Cintai Aku

Cintai Aku
Perdebatan


__ADS_3

"Ibu"


Zena terkejut bukan main saat mendengar suara Arcielo, Zena pun langsung melepas ciuman nya seraya mendorong dada Rey hingga membuat Rey jatuh terjungkal ke belakang. Zena melihat kehadiran Arcielo di sana, rupa nya Arcielo terbangun dari tidur nya. Zena buru buru menghampiri putra nya, Arcielo berdiri di ambang pintu seraya mengusap usap mata nya karena baru saja terbangun.


"Arcie, ada apa?" tanya Zena seraya duduk berjongkok di depan putra nya yang masih setengah sadar itu. Arcielo terdiam seraya memperhatikan Rey yang kala itu tengah berusaha untuk bangkit dari jatuh nya akibat di dorong oleh Zena.


Sungguh, Zena begitu terkejut dan panik saat melihat kehadiran Arcielo. Pasal nya Zena tengah melakukan hal dewasa dengan Rey tadi, Zena khawatir kalau Arcielo melihat hal tersebut. Zena pun merutuki kebodohan dan keteledoran nya di dalam hati. Lalu Zena mengikuti arah pandang Arcielo, rupa nya Arcielo tengah memperhatikan Rey.


Zena dan Rey saling tatap walau sebentar, lalu Rey berjalan menghampiri Arcielo. Rey menyamakan tinggi Arcielo dengan duduk berjongkok di depan Arcielo, tentu saja di samping Zena juga. Rey tersenyum seraya mengusap lembut kepala Arcielo.


"Halo Arcie" sapa Rey dengan senyuman.


Arcielo tersenyum. "Ayah Rey ada di sini, aku senang" ucap Arcielo dengan polosnya.


Sontak ucapan Arcielo membuat Zena dan Rey terkejut, Zena dan Rey terdiam sejenak memandangi Arcielo dengan wajah terkejut dan bingung. Apa Zena tidak salah dengar? barusan Arcielo memanggil Rey dengan sebutan "Ayah". Lalu Rey dan Zena saling beradu tatap.


Rey memperhatikan reaksi bingung di wajah Zena. Seperti nya Rey pun paham dengan apa yang di pikirkan oleh Zena. Sejujur nya bukan hanya Zena saja yang terkejut, Rey pun sama terkejut nya. Lalu Rey kembali melihat ke arah Arcielo.


"Arcie, kau bilang apa barusan? Ayah?" Rey memastikan ucapan Arcielo.


Arcielo mengangguk semangat. "Iya, ayah Rey adalah ayah Arcie" jelas nya dengan wajah polos.


Arcielo langsung memeluk Rey begitu saja hingga membuat reaksi baru di wajah Zena maupun Rey. Zena dan Rey kembali beradu tatap. "Ayah Rey, Arcie merindukan ayah Rey, kapan ayah Rey ajak Arcie main?" lanjut nya lalu melepas pelukan nya pada Rey.


Dengan spontan, Zena langsung menarik tangan Arcie. "Arcie, siapa yang mengajari mu begitu? Hah!" tanya Zena


"Paman Rio"


Zena terkejut. "Apa?! Arcie, dengar ibu, kau tidak boleh memanggil teman ibu seperti itu, itu tidak sopan! Ibu selalu mengajari mu untuk berbicara sopan pada orang lain, kau mengerti?!" ucap Zena dengan tegas. Hal itu membuat Arcie terdiam lalu menunduk, ada reaksi sedih di wajah anak itu.


Rey pun kesal mendengar ucapan Zena, Rey menatap Zena lalu kembali melihat wajah Arcielo. Arcielo kan memang putra nya, lalu mengapa Arcielo di larang memanggil nya ayah? Walaupun Rey baru mengetahui kalau Arcielo adalah putra kandung nya, namun tetap saja Rey tidak terima jika Arcielo di marahi oleh Zena.


"Zena, hentikan! Kau tidak perlu memarahi Arcie begitu, kau membuat nya takut! Arcie masih terlalu kecil untuk memahami semua ini!" ucap Rey dengan tegas.


"Aku tidak memarahi Arcie, tapi aku hanya mengajari Arcie cara bersikap sopan pada orang lain agar tidak lancang bicara seperti itu!" Tegas Zena


"Tapi itu terlalu berlebihan, Zena! Dengan kau mengatakan hal itu, kau menyakiti perasaan nya!"


"Berlebihan? Menurutku tidak! Aku ini ibu nya-"

__ADS_1


"Dan aku ayah nya!" tukas Rey hingga Zena terdiam. Saat Zena ingin menjawab lagi, Rey langsung memotong nya. "Jangan pernah lupakan satu hal itu, Zena! Arcielo adalah putra kandung ku apapun keadaan nya!" lanjut nya seraya menatap Zena.


Tatapan kesal di antara kedua nya pun tak terelakan, Zena tidak suka jika cara mendidik nya di anggap salah, sedangkan Rey tidak suka dengan ucapan Zena dengan alasan mendidik Arcie.


"Arcielo, ayo ikut ayah Rey, ayah Rey akan menemani mu dengan menceritakan cerita lucu sebelum tidur, ayo!"


...........


Zena membuka pintu kamar Arcielo, di sana sudah terbaring Rey dan Arcielo yang tidur berdampingan, mereka berdua sudah tidur dengan pulas. Zena memperhatikan putra nya dan Rey dari dekat, di lihat nya Arcielo tidur seraya memeluk Rey. Hubungan ayah dan anak ini seperti sudah terjalin lama, mereka terlihat sangat dekat, bahkan Arcielo pun tampak nyaman tidur bersama Rey.


Padahal Rey dan Arcie tidak pernah bertemu sebelum nya, mereka bertemu baru baru ini saja, namun hubungan kedua nya tampak sangat dekat. Sebenar nya Arcielo biasa nya tidak seperti ini dengan orang baru, Arcielo itu sedikit malu dengan orang yang baru di temui nya, namun saat bersama dengan Rey, entah mengapa Arcielo tampak senang dan tidak canggung. Lalu Zena mengecup kening Arcielo sebelum beranjak pergi.


Saat Zena memandangi wajah Rey, tiba tiba saja terlintas dalam pikiran nya mengenai ancaman yang di terima Zena dari nomor yang tidak di kenal. Orang itu mengancam Zena dengan nyawa sang ayah jika Zena berani mendekati Rey.


"Aku tidak boleh jatuh cinta lagi, itu pinta nya!" gumam Zena, setelah itu Zena pergi dari kamar Arcielo.


Jam dinding sudah menunjukan pukul 02.00 pagi, namun Zena enggan kembali ke dalam kamar nya. Zena duduk sendiri di ruangan televisi. Rupa nya Zena tidak bisa tidur, ada sesuatu yang terus mengganjal di pikiran nya, bahkan sampai hari ini Zena tidak tahu di mana keberadaan sang ayah. Zena hanya tahu jika sang penelepon menghubungi nya dan memberitahu mengenai kondisi sang ayah, itu pun selalu dengan nomor yang berbeda.


Namun Zena selalu berdoa pada Tuhan agar sang ayah dalam keadaan baik baik saja. Lelah dengan semua masalah yang ada, Ia menyandarkan tubuh nya ke belakang sofa ruangan. Zena menyalakan televisi agar diri nya tidak merasa sepi. Dan pada akhir nya, rasa kantuk nya lah yang menang, Zena tertidur di atas sofa.


Beberapa menit kemudian, terlihat di sana seorang pria datang lalu berdiri di depan Zena, pria itu memandangi wajah Zena. Ya, pria itu adalah Rey, Rey sebenar nya tidak tidur, Rey hanya berpura pura tidur agar Arcielo mau tidur, karena Arcielo tidak mau di tinggal sendirian. Sebenar nya Rey juga menyadari kedatangan Zena, namun diri nya lebih memilih berpura pura tidur.


Rey langsung membopong tubuh Zena lalu membawa nya menuju kamar Zena, Rey merebahkan tubuh Zena dengan perlahan.


Namun saat Rey ingin pergi, salah satu dari tangan nya masih tertindih oleh tubuh Zena hingga membuat nya tidak bisa pergi. Rey ingin menarik tangan nya tapi Ia urungkan karena takut membangunkan Zena. Alhasil Rey pun pasrah, Ia ikut merebahkan tubuh nya di samping Zena dengan posisi tangan yang masih di tindih Zena.


Rey menghela nafas nya. "Mengapa tidur mu jelek sekali, Zena" ledek Rey, setelah itu Rey menatap wajah lembut Zena yang sedang tidur.


...****************...


Terdengar suara ayam berkokok pertanda pagi telah tiba. Perlahan Zena membuka kedua mata nya. Hal pertama yang Zena lihat adalah sebuah tangan pria yang Ia genggam serta wajah pria di depan nya.


Zena pun mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa apa yang Ia lihat ini hanya lah mimpi. Namun saat pandangan nya makin jelas, Zena terkejut melihat sosok pria yang tidur di samping nya. Rupa nya pria itu adalah Rey, Zena buru buru bangun dari tidur nya hingga membuat guncangan kecil. Zena langsung memukul Rey dengan guling yang ada di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini, tuan Rey! Cepat bangun! Ayo bangun!" oceh Zena seraya terus memukul Rey dengan guling.


Rey terbangun dari tidur nya, bukan hanya suara yang mengejutkan Rey, namun juga pukulan guling yang Zena lakukan. Lalu Zena melihat ke diri nya sendiri, Ia memastikan pakaian nya masih lengkap, ada perasaan lega saat tahu kalau Rey tidak melakukan apapun pada nya.


Rey mengusap usap mata nya. "Mengapa kau berisik sekali? mengejutkan saja!" ucap Rey masih dalam keadaan setengah sadar. Lalu Rey memposisikan tubuh nya untuk duduk.

__ADS_1


Zena kembali memukul Rey dengan guling di tangan nya. "Apa yang kau lakukan di kamar ku?! dasar pria tidak sopan! pria cabul! Pria mesum! pria tak tau malu!" jurus umpatan Zena keluarkan.


Rey menangkap guling itu lalu menarik nya hingga membuat tubuh Zena ikut tertarik ke depan, mereka saling tatap. "Hey, apa kau bisa tenang sedikit? Kepala ku masih pusing karena kau membangunkan ku tiba tiba begini, apa kau lupa semalam kau tidur di mana, Zena?" jelas Rey


Zena terdiam sejenak seraya berpikir, akhir nya ingatan nya muncul kembali. Zena baru ingat kalau semalam Ia memang berada di atas sofa ruangan televisi. Yang Zena ingat, Zena tengah menonton televisi agar tidak sepi, namun seperti nya tanpa sadar Ia ketiduran di sana.


Rey kembali membuka suara. "Ya, semalam kau tidur di atas sofa ruangan, aku melihat mu kedinginan, lalu aku memindahkan mu ke sini agar tidur mu lebih nyaman, tapi tangan ku tertindih oleh tubuh mu, jadi aku tidak bisa pergi, aku hanya berniat baik pada mu, sungguh!" jelas Rey


"Kau bohong! Jika kau berniat baik, kau tidak akan tidur bersama ku! Dasar mesum!" Zena masih tidak percaya dengan apa yang di jelasan oleh Rey.


Rey menghela nafas lelah nya. "Untuk apa aku berbohong pada mu? Jika aku memang mesum, aku sudah melakukan nya pada mu tanpa kau izinkan sekali pun, akan ku buka semua pakaian mu bila perlu!"


Zena makin di buat panik, sontak saja Zena langsung menarik diri untuk menjauh dari Rey seraya menutupi tubuh nya. "Dasar otak mesum!" omel Zena


Rey pun terkekeh. "Memang benar kan? Lagi pula bagian mana yang ingin kau tutupi? aku sudah pernah melihat semua nya" Rey mengatakan nya seraya menatap tubuh Zena dengan senyum nakal nya. Hal itu makin membuat Zena takut lalu menutup rapat rapat tubuh nya.


"Dasar mesum!" omel Zena lalu pergi dengan cepat meninggalkan Rey, Rey tampak puas dengan ucapan nya barusan.


Rey semakin senang menggoda Zena, Rey suka saat Zena ketakutan seperti tadi, rasa nya ingin sekali Rey mencium Zena karena gemas sendiri. Rasa cinta dalam diri nya kian menggebu, entah karma apa yang Rey dapatkan hingga membuat diri nya jadi semakin mencintai Zena. Padahal dulu Rey sangat membenci Zena, lalu mengapa cinta itu muncul? sungguh aneh.


Rey juga paham kalau saat ini Ia dan Zena belum bisa bersatu secara sah baik dalam agama maupun negara, namun akan Rey pastikan kalau Zena dan Arcie mendapatkan cinta dan kasih sayang serta kebahagian yang pantas mereka dapatkan dari nya.


Saat tengah melamun, tiba tiba saja ponsel di dalam kantung celana nya bergetar. Rey memang sengaja menonaktifkan dering di ponsel nya. Rey mengambil ponsel nya lalu melihat nama orang yang menghubungi nya.


"Iya Nel, ada apa?


"Rey, kau dimana sekarang? Ini ibu!"


Rey terkejut saat mendengar suara Weni di balik ponsel nya. Rey terdiam sejenak, rupa nya sang ibu memakai ponsel Nelson untuk menghubungi diri nya, karena Rey memang sengaja memblokir nomor sang ibu.


"Rey, kau dengar ibu?!"


"Iya bu, aku dengar! Saat ini aku berada di rumah Rio" Rey berbohong.


"Kau pasti berbohong! cepat pulang! ibu menunggu penjelasan mu, ini soal Zena!" perintah Weni


Belum sempat menjawab, panggilan sudah di putus oleh Weni. Rey pun terdiam sejenak untuk mencerna ucapan sang ibu, rupa nya Weni sudah mengetahui tentang Zena. Tapi dari mana ibu nya tahu soal Zena? Padahal selama ini Rey selalu menyembunyikan nya dari sang ibu.


Sebelum Rey pergi, Rey menyempatkan diri untuk menulis sebuah pesan di kertas yang Ia letakan di atas meja. Pagi itu Rey terpaksa pulang tanpa berpamitan dengan Zena dan Arcielo, karena Rey harus kembali ke Jakarta sekarang.

__ADS_1


Rey langsung menghubungi Rio, sepupunya itu yang kebetulan tinggal di Bandung. Rey menjelaskan semua nya pada Rio, setelah itu Rio menjemput Rey di dekat lapangan yang tak jauh dari lokasi rumah Zena. Kebetulan Rio juga ingin ke Jakarta karena ada urusan di perusahaan nya.


__ADS_2