TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 81. DESAHKAN NAMAKU


__ADS_3

“Alya, jangan lupa nanti kau pergi ke butik mengambil baju pesanan Nyonya,” kata Yuna.


“Baik. Apa ada barang lain yang harus saya beli, Bu Yuna?”


“Nanti bisa kau tanyakan pada Nyonya setelah dia bangun. Mungkin dia ingin membeli sesuatu.”


Alya mempersiapkan kebutuhan majikannya, dia melihat ke arah kamar majikannya, belum ada tanda-tanda kalau mereka sudah bangun.


Deandra merasakan ada yang menyentuh bibirnya. Bergerak dengan lembut dan sensual, namun dia enggan untuk membuka mata.  Sentuhan itu semakin instens tak hanya di bibir, ditelinga dan turun keleher dan dadanya diiringi dengan remasan yang memabukkan, mustahil baginya untuk tidak mendesah, dan menjerit kala rasa itu menghantamnya.


“Kau sudah bangun, sayang? Desahkan namaku, sayang” ucap Verrel berbisik lirih.


Deandra berusaha membuka mata dan mengerjap.  Mendengar suara khas yang sangat ia kenali siapa lagi kalau bukan suaminya yang sedang berada diatas tubuhnya.


“Ehmmm….mendesahlah, sayang. Desahkan namaku.”


“Verreeeelll,” ucap Deandra yang terbuai oleh sentuhan lembut suaminya. Deandra tak membutuhkan waktu yang lama untuk menyesuaikan diri dengan suaminya yang sedang menikmati tubuh sang istri yang sudah jadi candunya. Candu yang memabukkannya dan membuat seorang penguasa ranjang sepertinya hanya menginginkan seorang wanita saja.


Awalnya dia merasa heran dengan keinginannya itu yang untuk pertama kalinya dia rasakan.  Aneh, karena sepanjang sejarah hidupnya, ia selalu bergonta ganti wanita, dia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan wanita yang sama. Namun semua berubah bersama Deandra, dia bahkan tak menginginkan wanita lain, lebih tepatnya dia tidak tertarik sama sekali. Hanya Deandra yang mengisi hati, pikiran dan yang selalu menjadi prioritasnya.


Itulah alasan kenapa dia menikahi wanita itu, jika dia tidak melakukannya maka ia akan kehilangan. Hanya dengan pernikahan saja ia bisa memiliki kuasa penuh pada Deandra. ******* yang mengalun syahdu menuntun Verrel bergerak semakin beringas dan liar. Deandra mulai merespon semua sentuhan pria itu. Sesekali dia mendorong tubuh Verrel yang menekan perutnya, ia membusungkan dada dan melengkungkan punggungnya. Geliat tubuh Deandra membakar gairah Verrel. Tak butuh lama, dengan rayuan sensual yang memabukkan membuat sepasang suami istri itu mendapatkan ledakan kenikmatan bersama.


Belum ada yang bersuara, keduanya terengah-engah, hingga Verrel menarik diri dengan tak rela karena ia ada meeting penting dengan klien pagi ini.


“Terimakasih, sayang.” bisiknya ditelinga sang istri seraya mengecup kening. “Aku harus bekerja. Istirahatlah, sayang.”


Mendengar suara suaminya, deandra membuka mata memandang wajah berkeringat yang sedang menatapnya dengan sorot memuja.  Deandra terpana melihat tatapan suaminya, ia merasa terbang ke atas awan karena sorot mata indah yang seakan memujanya.

__ADS_1


“Kau bisa meneleponku kalau kau jenuh, ok!” ucap Verrel yang masih betah mengelus pipi istrinya dan tangannya turun keperut istrinya.  Membelai dan berbisik “Jangan nakal ya, sayang. Jaga mama baik-baik, ya.”


Deandra merasa terharu setiap kali suaminya bersikap lembut dan manis. Dia masih ingat bagaimana sikap Verrel dulu padanya, dia melihat pria didepannya itu adalah sosok yang berbeda. Wanita yang masih setia menikmati pemandangan indah dipagi hari itu tak merespon suaminya.


“Ha..ha...ha...kenapa kau menatapku seperti itu sayang. Kau bisa menikmati ketampananku setiap saat, sayang. Tidak hanya pagi ini, tapi----”bibirnya menempel ke telinga sang istri, mengecup telinganya dan berbisik “Selamanya….selamanya milikmu, sayang.”


Wajahnya langsung merona merah.  Melihat istrinya yang merona, ingin sekali dia terus menggodanya tapi dia urungkan karena jika dia teruskan maka dia tak menjamin bisa meninggalkan istrinya dirumah. “Apakah kau mau ikut aku ke kantor?” bertanya pada istrinya yang sepertinya tak rela untuk melepasnya.


Deandra masih tak merespon, ia hanya memandang wajah suaminya.  Teringat mimpi buruknya tempo hari entah kenapa dia selalu merasa enggan untuk melepaskan suaminya  pergi ke kantor.  Tapi apa daya, suaminya adalah seorang CEO yang punya tanggung jawab besar. ‘Tunggu dulu….dia bertanya jika aku mau ikut ke kantor? Ya, lebih baik aku ikut jadi aku bisa mengawasinya kalau ada yang menggoda suamiku, pikirnya.’


“Aku ikut ke kantor ya, sayang.” kata Deandra langsung bangkit dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi. Verrel yang tahu betul prilaku istrinya hanya bisa tersenyum. ‘Kau ingin mengawasiku ya sayang, syukurlah kau ikut ke kantor jadi aku bisa tenang.’  Verrel menyusul istrinya ke kamar mandi dan bersiap-siap ke kantor.


“Selamat pagi, Opa, Mama,” ucap Verrel dan Deandra serempak saat berada di ruang makan.


“Kau mau kemana sayang pagi ini sudah rapi dan dandan cantik,” tanya Ayu pada menantunya.


“Aku mau ikut ke kantor, ma.”


Yahya tak banyak bicara pagi ini, wajahnya terlihat serius seperti sedang memikirkan sesuatu.  Verrel yang melihat sikap kakeknya itupun paham apa yang sedang dicemaskannya.  Ia mengingat semua hal yang disampaikan oleh Yahya diruang kerjanya sehabis makan malam kemarin.  Kekhawatirannya tentang keamanan Deandra dan keluarganya, tentang perusahaan.  Munculnya musuh-musuh lama mereka yang harus diwaspadai.


‘Jaga istrimu baik-baik. Aku tidak mau kehilangan cucu mantuku dan calon cicitku.  Mereka akan berusaha melukai istrimu, perketat pengamanan dirumah, kantor dan kemanapun kau dan istrimu pergi.  Jika kau kehilangan anakmu, maka kau akan kehilangan semuanya.  Cicitku adalah penerus keluarga Ceyhan, kelak dia akan menjadi pewaris keluarga ini. Ingat itu.’


Tergiang kembali ucapan kakeknya tadi malam.  Kini dia sudah memperketat keamanan dirumahnya, setiap sudut rumah itu dijaga ketat, bahkan sistem keamanan teknologi terbaru dipesannya khusus untuk dipasang dirumah dan kantor.


“Oh iya. Besok mama mau ajak kamu ke kantor supaya semua karyawan mengenalmu, sayang. Perusahaan mama sudah jadi milikmu, jadi sudah saatnya mama memperkenalkanmu sebagai pimpinan baru,” ucap Ayu.


“Tapi, Ma. Aku tidak mengerti bagaimana menjalankan perusahaan.”

__ADS_1


“Jangan khawatir, sayang. Mama akan membantumu, lagipula kau tak perlu ke kantor setiap hari.”


“Ma, bolehkah aku punya karyawan baru?”


“Boleh. Kau butuh asisten pribadi, sayang. Apa perlu mama atau suamimu yang mencarikan untukmu?”


“Tidak usah ma. Aku mau mengajak temanku. Dia bekerja diperusahaan lain, aku mau minta dia untuk bekerja untukku. Mama ingat Rosa, bukan?”


“Oh iya. Mama ingat. Kalau begitu kau bisa suruh dia datang menemui mama,”


“Terimakasih ya, Ma.” kata Deandra senang.


“Aku akan minta Frans untuk mentraining Rosa,” kata Verrel.


“Ahh….setuju! Mana tahu mereka berjodoh,” celetuh deandra tanpa sadar.


“Apa katamu? Jangan bilang kalau kau mau menjodohkan mereka,” kata Verrel.


“Tidak! Aku cuma becanda, tapi takdir tak ada yang tahu, bukan? Seperti aku dan kau,” kata Deandra manja dan memeluk lengan suaminya. "Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Hmm...tanya apa?"


"Apakah Frans sudah punya kekasih?"


Mendadak Verrel menghentikan makannya dan menoleh pada istrinya.


"Pertanyaan apa itu? Kau tertarik padanya?"

__ADS_1


"Isss....bukan! Rosa belum punya kekasih. Bagaimana kalau aku kenalkan Rosa pada Frans?"


"Jangan aneh, sayang. Cepat makan, kita bisa telat ke kantor." kata Verrel dengan suara datar. Tapi dia jadi memikirkan perkataan istrinya. Ya, asistennya memang jomblo dan Verrel merasa bersalah karena dia selalu membetikan banyak tugas padanya hingga dia tak ada waktu untuk memikirkan tentang wanita.


__ADS_2