TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 207. TAMU ISTIMEWA


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh sore. Semua sudah berkumpul diruang keluarga saat bel berbunyi. Seorang pelayan membukakan pintu, tampak seorang wanita canti masuk diikuti seorang pria paruh baya yang terlihat masih sangat tampan dan seorang pria tampan seumuran Verrel. Pelayan membawa ketiga tamu keruang keluarga, sontak Verrel dan Deandra kaget melihat wanita cantik yang tak asing bagi mereka.


“Selamat malam semuanya,” sapa tamu itu.


“Dokter Anita?” serempak Verrel dan Deandra menatap dokter langganan Deandra.


“Selamat malam Tuan Verrel dan Nyonya.” sambut Anita menyalami mereka.


“Loh….kalian sudah saling kenal ya?” tanya Yahya.


“Dokter Anita ini yang biasa periksa kandungan Dea,” ucap Deandra.


Setelah perbincangan sekaligus perkenalan keluarga, semuanya kini berada diruang makan dan menikmati makan malam bersama. Suasana ruamh utama malam ini riuh dengan percakapan dan tawa bahagia. Si kembar yang menggemaskan menambah ramai suasana ruang makan dengan tingkah mereka yang makan belepotan. Deandra memang selalu membiasakan kedua anaknya makan sendiri meskipun harus belepotan tapi menurutnya itu baik untuk kedua anaknya. Dia tidak ingin terlalu memanjakan anak-anaknya dengan membiarkan pengasuh melayani semua kebutuhan Nathan dan Naomi, ia ingin anak-anaknya bisa tumbuh dan hidup layaknya anak-anak lainnya.


Usai makan malam, kini semua berkumpul kembali di ruang keluarga. Nathan yang selalu saja usil mencubit pipi Lily hingga bayi itu menangis membuat semua orang tertawa. Nathan tak pernah mencubit Naomi tapi dia sangat suka mencubit pipi Lily dengan gemas.


“Nathan suka ya sama baby Lily?” tanya Deandra.


“Hemmm…..” jawab Nathan dengan mata bulatnya. Tangan mungilnya kembali ingin mencubit pipi Lily namun ditahan Deandra.


“Sayang…...tidak boleh cubit Lily, kasihan dia kesakitan dicubit sama bang Nathan. Di sayang-sayang saja ya nak?” Deandra menggerakkan tangan mungil Nathan di pipi Lily membuat bayi perempuan itu tertawa.


“Awas saja kalau sudah besar Nathan masih mencubit putriku sampai nangis,” kata Frans pada Verrel yang membuat pria itu melotot.


“Eh dengar ya Frans…...jangankan mencubit, akan kusuruh Nathan bawa lari putrimu nanti, enak saja kau mengancam,” balas Verrel. Sontak semua orang tertawa.


“Sebaiknya anak kalian itu nanti dijodohkan saja, jadi kalau sudah besar tidak usah cari-cari yang lain. Masih kecil saja mereka sudah nangis kalau dipisah.” kata Viktor dan Yahya “Ya betul itu, kalau perlu Frans….kalian pindah saja ke rumah yang dibelakang jadi Lily bisa kalian titipkan disini kalau kalian kerja. Rumah ini jadi rame dengan anak-anak dan lebih aman daripada kalian tinggal di apartemen.”

__ADS_1


“Terimakasih Tuan. Kalau itu perintah Tuan, saya dan keluarga akan pindah kerumah yang dibelakang,”


“Ya sudah. Istriku juga tidak kesepian, Rosa bisa kesini kapanpun tinggal jalan kaki. Lagian rumah belakang cukup besar untuk kalian tempati bersama mertuamu juga. Besok aku suruh pelayan membersihkan rumah itu,”


“Asyik…..bisa ngerumpi dengan Rosa,” celetuk Deandra.


“Sayang…...ingat tanggung jawab,” seru Verrel.


“Iya….iya….lagian kalau mereka pindah ke komplek ini lebih mudah aku kerja dari rumah sampai aku melahirkan nanti. Rosa bisa membawakan pekerjaanku kerumah, bukan?”


Obrolan pun berlanjut hingga, Yahya mengalihkan pembicaraan pada Peter, karena dia tahu kedatangan tamu istimewa malam ini punya tujuan tertentu.


Peter Buana Sandjaya adalah ayah dari Dokter Anita Sandjaya dan Dokter Liam Buana Sandjaya. Peter seorang pengusaha hotel dan tambang batubara yang terkenal.


“Ehem…..sebenarnya maksud kedatangan kami malam ini untuk mempererat hubungan keluarga Sandjaya dan Keluarga Ceyhan.” ucap Peter melirik Ayu.


“Wah…..itu sudah jadi harapan saya sejak lama,” kata Yahya tersenyum. “Tapi bagaimana ceritanya kau dan Ayu bertemu kembali?”


“Jadi maksud kedatanganmu kemari ini…..?” tanya Yahya.


“Saya ingin melamar Ayu, jika om Yahya tidak keberatan,” jawab Peter tegas dan to the point. “Kami juga sudah kenal sejak lama dan setelah sering bertemu mungkin lebih baik kami tidak menunda lagi. Kami juga tidak muda lagi dan anak-anak saya juga sudah setuju,”


“Soal itu, saya serahkan pada menantuku Ayu. Kalau dia setuju maka saya juga merestui. Ini akan baik untuk kedua keluarga kita,”


“Mama…..bagaimana menurut mama? Kalau Verrel hanya ingin melihat kebahagiaan mama. Aku juga sudah kenal dengan Anita dan Liam,” kata Verrel.


Ayu tersenyum menatap pria paruh baya yang tampan diusianya dan karakternya jauh beda dengan mantan suaminya yang gila. Sudah lama mereka kenal, bahkan Liam putra sulung Peter yang berprofesi sebagai psikiater adalah dokter yang menangani Ayu saat dia depresi akibat ulah Amran. Setelah kembali ke Indonesia, beberapa kali Ayu dan Peter bertemu, dia mengagumi pria itu. “Bagaimana Ayu? Kalau kau bersedia maka aku akan menyiapkan acara pernikahan secepatnya,” ucap Peter.

__ADS_1


“Aku bersedia,” ucap Ayu singkat.


“Papa sudah tidak sabar ya?” goda Liam melirik Peter.


“Bukan begitu Liam, bukankah kalian yang mendesak agar secepatnya?”


“Betul….biar bang Liam yang ambil alih perusahaan dan papa bisa pensiun,” balas Anita.


“Wah...keluarga ini bakal tambah ramai lagi.” kata Viktor. “Aku tak pernah membayangkan dimasa tuaku akan sangat bahagia dengan keluarga lengkap seperti ini,”


“Tapi kau sudah tidak mau cepat mati, bukan?” canda Yahya, mengingat dulu Viktor ingin mati karena merasa hidup sendiri.


“Tidak mungkin, Yahya. Aku masih ingin melihat cicit-cicit kita tumbuh besar,” semua orang tertawa bahagia. Dan kesepakatan bersama acara lamaran sederhana akan dilakukan dua minggu sehingga rencana Yahya dan Viktor untuk berangkat ke Amerika terpaksa tertunda hingga acara pernikahan Ayu.


“Nah….mama Ayu sudah akan menikah. Lalu Papa tidak ingin menikah juga?” tanya Deandra pada Darma.


“Hahahaha…..sayang, kenapa kau ingin papa juga menikah?” tanya Darma terkekeh.


“Siapa tahu….papa kan sudah menduda lama. Nanti aku cariin calon mama baru ya,” seloroh Deandra membuat semua tertawa melihat wajah Darma yang tegang mendengar ucapan putrinya.


 


“Papa sudah cukup bahagia kok. Ada cucu-cucuku yang lucu, menghabiskan waktu bersama mereka setiap hari sudah membuat papa bahagia.”


“Tapi kan beda kalau papa punya istri, ada yang temani dan mengurusi papa.”


“Betul apa kata cucuku, coba kau pikirkan itu Darma,” ucap Viktor. “Aku akan merestuimu jika kau bisa menemukan wanita yang baik untuk mendampingimu.”

__ADS_1


Darma hanya terdiam, tak menjawab apapun. Dia terlalu mencintai mendiang istrinya dan masih tidak bisa membuka hatinya untuk yang lain.


“Kalau aku menikah lagi, lalu bagaimana dengan bisnis papa? Siapa yang akan meneruskan? Deandra tidak mungkin untuk meneruskannya, dia akan disibukkan mengurus anak-anak dan membantu pekerjaan suaminya.”


__ADS_2