TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 276. PEMBALASAN DIMULAI


__ADS_3

Sesi memberikan pernyataan pun sudah selesai, kini masuk ke sesi tanya jawab. Para wartawan yang sejak tadi sudah tak sabar menunggu sesi inipun gencar melemparkan pertanyaan pada kedua pria itu. Para pemburu berita itu sangat bersemangat mendapatkan bahan untuk berita besar.


“Apakah perbuatan Olivia Lee itu karena ada unsur asmara? Mohon maaf Tuan Verrel, seperti semua orang tahu kalau anda adalah pria yang paling diincar oleh para wanita.”


Seorang wartawan punya cukup keberanian untuk menanyakan itu pada Verrel, tapi pria itu sepertinya merasa tidak tersinggun pada pertanyaan yang dilemparkan wartawan tersebut. Karena memang benar apa yang diberitkan, Verrel memang pria idaman para wanita. Banyak wanita yang rela menyerahkan diri dan melakukan apapun untuk bisa naik keatas ranjangnya.


“Sebagai sesama pria, saya ingin bertanya pada anda. Masihkah anda memiliki hasrat pada wanita yang menyodorkan dirinya pada semua pria tampan yang ditemui? Jika anda bisa, maaf saja berarti kita berbeda. Jangankan berhasrat, bahkan melihat wajahnya saja saya mual! Bagaimana mungkin untuk bercinta?” intonasi suara Verrel terdengar mencemooh.


“Istri saya jauh lebih cantik dan lebih segala-galanya dibanding Olivia Lee! Masihkah anda berminat pada wanita lain jika dirumah ada istri cantik, setia, seksi, penyayang dan jauh lebih kaya dari wanita manapun? Maaf, saya hanya mencintai istriku lebih dari siapapun! Dia adalah ratu dirumahku dan di hatiku dan di hati anak-anakku yang tidak akan bisa digantikan oleh wanita manapun!”


“Benar! Saya sependapat dengan anda, Tuan Verrel. Saya juga tidak akan memiliki hasrat pada wanita seperti itu apalagi dia penjahat. Sekalipun istri saya tidak secantik Nyonya Ceyhan tapi istri saya jauh lebih baik daripada wanita pembunuh itu!” jawab salah satu wartawan yang disusul dengan kalimat yang sama dari wartawan lainnya.


“Dikasih gratis juga ogahlah! Takutnya abis itu dibunuh kayak pria di apartemen itu, iyakan?” ujar wartawan lain. Hasil otopsi di tubuh Danu memang ditemukan bahwa pria itu meninggal saat sedang melakukan aktivitas panas, seseorang memukul kepalanya di bagian belakang yang menyebabkan pecahnya tempurung kepala bagian belakang.


Hasil otopsi pun sudah diberitakan disemua media, sehingga siapapun yang mendengar nama Olivia Lee langsung bergidik ngeri dan jijik.


“Dengan ini saya telah mengklarifikasi semua. Jika dikemudian hari masih ada berita-berita hoaks yang tak berdasar maka saya akan memprosesnya secara hukum. Untuk selanjutnya saya serahkan pada Tuan Luke.” ujar Verrel.


Acara konferensi pers pun terus berlanjut dengan tanya jawab dengan Luke yang membuat para wartawan semakin heboh dan nama Olivia Lee semakin terseret jauh dan dalam. Kini tindakan keji yang dilakukannya di masa lalupun kembali diangkat dan dilaporkan untuk di proses secara hukum setelah bertahun-tahun Luke bekerja keras mengumpulkan bukti kejahatan Olivia dan ayahnya.


Sementara itu Olivia yang menonton acara itu duduk terpaku dengan wajah tegang didepan TV.


“Tidak! Itu tidak mungkin! Verrel dan Luke bekerjasama menjatuhkanku? Luke benar-benar sudah mendapatkan semua bukti-buktinya? Arrggg…..bagaimana mungkin? Sudah bertahun-tahun lamanya! Omong kosong macam apa ini?’ umpat Olivia marah. Dia pun mengamuk dan melempar semua barang yang ada didekatnya.


Remote TV yang tadi ada ditangannya pun pecah berserakan di lantai.

__ADS_1


“Hei! Ada apa denganmu, sayang?” tanya Ezha mencoba menghentikan tindakan Olivia.


“Lepaskan! Akan aku hancurkan semuanya!” bentak Olivia lalu menepis lengannya yang di cengekeram oleh Ezha, tetapi Ezha menahannya dengan kuat.


“Hei sadarlah! Kau menghancurkan barang-barang dirumahku!” ucap Ezha geram.


“Alaaa…..barang rongsokan begini saja kau ribut! Sepuluh kali lipat lebih bagus dan lebih mahal dari semua ini bisa aku beli!” pekik Olivia dengan sombongnya. Dia lupa kalau ayahnya sudah bangkrut dan semua hartanya sudah disita dan sekarang jatuh ke tangan Luke.


Ezha sakit hati mendengar ucapan Olivia dan sudah tidak bisa mengendalikan dirinya mendengar hinaan Olivia. Dengan kasar dia mendorong tubuh Olivia hingga terbentur ke dinding. “Oh ya? Kalau begitu pergi sana ambil uangmu yang berharga itu, ganti semua barang-barangku yang kau hancurkan!” kata Ezha dengan tatapan tajam dan menyala-nyala.


Jika saja tatapan mata bisa memercikkan api, maka kini tubuh Olivia sudah terbakar oleh api yang terpancar dari tatapan Ezha saat itu juga. Olivia pun langsung terdiam dan sadar setelah mendengar kata-kata Ezha. Sepertinya dia telah melontarkan kata-kata yang menyinggung pria itu.


“Kenapa kau diam ha? Tidak berani pergi keluar kan? Sadarlah ******! Kau bukan siapa-siapa lagi sekarang! Tanpa aku, kau pasti mendekam dibalik jeruji besi. Jadi jaga sikapmu atau aku akan menjualmu ke lokalisasi! Kau masih laku dijual, pasti banyak yang mau mneikmati tubuh seorang mantan pengusaha kaya raya, cih! Kau tidak akan laku kalau dijual ke kalangan atas tapi setidaknya kalangan menengah ke bawah masih mau membayar tubuhmu yang semok itu!” kata Ezha sinis.


“Oh ya? Apakah aku menikmatinya sendiri? Jangan lupa Olivia, kau justru mengemis memintaku memasukimu berkali-kali. Jadi perempuan itu jangan munafik!” balas Ezha dengan sengit.


Dia benar-benar muak dengan tingkah Olivia hari ini. Tidak peduli dengan momen-momen panas yang baru saja mereka habiskan bersama, tapi saat ini hatinya merasa kecewa dan sakit hati. Olivia ingin membalas perkataan pria itu tapi ponsel Ezha di atas nakas memperlihatkan ada panggilan dari nomor tidak dikenal.


Ezha menatap layar ponselnya dengan mengeryitkan dahi, ia menghitung jumlah panggilan tak terjawab di layar ponsel itu. “Satu, dua, tiga, empat panggilan tak terjawab?” desisnya. Pupil matanya membesar, dengan wajah pucat dia berlari ke kamar lalu menarik kopernya keluar.


“Kau mau kemana?” tanya Olivia heran.


“Paskal mengirim sinyal. Dia sudah tertangkap dan hanya soal waktu saja polisi akan sampai disini.” jawab Ezha.


“Bagaimana denganku? Kau akan meninggalkanku disini sendiri?” protes Olivia.

__ADS_1


“Terserah kau! Aku tidak peduli lagi, mulai sekarang kita bukan siapa-siapa lagi!” jawab Ezha bergegas mengeluarkan mobilnya dari garasi.


“Tidak Ezha! Aku mohon jangan tinggalkan aku. Tolong bawa aku bersamamu.” pinta Olivia memohon dengan wajah memelas.


“Boleh tapi dengan satu syarat kau harus menuruti semua kata-kataku!” sahut Ezha dingin.


“Oke, aku janji akan menuruti semua kata-katamu mulai sekarang.” kata Olivia mengalah.


“Masuklah, jangan lupa bawa semua barang-barang itu kedalam mobil,” perintah Ezha seraya menunjuk tumpukan barang-barang didepan garasi. Ada kompor, kipas angin dan beberapa alat rumah tangga portable lainnya.


“Apa? Semua barang itu harus aku angkat sendirian?” protes Olivia meninggikan suaranya.


“Tidak mau? Ya sudah. Aku berangkat sendiri saja kalau begitu, lebih senang lagi kalau aku sendirian tidak perlu mendengar omelanmu.”


“Jangan! Akan aku angkat semuanya, tunggu saja di mobil ya.” kata Olivia. Meskipun dengan berat hati, akhirnya dia memasukkan semua barang kedalam mobil. Setelah selesai, dia membuka pintu depan tapi Ezha tidak membukanya.


“Ezha! Pintunya masih terkunci. Aku tidak bisa masuk.”


“Kau bisa masuk lewat pintu belakang, pintunya terbuka.” jawab Ezha enteng.


“Ta—tapi kursi belakang penuh dengan barang,” keluh Olivia.


“Duduk saja diatasnya,” jawab Ezha dingin dan tak peduli sama sekali.


“Olivia pun terdiam, dia membuka pintu belakang dan menyusun ulang semua barang lalu duduk di celah yang kosong. Mobil itu pun berjalan bersamaan dengan airmata Olivia yang bergulir dipipinya.

__ADS_1


__ADS_2