
Angel menatap bingung rumah mewah di depanya. Wanita itu sama sekali tidak merasa pernah tinggal di rumah itu. Yang angel tau hanya dirinya tinggal dan di rawat dengan baik oleh dokter axel selama ini.
“Ini rumah kedua orang tua kamu..” Kata dokter axel sambil mengeluarkan 2 koper angel dari bagasi mobilnya.
Angel menoleh sesaat pada dokter axel kemudian kembali menatap bangunan mewah di depanya. Angel tidak menyangka dokter axel benar benar mengantarnya menuju rumah kedua orang tuanya. Angel pikir dokter axel akan menahanya setelah semua yang pria itu ceritakan.
Angel menghela nafas. Setelah ini dirinya harus kembali membiasakan diri dengan lingkungan yang di rasa baru karna ingatanya yang belum kunjung pulih. Dan setelah ini juga mungkin angel tidak akan lagi bisa bersama dokter axel lagi.
“Angel..”
Angel menolehkan kepalanya dan menemukan dokter axel yang sedang menatapnya dengan senyuman tipis di bibirnya.
“Dokter. Apa setelah ini kita tidak akan bisa bertemu lagi?”
Angel lebih dulu mengajukan pertanyaan pada dokter tampan itu. Karna jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam angel sebenarnya tidak ingin berjauhan apa lagi jika sampai benar benar berpisah dengan dokter axel.
Dokter axel menghela nafas pelan. Angel bukan lagi siapa siapanya. Angel hanya masa lalunya. Tapi bagaimanapun juga angel seorang wanita yang pernah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan fani.
“Saya tidak tau angel. Tapi jika tuhan menghendaki juga memberi umur panjang kita pasti bisa bertemu lagi.”
Jawaban dokter axel membuat angel mengukir senyuman di bibirnya. Angel merasa bahagia karna itu artinya dokter axel tidak akan menolaknya jika dirinya datang berkunjung ke rumahnya.
“Dokter. Boleh aku minta sesuatu?” Tanya angel lagi.
Dokter axel mengeryit. Angel wanita yang pernah dengan sangat kejam mencampakanya kini terlihat seperti seorang anak kecil yang tak berdosa. Begitu polos dan cantik.
“Apa?”
“Jangan dulu pulang yah setelah aku masuk ke rumah itu.. Temani aku sehari saja.” Jawab angel.
__ADS_1
Dokter axel terdiam. Kedua orang tua angel mungkin sudah tidak lagi membencinya karna fani. Tapi dokter axel yakin kedua orang tua renta itu masih memendam rasa benci karna perbuatan bejat dokter axel dulu pada angel.
“Aku takut dokter.. Aku takut mereka berdua tidak sebaik kamu..”
Dokter axel tersenyum menatap angel. Dengan lembut di usapnya pipi angel.
“Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya di dunia ini angel. Kamu lahir dan tumbuh besar bersama mereka. Mereka sangat menyayangi kamu.”
Angel terdiam. Sentuhan dokter axel sangat lembut di pipinya. Tapi angel tetap tidak bisa mengenyahkan ke khawatiranya. Semua ingatanya entah itu indah ataupun buruk belum juga pulih. Meskipun dokter axel sudah menceritakan masa lalunya. Dari dirinya yang cantik, yang baik, bahkan sampai yang paling jahat dokter axel sudah menceritakanya. Dokter tampan itu juga sudah menunjukan semua photo photo saat dirinya hamil bahkan video saat dirinya melahirkan fani. Namun semua itu sama sekali tidak membantu. Angel tetap tidak bisa mengingat apapun.
“Dokter..”
“Angel saya jujur.. Kalau ada orang tua yang kejam dan tidak menyayangi anaknya yang saya tau hanya kamu.” Sela dokter axel.
Angel menelan ludahnya. Dadanya kembali terasa sesak. Dokter axel begitu terang terangan menganggap dirinya di masa lalu sangat jahat.
“Aku minta maaf..” Lirih angel.
Angel hanya menganggukan kepalanya. Wanita itu mengikuti langkah dokter axel menuju kediaman mewah yang kata dokter axel adalah rumah kedua orang tuanya.
Tidak berbeda dengan angel dan dokter axel, sarah pun merasakan hal yang sama. Wanita cantik dengan rambut yang kini lurus itu menatap sendu pada lorenzo yang sudah duduk di atas sofa. Lorenzo sudah di nyatakan sembuh. Sarah kadang berpikir bagaimana jika sampai peluru yang melesat dari pistol dokter axel sampai menembus jantung suaminya. Mungkin lorenzo tidak akan terselamatkan. Dan putranya akan kehilangan sosok papah yang sangat di dambakan kasih sayangnya.
“Eemm.. Zo.. Elo bilang dia mau antar kamu ke kantor polisi. Bisa tunggu sebentar sampai elo pulang sekolahkan?” Tanya sarah menatap lorenzo yang seperti enggan untuk berada dekat denganya.
Lorenzo tidak menjawab. Pria itu terus diam dengan tatapan lurus juga datarnya. Tidak ada jawaban iya ataupun tidak yang keluar dari mulutnya.
Sarah yang melihatnya hanya mampu menghela nafas. Lorenzo tetap bersikap dingin padanya. Meskipun pria itu tidak pernah menolak jika sarah menyuapi bahkan mengelap tubuhnya. Lorenzo juga selalu melakukan dan mendengarkan apa yang di katakan sarah walaupun bibirnya terus bungkam.
Pintu ruang rawat terbuka membuat sarah menolehkan kepalanya dan menemukan roy yang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
“Em.. Tunggu sebentar sampai anak saya datang.” Kata sarah yang mengerti roy pasti akan membawa lorenzo ke kantor polisi.
“Baik.” Saut roy tegas kemudian kembali menutup pintu ruang rawat lorenzo.
Sarah menghela nafas lega. Beruntung body guard yang di utus tomy yang terus menjaga ketat lorenzo sangat pengertian.
Sarah kembali menatap lorenzo. Sarah ingin lorenzo sekali saja tersenyum padanya. Tapi sepertinya itu hanya keinginan belaka. Karna sampai saat ini lorenzo bahkan enggan untuk menatapnya. Sarah meneteskan air matanya. Dadanya terasa sesak mengingat betapa tidak pernah indahnya hubungan rumah tangga mereka. Sejak menikah denganya jangankan menyentuhnya, meliriknya saja lorenzo sepertinya tidak sudi. Sarah tidak pernah sekalipun merasakan hangatnya pelukan lorenzo. Sarah juga tidak pernah merasakan nyamanya genggaman tangan besar lorenzo di tanganya. Yang sarah terima hanya tamparan keras dari tangan besar itu yang selalu meninggalkan bekas luka lebam di sudut bibir ataupun pipinya.
“Mamah papah..!”
Pekikan keras elo membuat sarah terkejut. Sarah buru buru mengusap air mata yang membasahi pipinya. Wanita itu tidak mau putranya melihatnya menangis.
“Tebak siapa yang datang.” Antusias anak kecil itu tersenyum menatap sarah.
Sarah mengeryit. Wanita cantik itu melirik diam diam pada lorenzo yang sama sekali tidak bergeming dari posisinya.
“Siapa sayang?” Tanya sarah dengan sebelah alis terangkat.
“Tada..!!!” Seru elo ketika tomy masuk ke dalam ruang rawat lorenzo.
Sarah terkejut. Sarah tau kedatangan tomy pasti untuk membawa lorenzo ke kantor polisi. Padahal sarah pikir tomy tidak akan lagi turun tangan sendiri. Sarah pikir tomy hanya menyuruh 2 body guardnya tanpa harus bertindak sendiri.
“Tomy..” Lirih sarah.
Tomy tersenyum tipis. Pria tampan berjas hitam itu kemudian menoleh pada lorenzo. Awalnya tomy akan menyuruh bisma dan roy membawa lorenzo. Tapi melihat keberadaan elo tomy menjadi tidak tega. Tomy tidak mau elo sampai berkecil hati karna melihat papahnya yang di seret paksa oleh 2 body guardnya.
“Om tomy bilang mau jenguk papah telus antal papah ke aslama papah..”
Sarah mengeryit bingung. Entah asrama apa yang di maksud oleh putranya. Sarah kembali menatap tomy yang berada di depanya.
__ADS_1
“Apa maksudnya?”