
"Kenapa kau biarkan Nyonya Besar sendirian diluar!" teriak Yuna memarahi Alya.
"Ma-maaf Bu Yuna, tadi saya kedapur mengambilkan minuman untuk nyonya." jawab Alya dengan suara bergetar ketakutan.
"Apa tidak ada pelayan lain yang bisa kau suruh?"
"Semua pelayan sedang sibuk bekerja."
"Kau sudah diperintahkan untuk melayani nyonya besar dan tidak pernah meninggalkannya, apa kau tahu akibat perbuatanmu?"
Airmata Alya menetes, dia tahu bahwa dia akan menerima kemarahan dan hukuman dari tuan besar. Para pelayan yang berkumpul di aula di gedung belakang pun tertunduk ketakutan mendengar Yuna. Jika satu pelayan melakukan kesalahan berarti semua pelayan akan menerima hukuman.
"Kalian juga, kenapa kalian biarkan nyonya besar mengerjakan pekerjaan kalian!" kata Yuna pada tukang kebun.
"Kami sudah melarang nyonya tapi nyonya bersikeras ingin menanam bunga." sahut salah seorang tukang kebun yang tadi bertugas dihalaman depan rumah.
"Sekarang kalian boleh bubar. Atas kelalaian kalian hari ini maka kalian akan mendapatkan hukuman." sontak semua pelayan memucat.
...*...
“Apa yang kau lakukan disini, Alya?” tanya Deandra pada pelayannya yang sedari tadi dicarinya. Ia melihat tubuh Alya menegang, ia pun menengadah terkejut melihat Nyonya Besar sudah berada didepannya. Gadis malang itu mendekat dan memeluk kedua kaki Deandra memohon maaf sembari menangis.
Deandra yang bingung pun mencoba menenangkan Alya dan mengajaknya masuk kekamarnya. Deandra menggenggam tangan gadis itu “Kau kenapa menangis? Apa yang terjadi?”
__ADS_1
“Saya bersalah nyonya karena sudah meninggalkan nyonya besar sendirian didepan rumah,” kata Alya tersedu.
“Kau tidak salah. Aku menyuruhmu mengambil air minum untukku.” kata Deandra.
“Ta-tapi Nyonya, wanita itu menyakiti nyonya, kalau saya ada disana pasti dia tidak akan berani melakukan itu, saya pasti membela nyonya,” ucap Alya yang merasa cemas atas kejadian tadi.
“Jangan khawatir, aku tidak kenapa-napa. Lagian tadi pengawal sudah menyeretnya keluar.”
“Tapi tuan besar pasti akan marah dan menghukumku karena saya lalai menjaga nyonya.”
“Percayalah padaku. Aku akan memastikan tidak ada yang akan dihukum oleh tuan besar, termasuk kau. Aku janji.” kata Deandra memegang bahu pelayannya yang mulai tenang setelah mendengar perkataannya. Refleks Alya menengadah “Terimakasih, Nyonya. Saya sangat bersyukur nyonya ada dirumah ini.”
“Sudah ya. Jangan kau pikirkan lagi soal itu. Kau harus percaya padaku, aku bisa mengatasi tuan besar,” ucapnya penuh kenyakinan meskipun sebenarnya dalam hatinya dia ragu jika Verrel akan mendengarkan ucapannya. Alya menganggukkan kepalanya dan percaya pada sang nyonya besar.
...*...
Dirumah utama, Deandra telah bersiap-siap, alih-alih memakai dress dan bersiap untuk makan malam diruang makan, ia malah melakukan sesuatu.
“Bibi Yuna, tolong siapkan makan malam dikamarku ya. Aku ingin makan malam romantis,” ujarnya manja pada kepala pelayan Yuna.
“Baiklah, Nyonya. Apa ada permintaan khusus?”
“Jangan lupa undang Tuan Verrel untuk makan bersamaku disini. Oh iya...lilinnya jangan lupa ya. Aku mau Alya mendandaniku.”
__ADS_1
Yuna yang mengangguk tersenyum dan memerintahkan pelayan untuk mempersiapkan semua. Walaupun dia merasa sedikit heran dengan tingkah sang nyonya besar beberapa hari ini, namun dia senang melihat kebahagiaan diwajah gadis itu.
“Saya akan menunggu Tuan. Saya permisi, nyonya,” kata Yuna pamit.
Setelah Yuna pergi, Deandra mulai dirias oleh Alya. Begitu selesai dengan riasan dan menata rambut, diapun meminta kedua pelayannya untuk keluar dari kamarnya. Dia sudah membuat rencana memberi kejutan pada Verrel. Dengan cepat ia berjalan ke walk in closet dan memilih sebuah lingeri tipis berwarna merah dan mengenakan jubah warna senada untuk menutupi.
Entah darimana ide gila itu muncul, ia berniat merayu pria mesum itu, yang ia tahu Verrel begitu tergila-gila pada tubuhnya. Tak lupa ia menyemprotkan parfum dengan wangi menggoda. Senyum menghiasi wajahnya saat memandang dirinya didepan cermin. Sebentar lagi Verrel pasti pulang, pikirnya. Aku harus merayunya malam ini agar semua orang dirumah ini selamat dari hukumannya. Hanya aku yang bisa melakukannya, nyonya besar.
Deandra teringat kembali ucapan Yuna. Gadis yang memiliki sifat lembut dan tidak tahan melihat kesedihan itu bertekad akan mempertahankan dirinya dan posisinya dirumah ini hingga suatu hari nanti takdir akan membawanya pada kebahagiaan. Seperti pesan terakhir ibunya.
Menghela napas panjang dan memejamkan mata sejenak, deandra siap melayani gairah liar sang tuan besar dan meluluhkan hatinya. ‘Ya, aku akan turuti nasihat Bibi Yuna, aku harus bisa memenangkan hati tuan besar dan membuatnya mencintaiku.’ mengikrarkan pada dirinya.
Tak lama Verrel memasuki kamar itu dan tampak terkejut melihat deandra yang menyambutnya dengan gaya yang menggoda.
"Kau sudah pulang, sayang?” tanya gadis itu seraya berjalan kearah Verrel yang berdiri termangu. Ia berjalan pelan dengan menggoyangkan pinggulnya bak seorang wanita penggoda seolah ingin menyiksa Verrel dengan tubuhnya yang meliuk-liuk.
‘Hmm….benar dugaanku, pria mesum ini terpesona sampai berdiri kaku.’ Senyum manis mengembang dibibir ranum yang terlihat sangat menawan malam ini karena dipoles lipstik warna merah. Begitu berdiri didepan Verrel, tangannya langsung menyentuh dada bidang pria itu. Dengan cepat tangan Verrel memeluk Deandra erat. Pria itu bisa merasakan jika gadis itu tidak memakai bra dibalik jubahnya.
Dia mengeram dan mengecup telinga gadis itu “Kau sangat seksi dan menggoda, sayang.”
Entah kenapa setiap kali Verrel memanggilnya dengan sebutan sayang, Deandra merasakan debar jantungnya kencang dan ada kehangatan yang menyeruak. Deandra berjinjit dan mengecup bibir pria itu, membuat Verrel tersenyum. Lalu deandra berbisik “Aku milikmu, sayang. Aku akan membuatmu bahagia.”
Pria itu bergetar dan darahnya mendesir oleh gejolak hasrat. Dia benar-benar tidak menyangka jika gadis itu merayunya dan tangan deandra yang tak henti menyentuh tubuhnya terutama bagian sensitifnya membuatnya mengeram. Gairahnya melonjak, sentuhan tangan dan bisikan lembut sensual deandra meruntuhkan pertahanan dirinya. Ia menurut saat tangan deandra menuntunnya kearah ranjang. Baru kali ini dia bagai terhipnotis oleh seorang wanita.
__ADS_1
Verrel merenggut bibir Deandra yang berwarna merah, warna lipstik sensual yang sengaja dipilih oleh deandra untuk menunjang penampilan menggodanya malam ini. Pria itu ******* bibir manis dan memabukkan itu, ia selalu betah berlama-lama menikmati bibir yang sudah jadi candu baginya.
Deandra membalas ciumannya dan tangannya mengelus dada dan perut rata milik Verrel yang membuat pria itu mengeram dalam. Dia tak menolak rayuan gadis yang memiliki sejuta pesona itu apalagi malam ini, deandra merayu dan menggodanya.