Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 99


__ADS_3

Tomy tersenyum menatap jeny yang sedang menguncir rambut panjang nya. Dulu jeny sangat suka sekali dengan rambut pendek berwarna. Tapi sekarang wanita itu memanjangkan rambutnya dengan warna hitam kecoklatan alaminya.


Tomy bangkit dari duduknya di tepi ranjang. Pria tampan yang sudah rapi dengan jins hitam serta kaos merah lengan pendeknya itu tersenyum lagi ketika menatap pantulan wajah cantik istrinya di cermin.


“Udah cantik sayang...” Katanya memuji.


Jeny terkekeh mendengar pujian suaminya. Wanita cantik dengan tanktop merah yang senada dengan atasan yang di kenakan suaminya itu bangkit dari duduknya. Jeny meraih jaket kulit warna hitamnya kemudian mengenakanya.


Tomy yang masih berdiri di depan kursi yang tadi di duduki jeny mengeryit melihat penampilan simple istrinya. Rok selutut yang mengembang berwarna hitam yang tampak begitu manis di kenakanya. Namun tomy terlihat tidak suka ketika menatap perut rata istrinya.


“Sayang jangan pake ini deh.. Kamu pake dress aja tapi yang longgaran dikit. Kasihan anak aku kalau kamu pake yang seret seret gituh.”


Jeny mengeryit mendengar komentar suaminya. Wanita itu kemudian menundukan kepalanya. Tanktop dan rok yang jeny kenakan memang sangat pas dan terasa seret di bagian perutnya. Padahal biasanya rok tersebut terasa biasa saja saat jeny kenakan.


“Ganti yah..” Pinta tomy lembut.


Jeny menatap suaminya. Pria itu mungkin mengkhawatirkan anak yang berada di dalam kandungan jeny.


“Kalau kamu pake itu nanti juga kamu bakal ngrasa nggak nyaman sayang.” Kata tomy lagi.


Jeny masih diam menatap wajah tampan suaminya. Jeny tampak sedang memikirkan antara menuruti apa kata suaminya atau tidak.


“Sayang.. Mau yah?” Tanya tomy lagi.


Jeny menghela nafas. Wanita cantik itu kemudian menganggukan kepalanya setuju. Jeny melangkahkan kakinya menuju lemari bajunya. Ketika membuka pintu lemari bajunya, jeny kembali terdiam. Wanita cantik itu menatap bingung pada deretan gaun dan dress yang berada di depanya.


“Yang mana?” Tanya jeny pada tomy.


Tomy menggelengkan kepalanya. Dengan pelan tomy melangkah menghampiri jeny. Di peluknya mesra pinggang jeny. Tomy ikut menatap deretan gaun dan dress yang tergantung dengan rapi di dalam lemari baju.


“Eemm.. Yang ini aja sayang..”


Tomy melepaskan pelukanya kemudian meraih sebuah dress tanpa lengan berwarna pastel dan menunjukanya pada jeny.


Jeny mengeryit. Model dress itu sangat simple. Panjangnyapun hanya sekitar 2 cm di atas lutut. Meskipun dress itu memang bagus dan ketika di kenakan tidak akan membentuk lekuk tubuh si pemakainya.


“Tapi itu...”


“Kamu pasti akan sangat cantik kalau memakai dress ini sayang.” Sela tomy dengan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


Jeny menatap sekali lagi dress yang di tunjukan suaminya. Sebenarnya jeny kurang suka dengan bahan dress tersebut.


“Atau kita beli lagi aja?” Tanya tomy menawarkan.


“Ck. Tom.. Kan masih banyak gaun sama baju aku yang lain.. Kenapa harus yang ini sih...?” Tanya jeny dengan wajah sendunya.


Tomy tersenyum.


“Memangnya kenapa dengan dress ini?”


“Eemmm.. Itu.. itu pemberian dari kak lorenzo.”


Wajah tomy langsung berubah datar. Pria itu kemudian melempar dress tersebut ke lantai.


“Oke.. Kamu cari yang lain. Pokonya yang nggak neken bagian perut. Dan dress itu buang aja.” Katanya datar.


Jeny menghela nafas. Tidak ingin membuang waktu jeny pun segera meraih dress yang lainya dan langsung mengenakanya. Sedangkan tomy, pria itu langsung keluar dari kamarnya setelah mencampakkan dress pemberian dari lorenzo.


“Dasar tukang cemburu.” Gumam jeny kesal.


Setelah semua siap jeny dan tomy pun segera berangkat dengan reyhan yang menyupirinya. Tomy memang sengaja mengajak reyhan agar bisa menghendle kalau kalau rachel berusaha mengganggunya dan jeny.


Tomy menoleh pada jeny yang hanya diam saja. Pria itu tersenyum dan meraih tangan kecil istrinya. Menggenggamnya lembut.


“Bagaimana sayang? Apa ada yang kamu perlukan lagi?” Tanya tomy pada jeny lembut.


Jeny menggelengkan kepalanya dalam diam. Wanita cantik dengan dress warna mocca itu menatap sendu pada tomy yang tersenyum padanya.


“Oke.. Kita lansung ke bandara rey.” Jawab tomy pada reyhan.


“Baik pak..” Angguk reyhan.


Tomy menghela nafas. Entah apa yang membuat istrinya terlihat sendu saat ini. Tapi tomy merasa mungkin karna sikapnya tadi yang langsung menyuruh jeny untuk membuang dress pemberian dari lorenzo.


Tomy meraih kepala jeny kemudian menyenderkan di pundaknya.


Jeny hanya diam saja. Wanita cantik itu memejamkan kedua matanya merasakan nyaman bersender di bahu tegap suaminya.


“Kenapa sayang?” Tanya tomy lembut.

__ADS_1


Jeny membuka kedua matanya. Entah kenapa perasaanya terus tertuju pada fani. Jeny merasa khawatir dengan keadaan gadis kecil berkepala botak itu.


“Maaf kalau aku keterlaluan tadi.. Aku hanya..”


“Bukan karna itu kok..” Sela jeny pelan.


Tomy langsung diam. Pria itu mencoba menjadi pendengar yang baik untuk istrinya.


“Aku kepikiran sama fani terus tom.. Perasaan aku nggak enak. Aku takut fani kenapa napa..”


Tomy menghela nafas pelan. Jeny terlalu sayang pada gadis kecil itu sehingga saat akan pergi bersamanya pun masih sempat memikirkanya. Tomy tidak bisa marah. Tomy tau istrinya memang berhati lembut. Apa lagi mengingat kondisi gadis berkepala botak itu.


“Eemm.. Kamu nggak perlu secemas itu sayang. Ada dokter axel yang menjaganya. Ada nenek sama kakek nya, ada perawat juga ada dokter lain yang pasti akan melindunginya.” Ujar tomy sambil mengusap lembut kepala jeny.


Jeny terdiam. Dokter axel tidak bisa selalu menemani gadis kecil itu. Kakek dan neneknya pun tidak selalu ada untuk mengajaknya mengobrol. Dan untuk dokter lain dan para perawat mereka juga punya kesibukan sendiri menangani pasien lainya.


“Please... Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang bisa berpengaruh buruk pada anak kita.. Fani akan baik baik saja. Kamu harus yakin itu.” Sambung tomy lagi.


Tomy menyentuh perut jeny dan mengusapnya lembut penuh kasih sayang. Di dalam sana ada calon anaknya. Dan tomy tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya.


“Pikirkan juga kesehatan kamu dan anak kita sayang..”


Jeny menelan ludahnya. Jeny tidak bermaksud membahayakan kesehatanya juga janin dalam kandunganya. Jeny hanya merasa iba dan kasihan pada fani yang tidak pernah mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.


“Maaf.. Aku tidak bermaksud.. Tapi fani.. Dia selalu bercerita sama aku.. Dia ingin bisa bermain bersama kedua orang tuanya. Dia ingin bisa bercanda dan tertawa bersama kedua orang tuanya. Bahkan dia juga mengatakan ingin terlelap selamanya di pangkuan papahnya. Dia..”


Jeny tidak bisa meneruskan ucapanya. Air matanya terlanjur mendahului dan menghentikan semua yang ingin jeny katakan.


Tidak tega melihatnya tomy pun segera mendekap lembut tubuh istrinya. Tomy tau bagaimana jeny menyayangi gadis kecil itu.


“Kalau memang seperti itu.. Setelah kita pulang dari amsterdam ayo kita wujudkan keinginanya fani.” Bisik tomy.


Jeny langsung melepaskan diri dari dekapan hangat tomy. Dengan air mata berderai jeny menatap tidak mengerti pada tomy yang malah tersenyum padanya.


“Apa maksud kamu?” Tanya jeny.


Tomy mengusap air mata yang membasahi kedua pipi chuby jeny dengan ibu jarinya. Pria itu tersenyum penuh makna menatap wajah cantik istrinya.


“Aku nggak keberatan menjadi papah angkat fani.”

__ADS_1


Reyhan yang mendengarnya tersenyum. Meskipun tomy memang sedikit arogan dan sangat kejam jika marah. Tapi reyhan tidak memungkiri pria itu sangat berhati lembut dan penyayang.


__ADS_2