TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 21. SURAT PERJANJIAN


__ADS_3

Diruang kerja Direktur Utama, terlihat meja kerja dipenuhi tumpukan dokumen, semua sudah selesai sejak dua jam lalu. Semua dokumen itu bahan rapat yang akan diadakan beberapa hari lagi. Verrel adalah seorang yang sangat disiplin. Meskipun pekerjaannya sudah selesai, dia tak keluar dari kantor seenaknya. Itu sebabnya semua karyawan segan dan meniru sikapnya.Tak ada alasan pulang cepat kecuali emergency/darurat.


Untuk bekerja di perusahaan milik Verrel, melalui seleksi ketat. Semua yang bekerja di perusahaannya menjadi incaran perusahaan lain. Bekerja di Ceyhan Corp, berarti prestice, gaji besar beserta fasilitas penunjang lainnya yang tidak bisa didapat dari tempat lain. Jika sudah bekerja di perusahaan itu, semua orang akan bertahan, meskipun sang CEO terkenal kejam dan tegas. Selama beberapa tahun tak ada satupun karyawan yang keluar, semua menjaga kepercayaan perusahaan.


Saat sedang fokus dengan ponselnya, Frans masuk. Tak sedikitpun Verrel mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel, melihat sesuatu yang menarik.


“Tuan, saya sudah membawa gadis itu kerumah, tapi dia dalam keadaan pingsan.” ucap Frans.


“Apa?”


“Sepertinya gadis itu dicekoki obat penenang, tuan. Saya dengar dari orang kita dilapangan kalau Surya sudah menawarkan gadis itu pada pengusaha kaya,” ucap sang asisten yang langsung membuat sang tuan besar marah.


“Kurang ajar! Untung kita cepat bertindak!” rahangnya mengeras, marah itu yang dirasakannya.


“Pada siapa Surya sudah menawarkan gadis itu?” tanya nya dengan suara dingin.


“Tuan Heru dan Tuan Broto. Kabarnya Surya sudah menerima uang dari mereka.”


“Errr….tua bangka itu! Cari tahu tentang kedua orang itu, hancurkan mereka! Perintahkan Jack dan anak buahnya untuk terus mengawasi Surya dan istrinya!” kata Verrel dengan nada suara penuh kemarahan dan tatapan tajam.


“Baik, tuan.”


“Apa kau sudah menuliskan semua yang kuminta?” tanya Verrel masih dengan tatapan tajam. Frans mengangguk dan menyerahkan Ipadnya, disana ada perjanjian yang sudah ditanda tangani.


“Setelah Tuan Surya menandatangani, saya telah mengubah beberapa klausal diperjanjian itu dan juga menambahkan permintaan anda,” senyum licik dan senang di wajah Frans.


“Dan juga, disurat perjanjian itu, saya tambahkan bahwa anda adalah pemilik sah gadis itu terhitung dari hari ini,” imbuhnya.

__ADS_1


“Bagus. Semua berjalan dengan baik,” puji Verrel dengan seringai aneh yang sulit dimengerti. Jemari Verrel mengulir, membaca setiap kalimat yang ada di perjanjian itu. Senyum tersungging di bibirnya, dia sangat puas kini gadis itu miliknya. Selama gadis itu berada dalam kekuasaannya, hidup gadis itu aman. Itulah yang dipikirkan oleh Verrel.


Frans yang sudah bekerja pada Verrel bertahun-tahun, merasa aneh dengan semua kejadian ini. Biasanya seorang Verrel merasa puas setelah menumbangkan pesaing bisnisnya, tapi kali ini Verrel sangat puas hanya karena seorang wanita, entah apa istimewanya gadis itu bagi Verrel.


“Apa ada hal lain, tuan?” tanya Frans pada Verrel yang masih menekuri Ipad di tangannya.


“Jika tidak, saya dan Ferry akan meninjau perkembangan proyek dan produk baru yang akan diluncurkan minggu depan.”


Verrel tak menyahut dan masih menatap layar Ipad sehingga Frans tak berani meninggalkan ruang itu.


“Lakukan sesuatu untukku. Tolong selidiki semua tentang gadis itu. Apa yang terjadi dengannya beberapa tahun belakangan, cari tahu semua tentang kehidupan pribadinya. Siapa pacaranya, ya cari tahu semua tentang orang yang dekat dengannya!” perintah Verrel.


Frans terkejut, menatap heran kearah Verrel namun ia segera menetralkan mimik wajahnya. “Baik, tuan.” kemudian Frans berjalan keluar dari ruangan direktur dengan pikiran kacau memikirkan tingkah aneh Verrel. ‘Buat apa Tuan Verrel ingin tahu tentang kehidupan pribadi gadis itu? Huh....ada-ada saja.


Selepas kepergian asistennya, Verrel kembali memandangi surat perjanjian itu. ‘Surya….Surya. Bodoh sekali kau! Hanya demi uang kau langsung tanda tangani surat perjanjian ini. Kau tak tahu kalau isi surat perjanjian sudah diubah setelah kau tanda tangani. Seringai menakutkan terpanjar dari wajah tampan pria itu. Entah apa yang direncanakannya, entah permainan apa yang sedang dia mainkan.


“Kalian boleh pulang. Lanjutkan pekerjaan esok!” perintahnya pada kedua sekretarisnya. Sesampainya di pintu masuk rumah, pria itu disambut para pelayan bak seorang raja agung. “Selamat malam, Tuan,” sambut Yuna dengan wajah datar. “Apa Tuan mau langsung makan malam atau….?


“Dimana gadis itu?”


“Gadis?” Yuna melupakan sesuatu, karena kesibukan di mansion hari ini membuatnya lupa ada seorang gadis dirumah itu, sang gadis milik Tuan Besar. “Dia ada di kamar, Tuan.”


“Dia masih pingsan?” tanya Verrel.


“Iya, Tuan. Saya sudah memeriksanya beberapa menit yang lalu, dia masih belum saadar.”


“Ya sudah, aku akan ke kamarnya.”

__ADS_1


Melangkah ke lantai dua, berhenti tepat didepan pintu kamar yang berada disamping kamar pribadinya. Entah apa yang merasukinya hingga memberikan semua fasilitas terbaik pada gadis itu, hanya seorang gadis yang akan menjadi selimut malamnya. Ia mendorong pintu, berjalan masuk menghampiri ranjang ditengah ruangan itu.


Rahangnya mengeras saat melihat keadaan gadis yang terbaring pingsan. Ia duduk dipinggir ranjang dan mengamati wajah gadis itu.  “Apakah dia mengalami pelecehan setelah pulang dari hotel hari itu?” gumam Verrel dalam hati.


"Aku sempat menamparnya, tapi kenapa keadaannya menggenaskan begini?” Ia meneliti tubuh gadis itu, menyingkap ujung dress dan melihat luka lebam dikedua kaki itu, keningnya mengeryit melihat begitu banyak luka ditubuh gadis malang itu.


Keluar dari kamar mencari Yuna. “Dimana Yuna? Tanya Verrel pada seorang pelayan yang sedang membersihkan lantai diluar kamar. “Yuna sedang didapur, Tuan.”


“Suruh dia kesini sekarang.”


Ba—baik, Tuan.”


Seraya menunggu kepala pelayan datang ia masuk kekamarnya dan melepaskan jas membuangnya ke lantai. Duduk diatas ranjang menyandarkan tubuhnya diujung ranjang. Memejamkan mata, ia merasa sangat lelah. Wangi bunga khas aroma Deandra menganggu indra penciumannya. ‘Kenapa aroma tubuh wanita itu ada disini? Sedangkan wanita itu berada dikamar sebelah. Gejolak hasrat memuncak, bagaimana bisa begini? Hanya mencium aroma tubuh wanita itu ia sudah seperti ini.


Ketukan dipintu dan suara pintu kamar dibuka. “Tuan memanggil saya?” Mendengar suara Yuna membuat Verrel membuka matanya.  “Maaf, saya mengangetkan Tuan.”


“Tidak apa. Aku memang menunggumu.”


“Apakah ada yang tuan butuhkan? Ada apa tuan memanggil saya?”


“Bagaimana keadaan wanita itu?


“Saya sudah membersihkan semua lukanya, mengompres dengan air dingin karena badannya demam. Sepertinya akan butuh waktu lama untuk memulihkannya, Tuan. Tubuh wanita itu sangat lemah dan banyak luka lebam.” kata Yuna menjelaskan.


“Apakah menurutmu dia….,” Ucapan Verrel terpotong karena pintu kamar yang diketuk beruntun. “Ada apa Alya? Kenapa kamu mengetuk pintu seperti itu? Sangat tidak sopan.” kata Yuna dengan tatapan memperingatkan.


“A-a-anu Bu Yuna. Nona itu menggigau, badannya menggigil dan ia meraung-raung kesakitan,” lapor Alya dengan raut wajah yang sangat cemas.

__ADS_1


Mendengar itu Verrel langsung menuju ke kamar di sebelah kamar tidurnya, mengabaikan kedua pelayan yang terkejut melihat reaksinya yang aneh.


__ADS_2