeo sudah memeriksanya.” lalu Yuna menjelaskan apa yang terjadi dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Romeo.
“Baiklah. Aku pulang sekarang!"
Akhirnya kau tidak akan bisa pergi lagi, selamanya kau akan bersamaku, gumamnya.
“Frans!” teriaknya membuat sang asisten terkejut. “Ya, Tuan. Saya disini.” jawab Frans.
“Aku mau pulang.”
“Tapi kita ada meeting sejam lagi, tuan.” kata Frans, ada apa lagi tuan besar tiba-tiba mau pulang? Tapi dia tidak berani bertanya.
“Kau urus semua. Aku harus pulang sekarang."
__ADS_1
"Apa ada masalah, Tuan?"
"Sebentar lagi aku jadi ayah.” jawabnya singkat.
“Apa? Maksudnya, tuan?”
“Ya, Yuna menghubungiku katanya gadis itu hamil.”
“What?...selamat tuan,” ucap Frans yang ikut gembira mendengar kabar itu.
"Jangan sampai ada yang tahu kabar ini,"
"Baik, Tuan."
Dengan langkah cepat Verrel pergi meninggalkan kantornya, sementara Frans masih terpaku setelah mendengar kabar itu. Verrel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai dirumah.
Tanpa sadar ia menghentikan mobilnya didepan sebuah toko bunga dan membeli satu buket bunga mawar untuk deandra. Kegembiraan terpancar dari wajahnya, sesuatu yang diharapkannya pun akhirnya terwujud. Kabar gembira yang diterima sebelum hari pernikahan.
'Akhirnya aku memilikimu seutuhnya. Semoga kehamilan ini bisa membuatmu mencintaiku dan memberikan hatimu padaku, monolog Verrel dalam hatinya.
...*...
Sementara dikediaman Amran, istrinya yang masih kesal pada Deandra terus mendesak suaminya untuk memberi pelajaran pada gadis itu.
"Pa, apa kamu sudah bicara dengan Verrel?" tanya Andini pada Amran suaminya.
"Belum, ma. Papa sudah coba hubungi anak sialan itu tapi dia tidak menjawab teleponku," jawab Amran.
"Kenapa papa tidak datangi saja ke kantornya? Dia kan selalu ada disana," Andini memaksa terus agar suaminya menuruti kemauannya.
"Tidak bisa begitu, ma. Kamu kan tahu kalau aku hanya bisa masuk ke kantor itu kalau ada undangan rapat dewan direksi dari Verrel." kata Amran menjelaskan.
Sejak perseteruan Ayah dan anak itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, Verrel memang melarang ayahnya datang ke kantor, bahkan petugas keamanan di gedung kantornya pun sudah diperintahkan untuk tidak mengijinkan Amran Ceyhan memasuki gedung itu tanpa ada persetujuan dari Verrel selaku ahli waris keluarga Ceyhan.
"Huh, kenapa sih anak itu yang menguasai semuanya. Pantas saja calon istrinya bersikap seperti itu padaku," ujar Andini marah dan memasang muka cemberut.
"Atau, datangi saja Verrel ke kantornya Pa. Tidak perlu masuk kedalam. Papa tunggu saja dia keluar dari gedung itu."
"Ma, tidak bisa begitu. Yang ada nanti Verrel marah dan kita semua akan merasakan akibatnya. Harus kita pikirkan cara yang tepat."
Amran memijit pelipisnya, berpikir bagaimana caranya dia bisa memberi pelajaran pada Deandra yang sudah menyakiti istrinya. Itu menurut versi cerita sang istri.
...*...
__ADS_1