TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 214. SIAPA DALANGNYA?


__ADS_3

“Selamat malam Tuan, kami sudah sampai di kantor polisi.” Jack menghubungi Verrel setibanya dikantor polisi untuk melaporkan tangkapan mereka malam ini.


“Apa yang kalian temukan di gedung itu? Apa ada yang terluka?”


“Tidak ada korban, Tuan. Kami sudah menemukan semua barang didalam gedung dan saat ini anak buahku sedang mengintai tempat lain yang diduga gudang utama tempat mereka mengganti kemasan produk. Ternyata semua produk dari dua perusahaan milik Tuan ada di dua gudang itu. Jika Tuan bersedia, besok akan saya antarkan kesana.”


“Baiklah. Cari tahu siapa orang yang ada dibelakang semua ini.”


“Akan saya kerjakan, Tuan.”


...******...


“Sialan! Apa yang kalian kerjakan, ha? Kenapa semua jadi berantakan?” teriak seorang pria di telepon. Dia baru saja mendapat kabar dari anak buahnya tentang penyergapan di gudang.


“Ma-maaf Bos. Mereka menyerang tiba-tiba dan cepat, kami tidak sempat bertindak.”


“Alasan! Bodoh….kalian semua bodoh! Sia-sia aku membayar kalian!” teriak pria. Kedua pria itu tiba di luar gedung saat penyerangan terjadi dan berhasil melarikan diri. Mata pria itu tajam penuh amarah, rahangnya mengeras. “Dimana Beni?”


“I—itu bos. Beni tertangkap. Polisi membawanya.”


“Sial! Sial!” napasnya menderu menahan amarah. “Aku beri kalian kesempatan terakhir. Habisi Beni sebelum dia sempat buka mulut!”


“Hah? Bagaimana caranya bos, dia berada di tahanan.”


“Pakai otak kalian! Percuma aku bayar mahal. Aku tidak mau tahu, kalian bereskan Beni sekarang juga!”


“Ba—baik bos.”


“Arggg…..aku rugi besar! Kurang ajar…..arrgggggg!” pria itu membanting barang-barang yang ada dikamarnya. Prang! Prang! Kamar itu tampak seperti kapal pecah. Amukan si pria mengagetkan seorang wanita cantik yang berdiri didepan pintu kamar itu. Dahi sang wanita mengerut mencoba mencerna apa yang sudah terjadi hingga pria itu mengamuk. Perlahan sang wanita pergi dengan langkah cepat dan ketakutan meninggalkan apartemen mewah itu.

__ADS_1


...******...


“Siapa orang yang sudah membayarmu? Berapa yang kau terima?” tanya seorang polisi yang menginterogasi Beni.  Jack yang berdiri diruangan lain melihat dari balik kaca dua arah dan mendengarkan proses interogasi yang dilakukan polisi pada Beni. 


“Saya tidak mengenal siapa bos itu, pak. Saya hanya berurusan dengan orang suruhannya dan tidak pernah bertemu muka.” jawab Beni. Selama ini Beni hanya berhubungan melalui telepon.


“Apa kau tau nama dari orang menjadi penghubungmu?”


“Tidak tahu, pak. Saya hanya ingat biasanya kami memanggilnya Mr. R.”


Selama satu jam polisi menginterogasi Beni dan mendapatkan nomor kontak orang yang biasa menghubunginya, namun saat polisi mencoba menghubungi nomor tersebut sudah tidak aktif.


Jack yang paham situasi langsung memerintahkan anak buahnya yang bertugas di bagian IT untuk mencari tahu lokasi terakhir dari nomor telepon tersebut.  Jack meninggalkan kantor polisi dan kembali ke markas besar untuk menemui Verrel dan Arion yang sudah menunggunya.


Verrel dan Arion sedang duduk di ruang pribadinya dimarkas besar mereka saat Jack memasuki ruangan. “Tim IT sudah mendapatkan lokasi terakhir dari pemilik nomor telepon itu, Tuan.”


Ketiga pria itu berjalan beriringan menuju ke lantai dua dimana anak buah Jack yang bertugas dibagian IT sudah menunggu mereka sambil menyerahkan hasil temuan timnya pada Verrel.


Lokasi nomor telepon itu berada di luar negeri, berarti ada kemungkinan besar memang Beni berkata jujur bahwa dia tidak tahu orang yang membayarnya. Lalu mata Verrel memperhatikan lokasi dari sebuah nomor lain yang juga sering menghubungi nomor ponsel Beni. Berdasarkan temuan tim IT  nomor ponsel itu terakhir kali terlihat berada diluar kota Jakarta.


“Bawa beberapa orang untuk pergi ke lokasi ini! Sepertinya lokasinya berada dilingkungan padat penduduk.” ujar Verrel.


“Baik, Tuan! Perintah Tuan segera dilaksanakan,” jawab Jack lantas memerintahkan beberapa orang untuk menuju lokasi.  Sementara Arion tampak mendiskusikan beberapa hal dengan Verrel setelah kepergian anak buahnya.  Jack duduk dihadapan kedua pria itu lalu berkata “Tuan, pihak kepolisian sudah menyita semua barang yang ada digudang sebagai barang bukti.  Polisi juga meminta kehadiran Tuan besok pagi untuk melengkapi laporan dari Tuan.”


“Atur konferensi pers besok siang di aula perusahaan. Pastikan semua wartawan yang hadir harus melalui pemeriksaan ketat, jangan sampai ada penyusup masuk.” perintah Verrel pada Jack.


“Baik, Tuan.  Tim IT juga baru saja melaporkan pada saya jika mereka sudah menemukan lokasi dari nomor ponsel luar negeri itu. Apakah Tuan ingin bertemu langsung dengan tim IT?” tanya Jack setelah menjelaskan.


“Ya, suruh mereka langsung menghadap saya sekarang!”

__ADS_1


“Lalu apa rencanamu selanjutnya jika kita sudah tahu siapa orang yang berada dibelakang semua ini?” tanya Arion. “Apakah kita akan kejar orang itu langsung ke luar negeri?”


“Menurutmu?” Verrel mengusap wajahnya lalu menatap Arion dan berkata “Aku akan turun tangan langsung untuk menghancurkan orang itu.”


“Biarkan aku saja yang tangani, Verrel! Ingat, kau harus menjaga istri dan anakmu.”


“Bagaimana denganmu? Apa kau lupa kalau kau juga punya istri dan anak yang harus kau lindungi?” balas Verrel.


“Istrimu sedang hamil. Dia sangat membutuhkanmu setiap saat, biarkan aku dan beberapa orang kepercayaan kita yang akan pergi ke luar negri. Kau cukup memantau dari sini saja.” ucap Arion.


Verrel terdiam dan terlihat mengganggukan kepalanya pelan sambil berpikir.


“Benar juga katamu. Aku ijinkan kau dan beberapa orang terbaikku  untuk pergi keluar negri dan bawa orang itu ke hadapanku. Aku sendiri yang akan memberi perhitungan padanya!” geram Verrel, rahangnya mengeras.


Dua orang pria dari tim IT memasuki ruangan dan berdiri dihadapan Verrel dan Arion. “Tuan Besar.”


“Katakan apa yang kalian temukan.” perintah Verrel.


“Hasil lacakan dari lokasi GPS terakhir, alamat IP yang kami temukan dari melacak nomor ponsel itu berada di Singapura.  Tepatnya disalah satu gedung perusahaan.”


Verrel mengerutkan alisnya.  Kedua pria dari tim IT membuka laptop dan menunjukkan hasil penemuan mereka pada Verrel.  Ekspresi wajah Verrel sangat serius saat menatap detail alamat.  Melihat hasil laporan itu terdapat logo perusahaan SG, mata Verrel langsung menggelap.


“Apa kalian yakin jika ini berasal dari ponsel yang dipakai oleh salah seorang petinggi di perusahaan SG?” tanya Verrel.


“Berdasarkan hasil penelitian kami melacak bahwa nomor ponsel itu selalu berlokasi di lantai teratas gedung perusahaan SG.  Jadi kami menyimpulkan jika pemilik nomor ponsel itu pastinya seorang petinggi dari perusahaan itu, Tuan.” jawab Erhan seorang ahli IT dimarkas besar milik Verrel.  “Nomor ponsel tersebut selalu berada di gedung itu dan juga di sebuah gedung apartemen mewah di dekat kawasan Kowloon.”


Verrel menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil mencoba mengingat-ingat sesuatu.  Empat tahun lalu perusahaan SG pernah berkompetisi dengan perusahaan Ceyhan Group, saat itu SG ingin memasuki pasar bisnis dalam negeri tapi kemudian proyek itu direbut oleh Ceyhan Group.  Verrel ingat kejadian beberapa tahun lalu itu dan mengeryitkan alis dan memastikan bahwa masalah itulah yang menimbulkan dendam dari perusahaan SG dan baru sekarang mereka ingin mencoba membalaskan.


 

__ADS_1


__ADS_2